
Satria mondar mandir di depan ruangan operasi, dia sangat cemas melihat kondisi Zahra yang parah. Sedangkan Aisyah saat ini sudah sadar dan memaksakan diri ingin melihat Zahra.
Suster melarang, tapi Aisyah tidak peduli dan saat suster meninggalkan ruangan, Aisyah pun keluar dengan membawa tiang penyanggah infusnya.
Saat tiba di depan ruangan operasi, Aisyah pun jadi ragu untuk mendekat. Di sana dia melihat Narandra baru saja tiba dan sedang memberikan dukungan kepada Satria.
Melihat Satria begitu terpukul, Aisyah pun makin merasa bersalah, dia akhirnya mengurungkan niat untuk mendekati keduanya.
Narandra meminta Satria untuk tidak melaporkan kasus ini kepolisi, beliau ingin menyelesaikan secara kekeluargaan karena bagaimana pun Gladis masih anggota keluarganya.
Beliau tidak ingin masalah ini membuat nama keluarganya tercemar dan hubungannya dengan adik satu-satunya kembali rusak.
Satria akhirnya mengalah, tapi jika sampai Zahra meninggal gara-gara perbuatan Gladis ini, dia tidak akan membiarkan Gladis bebas.
Narandra pun setuju, lalu dia menghubungi asistennya untuk menemukan Gladis, setelah itu dia memberitahu Herlina serta Papa Gladis tentang masalah yang terjadi.
Herlina sangat terkejut, begitu pula dengan Papa Gladis. Dia tidak percaya jika Gladis sanggup untuk melakukan hal sekeji itu.
Papa Gladis bersama ibu muda pergi menemui Satria, beliau ingin meminta maaf atas perbuatan Gladis.
Namun saat tiba di sana, Herlina yang juga baru sampai langsung menarik madunya. Dia menyalahkan wanita itu yang menjadi penyebab semuanya.
Papa Gladis marah dan dia gantian menarik Herlina serta mengatakan jika Herlina lah yang selama ini terlalu memanjakan Gladis hingga menjadi gadis yang nakal dan urakan.
Adu mulutpun terjadi hingga para pengunjung rumah sakit berkerumun menonton kejadian itu.
Papa Gladis malu, lalu dia mengajak sang istri muda untuk pergi meninggalkan Herlina.
Herlina mengejar keduanya, tapi Papa Gladis tidak memperdulikan hal itu.
Narandra yang dari kejauhan melihat keributan tersebut pun menggelengkan kepala, dia tidak habis pikir dengan Herlina yang tidak juga menyadari akan kesalahannya.
Papa Gladis memilih menikah lagi karena Herlina selama ini selalu mengabaikannya. Herlina lebih mementingkan pergaulannya ketimbang diam di rumah mengurus suami.
Ketika ketiganya mendekat, Narandra pun berkata, "Jika kalian datang hanya ingin membuat keributan, sebaiknya pergi dari sini. Cari anak kalian sebelum dia melakukan hal nekat lainnya."
"Semua kesalahan kalian, kenapa lalai memperhatikan dia. Aku kan sudah bilang, bawa dia ke panti rehabilitasi, tapi kamu Her, malah melarang."
"Kalau sudah begini, siapa yang yang susah! Menantuku terluka dan Gladis terancam dipenjara."
"Kak tolong, jangan laporkan Gladis. Sat, tolong ya Sat. Tante janji akan membawa Gladis kali ini dan Tante yakinkan dia tidak akan mengganggu kalian."
__ADS_1
"Maaf Tan, jika sampai Zahra tidak tertolong, aku tidak bisa memaafkan dia," ucap Satria sembari pergi dari sana.
Satria ingin menghindari mereka dengan menjenguk Aisyah. Tapi Satria terkejut saat melihat ruangan Aisyah kosong.
Diapun berlari keluar, bertanya kepada para suster yang ada di ruang pelayanan, tapi salah satunya berkata jika Aisyah tadi pergi untuk melihat Zahra.
Satria merasa khawatir, dia berkeliling mencari tapi tidak menemukan Aisyah.
Kemudian, Satriapun menelepon Pak Yusuf memberitahukan semuanya dan Pak Yusuf pun terkejut karena Aisyah sama sekali tidak ada menghubunginya.
Beliau berjanji akan membantu mencari Aisyah, sementara Satria kembali untuk menemui sang Papa.
Pikiran Satria makin kacau dan dia menyesalkan semuanya. Semua ini terjadi karena keegoisan mereka yang ingin mendapatkan penerus.
Zahra terluka, Aisyah pergi karena merasa bersalah, Gladis hancur dan dirinya sendiri bingung, apa yang saat ini harus dilakukan.
Satria menemui Narandra dan mengatakan jika Aisyah menghilang. Narandra pun akhirnya meninggalkan rumah sakit, dia akan membantu mencari Aisyah.
Pak Yusuf yang ingat jika Aisyah sedih pasti dia akan pergi ke makam ibunya, langsung bergegas kesana dan benar saja, Aisyah sedang menangis sambil memeluk batu nisan sang ibu.
