
"Terimakasih Casandra, loe masih perduli sama gue" dengan pedenya Nathan berbicara seperti itu. Sambil tersenyum dan salting
"Ge er banget loe, gue kan kalah bertanding dan kemungkinan kemarin tuh, pertandingan yang terakhir gue" Casandra memberi tahu pada Nathan bahwa ia sudah tidak lagi bertandang motor. Karena kemungkinan besar Casandra akan pindah ke luar Negeri kalau jadi.
"Maksudnya,? " tanya Nathan merasa tak paham.
"Gue minta maaf selama ini gue udah sering usilin elo, bikin jengkel elo dan bikin loe ilfil sama gue, bikin elo gak nyaman saat gue bilang kalau gue ngejar-ngejar cinta loe, " Casandra menundukkan kepalanya dan merasa bersalah, apalagi teringat perempuan yang pernah membuat Nathan sampai tertawa dan tersenyum.
Ada rasa sakit dan perih jika teringat itu. Tapi Casandra harus ikhlas dan ridho untuk melupakan Nathan.
Casandra balik badan setelah memberikan bekal dan kalimat maaf pada Nathan, sehingga Casandra tanpa sadar menitikan air matanya. Namun segera iya usap, takut ada yang melihat.
Nathan hanya melihat punggung Casandra dari belakang, tidak berani memanggilnya.
Ada rasa penasaran dan menyesal, sudah membuat Casandra merasa tersakiti.
Ting.
Sebuah pesan masuk di aplikasi hijau Nathan, dan ternyata itu adalah Aisyah. Anak pesantren yang kemarin ia kenal.
Tapi Nathan mengabaikan pesan dari Aisyah.
"Maaf Ais, gue gak bisa bertemu sama loe sekarang, gue lagi gak mood" gumamnya.
Nathan pun langsung melahap bekal yang diberikan oleh Casandra tadi.
"Ternyata enak juga bekal makanan dari Casandra, kenapa tidak dari dulu aja ya, gue makan, ah gue nyesel banget" Nathan bicara sendiri sambil mengunyah makanan dari Casandra.
Yuna dan Gilang masih menunggu Casandra, di kantin Yuna dan Gilang merasa ada yang tidak beres melihat Casandra dari jauh, sepertinya ia sedang menangis sepanjang perjalanan menuju kantin.
"Ca, loe habis nangis ya" tebak Yuna sambil berbisik saat Casandra baru saja duduk disampingnya.
"Sudah lama nungguin gue ya, " pura-pura tegar, padahal sedih banget.
"Loe, mengalihkan pembicaraan Ca, loe nangis? " tanya Yuna, dengan nada sedikit menekan.
Casandra diam, dan menangis lagi.
Gilang hanya menjadi penonton, dan hanya menyimak obrolan Yuna dan Casandra.
__ADS_1
"Duh loe kok jadi cengeng gini sih Ca, tegar dong. Gue jadi berasa jadi buronan tau gak! " seru Yuna namun bernada khawatir, melihat sahabatnya sesedih itu.
"Loe kenapa, coba loe cerita ke gue" bujuk Yuna, agar mau bercerita.
Casandra pun bercerita, namun yang membuat Casandra sedih bukan masalah ia menghindari Nathan, namun sejauh ini ia belum bisa membuat Nathan tersenyum dan bercanda bareng. Selama dua tahun Casandra belum pernah melihat Nathan tertawa lepas seperti itu.
Tapi dengan perempuan yang berhijab kemarin Nathan tersenyum dan tertawa lepas.
"Sudah loe gak usah sedih, masih banyak kok cowok yang suka sama loe" Yuna menenangkan Casandra.
"Apa gue harus jadi perempuan itu ya Yun? " tanya Casandra pada Yuna.
"Menurut gue gak perlu elo jadi orang lain, jadi diri loe saja deh, itu lebih baik! " saran Yuna.
Casandra, Yuna dan Gilang kini menatap seseorang dari jauh yang akan mendekati mereka bertiga.
Nathan! Iya ternyata Nathan.
"Boleh gue duduk disini? Bergabung bersama kalian, gue bete didalam kelas, sepi banget" ujar Nathan ketika sudah dekat.
