
"Seandainya itu adalah Nathan" gumamnya lagi.
Lalu Casandra masuk ke dalam rumah, dalam keadaan tubuhnya yang basah.
Casandra menghembuskan nafasnya, ketika sudah masuk ke dalam kamarnya.
Lalu ia langsung bergegas mandi, karena merasa kurang nyaman ditubuhnya misal ia tidak mandi terlebih dahulu.
Di tempat lain, Nathan masih uring-uringan dan masih merasa bersalah karena meninggalkan Casandra sendiri dalam keadaan hujan yang begitu deras.
"Gue kenapa sih, gak bisa bersikap baik terhadap Casandra? " resahnya.
"Padahal gue akui, dia memang cantik bahkan nyaris sempurna, tapi kenapa gue menolak untuk berdekatan dengan dia, padahal seluruhnya hampir siswa laki-laki menyukainya bahkan berebut ingin menjadi kekasihnya," lanjutnya, dan merebahkan tubuhnya yang lelah, hingga tak sadar Nathan terlelap.
Hari ini adalah hari minggu, dimana banyak orang yang melakukan kegiatan olahraga pagi, marathon di sekitar komplek.
"Mah, Caca mau lari-lari keliling dulu ya Mah, mau menghirup udara minggu nih! " teriak Casandra, sambil memakai sepatu olahraga.
"Sayang, jangan teriak seperti itu, anak gadis gak boleh kayak orang hutan" saran sang Mama.
"Maaf Mah, Caca keceplosan hihi" nyengir tanpa dosa.
Casandra pun keluar dari gerbang, dan melirik ke arah kanan dan kiri.
Nampak banyak sekali orang-orang komplek sedang berlari ringan, dan banyak juga para ibu-ibu yang sedang lalu lalang naik sepeda, memutari komplek.
Casandra pun memulai dengan bismillah.
"Bismillah, semoga minggu pagi ini lebih baik lagi, yuk semangat untuk diriku sendiri" gumamnya, menyemangati diri sendiri, sambil tersenyum cerah.
Sebelum Casandra berlari, dari arah lain Nathan melihat Casandra hendak akan berlari, namun Nathan punya rencana licik agar bisa ikut nimbrung dan memulai pembicaraan.
Nathan mengayunkan sepedanya, dan pura-pura menabrak Casandra.
"Awas Ca, awas!!! " teriak Nathan, pura-pura bkeng remnya.
Casandra telat menoleh dan akhirnya.
Bruk...
Casandra terjatuh diaspal, dan meringis kesakitan karena tangannya terkena aspal.
"Auh," rintih Casandra, saat melihat tangannya terluka, dan sedikit berdarah.
Nathan membanting sepedanya cepat, dan buru-buru menghampiri Casandra yang terluka.
"Loe gak apa Casandra? " tanya Nathan panik.
"Luka nih tangan gue, bisa ngayun sepedanya gak sih, atau loe jangan-jangan sengaja ya menabrak gue, karena ada dendam! " tebak Casandra sengit, dan menatap muka Nathan yang panik dan khawatir.
Nathan diam, tak mau ribut dengan Casandra.
Buru-buru ia mengambil sesuatu dari saku celananya, dan memberikannya plaster untuk luka yang ada ditangan Casandra.
Casandra heran kok bisa, sudah ada persiapan plester, wah jangan bilang ini adalah strategi khusus kecelakaan.
"Tunggu dulu" cegah Casandra, menahan lengan kekar Nathan. Karena heran kok sudah ada plester di saku celananya.
__ADS_1
"Kok kamu punya plester sih, wah ada apa ini? " curiga Casandra pada Nathan.
"Iya, gue sebagai nabrak loe, supaya gue bisa bilang minta maaf atas kejadian tadi malam" jujur Nathan pada akhirnya, meskipun dengan nada dingin dan datar tapi Nathan sungguh perhatian sebenarnya.
"Ya tinggal bilang aja, gak usah pake drama nyelakain gue pake acara beginian, gak bisa banget ya loe pake cara baik-baik sama gue? " Casandra sendu, dan mendramatisir.
"Lebay" Nathan mengejek.
Casandra melebarkan matanya tak percaya, Casandra pun merengek ingin sarapan bareng Nathan.
"Karena elo udah bikin gue terluka berdarah seperti ini, gue mau sarapan bareng loe, gimana setuju gak? " bujuk Casandra, sambil mengedipkan matanya genit.
Nathan bergidik melihat arah mata Casandra, namun dengan terpaksa Nathan mengiyakan.
"Iya, boleh, gue juga belum sarapan dirumah" balasnya, ketus.
Nathan pun menuntun sepedanya ke arah penjual bubur ayam, yang lumayan jauh dari komplek.
"Kenapa sih gak naik sepeda aja, capek nih jalan kakinya" sungut Casandra, karena ia merasa sangat lelah.
"Manja banget, " ucap Nathan.
"Tuh nyampe, " tunjuk Nathan pada Casandra.