Sebelum mendekati Aisyah, Pak Yusuf menghubungi Satria dan juga Narandra, agar jangan khawatir karena beliau telah menemukan Aisyah.
Kemudian beliau pun mendekati Aisyah, mengelus kepalanya dan berkata, "Nduk, kenapa kamu pergi kesini nggak pamit? suami dan papa mertuamu sangat khawatir."
"Kita nggak mungkin melakukan hal itu sebelum bayimu lahir Nduk. Nanti Tuan Narandra malah mengira jika kita tidak mau memberikan cucunya."
"Tapi Pak, nggak ada cara lain untuk menyelamatkan bayiku. Kecuali Gladis di penjara. Tapi aku juga belum yakin jika Tante Herlina akan membiarkan hal itu dan tidak menyakitiku."
"Gladis sudah gila Pak, dia bisa melakukan apapun untuk mencapai keinginannya. Dia dendam karena menurutnya aku dan bayi ini adalah penghalang hingga dia tidak jadi menikah dengan Mas Satria."
"Tapi Nduk, apa tidak sebaiknya kita pamit dulu, jadi mereka bisa tahu kapan harus menjemput bayi ini nantinya."
"Pak, aku tidak tahu apa bakal sanggup berpisah darinya. Semakin kesini aku makin menyayangi bayi ku," jawab Aisyah yang kembali menangis.
Pak Yusuf pun bingung harus bagaimana, satu sisi dia memikirkan nasib Aisyah, di sisi lain beliau tidak mau menjadi seorang pengkhianat.
Saat mereka hendak meninggalkan tempat itu, ternyata Satria muncul dibelakang mereka hingga membuat Pak Yusuf gugup.
Beliau takut jika Satria mendengar pembicaraannya tadi dengan Aisyah.
Ternyata Satria memang mendengar hal itu dan dia langsung menarik Aisyah kedalam pelukannya.
__ADS_1
Satria memeluk erat Aisyah dan berkata, "Tolong jangan tinggalkan aku Syah. Saat ini cuma kalian yang menjadi penyemangat ku."
"Tapi Mas, kami hanya menyusahkan Mas dan Mbak Zahra. Karena aku semua ini terjadi."
"Bukan salahmu Syah tapi semua ini kesalahanku yang tidak becus menjaga kalian."
"Ayo kita pulang Syah, Zahra sudah sadar dan ingin bertemu kamu. Jadi tolong, jangan kecewakan dia. Zahra telah berkorban demi menyelamatkan bayi kita."
"Iya Nduk, suamimu benar. Ayo kita pulang dan temui Non Zahra."
Akhirnya Aisyah pun menurut, dia ingin melihat kondisi Zahra.
Sesampainya di rumah sakit, Satria langsung membawa Aisyah ke ruangan Zahra karena Suster baru saja telepon jika kondisi Zahra kembali drop.
Aisyah menangis saat melihat Zahra yang terbaring dengan kondisi memprihatinkan, lalu dia menggenggam tangan Zahra sembari meminta maaf.
Zahra dengan nafas yang tersengal berusaha berbicara. Dia mengulurkan tangannya kepada Satria.
Satriapun mendekat lalu dia mencium kening Zahra dan berkata, "Istirahatlah sayang, kamu harus sembuh."
Zahra tersenyum lalu menggapai tangan Aisyah dan berkata terbata, "Syah, aku harus pergi. Tolong bahagiakan keluarga Narandra. Rawat dan besarkanlah anak kita bersama Mas Satria."
Sejenak Zahra terdiam untuk mengatur nafasnya, lalu dia melanjutkan ucapannya, "Jika dia besar nanti, katakan padanya jika aku sangat menyayangi dia."
Aisyah tak kuasa menahan tangis, lalu dia memeluk Zahra dan berkata, "Mbak harus semangat, Mbak Zahra ibunya, jadi Mbak lah yang harus membesarkannya."
Zahra menggeleng sembari meneteskan air mata, lalu dengan susah payah dia kembali berkata, "Mas aku sudah tidak kuat, tolong bimbing aku."
Satria meneteskan air mata dan diapun membacakan kalimat Allah untuk membimbing kepergian Zahra.
Zahra mengikutinya perlahan dan tiba di penghujung kalimat, diapun menghembuskan nafas terakhirnya sembari menutup mata.
Tangis memenuhi ruangan tersebut, Zahra telah pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.
Dokter memeriksa Zahra dan beliaupun mengucapkan bela sungkawa, agar Satria dan Aisyah tabah, merelakan kepergian Zahra.
Narandra dan Pak Yusuf yang diberitahu oleh suster segera masuk dan Narandra pun menghubungi pelayan di rumah untuk mempersiapkan tempat karena jenazah Zahra akan dibawa pulang.
Semua persiapan untuk penyelenggaraan jenazah, beliau percayakan kepada kepala pelayan.
Setelah mengurus semuanya, merekapun membawa jenazah Zahra dengan ambulance yang telah disediakan oleh pihak rumah sakit.
__ADS_1
Bersambung.....