
"Casandra pulang bareng gue, loe pulang aja sendiri, Casandra udah janjian sama gue, paham loe! " Nathan langsung menarik tangan Casandra.
Gilang dan Yuna mlongo mendengar perkataan Nathan yang tak terduga itu.
Nathan terus menarik paksa tangan Casandra sampai parkiran.
Casandra pun ingin melepaskan diri, tapi usahanya sia-sia, sebab tangannya terlalu kuat.
"Stop Nat, sakit tahu tangan gue! " sentak Casandra, dan berhasil Nathan mau melepaskan tangannya.
Ada sedikit kekesalan saat Nathan memaksa untuk ikut dengan dirinya.
"Ada apa? Loe mandang gue seperti itu? " tanya Nathan, heran dengan tatapan Casandra. Seperti ingin makan orang saja. Nathan jadi ngeri sendiri.
Nathan sedikit mundur melihat tatapan yang mengerikan dari seorang Casandra.
"Busyet baru tahu gue, Casandra kalau lagi mode marah, mengerikan seperti harimau betina" gumamnya dalam hati, sambil menelan salivanya kasar.
Casandra maju melangkah ke arah Nathan, dan Nathan seolah-olah menghindari tatapan Casandra.
"Napa loe mundur, ada masalah sama gue, hem" goda Casandra, sudah mulai memberanikan diri untuk menatap tajam seorang Nathan.
Casandra memegang dada Nathan yang terlihat kotak-kotak, meskipun Nathan memakai kemejan namun, tak bisa dipungkiri dadanya yang menggiurkan itu sangat nampak sekali.
"Loe mau ngapain pegang dada gue! " sentak Nathan pada Casandra, yang mulai berani menggoda imannya.
"Loh, katanya kita nanti akan menikah, gue harus belajar megang ini dong dari sekarang, loe gimana sih jadi cowok. "
"Eh, belum muhrim ya Ca, gue aduin loe sama kak Darel, kalau loe tuh cewek gatel" ancam Nathan.
Casandra memalingkan mukanya, kemudian ia pergi sambil berlari, karena ini adalah kesempatan Casandra untuk bisa menghindari Nathan dari cengkramannya.
Nathan melotot ketika Casandra melarikan diri.
"Sial, dia melarikan diri, gue ditipu" sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
Huft huft hut....
Nafas Casandra terengah-engah, pengap dan tergesa-gesa, saat ingin menghindari Nathan.
Tak sengaja tepat di depan gerbang pintu keluar masuk sekolah.
__ADS_1
Tiba-tiba Casandra menabrak seseorang, dan seseorang itu adalah seorang perempuan yang berhijab. Itu dia perempuan yang kemarin mengobrol dengan Nathan.
Duh ngapain ya perempuan itu? Aduh ada perang ke sebelas nih nantinya.
"Eh maaf Kak, gak sengaja" ucap Casandra. Casandra pun kaget bukan main, kok anak pesantren ada di area ini, mau apa dia? Apa mau bertemu Nathan? Jadi nethink kan si Casandra.
"Iya, Kak gak apa-apa ko" balas perempuan itu.
Wajahnya cantik, mulus dan berhijab pula. Casandra kadang iri melihat perempuan modelan begini.
Casandra melihat perempuan itu dari atas sampai bawah, tak ada satupun yang terbuka cuma wajahnya saja yang terlihat.
"Maaf Kak, boleh bertanya sesuatu gak ya, soalnya saya sedang mencari seseorang" tanya perempuan itu pada Casandra sopan dan lembut.
"Boleh, mau mencari siapa? " jawab Casandra, dan balik bertanya lagi.
Sebelum melanjutkan ucapannya, dari jauh Nathan berteriak memanggil Casandra.
"Ca! " Nathan menghampiri Casandra, dan diam sesaat.
Nathan melirik disebelah kiri Casandra ada dua perempuan berhijab, yaitu Aisyah! Iya benar salh satu diantaranya Aisyah.
Nathan kaget dan tidak percaya seorang santri berani sekali masuk ke area sini, bahkan membawa seorang teman wanitanya.
" Abang?! " seru Aisyah heboh, Aisyah tak sadar memukul lengan sahabatnya yaitu Ainun.
Ainun meringis kesakitan, dan merasa ada yang aneh dengan sikap Aisyah.
