
"Ra, kamu temani Aisyah dulu ya, aku akan membeli sesuatu dan mengambil mangga di mobil, siapa tahu Aisyah mau memakannya sekarang."
"Iya Mas, oh ya sekalian bumbu rujaknya, itukan yang Aisyah idamkan."
"Iya Mbak, terimakasih ya Mbak sudah membelikannya."
Satria pun bergegas ke kantin, dia membelikan roti serta susu. Satria ingin Aisyah mengisi perutnya lagi baru makan mangga.
Setelah itu, Satria pun kembali ke ruangan lalu meminta Aisyah untuk memakan roti yang dia bawa.
Aisyah menggeleng, dia tidak mau memakannya karena takut muntah lagi. Tapi Satria memaksa dengan cara dia yang menyuapi Aisyah.
Dengan telaten, sesuap demi sesuap akhirnya roti itupun habis. Aisyah heran, kenapa perutnya tidak mual setiap kali dia makan makanan dari suapan tangan Satria. Tapi, apabila Aisyah makan sendiri, pasti setelahnya akan memuntahkannya lagi.
"Nah, sudah habis kan. Sekarang minumlah susunya, biar perutmu menghangat."
"Tapi Mas, aku takut muntah lagi."
"Cobalah dulu, aku yakin kamu tidak akan muntah. Anak kita pasti tahu, ini dari tangan papanya," ucap Satria tanpa sadar jika Zahra sejak tadi menatapnya.
Zahra sedang membayangkan, jika saat ini dialah yang sedang berada di posisi Aisyah. Zahra tersenyum-senyum dan lalu kembali sedih, saat sadar jika dia hanya sedang berhayal.
Aisyah sudah menghabiskan semuanya dan kini dia tengah menikmati mangga muda yang telah Rey kupas. Rey tadi sempat meminta tolong kepada seorang perawat agar membelikannya pisau serta piring untuk tempat Aisyah menikmati mangga serta bumbu rujaknya.
Aisyah makan dengan rakus tanpa merasa asam sedikitpun. Setelah kenyang diapun mengembalikan piring tersebut kepada Satria.
"Sudah?"
"Iya Mas, alhamdulilah kenyang."
"Aneh ya Mas, Aisyah tidak muntah," ucap Zahra.
"Itu berarti, anak kita mau aku yang menyuapi ibunya. Ya sudah, aku akan sempatkan pulang setiap jam makan. Agar kamu bisa makan banyak dan tidak muntah lagi."
__ADS_1
"Terimakasih Mas, tapi nggak usah begitu. Nanti pekerjaan Mas Satria jadi terbengkalai."
"Nggak apa-apa, aku kasihan lihat kamu begini terus. Pasti sakit kan jika habis memuntahkan semuanya."
Aisyah pun mengangguk, lalu dia menjangkau tissue ingin membersihkan mulutnya, tapi Satria keburu menahan, memegang tangan Aisyah.
Sejenak keduanya terpaku, saling tatap, tapi saat mendengar deheman Zahra, Satria buru-buru mengambil tissue tersebut, lalu dia mengelapkan ke mulut Aisyah yang belepotan bumbu.
Dari apa yang Zahra lihat, dia semakin yakin, jika Satria juga mencintai Aisyah bukan hanya sebatas tanggungjawab sebagai ayah dari bayi yang Aisyah kandung.
Aisyah yang sadar jika sebagian besar waktu Satria tersita untuk mengurusnya, lalu berkata, "Sebaiknya Mas dan Mbak Zahra pulang saja, kasihan Mbak Zahra belum istirahat sejak pulang tadi. Aku nggak apa-apa kok, bisa minta tolong perawat untuk menemani."
"Nggak Syah, Mas Satria biar di sini saja. Aku takut nanti kamu pingsan lagi dan tidak ketahuan, bahaya kan? Biar aku pulang naik taksi saja dan besok pagi aku akan kembali kesini untuk menggantikan Mas Satria menjaga kamu. Besok ada rapat penting di kantor kan Mas?"
"Iya Ra. Kamu tidak apa-apa kan pulang sendiri, atau kita cari penginapan dekat sini saja agar kamu bisa istirahat dan tidak perlu pulang ke rumah."
