MENGANDUNG BENIH TITIPAN CEO

MENGANDUNG BENIH TITIPAN CEO
BAB 31. BERJUANG UNTUK TETAP HIDUP


__ADS_3

Aisyah teringat bayi dalam kandungannya dan dia harus berjuang untuk keluar dari dalam kolam tersebut.


Bayi dalam kandungan Aisyah menjadi sumber kekuatan baginya, hingga kepala Aisyah bisa menyembul ke atas permukaan air. Kemudian Aisyah menghirup oksigen sembari berteriak semampunya.


Tangan Aisyah berusaha menggapai tepian kolam dan akhirnya diapun berhasil naik.


Tubuh Aisyah lemas dan diapun pingsan.


Seorang pelayan yang bertugas membersihkan pekarangan sedang melintas dan diapun terkejut lalu berteriak minta tolong.


Beberapa pelayan lainpun datang dan salah satu dari mereka segera memberitahu Satria.


Satria terkejut dan berlari meninggalkan Zahra yang masih sakit. Dia harus segera membawa Aisyah ke rumah sakit terdekat.


Zahra yang masih sakit tidak mempedulikan dirinya, diapun bergegas menyusul Satria untuk melihat kondisi Aisyah.


Saat Zahra tiba, Satria sudah menggendong Aisyah, lalu merekapun membawanya ke mobil.


Satria juga mengajak Zahra, dia ingin dokter juga memeriksa kondisi Zahra.


Dengan perasaan cemas, Satriapun melajukan mobilnya dengan kencang, sementara Zahra menggenggam tangan Aisyah yang pucat seperti mayat.


Sesampainya di rumah sakit, tanpa menunggu perawat membawakan brankar, Satria pun langsung menggendong Aisyah menuju UGD. Lalu dia meminta dokter untuk segera memberikan pertolongan.


Zahra berjalan perlahan sambil memegangi perutnya, dia sebenarnya sedih saat Satria meninggalkan dirinya tanpa berkata apapun.

__ADS_1


Satria yang teringat Zahra kembali berlari keluar UGD dan diapun langsung menggendong Zahra sembari meminta maaf.


Karena panik, Satria lebih mengutamakan Aisyah yang sedang dalam keadaan pingsan.


Saat ini Satria benar-benar bingung, keduanya sama-sama membutuhkan perhatian darinya.


Satriapun meminta tolong dokter lain untuk memeriksa Zahra dan dia mondar-mandir menunggu hasil dari pemeriksaan kedua dokter tersebut.


Dokter yang menangani Zahra duluan keluar dan beliau mengatakan jika Zahra hanya mengalami sakit perut biasa karena telat makan.


Satriapun merasa lega dan kini dia bisa lebih fokus kepada Aisyah.


Dokter belum juga memberitahu bagaimana keadaan Aisyah sekarang, hingga membuat Satria makin cemas.


Dia meminta agar diizinkan masuk untuk menemani Aisyah, tapi dokter melarang.


Satria pun merasa lega, lalu dia masuk untuk menemui Aisyah. Di sana dia melihat Aisyah terbaring lemah dengan wajah yang masih pucat.


Aisyah mengalami trauma dan dia menangis sambil memegangi perutnya.


Satria kembali khawatir, lalu dia menanyakan kepada dokter apakah tenggelamnya Aisyah tadi tidak membahayakan bayi dalam perut Aisyah.


Syukurnya dokter mengatakan jika kondisi bayi itu baik-baik saja. Hanya saja rasa takut masih menghantui Aisyah hingga dia belum juga berhenti menangis.


Satria memeluk Aisyah untuk memberikan rasa aman dan dia menghibur dengan mengatakan jika semuanya sudah berlalu.

__ADS_1


Aisyah terisak-isak dan akhirnya tertidur karena pengaruh obat.


Satria meminta kepada dokter agar memindahkan perawatan Aisyah dan Zahra ke satu ruangan untuk mempermudah dirinya dalam memperhatikan kedua istrinya itu.


Dokter pun memberi izin dan perawat segera mengatur ruangan yang akan di tempati oleh Zahra dan Aisyah.


Setelah dipindahkan ke ruangan, Satria pun menghubungi Narandra dan memberitahu jika Zahra dan Aisyah sekarang sudah dalam keadaan baik-baik saja.


Ternyata di rumah, Narandra sedang mengumpulkan semua pelayan, dia ingin mencari keterangan, siapa yang menyebabkan Aisyah celaka.


Tentu saja tidak ada satu pelayan pun yang mengaku karena mereka memang tidak bersalah.


Tapi Narandra dengan lantang mengatakan jika sampai kejadian itu ada hubungannya dengan para pelayan, dia tidak akan segan untuk memberikan hukuman.


Herlina yang merasa ketakutan tidak berani keluar kamar. Dia tidak mau jika ada yang curiga terhadapnya.


Gladis yang melihat wajah sang mama berkeringat dan pucat menjadi penasaran, lalu diapun mendesak serta menanyakan apakah mamanya terlibat dengan masalah tenggelamnya Aisyah.


Herlina langsung membekap mulut Gladis, dia tidak mau sampai Narandra mendengar percakapan mereka.


Gladis marah karena bekapan sang mama membuatnya kesulitan bernafas, hingga diapun menginjak kaki Herlina.


Herlina berteriak kencang, hingga terdengar sampai ke telinga para pelayan serta Narandra.


Narandra pun bergegas menuju kamar Herlina karena beliau ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi hingga adiknya berteriak begitu kencang.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2