
"Mau apa loe! " teriak Nathan.
Langkah Casandra berhenti, ketika Casandra hendak akan membuka pintu kamar rawat inap Darel.
Casandra menoleh ke belakang dan ternyata Nathan yang berteriak.
"Mau apa loe, ke ruang ini? " selidik Nathan dengan tatapan seperti singa kelaparan.
"Gue mau nengok lah, masa iya gue mau joget, gila kali loe, " sinis Casandra.
"Gue tahu, tapi loe mau bertemu dengan siapa di kamar itu? " tunjuk Nathan ke arah pintu rawat inap Darel.
Casandra tak memperdulikan ucapan Nathan, Casandra langsung saja masuk, dan membiarkan Nathan marah padanya.
"Assalamu'alaikum, Kak Darel yang tampan dan baik hati, " sapa Casandra, ketika masuk ke dalam kamarnya.
"Walaikumsalam, Dek. Alhamdulillah kamu masih ingat Kakak yang tampan ini" balas Darel, dengan senyum sumringah nya.
Mendengar ucapan Kakaknya, Nathan seakan-akan ingin muntah.
"Bagaimana kabar mu Dek, kamu baik-baik saja kan, setelah kakak sudah tidak lagi bersama kamu, " mendadak sendu dan sedih jika mengingat kejadian dulu.
Casandra hanya bisa pasrah, dan menerima kenyataan bahwa ia dan Darel sudah putus dan hanya menjalin pertemanan saja.
Sejak mengetahui Darel di fonis punya penyakit dan kecelakaan, sehingga ia berpura-pura untuk selingkuh dan ternyata kepura-puraan Darel diketahui oleh Casandra sendiri.
"Kak, bisakh kita seperti dulu lagi? " pinta Casandra, memohon dan memegang tangan Darel yang masih banyak jarum infus.
Nathan masih belum paham, dan masih mencerna perkataan Casandra.
Mata Casandra sudah berkaca, dan cuma Darel pria yang dulu selalu membuat ia bahagia dan ceria, hingga saat ini.
"Ca, kamu tahu sendiri kan, keadaan aku kayak gimana. Kamu nanti akan ada yang jagain kok yaitu Nathan, adik kakak. " Tunjuk Darel pada Nathan yang masih berdiri di ambang pintu.
Casandra menoleh ke belakang, dan yang Darel tunjuk adalah Nathan.
What! Nathan adalah adik kandung Darel, kok bisa? Dunia sesempit inilah?
Casandra tidak mempercayai ucapan Darel.
"Jadi, cowok horor bin hirir itu adik Kak Darel? " tanya Casandra memastikan.
"Kenapa melihat gue seperti itu, kaget?" ledek Nathan, yang tengah melihat ekspresi wajah Casandra yang menurutnya lucu, ingin rasanya ia mencubi pipinya itu.
" Loe tadi bilang apa, gue horor bin hirir? " tanya Nathan ketus.
Casandra memalingkan wajahnya ke arah lain.
Dan tak perduli dengan pertanyaan Nathan tadi, karena malas berdebat.
Casandra sendiri bingung harus menanggapi ucapan Darel seperti apa, sebab dirinya gak tahu meski harus bagaimana.
"Emm, Kak Darel gak perlu Nathan yang jagain aku, aku bisa jaga diri sendiri kok, gak perlu cowok horor itu yang jagain Caca, " pinta Caca berubah sendu bila melihat wajah Darel, berbeda dengan melihat Nathan seakan-akan ingin mengeluarkan rahang keras.
Darel menatap ke arah Nathan yang nampak kesal.
__ADS_1
" Ca, sebenarnya adik Kakak tuh baik loh, kamunya saja yang belum mengenal dirinya betul-betul, " rayu Darel dan membujuknya.
"Kak, Caca tuh dua tahun bareng terus sama adik Kakak yang menyebalkan itu, suka banget omelin Caca Kak, " rengek Caca ingin dikasihani Darel.
"Nathan, apa benar yang dikatakan oleh Caca? " tanya Darel pada adiknya.
Nathan tidak menjawab, malah ia pergi melewati semuanya, tanpa permisi ataupun bicara sepatah kata pun.
Gilang mengejar Nathan, Yuna masih setia menemani Casandra.
"Kalian sebenarnya ada masalah apa sih? " tanya Darel bingung.
"Tidak tahu Kak, Caca juga bingung sendiri, cuma Nathan yang tidak menyukai Caca, padahal hampir semua murid cowok menyukai Caca loh, " dengan pedenya Caca berbangga sendiri.
Membuat Darel tersenyum dan tertawa kecil, mendengar pengakuan Casandra, mantan pacar cinta masa kecilnya.
"Kenapa Kak Darel tertawa begitu, mengejek Caca ya? " timpalnya.
"Gak kok, pede banget kamu banyak yang naksir?" ejek Darel, tertawa kecil.