"Nggak usah Mas, aku akan membereskan rumah sekalian, karena lusa Bibi baru akan balik kesini."
"Bibi sudah akan balik ya Mbak, syukurlah jadi ada yang menemaniku. Mas Satria bisa fokus kerja dan pulang ke rumah Papa untuk menemani Mbak Zahra."
"Nggak usah Mas, biar aku bersama bibi saja. Mas dan Mbak Zahra saja yang di sana."
"Baiklah, kita lihat perkembangannya dulu. Jika kondisi mu masih seperti ini juga, mungkin aku akan tinggal bersama kalian," ucap Satria.
"Tapi Mas..."
"Tidak ada tapi-tapi, aku tidak mau kalian celaka."
Zahra menekan rasa sakit di dalam hatinya, dia berusaha tegar dan berkata, "Mas Satria benar Syah. Anak itu butuh perhatian dari Mas Satria, buktinya dia anteng, tidak membuatmu muntah saat Mas Satria memberikan perhatiannya."
Aisyah merasa tidak enak, dia tidak bermaksud untuk mengambil semua perhatian Satria untuk dia dan bayinya.
Tapi mau bagaimana lagi, semua itu di luar kuasanya, jika sang baby sepertinya memang ingin selalu dekat serta mendapatkan perhatian dari ayahnya.
__ADS_1
"Kalau nggak, Mbak juga tinggal di sini, kita bisa bersebelahan kamar. Aku akan memanggil Mas Satria jika membutuhkan sesuatu."
"Iya Ra, begitu juga bagus."
"Tapi Papa Mas, siapa yang akan memperhatikan kesehatan papa. Aku nggak mau Papa jatuh sakit lagi."
"Kita bisa jenguk Papa setiap dua hari sekali atau telepon beliau setiap saat untuk mengingatkan jadwal meminum obatnya."
Sejenak Zahra terdiam, dia masih mempertimbangkan semuanya. Tapi Aisyah kembali meminta, "Ayolah Mbak, Papa pasti paham dan inshaallah beliau akan sehat, karena saat ini hati beliau sedang bahagia dengan kehadiran baby kita."
"Baiklah, kita coba dulu. Tapi jika Papa sakit lagi, aku harus kembali ke sana."
"Terimakasih Mbak, aku jadi punya teman saat Mas Satria ke kantor."
Satria lega, kedua istrinya akan tetap ada dalam pengawasannya dan dia bisa menjalankan kewajibannya sebagai suami terhadap Zahra yang sudah lama tidak dia nafkahi batinnya.
"Sekarang kamu istirahat ya Syah. Aku pulang dulu, besok pagi aku kembali ke sini. Mas aku pulang dulu ya," pamit Zahra sembari mengulurkan tangan.
Satria mencium kening Zahra, sebenarnya dia merindukan istrinya itu, tapi kesehatan Aisyah dan bayinya harus lebih dia utamakan dulu.
Setelah pamit, Zahra pun meninggalkan rumah sakit. Meskipun sedih, dia harus tetap tegar demi membahagiakan suami serta sang mertua.
Setelah kepergian Zahra, Satria pun meminta Aisyah untuk tidur, dia mengelus puncak kepala Aisyah, lalu mencium perut Aisyah yang mulai membuncit sambil berucap selamat tidur kepada calon bayinya.
"Tidurlah Nak, kasihan bundamu. Bunda juga butuh istirahat, jangan buat Bunda sakit lagi ya."
Aisyah pun tertidur. Elusan Satria pada puncak kepalanya telah membuat Aisyah nyaman dan mengantuk.
Satria memperhatikan wajah teduh yang tertidur di hadapannya. Dalam hatinya, Satria berkata, "Syah, apa mungkin aku tega memisahkan kalian nantinya, setelah pengorbanan mu yang seperti ini. Rasanya kami terlalu kejam, kamu juga berhak untuk merawat bayi kita, sama seperti aku dan Zahra."
Satria mendesah dan diapun mencium kening Aisyah dengan lembut agar Aisyah tidak terbangun.
Kemudian Satria merebahkan kepalanya di sisi tempat tidur dekat kepala Aisyah dan dia sejenak terlelap sembari menggenggam tangan Aisyah.
__ADS_1
Bersambung....