
Keduanya saling tatap saat Aisyah keluar dari kamar mandi. Meski wajah Aisyah polos tanpa riasan dia tetap terlihat sangat cantik.
Tapi, Satria melihat di sekitar lingkar mata Aisyah sedikit berbeda, dia bisa menebak jika Aisyah tidak tidur semalaman.
"Maafkan aku Syah, tadi malam ketiduran, kamu tidak tidur ya?"
"Tidur kok Mas. Oh ya, apakah kita akan sholat berjamaah Mas, biar aku tunggu," ucap Aisyah yang mencoba mengalihkan pertanyaan Satria.
"Eh, iya Syah. Sebentar ya, aku mandi dulu," jawab Satria.
Satria pun menyambar handuk lalu bergegas ke kamar mandi.
Aisyah menyiapkan pakaian sholat Satria, lalu menggelar sajadah dan memakai mukenah sembari menunggu Satria selesai.
Di kampung halaman Zahra, diapun tidak bisa tidur tadi malam hingga pagi ini bangun kesiangan.
Zahra melompat dari tempat tidur lalu bergegas membersihkan diri, berwudhu dan melaksanakan kewajiban seperti biasa. Dalam doanya Zahra meminta agar terus bisa ikhlas meskipun sulit.
Bayangan sang suami bermalam pengantin dengan Aisyah membuat Zahra kembali menitikkan air mata. Ternyata beginilah rasa sakit yang dirasakan seorang istri saat suaminya ada dalam pelukan wanita lain.
Suara ketukan dan panggilan ibu membuat Zahra buru-buru menghapus airmata yang meleleh, lalu dia menyapukan spons bedak untuk menutupi area matanya yang sedikit sembab.
Setelah itu, Aisyah pun membuka pintu dan melihat ibu tengah berdiri sambil membawakannya susu serta sarapan pagi.
"Kamu baru selesai sholat Ra? Pantas saja lama membuka pintunya. Ini ibu bawakan sarapanmu, karena ibu pikir kamu masih lelah, biarlah sarapan di kamar saja."
"Maaf Bu, Zahra kesiangan. Sudah lama tidak melakukan perjalanan jauh membuat tubuh Zahra lelah."
"Iya Ra, nanti selesai sarapan ibu balur tubuhmu dengan minyak kusuk biar hilang capeknya. Sekarang makanlah sarapan mu, ibu mau ke pasar sebentar."
"Iya Bu, terimakasih ya Bu. Besok biar Zahra saja yang ke pasar. Zahra rindu kampung ini dan ingin bertemu teman-teman Zahra.
"Ibu pun mengangguk lalu bergegas pergi. Beliau tidak mau kesiangan karena masih harus pergi ke ladang untuk membantu Ayah Zahra panen buah dan sayur mayur.
Selesai sarapan Zahra pergi ke dapur, dia mencuci piring, lalu membersihkan rumah yang belum sempat ibu kerjakan.
__ADS_1
Di rumah orangtua Zahra tidak ada jasa pembantu seperti di kediaman Narandra. Jadi Zahra kembali membiasakan diri untuk mengerjakan pekerjaan rumah seperti saat dia masih gadis.
Orangtua Zahra bukan tidak sanggup membayar pembantu tapi mereka memang tidak mau, katanya lebih nyaman di kerjakan sendiri saja.
Lagipula mereka hanya tinggal berdua, sementara kakak dan adik Zahra juga tinggal di luar provinsi yang seringkali pulang hanya saat lebaran saja.
Zahra sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah saat sang ibu pulang dari pasar.
Dan begitu melihat rumahnya sudah bersih serta rapih, ibu Zahra pun berkata, "Kenapa kamu kerjakan sendiri Ra, biar ibu saja nanti sepulang dari kebun."
"Nggak apa-apa Bu, lagipula Zahra bosan hanya di kamar saja. Sini Bu, biar Zahra yang masak, ibu susul bapak saja. Nanti jika masakannya sudah matang, biar Zahra yang antar kesana."
"Kamu serius mau melakukannya Ra, nanti tangan kamu kotor. Ibu nggak enak dengan Nak Satria."
