MENGANDUNG BENIH TITIPAN CEO

MENGANDUNG BENIH TITIPAN CEO
BAB 6. MERUBAH RENCANA


__ADS_3

"Dis, bagaimanapun caranya kita harus bisa menggagalkan rencana Zahra dan Satria."


"Selama ini kita sudah susah payah berusaha membuat Zahra agar tidak bisa hamil, masa iya tinggal menuai hasil harus gagal karena rencana konyol mereka."


"Iya Ma, Gladis setuju. Zahra tidak boleh punya anak, aku yang harus melahirkan keturunan Narandra."


"Sekarang kamu pantau terus Aisyah, bila perlu celakai dia supaya pernikahan mereka gagal, minimal tertunda."


"Baik Ma, tapi Mama harus bantu aku. Aku takut Zahra dan Satria melihatku memata-matai Aisyah. Mama kan tahu, rencanaku selalu bisa digagalkan oleh Zahra dan juga Satria."


"Makanya pakai akal, masa gitu saja tidak bisa. Mama harus pergi, kamu nggak mau kan, jika Papa melupakan kita? Mama akan memberi wanita itu pelajaran. Dia pasti akan menyesal karena telah berani merebut Papa."


"Oh, jadi Mama ingin menyamperin Papa, aku ikut dong Ma. Aku juga ingin menjambak wanita itu. Seenaknya saja merebut kasih sayang Papa dariku!"


"Kamu di sini saja dan jangan ikut campur dengan urusan Papa, kamu nggak mau kan uang sakumu di stop karena melawan mereka."


"Nggak mau dong Ma."


"Ya sudah, pokoknya awasi saja Satria, Zahra serta Aisyah. Ingat, tetap beritahu Mama info apapun yang kamu dapat."


"Baik Ma."


*


*


*


Di rumah kediaman Pak Yusuf, beliau menanyakan kembali tentang keputusan Aisyah.


"Nak, kamu yakin nggak bakal menyesal? masih ada waktu lho, jika kamu ingin membatalkannya."


"Nggak Pak, mungkin sekarang lah saatnya kita membalas jasa. Aisyah bisa menyelesaikan pendidikan dan memperoleh pekerjaan enak, semua karena Tuan Narandra. Jadi sudah sepantasnya jika Aisyah membantu mewujudkan mimpi beliau untuk mendapatkan cucu."


"Tapi jika kamu hamil, kamu harus meninggalkan pekerjaan karena Tuan dan Den Satria pasti tidak akan mengizinkanmu untuk bekerja lagi. Apakah kamu tidak sayang dengan karirmu Nak?"

__ADS_1


"Sebenarnya sayang Pak, tapi apa boleh buat, kita serahkan saja semua kepada Tuhan, mudah-mudahan keputusan inilah yang terbaik."


Pak Yusuf pun mengangguk, lalu beliau bertanya lagi, "Apakah hari ini kamu tidak ngantor?"


"Ngantor Pak, nanti lepas Dzuhur. Aku sudah izin ke pimpinan jika pagi ini tidak masuk."


"Oh baguslah. Sekarang Bapak mau ke makam ibu, sudah lama kita tidak ziarah. Kamu mau ikut?"


"Iya Pak, Aisyah mau minta maaf karena tidak bisa mewujudkan keinginan ibu."


"Ibumu pasti mengerti posisi kita Nak. Dulu, setiap kali ibu sakit, Tuan Narandra lah yang selalu menolong. Ayo, sekarang kita pergi, nanti kamu telat ke kantor."


Keduanya pun bergegas ke TPU, tempat sang ibu bersemayam. Pak Yusuf dan Zahra membersihkan rumput yang tumbuh di sekitar makam, lalu keduanya berdoa bersama.


Sepulang dari makam, Aisyah pun bersiap untuk pergi bekerja.


Keesokan pagi, sesuai dengan janji, Satria dan Zahra menjemput Aisyah. Mereka pergi ke rumah sakit untuk mengkonsultasikan rencana program bayi tabung dengan dokter kandungan.


Namun dokter menjelaskan, bayi tabung dengan ****** dan ovum dari suami istri lalu embrionya ditanamkan ke rahim istri, sangat diperbolehkan.


Anak tersebut baik secara biologis ataupun yuridis mempunyai status sebagai anak sah dari pasangan tersebut. Akibatnya memiliki hubungan mawaris dan hubungan keperdataan lainnya.


Setelah menjelaskan dengan gamblang, Pak dokter pun mengatupkan kedua tangan, beliau meminta maaf tidak bisa membantu keinginan Satria dan Zahra yang akan menyewa rahim Aisyah.