Casandra pun berlari mendahului Nathan, Nathan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Casandra, ia rasa Casandra terlalu unik.
Nathan memarkirkan sepedanya, dan langsung menduduki tempat duduk meja makan.
"Bang, bubur ayam dua ya jangan pedas, " pesan Nathan sama abang bubur ayam.
Casandra langsung meralat pesanan Nathan.
Setelah memesannya, Casandra kembali duduk di samping Nathan.
"Loe kalau makan jangan kebanyakan pedas, nanti magh loh" sarannya.
"Emang loe perduli gituh, gak kan? " skak Casandra, ketus dan meliriknya sinis.
Nathan diam dan langsung bungkam, sebab ingin bilang tidak, atau iya takut salah bicara.
"Ini Mbak Mas, buburnya sudah siap, silahkan dinikmati, dan ini minumnya apa ya? " tanya Abang bubur.
"Teh manis anget aja semuanya Bang" jawab Casandra, dan diangguki oleh Nathan.
Mereka berdua pun menikmati sarapan bersama.
Entah mimpi atau apa, Casandra sangat senang sekali bisa berdua dengannya.
"Tadi malam gue mimpi apa ya, bisa berdua gini aja senang banget, " gumamnya dalam hati, sambil memperhatikan gerakan makan Nathan.
Merasa ada yang memperhatikan, Nathan pun berhenti mengunyah, dan melihat ke arah Casandra.
Casandra langsung salah tingkah, saat Nathan melihatnya.
"Gue udah kenyang, gue balik duluan ya" pamit Nathan cepat, karena ia mau ke rumah sakit.
Casandra tidak menjawabnya, melainkan memalingkan mukanya ke arah lain, Nathan paham seorang perempuan seperti itu.
__ADS_1
"Maaf gue gak bisa lama-lama, gue harus ke rumah sakit Ca, " lanjutnya.
Casandra masih diam, tak menanggapi Nathan.
"Loe pulang saja, sudah biasa gue diabaikan sama loe, " usir Casandra.
Kemudian Casandra pergi duluan sebelum Nathan yang pergi meninggalkan dirinya.
"Mimpi gue cuma semenitpun juga tidak ada" sedihnya dalam hati, saat ia meninggalkan Nathan ditempat pedagang bubur.
Nathan melongo, siapa yang pamit duluan pulang, siapa yang pulang duluan.
Casandra pun pulang sendiri, sambil berlari kecil seperti orang-orang yang masih banyak yang melakukan maraton.
"Dasar cewek aneh, bikin orang oleng saja" gumamnya, melihat Casandra sudah berlalu dari hadapan dirinya.
Nathan pun melihat Casandra yang tengah berjalan setengah berlari kecil itu pun, hanya menggeleng kepalanya.
Sampai dirumah Casandra langsung mandi, dan bersiap untuk pergi kerumah sakit, ingin mendahului si Nathan.
"Loh, tumben anak Mama sudah mandi, harum banget lagi, mau kemana tuh" sindir Kiki sang Mamanya.
"Mau ketemu kak Darel Mah, udah dua hari ini aku belum nengokin dia" jawab Casandra.
"Oh" Kiki hanya ber Oh saja.
"Caca, pamit dulu ya, ojeg nya udah ada di depan nih Mah" pamit Casandra, tidak lupa mencium punggung tangan Mamanya.
"Hati-hati ya sayang, salam untuk Darel ya Nak?" ujarnya.
Casandra pun segera menaiki menaiki ojeg onlinenya, dan segera memakai helm.
Saat melintasi rumah Nathan, Casandra menoleh ke arah rumahnya. Dan disana tidak nampak ada satu orang pun.
Bahkan satpam pun tidak terlihat, hanya pagar besar yang terlihat dengan jelas.
Sesampainya di rumah sakit, Casandra langsung saja pergi ke kamar Darel.
Tok tok tok...
Casandra mengetuk pintu kamar Darel, dan Mamanya Darel yang membukakan pintunya.
"Assalamu'alaikum, Tante. Maaf pagi sekali Caca datang" sapa Casandra dan mencium punggung tangan Mamanya Darel.
"Walaikumsalam, iya tidak apa Kak, Tante justru senang, karena Tante mau nitip Darel sebentar. Karena Tante ingin pulang dulu, mau ganti baju dan mengambil mobil yang Nathan bawa semalam, " Ratih meminta Casandra untuk menemani Darel.
"Iya Tante, tapi Caca tidak membawakan sarapan, bagaimana dong? " Casandra merasa bersalah.
"Darel sudah sarapan sayang, kamu cuma Tante minta untuk ajak Darel mengobrol saja kok" pinta Ratih.
"Ok" balas Casandra cepat.
Ratih pun pamit, langsung keluar dan langsung menaiki ojeg onlinenya.
Belum lama Ratih pergi tiba-tiba ada suara ketukan pintu.
Tok tok tok...
__ADS_1
Darel dan Casandra langsung melihat kearah sumber suara itu.