MENGANDUNG BENIH TITIPAN CEO

MENGANDUNG BENIH TITIPAN CEO
BAB 25. PENGORBANAN DEMI MEMENUHI PERMINTAAN AISYAH


__ADS_3

Satria memeriksa buah mangga, dia bingung mana yang harus di petik dan Satria sendiri sejak kecil belum pernah memanjat pohon.


Walau susah, tapi Satria harus bisa demi calon bayinya. Dia tidak mau berbohong, dengan mengambil mangga menggunakan pengait ataupun meminta tolong kepada pelayan.


Satria hanya meminta pelayan untuk mengambilkan tangga agar dia bisa naik ke dahan pohon yang bercabang. Di sana dia bisa leluasa untuk berpindah ke cabang lainnya dan memilih mangga yang akan dia petik.


Gladis yang melihat Satria dari balik jendela kamarnya segera memanggil sang mama dan merekapun keluar untuk mengolok-olok Satria.


Sesampainya di bawah pohon, Herlina pun berteriak, "Hei Sat, ngapain kamu! seperti monyet saja. Kenapa nggak minta pelayan yang ambilkan? bodoh sekali, mau-maunya diperbudak istri. Toh dia nggak bakalan tahu siapa yang mengambilkan mangga itu!"


"Punya istri itu jangan terlalu dimanja, kamu sendiri yang bakalan susah."


"Itu hak saya Tan, Tante nggak perlu menggurui. Urus saja urusan Tante!"


"Kak awas!" teriak Gladis yang melihat dahan yang diinjak oleh Satria patah.


Akhirnya Satria pun jatuh bergulingan ditanah. Meski kakinya sakit, tapi Satria berusaha menahannya, dia tidak mau menjadi bahan ejekan dari sang Tante.


Herlina bukannya menolong, dia malah tertawa dan berkata, "Kan, apa Tante bilang, kamu bodoh! Untung kaki dan tanganmu tidak cidera, jika cidera Kak Narandra pasti bakal memarahi anak sopir yang sok jadi majikan itu!"


Pak Yusuf yang baru tiba dan mendengar percakapan tersebut, lalu menghampiri mereka.


"Aden jatuh? kenapa nggak tunggu saya saja atau minta tolong pelayan lain untuk mengambilkannya. Aisyah juga nggak bakal tahu Den dan seandainya pun tahu, dia pasti paham jika Den Satria tidak pandai memanjat pohon."


"Nggak apa-apa kok Pak, saya akan lakukan demi anak saya. Saya nggak mau mengajarkan kebohongan meski dia masih dalam perut. Lagipula, saya nggak cidera," ucap Satria sembari mengumpulkan mangga yang tadi sempat dia ambil dan terjatuh.


"Oh ya Pak, tadi Satria lupa bertanya kepada Aisyah, biasanya untuk ibu hamil mangganya yang mana ya Pak? Yang tua, setengah tua atau yang muda."


"Biasanya yang muda Den, itu yang istri saya minta dulu saat mengandung Aisyah."


"Oh, jadi saya salah ya Pak. Baiklah, saya akan mengambilnya lagi," ucap Satria sembari kembali naik ke tangga untuk mencapai dahan pohon.


"Den, biar saya saja. Nanti Aden jatuh lagi, bahaya Den!"


"Nggak usah Pak, biar saya saja."

__ADS_1


Pak Yusuf pun nggak bisa melarang kemauan Satria. Satria berhasil mengambil beberapa buah mangga muda, tapi kali ini bukan terjatuh tapi kepalanya disengat lebah.


Satria berteriak, dua buah lebah berhasil menyengat kepala serta bagian pelipisnya.


Hampir saja Satria terjatuh, kalau Pak Yusuf tidak membantunya turun.


Herlina tertawa terbahak-bahak, begitu juga dengan Gladis. Tapi tawa mereka langsung berhenti tatkala melihat Narandra keluar dan bertanya kepada Pak Yusuf.


"Ada apa Suf? kenapa dengan kepala Satria?"


"Den Satria kena sengat lebah Tuan saat mengambil mangga untuk Aisyah."


Narandra bukannya marah, beliau malah tersenyum dan berkata, "Pengorbanan mu belum seberapa Sat, dibandingkan Papa dulu saat mama mengandungmu. Bawa dia masuk Suf dan tolong panggil dokter sebelum wajah dan kepalanya bertambah bengkak."


