MENGANDUNG BENIH TITIPAN CEO

MENGANDUNG BENIH TITIPAN CEO
BAB 36. BAHAGIA DENGAN MEWUJUDKAN AMANAH ZAHRA (TAMAT)


__ADS_3

Selama dalam perjalanan, Satria tak lepas perhatiannya dari jasad Zahra.


Dia merasa semuanya seperti mimpi. Semua kenangan bersama Zahra melintas satu persatu hingga membuat Satria tak bisa membendung air matanya lagi. Kini tawa dan canda istrinya itu tidak akan terdengar lagi.


Saat tiba di rumah, para pelayan pun membantu Satria menurunkan jenazah dan membaringkan pada tempat yang telah disiapkan.


Papa Gladis yang mendengar berita tersebut langsung menuju ke rumah duka. Beliau menyerahkan pencarian Gladis kepada para anggotanya.


Sementara Herlina tidak mau pulang, dia takut jika Satria akan membuktikan ancamannya. Makanya Herlina harus segera menemukan Gladis.


Gladis yang tidak memiliki uang lagi, telah menjual sepeda motornya dan kini dia tinggal di sebuah penginapan kecil untuk menghindar dari keluarga Narandra.


Tapi saat uangnya hampir habis, tidak ada jalan lain lagi selain menghubungi sang mama.


Herlina langsung menuju ke penginapan tersebut, dia akan membawa Gladis pergi sejauh mungkin agar tidak tertangkap.


Tapi Herlina juga bingung harus kemana karena tabungannya pasti akan habis jika dia tidak mendapatkan subsidi lagi dari sang Kakak.


Herlina menghubungi kekasihnya dan menceritakan tentang masalah yang sedang menimpa Gladis, bukannya memberi solusi serta menolong, malah menutup panggilan dengan alasan ada urusan penting yang harus diselesaikan.


Rasa kecewa membuat Herlina melampiaskan kekesalannya dengan melempar ponsel ke atas tempat tidur hingga mengenai kepala Gladis.


Gladis mengaduh, lalu dia memaki-maki sang mama hingga membuat Herlina diam mematung. Dia tidak percaya jika Gladis tega melakukan hal itu terhadapnya.


Karena ucapan Gladis begitu kasar dan menyakitkan akhirnya membuat Herlina pergi meninggalkan kamar tersebut.


Daripada dia berbuat kasar, lebih baik menghindar untuk sementara guna mendinginkan hati serta kepalanya.


Gladis berteriak, lalu dia mengejar Herlina yang sudah masuk ke dalam mobil.


Herlina meninggalkan penginapan tersebut tanpa menoleh ke belakang karena dia ingin memberi Gladis pelajaran. Herlina yakin, Gladis tidak akan mampu hidup tanpa bantuan darinya.


Benar saja dugaan Herlina, Gladis berlari mengejar mobilnya yang semakin menjauh.


Tanpa Gladis sadari, sebuah mobil Van melaju kencang dari arah depannya dan tak ayal lagi tubuhnya langsung terpental dan akhirnya dia meregang nyawa ditempat.


Pengendara lari meninggalkan jasad Gladis yang bersimbah darah dan orang-orang yang melintas di sanapun menjerit, lalu berkerumun.


Herlina yang kepikiran Gladis akhirnya memutar balik mobil dan dia terkejut saat melihat orang-orang ramai berkerumun di jalanan tempat dia tadi meninggalkan Gladis.


Saat ada yang memberitahu jika seorang Gadis kemungkinan meninggal karena tabrak lari, Herlinapun buru-buru menepikan mobilnya.

__ADS_1


Dia turun, lalu mendekati korban dan saat melihat ciri-ciri yang menunjukkan jika jenazah itu adalah Gladis, Herlinapun jatuh pingsan.


Wajah Gladis hancur, berlumuran darah, jadi tidak bisa dikenali lagi. Hanya pakaian serta kartu identitasnya saja yang membuktikan jika jenazah itu adalah Gladis putri Herlina.


Orang-orang membantu mengangkat tubuh Herlina ke tepi jalan, lalu salah satu dari mereka mencari nomor kontak di hape Herlina yang bisa mereka hubungi untuk datang.


Kebetulan nomor kontak yang mereka hubungi adalah nomor Narandra dan Narandrapun terhuyung sambil memegangi dadanya yang sakit.


Seorang pelayan yang melintas langsung memapah Narandra untuk duduk di sofa, lalu mereka memberitahukan hal itu kepada Satria.


Satriapun bangkit, lalu menghampiri sang Papa. Diapun terkejut saat mendengar penuturan Narandra.


Satria hanya menghela nafas, dia tidak menyangka jika Allah langsung membalas kejahatan Gladis pada saat itu juga.


Saat ini Satria bingung dengan perasaannya, apakah dia harus sedih atau malah senang saat mendengar berita kematian Gladis.