"Gak percaya nih? " lanjut Caca.
"Gak lah, kamu kan dulu kayak gitu, eummmm iyuuu deh pokoknya" sambil membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri.
"Ups"
Casandra kesal karena Darel masih mengingatnya, dan membicarakan itu di depan Yuna, sahabat bangku disekolah nya.
"Elo jelek ya dulunya? " tebak Yuna memastikan.
"Iya, gue jelek bin jijik, hingga Nathan pun tidak menyukai gue, padahal gue suka banget sama Nathan, " Casandra pura-pura sedih, agar mendapatkan simpati dari Darel.
"Yes, gue bakalan nikahan sama Nathan" sorak Casandra dalam hati, ingin rasanya ia lompat-lompat karena mendapatkan dukungan dari Darel.
"Cie, alamat nih janur kuning melengkung" sindir Yuna, disamping Casandra dan Darel.
"Eh Kak, aku pamit pulang dulu ya, udah sore nih, takut nanti mama nyariin aku, maklum aku belum ijin tadi, hehe" Casandra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sudah hati-hati ya, calon adik ipar jaga diri baik-baik, " pesan Darel.
"Iya Kak, assalamu'alaikum" mencium tangan Darel, begitu juga dengan Yuna, mengikuti gerakan Casandra, meskipun mantan namun diantara keduanya tidak merasakan kecanggungan. Darel dianggap Kakak laki-laki yang selalu membuat Casandra ceria.
Casandra dan Yuna pun keluar dari rumah sakit, dan menuju parkiran.
Hendak ingin menaiki motor Yuna, Yuna sempat melirik ke arah Gilang, yang sedang makan di depan resto pinggir rumah sakit.
"Ca, bukannya itu Gilang sama Nathan ya? " Yuna menunjukkan jarinya ke arah tujuan.
Casandra pun melihat samar-samar, dan menghembuskan nafas kasar.
"Sudah yuk pulang, capek banget nih" ajak Casandra, merasa lelah.
Casandra dan Yuna pun mengendarai sepeda motornya, dan melewati Nathan dan Gilang.
Casandra melihat sampai kepalanya muter ke belakang, namun Nathan acuh tak acuh.
__ADS_1
"Kasihan bro, loe cuekin terus, gak menyapa atau pun tersenyum gituh" saran Gilang yang masih mengunyah makanan.
"Loe aja Lang, yang menyapa dan tersenyum sama dia, gue ogah" ketus Nathan.
Gilang pun malas, dan dengan raut wajahnya yang masam, saat membahas Casandra.
Gilang pun bungkam, padahal ia ingin bertanya sekali lagi.
"Cabut yuk, gue udah kenyang banget nih" ucap Gilang, ketika ia selesai menghabiskan makanannya.
"Loe pulang duluan saja, gue masih mau menemani kakak gue, si Darel. " Tolak Nathan.
"Baiklah, gue duluan, jaga diri loe baik-baik, sampai jumpa besok disekolah" Gilang pun pamit, dan segera ia membuka pintu mobil dan segera melaju.
Nathan masih memperhatikan kendaraan yang dikendarai Gilang. Setelah mobil Gilang sudah tak terlihat, baru lah ia kembali masuk ke rumah sakit. Untuk menemani sang kakak.
Ceklek...
Suara pintu terbuka.
Dan Darel pun menoleh ke arah suara pintu tersebut.
"Kamu tidak pulang? " heran Darel.
"Kakak ngusir aku? " skak Nathan.
"Tidak, cuma tadi kamu pergi tidak memberikan pesan apa pun, " ujarnya.
"Emang harus? " ketus Nathan.
Darel tidak mau berdebat, dan kali ini ia tidak mau menjawab pertanyaan konyolnya itu.
Darel lebih memilih memainkan ponselnya, ketimbang mengobrol dengan adik kandungnya sendiri.
Ting.
Suara pesan diponsel Darel.
'Assalamu'alaikum, sudah malam nih, sudah makan belum?' isi pesan Casandra. Menanyakan dirinya makan malam.
'Walaikumsalam, iya kakak tahu ini sudah malam dek, kakak sudah makan kok, Caca sendiri sudah makan? ' balas Darel, dan bertanya balik.
Namun tak kunjung ada balasan dari Casandra, melainkan ada suara ketukan pintu.
Tok tok tok.
Nathan dan Darel menoleh ke arah suara pintu yang diketuk oleh seseorang.
"Siapa tuh, " seru Nathan.
"Tidak tahu, mama mungkin" tebak Darel.
"Kalau mama, gak mungkin ketuk pintu Kak, " lanjut Nathan.
"Tinggal buka aja kok" perintah Darel.
__ADS_1
Nathan pun langsung berdiri dan berjalan menuju pintu, dan membukakan pintunya.
"Loe! " seru Nathan, tak percaya.