MENGANDUNG BENIH TITIPAN CEO

MENGANDUNG BENIH TITIPAN CEO
BAB 23. ALASAN AISYAH


__ADS_3

"Apa ini Pa?"


"Terimalah, itu kado buat kamu Syah. Terimakasih atas kebahagiaan yang kamu berikan kepada keluargku."


"Terimakasih Pa, ini belum seberapa dibandingkan jasa keluarga ini kepada saya dan bapak."


"Yang terpenting sekarang jaga baik-baik keturunan Narandra, hingga dia lahir selamat dan sehat. Kapan kita bisa tahu apa jenis kelaminnya Sat?"


"Satria pun belum menanyakannya Pa, saking senangnya sampai lupa."


"Nanti saat pemeriksaan bulan depan, kita tanyakan ya Mas," ucap Zahra.


"Oh ya...kamu Zahra bantu Aisyah, bila perlu kalian tinggal di sini bersamanya. Kamu harus ikut memperhatikan kesehatan bayimu. Jangan sampai terjadi apa-apa yang akan membuat kalian menyesal."


"Iya Pa, Zahra akan bantu Aisyah."


"Dan kamu Sat, jangan sibuk kerja terus, tanya Aisyah kepingin apa? mungkin dia malu untuk meminta kepada kalian."


"Biasanya kalau ibu hamil ada-ada saja permintaannya seperti mama kamu dulu."


"Kamu harus penuhi permintaan si bayi kalau anakmu tidak mau ileran. Itu sih kata simbahmu dulu."


"Iya Pa, Satria tahu. Satria akan meluangkan waktu untuk memperhatikan calon anak kami."


"Nggak perlu sampai begitu kok Pa, Aisyah pasti bisa menjaganya. Lagipula Mas Satria kan banyak kesibukan. Mudah-mudahan saja bayi ini tidak manja dan tidak banyak meminta."


"Itu perlu. Oh ya satu hal lagi, mulai besok kamu harus resign kerja, Papa nggak mau kamu kelelahan hingga membayakan bayi itu."


"Tapi Pa!"


"Jangan membantah, semua kebutuhanmu dan Yusuf akan diberi oleh Satria. Benar kan Sat?"


"Iya Pa. Papa benar Syah, sebaiknya kamu berhenti bekerja."


"Kamu nggak perlu takut, setelah bayi itu lahir kamu bisa bekerja lagi. Satria akan memberimu pekerjaan di kantor, yang jabatannya lebih baik dari pekerjaanmu sekarang."


"Terimakasih Pa. Tapi, saya akan mencarinya sendiri, karena kami akan meninggalkan kota ini. Itu sudah Aisyah rembukkan dengan Bapak."

__ADS_1


"Ya sudah, nanti Satria bisa menghubungi koleganya di luar kota untuk memberimu pekerjaan yang bagus."


"Sekarang, kamu nggak usah pikirkan hal lain dulu, fokus saja dengan perkembangan serta kesehatan calon bayi kita, biar semua itu menjadi urusan Mas Satria. Iya kan Mas?"


"Iya Syah. Aku yang akan mengatur semuanya. Sekarang kamu istirahatlah. Oh ya Syah, kamu kepingin makan apa, biar aku masakin?"


Zahra memandang ke arah Satria, dia tidak menyangka jika suaminya rela memasak demi Aisyah. Padahal beberapa tahun menikah, belum pernah sekalipun Satria memasakkan sesuatu untuk Zahra.


Satria yang sedang asyik mengobrol dengan Aisyah tidak memperhatikan pandangan Zahra. Zahra melihat Satria begitu perhatian dan jelas nampak kasih sayangnya kepada Aisyah.


Sampai-sampai Aisyah yang ingin beranjak turun, untuk mengambil air minum pun di larang. Satria rela melayani semua yang dibutuhkan Aisyah.


Zahra senang sekaligus sedih, andai dia yang saat ini ada diposisi Aisyah, pasti Zahra akan sangat bahagia.


Papa Narandra pun yang masih ada di sana berdehem hingga membuyarkan lamunan Zahra.


"Ehemm...Oh ya Sat, Papa mau pulang dulu. Kalian menginap di sini kan Ra?"


"I-iya Pa. Tapi Zahra mau ikut pulang dulu, ada yang ingin Zahra ambil. Biar Mas Satria di sini, nanti Zahra minta antar Pak Sopir ke sini lagi."