"Ibu jangan khawatir, Zahra bisa kok melakukannya dan Mas Satria nggak mungkin marah. Ibu kan tahu, Mas Satria nggak pernah marah dengan Zahra. Lagipula apa salahnya jika Zahra membantu orangtua, mumpung sedang di sini."
"Kapan lagi bisa menikmati momen seperti ini. Di sana semuanya serba orang lain yang mengerjakannya."
"Ya sudah, ibu pergi dulu ya. Jadi kapan nih ibu ngebalur tubuhmu?"
"Baiklah Nak, ibu bersiap dulu ya. Nanti jika kamu masih lelah, minta tolong Udin saja untuk mengantar makanan ke kebun."
"Iya Bu."
Kemudian ibupun mengganti pakaiannya dengan baju yang biasa beliau gunakan untuk ke ladang.
Setelah itu beliau pun menjinjing tas berisi air minum dan berjalan menyusuri jalan setapak yang tepatnya berada di belakang rumah mereka.
Jarak rumah ke ladang sekitar 20 menit, tapi bagi orang yang tidak terbiasa merasa sangat lama untuk sampai ke sana.
Zahra pun menyiangi ikan dan membersihkan sayur, meski sudah lama tidak mengerjakan hal-hal seperti itu tapi Zahra masih cekatan dalam melakukannya.
Hanya saja dia lebih berhati-hati saat menggoreng, karena takut terciprat minyak panas.
Sejenak Zahra jadi lupa dengan Satria dan juga Aisyah. Dia fokus menghasilkan masakan untuk menyenangkan hati orangtuanya.
__ADS_1
Begitu masakan selesai, Zahra pun membaginya masing-masing ke dalam dua tempat, satu tempat untuk di bawa ke ladang dan satu lagi untuk persediaan makan malam mereka nanti.
Nasi, lauk serta sayur sudah Zahra susun dalam rantang, lalu dia membersihkan dapur dan alat masak, setelah itu bergegas menuju ladang.
Sudah lama tidak pernah berjalan kaki dengan jarak yang jauh, membuat nafas Zahra ngos-ngosan.
Beberapa kali dia berhenti untuk mengatur nafas, lalu kembali melanjutkan perjalanan.
Wajah Zahra memerah terkena cahaya matahari, tapi dia tidak mengurungkan niat untuk menyusul kedua orang tuanya.
Warga yang berpapasan dengan Zahra, menyapanya. Lalu mereka pun ngobrol sejenak, membicarakan tentang anak-anak mereka yang juga merantau ke luar daerah.
Zahra melanjutkan perjalanan dan akhirnya tiba juga di ladang. Di sana Zahra melihat Ayah serta ibunya sedang memetik buah di bantu oleh beberapa penduduk yang biasa bekerja dengan sang ayah.
Melihat Zahra tiba, Ayah dan ibu langsung menuju gubuk tempat biasa mereka beristirahat dan makan siang. Lalu mereka pun meminta Zahra untuk minum, menghilangkan dahaga selama perjalanan tadi.
"Lihatlah Ra, wajahmu memerah, kenapa tadi tidak meminta Udin saja untuk mengantarnya."
"Nggak apa-apa yah, Zahra mau lihat-lihat ladang. Ternyata panen raya ya Yah?"
"Iya Nak, makanya harga sedikit anjlok. Tapi kita harus tetap bersyukur. Berapapun rezeki yang diberikan Allah, sedikit atau banyak yang penting berkah."
"Iya Yah."
"Ayo Bu kita kesana, mumpung belum saatnya makan siang. Zahra ingin melihat panen lebih dekat dan membuat videonya untuk Zahra kirim ke Mas Satria."
"Mas Satria pasti sangat senang dan suatu hari nanti pasti bakal mengajak Zahra untuk kesini lagi."
"Ayo Yah!" ajak Zahra.
Ayah dan ibupun kembali memanen buah tomat dan yang lainnya, sedangkan Zahra masih asyik memfoto dan membuat konten video.
Di rumah Aisyah, selesai sarapan keduanya pun menghabiskan waktu dengan pekerjaannya masing-masing.
Aisyah dan Satria, sibuk berkutat dengan laptop serta ponsel masing-masing. Mereka hanya libur 3 hari saja, setelah itu akan kembali ngantor seperti biasa.
__ADS_1
Bersambung....