
"Rumah ini terlalu besar Mbak, aku bakal kesepian tinggal sendirian di sini. Biar aku tinggal di rumah Bapak saja ya Mbak?"
"Jangan Syah, nanti aku minta Mas Satria agar sering datang dan menginap di sini."
"Nggak usah Mbak, biar aku ajak bibi kesini untuk menemaniku."
"Kalau masalah pelayan, sudah di atur oleh Papa, Syah. Soalnya, beliau tidak ingin kamu kecapean hingga harapannya gagal."
"Mas Satria harus sering bersama mu agar apa yang kita inginkan cepat tercapai."
"Mbak Zahra siapa yang akan menemani?"
"Untuk sementara aku akan tinggal di kampung sekaligus menjenguk ibu dan adik-adikku. Pokoknya kamu jangan khawatirkan apapun, fokuslah membangun hubungan kalian."
"Mbak, aku belum pernah melihat wanita sebaik dan setegar Mbak Zahra. Apa Mbak nggak takut, jika aku jatuh cinta beneran dan tidak mau berpisah dari Mas Satria?"
"Aku yakin, kamu bukan tipe pengkhianat Syah. Aku percaya, kamu bisa pegang janji. Tapi, kalau Allah berkehendak lain, kita manusia cuma bisa ikhlas menerima."
"Semua sudah beres kan? Jadi besok akad nikah sudah bisa dilaksanakan."
"Mbak, sebaiknya kita tunggu hasil pemeriksaan dokter dulu, barangkali ada keajaiban, hingga aku nggak perlu menikah dengan Mas Satria."
"Aku yakin hasilnya masih buruk Syah, buktinya sampai sekarang Mas Satria belum memberitahukannya. Kamu bersiap ya, besok pagi MUA akan datang untuk merias mu. Sebaiknya malam ini, kamu sudah menginap di sini."
"Tidak usah membawa barang apapun, di sini sudah tersedia semuanya, termasuk pakaian ganti kalian. Kemaren pihak toko sudah mengantarnya dan sudah aku susun di dalam lemari."
"Ayo kesini Syah, aku akan tunjukkan," ajak Zahra.
Kemudian Zahra membuka lemari pakaian 4 pintu yang ada di sana. Dan benar saja, 2 pintu berisi pakaian untuk Aisyah dan dua pintu lagi untuk Satria, termasuk pakaian kantor.
Sementara Zahra mengizinkan Aisyah untuk tetap kerja, tapi saat nanti sudah hamil, dia ingin Aisyah fokus mengurus kehamilannya saja.
"Bagaimana Syah, kamu suka dengan pilihan ku?"
"Mbak, ini pakaian-pakaian mahal, rasanya nggak pantas saja jika saya yang memakainya. Baju saya banyak kok Mbak, jadi bisa dibawa kesini."
"Terima Syah, ini belum seberapa dibanding kesediaanmu."
Melihat kebaikan Zahra, Aisyah sangat terharu sekaligus takut, jika tidak bisa mengemban amanah.
"Yuk kita pulang dulu Syah, jika kamu butuh yang lainnya telepon saja aku. Dan Pak sopir juga standby untuk antar jemput kamu. Jadi jangan segan, hubungi saja beliau ya. Itu nomornya, aku kirim ke WA mu."
__ADS_1
"Iya Mbak, terimakasih."
"Oh ya, kita langsung ke rumah Papa. Nanti Pak sopir akan mengantarmu pulang. Nanti, setelah Mas Satria pulang, kami akan memberitahu Papa, jika acaranya dipercepat."
Aisyah pun mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil. Dan pun langsung menuju di kediaman Narandra.
Zahra mengajak Aisyah masuk, dia ingin memberikan sesuatu. Begitu sampai di dalam rumah, keduanya melihat Gladis dengan sikapnya yang menyebalkan, menghina Aisyah.
"Eh, ada wanita penjilat. Kamu pikir mudah masuk dan menjadi bagian dari keluarga ini. Kamu hanya diperalat oleh Zahra dan setelah itu kamu tidak ada arti apa-apa lagi untuk keluarga ini!"
"Diam kau Gladis, kau nggak punya hak untuk ikut campur. Urus saja urusanmu sendiri!"
"Yuk Syah, kita ke kamar. Abaikan saja mulut ember yang sukanya mengusik orang lain."
Keduanya bergegas naik menuju kamar Zahra, sedangkan Gladis mengepalkan kedua tangannya, dia hendak melawan lagi, tapi takut. Karena di sana tidak ada sang mama yang selalu mendukungnya.
Sesampainya di kamar, Zahra meminta Aisyah untuk duduk, sedangkan Aisyah masih bengong sembari memandang ke sekeliling kamar tersebut.