Karena melihat kondisi Narandra yang begitu terpukul, Satriapun menghilangkan ego serta rasa dendamnya. Diapun meminta orang kepercayaannya untuk mengurus masalah tersebut hingga mengatur pemakaman Gladis.


Sedangkan dia akan fokus dengan prosesi pemakaman Zahra.


Satriapun memberitahukan hal itu kepada Papa Gladis dan sang Papa yang terkejut langsung bergegas meninggalkan rumah Narandra bersama sang istri muda.


Prosesi pemakaman Zahra pun berlangsung hingga mereka selesai mengantarkan ke tempat pemakaman umum.


Rumah Narandra di rundung duka dan berita tersebut segera menyebar ke seluruh media.


Narandra tidak mau keluar untuk menemui wartawan. Beliau memilih tetap berada di dalam kamarnya. Sedangkan Satria menolak wartawan yang ingin mewawancarainya.


Herlina yang sudah sadar berteriak memanggil-manggil Gladis. Herlina sangat terpukul dengan kematian putrinya.


Sejak Gladis dikebumikan, Herlina seperti orang gila, sebentar dia menangis, lalu berteriak dan kadang juga tertawa.


Akhirnya Herlina pun terpaksa dikurung dalam kamar agar tidak menyakiti orang-orang yang dia anggap telah menyebabkan kematian Gladis.


Setelah tujuh hari kematian putrinya, Papa Gladispun membawa Herlina ke psikiater. Herlina tidak memiliki semangat hidup lagi, dia tidak mau makan ataupun minum.


Tubuh Herlina kian hari makin kurus dan karena Papa Gladis harus kembali mengurus bisnisnya di luar kota, diapun terpaksa memasukkan Herlina ke rumah sakit jiwa.


Narandra tidak bisa berbuat apapun, dia juga tidak mungkin merawat Herlina dirumahnya yang bisa saja mengancam keselamatan semua penghuni rumahnya terutama Aisyah.


Dalam keadaan seperti itu, Herlina bisa kapan saja melukai Aisyah dan calon bayinya.

__ADS_1


Hari pun terus berlalu, Herlina masih juga berada di rumah sakit jiwa dan Papa Gladis sesekali datang untuk menjenguk sang istri.


Aisyah dan Satriapun hidup layaknya pasangan suami istri seperti yang Zahra amanatkan. Narandra juga tidak mempermasalahkan hal itu.


Saat mendekati proses lahiran, semua menjadi panik. Aisyah telah mengeluarkan darah ketika Satria membawanya ke rumah sakit.


Begitu tiba di rumah sakit, sang bayipun lahir di dalam mobil sebelum mereka sempat membawanya ke ruangan persalinan.


Satria menangis saat dialah yang menampung kelahiran bayinya sementara Pak sopir sedang memanggil perawat untuk membantu proses persalinan tersebut.


Merekapun buru-buru memindahkan Aisyah ke atas brankar bersama sang bayi, lalu membawa ke ruangan bersalin untuk dibersihkan.


Rasa khawatir Satria kini berubah menjadi perasaan bahagia saat dokter memperbolehkan dirinya masuk untuk menyuarakan lafadz adzan di telinga putranya.


Kini keluarga Narandra sudah memiliki penerus, berkat pengorbanan Aisyah dan Zahra.


Satriapun mencium kening Aisyah sembari mengucapkan terimakasih karena telah melahirkan putra yang sangat sehat dan juga tampan.


Aisyahpun menitikkan air mata saat Satria memberikan sang putra ke dalam gendongannya untuk disusui.


Kini kebahagiaan mereka sudah lengkap, meski mereka sempat bersedih karena teringat almarhumah Zahra.


Andai saja Zahra masih hidup, dia pasti akan sangat senang membantu merawat serta membesarkan baby putra Satria.


Narandra yang mendengar cucunya telah lahir, langsung mengajak Pak Yusuf untuk menjenguknya. Kini harapannya telah terkabul, ingin mendapatkan penerus sebelum kematiannya tiba.


Satria dan Aisyah pun akhirnya hidup bahagia bersama putra kecilnya. Dan setiap akhir pekan mereka menyempatkan diri untuk mengunjungi makam


Zahra.


Meski Zahra sudah tiada tapi Aisyah dan Satria tetap ingin memperkenalkan sosok Zahra kepada anak keturunan mereka.


🌻🌻🌻🌻TAMAT🌻🌻🌻🌻


Terimakasih kepada sobat semua yang telah mendukung karya-karya ku, sampai ketemu dikarya author selanjutnya.


Saya Julia Fajar undur diri, selamat menyambut datangnya bulan suci Ramadhan untuk yang seakidah dengan saya dan selamat malam untuk semuanya.


Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan, kebahagiaan serta keberkahan di sisa usia kita. Aamiin...


Akhirul kalam, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh πŸ™πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2