"Saya sudah mencabut sengatan yang tertinggal Tuan, sekarang kita harus mencuci bekasnya, lalu mengompres dengan air es sambil menunggu dokter tiba membawakan obat."


"Oh ya sudah, bagus Suf. Pergilah bantu Satria untuk mencuci dan mengompresnya."


"Kalian ngapain masih di sini, bukannya cepat panggilkan dokter malah mengolok-olok. Syukur bukan kalian berdua yang disengat!" ucap Narandra sembari meninggalkan tempat itu.


Pak Yusuf pun segera mengajak Satria kedalam, mencuci, lalu mengompres bekas sengatan tersebut. Beliau merasa bersalah, karena permintaan putrinya, Satria jadi terluka.


"Den maafkan Aisyah ya, karena permintaannya, Aden jadi terluka."


"Nggak apa-apa Pak. Bapak nggak perlu minta maaf, Bapak dengar kan apa yang dikatakan Papa tadi, jika ini belum seberapa. Berarti perjuangan Papa untukku lebih berat. Nanti juga sembuh Pak."


"Sebaiknya Aden berbaring, sebentar lagi dokter pasti tiba. Oh ya, lihat kaki Aden juga berdarah, sepertinya terkena ranting pohon."


"Iya Pak, tadi aku sempat jatuh sebelum tersengat lebah. Ada dahan yang lapuk, terinjak kakiku."


"Sebentar ya Den, saya ambilkan pembersih luka dulu."


Pak Yusuf pun pergi mengambil kotak P3K dan Zahra yang baru turun dari tangga merasa heran melihat wajah Satria yang membengkak.


"Mas, apa yang terjadi? Kenapa wajah Mas membengkak dan kaki Mas juga berdarah! Mas jatuh dari atas pohon?"

__ADS_1


"Iya Ra, tapi nggak apa-apa kok. Tadi juga disengat lebah dan Pak Yusuf sudah mengompres bekasnya. Tinggal membersihkan luka dan saat ini beliau sedang mengambil alkohol."


"Syukurlah jika Mas tidak apa-apa."


Pak Yusuf pun tiba dengan membawa kotak P3K, saat beliau hendak membersihkan luka Satria, Zahra pun meminta alkohol yang ada di tangan Pak Yusuf.


"Pak, biar saya saja. Bapak telepon dokter dan minta cepat datang."


"Sudah kok Non, sebentar lagi pasti sampai."


"Oh syukurlah Pak."


"Maafkan Aisyah ya Non, karena dia Den Satria jadi terluka."


"Nggak perlu minta maaf Pak, ini adalah salah satu pengorbanan untuk menjadi seorang ayah."


"Nah apa kata Saya Pak, tidak ada yang menyalahkan Aisyah."


"Setelah dokter memberi obat, kita segera pulang ya Ra, kasihan Aisyah nanti kelamaan menunggu mangganya."


"Oh ya Den, saya kumpulkan dulu mangganya. Tadi kita tinggal begitu saja di bawah pohon."


"Iya Pak, tadi aku menahankan rasa sakit jadi lupa untuk mengumpulkannya."


Pak Yusuf pun buru-buru mengambil kantongan plastik, lalu mengumpulkan mangga yang sudah Satria petik untuk putrinya.


"Kamu beruntung Nduk, meski hanya sementara jadi istri tapi Den Satria benar-benar perhatian," monolog Pak Yusuf sembari memasukkan mangga ke dalam kantongan.


Herlina yang melintas ternyata mendengar hal itu dan berkata, "Mentang-mentang Satria baik, anakmu jadi sesuka hati memerintah. Ingat Suf, sebentar lagi, kalian juga bakal kena tendang. Kamu jangan berharap putrimu akan menjadi bagian dari keluarga ini seterusnya."


"Kalian bukan level kami, jadi selamanya akan tetap menjadi pengabdi dan tidak akan pernah menjadi majikan."


Pak Yusuf tidak membantah, karena dia juga sadar akan posisi Aisyah di keluarga Narandra. Dengan menghela nafas dalam, Pak Yusuf pun bergegas meninggalkan tempat itu, tanpa pamit kepada Herlina.


"Dasar sopir tidak tahu diri, main nyelonong pergi begitu saja," gerutu Herlina.

__ADS_1


Pak Yusuf meletakkan mangga ke dalam mobil karena mobil Satria memang tidak dikunci. Kemudian beliau kembali ke ruang depan untuk melihat apakah dokter sudah tiba atau belum.


Bersambung....


__ADS_2