MENGANDUNG BENIH TITIPAN CEO

MENGANDUNG BENIH TITIPAN CEO
BAB 17. SARAN SERTA KEYAKINAN IBU


__ADS_3

Tubuh Zahra bergetar, dia berusaha menghentikan tangisnya. Satu sisi hatinya senang, keinginannya untuk memberikan keturunan bagi keluarga Narandra akan segera tercapai.


Namun di sisi lain hatinya sangat terluka, cinta suami yang selama ini hanya miliknya kini telah terbagi.


Derit suara pintu membuat Zahra terkejut dan dia tidak bisa lagi menyembunyikan wajahnya yang sembab karena menangis.


Ibu yang sejak awal memang curiga, mendekati Zahra lalu menarik Zahra ke dalam pelukannya.


Di sana Zahra menangis sejadi-jadinya, dia tak kuasa menyembunyikan perasaannya lagi terhadap orang yang telah melahirkannya.


"Menangislah Nak, ibu tahu kamu sedang ada masalah. Tapi ibu selama ini sengaja diam. Ibu ingin tahu sampai di mana kamu sanggup untuk menyembunyikannya dari kami."


"Hiks...hiks...hiks, maafkan Zahra Bu. Zahra telah membohongi Ibu dan Ayah."


"Ceritalah jika kamu sudah tidak tahan untuk menyimpannya lagi. Berbagilah dengan kami Nak, jangan kamu pendam terus."


Kemudian dengan terisak-isak, Zahra pun menceritakan semuanya, termasuk tentang dirinya yang datang ke kampung karena ingin memberikan kesempatan kepada madunya untuk memadu kasih dengan sang suami.


Ibu mendesah, beliau tidak menyalahkan dan juga tidak membenarkan keputusan Zahra. Inilah resiko yang mau tidak mau harus ditanggung Zahra karena telah berani mengambil keputusan seperti itu.


Beliau hanya menyarankan, Zahra harus kembali karena dia masih memiliki kewajiban sebagai seorang istri dan menantu di keluarga itu.


"Sayang, bukannya ibu mengusirmu, tapi ini kewajiban ibu untuk menasehati kamu. Besok pulanglah! Kamu masih punya kewajiban. Dan tidak baik meninggalkan suami terlalu lama meskipun dia sudah memiliki pendamping lain."


"Kamu dan Aisyah saat ini sama kedudukannya. Dan kalian wajib menjalankan tugas masing-masing, meskipun pastinya akan merasa sakit."


"Menurut saran ibu, berlakulah adil, Aisyah juga berhak bahagia."


"Kalian terlalu egois jika hanya memanfaatkan dia sebagai pelahir keturunan dan setelah itu dia kalian jauhkan dari anaknya."


"Andai kamu yang ada di posisinya, ibu tidak akan pernah mengizinkanmu menerima perjanjian itu."


"Karena hidup dan kebahagiaan seorang ibu ada pada anak-anaknya."


"Bisa melihat anak-anak tumbuh dan besar adalah kebahagiaan tersendiri bagi seorang ibu."


"Jadi ibu mohon Nak, kalian pertimbangkan lagi perjanjian itu. Sebisa mungkin ikhlaslah berbagi meski sulit dan pastinya sakit."


"Semua konsekuensi dari keputusan yang telah kalian ambil harus ditanggung bersama, apapun resikonya."


Kini hati Zahra mulai tenang, dia akan belajar ikhlas seperti nasehat sang ibu.

__ADS_1


Apalagi dia tahu, Aisyah anak piatu yang sejak kecil tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu.


Dan Aisyah juga wanita yang memiliki budi pekerti luhur, serta penyayang. Jadi tidak salah jika Zahra menganggap Aisyah sebagai adik.


"Bagaimana Nak, apa kamu mengerti dan paham dengan apa yang ibu jelaskan?"


"Terimakasih Bu, Zahra paham. Inshaallah Zahra akan ikhlas berbagi dengan Aisyah."


"Alhamdulillah Nak, ibu yakin Aisyah juga wanita baik meski ibu belum pernah bertemu dengannya."


"Anak ibu tentunya tidak akan sembarangan menitipkan miliknya yang paling berharga kepada orang yang tidak baik."


"Dan ibu yakin jika Aisyah tidak akan serakah, mengambil Satria dari kamu untuk dirinya sendiri."


"Iya Bu," ucap Zahra sembari menghapus air matanya.