"Aisyah, kamu ngapain kesini? " tanya Nathan, bingung dengan sikap Aisyah yang tak biasa itu.
"Loh, Abang kok tanya sih, kan tadi Aisyah udah kirim pesan loh, gak dibaca atau gimana Bang. " Aisyah cemberut, dan kesal.
Casandra hanya seperti kambing congek, diam gak karuan dan tak paham.
Nathan tak menyadari ada Casandra, Nathan pun langsung berfikir dan merasa dunia sempit sekali hari ini.
"Ca, loe mau kemana? " tanya Nathan, saat melihat Casandra akan pergi dari perbincangan antara Nathan dan dua perempuan hijab itu.
"Gue mau pulang lah, terus gue mau ngapain lagi nonton drama kalian gituh! " jawab Casandra sinis, dan pergi begitu saja tanpa menghiraukan Nathan yang mencegahnya.
Nathan menarik lengan Casandra, dihadapan Aisyah dan Ainun.
__ADS_1
"Bisa loe lepasin tangan gue gak, urus tuh pacar loe, gak usah sok nahan gue pergi! " seru Casandra, sedikit menyindir.
Nathan pun membiarkan Casandra pergi karena tidak enak dengan Aisyah dan juga Ainun.
"Abang, perempuan tadi siapa Abang? " tanya Aisyah dengan nada lembut, dan halus.
"Dia calon istri saya Ais, dia lagi ngambek karena ada sesuatu hal privasi, maaf gak bisa cerita ke kamu" jawab Nathan jujur, karena ia tak m bersih, meskipun Nathan tertarik dengan perempuan berhijab bukan berarti dia menyukai ataupun mencintainya.
Mendengar jawaban dari Nathan seperti itu, Aisyah merasa terpukul dan merasa kecewa.
Selama ini ternyata Nathan hanya sekedar teman biasa, yang asyik diajak ngobrol tidak lebih.
Aisyah masih diam, dan sedikit ada rasa cemburu.
"Astaghfirullah, saya tidak boleh seperti ini" batin Aisyah.
"Kamu kenapa Syah, kamu kaget ya, saya bilang cewek tadi adalah calon istri saya, maaf jika aku menaruh harapan sama kamu, tapi sungguh aku tidak bermaksud untuk itu" Nathan merasa bersalah, sebab ia paham dengan wajah Aisyah yang mendadak suram dan diam seketika.
"Jadi Abang mendekati Aisyah hanya untuk menyakiti perasaan dia! " Ainun marah, karena sahabatnya dibuat sedih oleh Nathan.
"Abang tidak mengerti Nun, maksudnya apa? " tanya Nathan pura-pura bodoh.
Aisyah dan Ainun nampaknya harus segera pergi dari area itu, sebab ada Gilang dan Yuna yang akan menghampiri Nathan.
Karena tidak ingin Aisyah lebih malu lagi, maka Ainun langsung menarik tangan Aisyah untuk segera pergi dari hadapan Nathan.
"Abang, maaf Aisyah harus pulang, semoga bahagia" pamit Aisyah yang sudah ditarik tangannya oleh Ainun.
Gilang dan Yuna pun sudah berada disamping Nathan, dan Yuna melirik kanan kiri tidak ada siapapun.
"Kemana Casandra Nat? " tanya Yuna heran, melihat disekeliling tidak ada siapapun.
"Dia pulang, " jawab Nathan cepat.
"Oh iya, perempuan berhijab itu siapa? Kok mereka pergi pas ada kita, gak sopan banget ya Lang" tanya Yuna lagi, masih kepo.
"Loe bisa diam gak si Yun, cerewet banget Lang, pacar loe, mirip ibu-ibu komplek tahu gak! " seru Nathan kesal, karena Yuna kebanyakan bertanya-tanya.
Gilang hanya geleng-geleng kepala tak menanggapi keduanya, sebab kalau ia menanggapi akan panjang urusannya, sampai jalan tol pun gak bakalan berhenti diaspal.
Nathan pun mengingat sesuatu, bahwa hari ini ia akan menjemput Kakaknya si Darel.
__ADS_1
Nathan pamit pergi duluan, karena ada urusan dirumah sakit.
"Gue pergi dulu ya Lang, lakban tuh mulut pacar loe" saran Nathan sedikit meledek.