"Mbak, biar Mas Satria saja ya yang antar. Aku nggak apa-apa kok, di rumah sendirian. Aku juga mau tidur dulu, biar fresh nanti setelah bangun."


"Nggak apa-apa Mas, sup tadi pagi juga masih ada, lagipula aku masih kenyang."


"Nggak usah Mas, biar aku ikut Papa saja. Di sini nggak ada orang, jika Aisyah nanti mual dan pusing lagi bagaimana? Siapa yang akan memperhatikan dan menolongnya?"


"Iya Sat, Zahra benar. Kamu sebaiknya di sini saja, biar Zahra pulang dengan Papa," pinta Papa Narandra.


"Baiklah, tapi kamu hati-hati ya sayang," ucap Satria sembari mencium kening Zahra.


"Syah, aku pergi dulu ya. Oh ya kamu pingin nitip apa, biar nanti aku belikan."


"Sebenarnya aku pingin mangga muda Mbak."


"Ya sudah nanti aku belikan."


"Nggak mau Mbak, aku maunya yang di rumah Papa tapi mesti Mas Satria yang memanjatnya," ucap Aisyah yang sengaja ingin Satria ikut menemani Zahra pulang.

__ADS_1


Aisyah tahu, Zahra dan Satria pasti saling rindu dan ingin memiliki waktu untuk berduaan, makanya dia berinisiatif pura-pura mengidam mangga hasil panjatan Satria.


"Bagaimana Mas? Jadi siapa yang akan menemani Aisyah?"


"Kalau begitu, biar aku saja yang pulang Ra dan kamu temani Aisyah."


"Nggak usah Mas, pergilah bersama Mbak Zahra. Mbak Zahra pasti tahu mana mangga yang aku mau, sekalian belikan bumbu rujaknya ya Mbak di persimpangan dekat rumah Papa dan jangan lupa somboinya sekalian."


"Baiklah Syah, kami pergi dulu ya. Tapi ingat, kamu jangan kemana-mana. Tiduran saja, sampai kami pulang. Kami usahakan tidak akan lama, kami akan pulang sebelum ashar."


Aisyah pun mengangguk, dia tersenyum karena rencananya berhasil.


Papa Narandra sudah pulang lebih dulu bersama sopir, sedangkan Satria dan Zahra menyusul setelah mereka pamit kepada Aisyah.


Satria mencium kening Aisyah, dia tidak mau membedakan kasih sayangnya meski pernikahan mereka hanya sementara.


Aisyah memejamkan mata saat ciuman Satria mendarat. Terselip perasaan takut karena ditinggal pergi oleh Satria.


Dia mencium tangan serta memeluk Satria, begitu juga Satria membalas pelukan Aisyah dengan hangat.


Dan sebelum melangkah pergi, tidak lupa Satria mengelus perut Aisyah sembari berkata, "Papa pergi dulu ya Sayang, kamu baik-baik, jangan nyusahin mama mu."


Setelah itu Satria pun berbalik sembari mengucap salam, lalu bergegas menyusul Zahra yang sudah menunggu di mobil.


Zahra sengaja keluar duluan karena dia tidak sanggup melihat kemesraan serta perhatian yang diberikan oleh Satria kepada Aisyah.


Sepanjang perjalanan, Zahra lebih banyak diam hingga membuat Satria heran, lalu diapun bertanya, "Kamu kenapa sayang, kok diam saja sejak tadi?"


"Mas mencintai Aisyah?" tanya Zahra sembari menatap Satria.


"A-aku menyayangi dia karena dia ibu anak kita Ra, tidak lebih. Lagipula, aku searching di google, bagaimana sebaiknya bersikap terhadap istri yang sedang hamil, agar moodnya tetap baik."


"Wanita yang sedang hamil sangat perasa dan lebih sensitif, makanya sebisa mungkin aku ingin memberi perhatian lebih untuk Aisyah agar dia tidak bersedih. Yang bisa menimbulkan dampak buruk terhadap janin dalam kandungannya."


"Oh, gitu ya Mas. Mencintai dia juga nggak apa-apa kok Mas. Aku rela, Aisyah juga berhak bahagia karena kami sama-sama istri, yang memiliki hak serta kewajiban yang sama."


Sejenak Satria terdiam, dia juga masih ragu dengan perasaannya. Apakah benar dia telah jatuh cinta kepada Aisyah atau hanya karena rasa tanggungjawabnya saja sebagai seorang suami.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2