"Maaf ya adek-adek, saya tidak bisa membantu. Karena menurut hukum yang saya yakini, bayi tabung dengan sewa rahim hukumnya tidak halal, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya “Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyirami airnya ke ladang orang lain”. (H.R. Abu Daud dari Ruwaifi‟ ibn Stabit al Anshari)."


"Jadi ****** Dek Satria serta ovum milik Dek Zahra tidak boleh kita masukkan ke ladang (rahim) milik Dek Aisyah.


Jadi bagaimana solusinya Dok, sementara rahim Zahra menurut pemeriksaan yang pernah kami lakukan sebelumnya telah mengalami kerusakan.


"Kenapa tidak melakukan pernikahan saja Dek, toh poligami diperbolehkan dan istri harus ikhlas demi kebaikan serta kebahagiaan bersama. Bagaimana Dek Zahra?"


"Saya sebenarnya ikhlas Dok jika Mas Satria menikah lagi tapi masalahnya mas Satria yang tidak mau. Apalagi Papa mertua sangat menginginkan pernikahan dengan kerabat yang kami tahu sifatnya sangat tidak baik," jawab Zahra.


"Benar Dok. Saya mencintai Zahra dan masih berharap akan mendapatkan keturunan darinya. Namun, saya juga sulit untuk menentang Papa."

__ADS_1


"Begini saja kita lakukan pemeriksaan ulang dan jika memungkinkan kita akan suntikkan embrio kalian berdua. Tapi jika hasilnya masih tetap sama, tidak ada jalan lain, selain pernikahan."


"Bagaimana adek-adek, kalian paham?"


"Baiklah Dok, tolong periksa rahim saya dan juga ****** Mas Satria, jika memang tidak bisa dilakukan bayi tabung, Saya ikhlas Mas Satria menikahi Aisyah."


"Namun, kami mohon, Dokter merahasiakan hal ini. Biar saja Papa mengira kami tetap menyewa rahim Aisyah."


"Bagaimana Mas? Kita harus tetap menjaga kestabilan kesehatan Papa. Daripada beliau memaksa Mas harus menikahi Gladis, lebih baik Mas menikah dengan Aisyah. Mas akan mendapatkan keturunan dari wanita baik," ucap Zahra kepada Satria.


Aisyah hanya diam mendengarkan perbincangan tersebut. Dia pasrah, apapun keputusan mereka, Aisyah akan menerimanya.


Satria sejenak berpikir, dia mempertimbangkan kebaikan untuk semuanya, meski berat dia harus tetap memutuskan, apa langkah yang harus segera dia pilih.


"Baiklah, Saya akan menikahi Aisyah apabila rahim Zahra memang tidak memungkinkan untuk kami melakukan program bayi tabung."


"Tapi Aisyah, sebelumnya kamu harus tahu, aku tidak akan pernah menceraikan Zahra. Jadi sekarang, keputusan aku kembalikan ke kamu, Syah? Kamu berhak untuk menolak."


"Bagaimana Aisyah, maukah kamu menolong kami, jadi istri sesungguhnya untuk suamiku? Tapi anak kamu nanti aku dan Mas Satria yang akan mengasuhnya? Aku janji Syah, akan menyayangi anakmu seperti anakku sendiri."


Aisyah diam, lalu diapun mengangguk, hingga membuat Zahra langsung memeluknya sembari menangis dan mengucapkan terimakasih.


"Jadi kesepakatan sudah didapat, sekarang kalian bisa tenang untuk menjalani pemeriksaan," ucap Pak Dokter.


"Satu hal lagi, kami mohon Syah, rahasia ini hanya kita yang tahu," pinta Zahra.


"Saya janji Den, Non, akan menyimpan rahasia ini dari siapapun, dan saya akan pergi setelah bayi itu lahir."


"Terimakasih Syah, kamu adikku, kami tidak akan pernah melupakan jasamu."


"Ayo kita mulai pemeriksaannya. Berdoa saja agar ada keajaiban, hingga Aisyah tidak harus mengorbankan dirinya," ucap Pak Dokter.


"Iya Dok," jawab ketiganya serempak.


Dokter pun melakukan USG dan juga tes-tes lainnya. Setelah selesai, beliau mengatakan jika besok hasilnya akan dikirim langsung ke kantor Satria.

__ADS_1


Ketiganya pun pamit, mereka masih berharap, esok hari akan ada keajaiban.


Bersambung.....


__ADS_2