Casandra cuek, dan diam menatap inten Nathan.
"Ca, jantung loe aman kan? " bisik Yuna, ditelinga kiri Casandra.
"Aman dong, " balas Casandra.
Nathan melihat makanan yang ada di meja, dan belum ada satupun yang dihabiskan makanannya. Netra mata Nathan tertuju pada makanan yang ada di depan Casandra.
"Loe, belum makan? " tanya Nathan bernada lembut, selembut sutra. Lagi berusaha bersahabat dengan Casandra.
Ting! Sebuah pesan masuk di ponsel Nathan, dan Nathan langsung melihat ponselnya, ketika Aisyah yang mengirimkan pesan, ternyata Nathan cuek. Dan memasukkan kembali ponselnya.
"Loh, kok cuma dilihat doang Nat, ga dibalas atau apa gitu? " kepo Gilang, Casandra melirik ke arah Gilang, dengan wajah sendu.
"Tidak penting, biasa fans berat gue" Nathan dengan sombongnya.
"Iya yang banyak fansnya, sampai Pesantren juga tembus tuh, udah ah gue mau masuk ke kelas, udah kenyang! " sahut Casandra, mendadak moodnya buruk.
Nathan pun ikut berdiri dan mencekal tangan Casandra dengan cepat, sehingga Gilang dan Yuna, tak mau ikut campur.
__ADS_1
Tangan Nathan dihempaskan oleh Casandra cepat, dengan murka dan menatap tajam ke Nathan.
"Lepasin gue Nat, gue mau masuk ke dalam kelas, " pinta Casandra ketus dan dingin.
"Bareng! " serunya.
Casandra dan Nathan pun bareng masuk ke dalam kelas, dan meninggalkan Gilang serta Yuna yang masih dikantin.
"Ca, kita ngobrol dulu yuk duduk di luar kelas, biar ga ada timbul fitnah, " Nathan memelas, saat tiba tepat didepan pintu masuk kelas. Dan disamping kelas ada tempat duduk panjang, Nathan ingin bicara dengan Casandra disitu.
"Baiklah" pasrah Casandra.
Tiba-tiba Nathan memandang Casandra begitu dekat, dan seperti ingin mencium Casandra.
Namun Casandra berdehem.
"Ehem, loe mau apa, cepat ngomong, gue capek nih mau masuk" jantung Casandra sedikit berdetak kencang.
Nathan sedikit cemberut, padahal tadi adalah momen yang pas, untuk kiss.
Tapi kok bisa ya tiba-tiba saja Nathan menginginkan itu pada Casandra, apakah sudah ada tumbuh cinta?
"Maaf, " lirih Nathan.
"Gue mau tanya, kamu kapan ketemu aku dengan Aisyah? " tanya Nathan tanpa basa basi.
"Oh, jadi perempuan Pesantren itu bernama Aisyah? Kenapa loe tanya itu ke gue? " sindir Casandra.
"Maksudnya gini Ca, aku belum pernah lihat ada orang yang... "
"Mengikuti elo gitu, gue selalu buntutin elo Nat, gue penasaran tiap jumat dan minggu loe sopan banget mau kemana, ternyata loe ngapel ke Pesantren, ternyata selera loe berhijab, dan itu bukan gue banget Nat, gue adu tanding sama loe biar gue bisa ada cela untuk ngejauhin elo.
Gue gak mau terus menerus ngejar cinta loe terus, gue capek Nat, capek! " seru Casandra sambil menitikan air matanya.
Nathan melihat Casandra begitu tulusnya ia mengejar cintanya sampai segitunya.
"Ca, aku sama dia tidak ada apa-apa, iya awalnya aku mau menyukai perempuan itu, namun aku sadar aku bukan karena ikhlas mengejar perempuan berhijab dengan berpura-pura harus kerkopia dan memakai sarung. Rasanya aku juga tidak nyaman dengan itu semua. Dan pada saat kamu menghindari aku, serasa aku kesepian, berasa satu sekolah tidak mengenal aku" panjang lebar Nathan menjelaskan keuringannya.
Casandra mlongo mendengar penuturan Nathan, apakah ia sedang bermimpi atau halusinasi?
__ADS_1