"Besok Zahra akan pulang Bu. doakan kami ya Bu, agar rumah tangga kami mendapatkan keberkahan serta kebahagiaan."


"Tentu Nak, setiap ibu pasti menginginkan anaknya bahagia."


"Sekarang kita susul ayah yuk, sudah saatnya untuk makan siang. Kasihan, ayah kamu pasti kelaparan."


Kemudian Zahra pun bergegas ke dapur, sementara ibu mengganti pakaiannya dengan baju yang biasa beliau gunakan ke ladang.


Ibu dan anak itupun bergegas menyusuri jalan setapak, untuk membawakan bekal makan siang si Ayah.


Satria dan Aisyah sudah membersihkan diri lalu mereka bergegas untuk makan siang bersama.


Sejak pagi mereka tidak melihat Gladis, dan hal itu juga ditanyakan oleh Narandra.


Bibi mengatakan jika Gladis keluar sejak tadi malam dan hingga sekarang belum kembali.


Narandra mencoba menghubungi ponsel Gladis, tapi di non aktifkan. Akhirnya Narandra pun menelepon Herlina, mama Gladis tapi malah dipersalahkan.


Herlina mengatakan jika keluarga Narandra tidak peduli akan keberadaan Gladis di sana.


Sore ini, Herlina akan terbang, kembali ke Jakarta untuk mencari Gladis.


Dia mengancam, Narandra harus bertanggungjawab jika sampai terjadi hal buruk terhadap putrinya itu.


Narandra kesal, dia mematikan ponsel lalu meminta Satria dan Aisyah untuk mencari Gladis.

__ADS_1


Satria dan Aisyah tidak berani membantah, meski mereka malas jika berhubungan dengan masalah Gladis.


"Papa jangan khawatir, Gladis pasti pulang. Lagipula, Tante tidak berhak menyalahkan kita. Toh anak Gadisnya yang terlalu liar dalam bergaul."


Narandra menatap Satria, beliau tidak senang jika ada yang menjelekkan adik serta keponakannya itu. Tapi Narandra juga tidak membantah omongan Satria.


"Ayo kita makan lagi Pa, Papa harus minum obat setelah itu. Nanti biar aku dan Aisyah yang akan mencari Gladis di tempat dia dan teman-temannya sering nongkrong."


Akhirnya Narandra pun tenang dan melanjutkan makannya. Setelah itu Aisyah mengambilkan obat dan memberikannya kepada Narandra untuk diminum.


Setelah selesai, Narandra kembali ke kamar, sedangkan Satria dan Aisyah akan mengganti pakaian lalu pergi mencari Gladis.


Kali ini, Bibi yang membereskan sendiri meja serta mencuci semua peralatan makan.


Satria menyiapkan mobil dan Aisyah pun pamit kepada Bibi, jika mereka akan mencari Gladis.


Jika sampai malam mereka belum juga kembali, Aisyah meminta Bibi untuk menyiapkan makanan serta obat buat Narandra.


Satria mengajak Aisyah ke cafe di mana Gladis sering nongkrong tapi mereka tidak menemukannya di sana.


Lalu Satria pun berkeliling, barangkali Gladis bersama teman-temannya sedang balapan motor.


Setelah lelah berkeliling, Satria pun mengajak Aisyah untuk nongkrong sambil menikmati es kelapa muda. Satria berharap, akan melihat Gladis di sekitar tempat itu.


Dan ternyata rezeki langkah kanan, Gladis datang bersama seorang pria yang tampangnya menyeramkan.


Satria menahan tangan Aisyah agar jangan memanggil maupun menghampiri.


Mereka akan berpura-pura tidak melihat, karena Satria ingin tahu, siapa pria itu serta apa yang mereka lakukan di tempat tersebut.


Samar-samar Satria melihat Gladis menyerahkan sejumlah uang dan sembari celingukan, pria itu menyerahkan sebuah benda dari bawah meja.


Satria menduga jika apa yang Gladis lakukan adalah hal berbahaya.


Setelah minum sejenak, keduanya pun pergi, lalu Satria dan Aisyah menguntit mereka. Mereka harus tahu, Gladis akan pergi kemana bersama pria sangar tersebut.


Keduanya berhenti di sebuah rumah yang sepertinya sudah lama tidak di huni, lalu dengan celingukan pria itu menggandeng Gladis untuk masuk.


Tempat apakah itu?"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2