Kamar Zahra dan Satria begitu rapih dan perpaduan warna dindingnya juga terasa adem.
Zahra membuka lemari dan mengambil sebuah kotak perhiasan.
Zahra mendekati Aisyah, lalu memintanya untuk duduk di sisi ranjang. Kemudian Zahra menarik tangan Aisyah dan memasukkan cincin tersebut di jari tengahnya.
Dia memilih jari tersebut karena selain cincin kebesaran di pakai oleh Aisyah, juga karena alasan, besok Satria pasti akan memakaikan cincin kawin di jari manis Aisyah.
Melihat Zahra memakaikan cincin tersebut, Aisyah pun tertegun, entah kebaikan apalagi yang dilakukan Zahra untuknya.
"Syah, ini cincin warisan keluargaku turun temurun. Karena kamu sudah aku anggap adik, maka aku berikan itu untukmu."
"Kelak, kamulah yang berhak mewariskannya kembali ke anak atau menantuku."
"Mbak saja yang simpan dan kelak Mbak yang berhak untuk memberikannya."
Zahra menggeleng, mereka yang berhak menurunkan warisan itu adalah wanita yang sesungguhnya menjadi ibu.
"Aku mohon simpanlah Syah, aku memberi hak itu kepada mu untuk merestui pernikahan anak-anak kelak," ucap Zahra sembari memeluk Aisyah.
Aisyah pun membuka dan menyimpannya ke dalam tas, dia tidak mau orang-orang yang melihatnya akan berpikiran buruk dan menganggap dirinya telah memporotin Zahra serta keluarga Narandra.
Zahra tersenyum, dia sudah menduga jika Aisyah akan melakukan hal itu.
__ADS_1
Penampilan Aisyah yang sederhana akan menjadi sorotan serta perbincangan orang-orang, jika mereka sampai melihat benda yang sangat mahal melingkar di jarinya saat ini.
"Baiklah Syah, aku telepon Pak sopir dulu ya, biar beliau yang antar kamu pulang."
Aisyah pun mengangguk, lalu keluar dari kamar mengikuti langkah Zahra.
Pak sopir ternyata tidak bisa mengantar Aisyah pulang, karena saat ini sedang mengantar Papa Narandra check-up.
Aisyah meminta Zahra untuk memesankan taksi online saja, tapi Zahra menolak. Dan saat mereka melihat Satria pulang, Zahra langsung bergelayut manja sembari memohon agar Suaminya itu mengantar Aisyah pulang.
Aisyah menolak, dia tidak mau merepotkan Satria. Lagipula dirinya masih canggung jika berduaan saja di dalam mobil.
"Nggak usah Mbak, biar aku naik taksi saja. Kasihan Mas Satria baru pulang, pastinya capek."
Melihat Zahra memaksa, Satria pun akhirnya bersedia mengantar Aisyah pulang.
Keduanya bergegas setelah pamit, lalu Satria membukakan pintu mobil untuk Aisyah.
Zahra mengintip keduanya dari balik tirai jendela dan dia menitikkan air mata. Meski dirinya yang memaksa dan tentunya ikhlas, tapi ternyata hatinya begitu sedih dan sakit.
Makanya, besok setelah pernikahan usai, Zahra akan langsung berangkat ke kampung halamannya.
Pertahanan Zahra pasti akan runtuh, saat melihat momen-momen sang suami berada di kamar bersama istrinya yang lain.
Sepanjang perjalanan, keduanya lebih banyak diam. Keduanya masing-masing kikuk dengan situasi hubungan yang dipaksakan.
Sekalinya ingin membuka percakapan, bisa barengan, hingga membuat keduanya tertawa dan malu.
"Silakan kamu duluan Syah, apa yang ingin kamu ucapkan," pinta Satria sembari matanya tetap fokus melihat jalanan.
"Mas aja dulu. Memangnya Mas Satri mau membicarakan tentang apa?"
"Oh, tentang pernikahan besok. Apakah Pak Yusuf sudah diberitahu?"
Aisyah menggeleng, lalu berkata, "Mbak Zahra ada-ada saja, membawa saya berbelanja kebutuhan besok tanpa pemberitahuan sebelumnya."
"Begitulah sifat Zahra Syah, makanya aku tidak akan pernah menceraikan dia, meski Zahra memiliki kekurangan yang fatal dalam pandangan keluargaku. Bagiku Zahra wanita paling sempurna yang pernah aku kenal."
Aisyah terpaku, dia tahu cinta Satria sangat besar dan hanya untuk Zahra, serta tidak akan pernah terbagi untuk dirinya.
Bersambung.....
__ADS_1