
"Ya sudah tidak apa, gak dilepas juga boleh"
"Nama kamu siapa, kamu belum kasih tahu nama kamu, " ucap dokter muda itu, saat melepas tangannya.
"He he lupa, saya Casandra dok" Casandra nyengir kuda.
Keduanya kembali melanjutkan sarapannya.
Dokter Aan pun tersenyum tanpa sadar melihat aksi makan Casandra.
"Kamu masih sekolah, kuliah atau bekerja? " tanya dokter Andri.
"Masih sekolah dok, " jawab Casandra jujur.
" Baru masuk atau mau lulus? " tanyanya lagi.
"Mau lulus dok, saya kan kelas dua belas, " terangnya.
"Oh, udah diperbolehkan untuk menikah belum? " tanya dokter penasaran.
"Hah" Casandra melongo mendengar pertanyaan dokter Andri.
"Dokter kenapa bisa bicara seperti itu? " tanya Casandra penasaran.
"Kalau saya melamar kamu, bagimana? Apakah boleh? " dokter Andrie mengedipkan matanya, seakan bercanda dan bergurau.
Ternyata dari jauh Nathan menguping pembicaraan Casandra dan dokter Andri, Nathan bisa mendengarkan obrolan mereka sebab mereka sangat lantang mengobrol, sehingga telinga Nathan cukup bisa mendengar obrolan mereka.
"Dokter itu percaya diri sekali, tapi..... " Nathan tak melanjutkan gumamnya, sebab dari belakang ada seseorang yang menepuk pundaknya.
"Loe ngapain disini" Gilang yang menepuk pundaknya.
"Mau ketemu sama loe lah, kata mama loe, loe lagi jenguk kakak loe, ya sudah gue samperin ke sini, " terang Gilang.
"Ada apa? " tanya Nathan, dengan ekspresi yang datar sambil melihat ke arah Casandra dan dokter Andri.
"Ada kabar, katanya nanti malam loe ada tanding balap motor bro, gue cuma mau ngasih informasi ini doang sih" jawab Gilang, memberikan kabar tentang musuhnya yang akan menantang Nathan.
"Loe kan bisa hubungi gue lewat ponsel gue Gilang" Nathan gemas dengan pola pikir Gilang yang terkadang lemot.
"Ish bukan gue gak mau hubungi loe, ponsel loe mati bro, makanya gue susul loe kesini" geram Gilang lama-lama.
Nathan mendengus kesal, alasan Gilang itu. Sebab ia akan kehilangan jejak Casandra dan dokter Andri.
Nathan pun meninggalkan kantin dan berjalan bersama dengan Gilang, menuju ke kamar rawat inap Darel.
Dan berapa terkejutnya, Casandra sudah ada di dalam sana bersama Darel, berduaan pula.
Membuat Nathan melotot ke arah Casandra.
__ADS_1
"Apa! " seru Casandra dengan sedikit meninggikan suaranya.
"Sejak kapan loe disini? " tanya Nathan, setidaknya ia lega karena sudah tidak bersama dengan dokter itu lagi.
"Dari tadi, sejak loe nguping pembicaraan gue sama mas Andri, " skak Casandra, membuat Nathan melebarkan matanya tak percaya, sejak kapan Casandra mengetahui bahwa ia menguping.
"Loe! " kesal Nathan.
"APA! " ketus Casandra tak mau kalah.
"Bisa gak sih gak berisik bila ketemu, budeg tahu gak! " omel Darel, menutup telinganya.
Gilang hanya menjadi penonton, diantaranya.
Casandra dan Nathan pun langsung berjauhan, karena jika berdekatan akan menjadi bom.
Casandra memainkan ponselnya
Gilang dan Nathan, juga Darel berbincang-bincang masalah lelaki, bagi Casandra merasa diasingkan. Maka Casandra berdiri dan ingin berpamitan.
"Kak, Caca mau pamit pulang dulu ya, udah dua jam juga kan Caca disini" Casandra pamit pulang, dan pergi dari hadapan mereka semua.
"Loh, loe kok pulang, padahal gue baru nyampe loh Ca, " ucap Gilang, yang mencegah langkah Casandra.
Nathan hanya melihat tanpa suara.
"Maaf, gue udah kelamaan disini" pamit Casandra, tak menjawab pertanyaan Gilang.
"Gue antar loe" tiba-tiba Nathan menawarkan dirinya untuk mengantarkan Casandra pulang.
Gilang hanya melihat dan melirik keduanya.
"Pada sok jual mahal semua nih" batin Gilang bicara.
Karena lama menunggu jawaban dari Casandra, Gilang menepuk pundak Nathan, dan pamit pergi duluan ke Arena balapan.
"Gue duluan, ditunggu sama yang lainnya" ujarnya.
"Baiklah, " balas Nathan singkat.
"Mau gak gue anter loe pulang, mumpung gue lagi baik sama loe, karena sudah nungguin kakak gue si Darel, mantan kekasih loe, " sindir Nathan.
Casandra masih cemberut, dan masih belum ingin mengatakan sesuatu.
"Gue mau dianter seseorang, sorry gue gak mau loe anter gue pulang, " alibinya, padahal tidak ada orang yang mengantarkan dirinya pulang.
Casandra menghindari Nathan, sebelumnya Casandra sendiri mengejar cintanya Nathan.
Cara Casandra yang sedikit acuh, membuat Nathan sedikit kesal, dan merasa diremehkan oleh Casandra.
__ADS_1
"Oh oke, kalau loe gak mau gue antar pulang, gue duluan" Nathan pun melajukan motornya cepat, karena kecewa atas penolakan Casandra, biasanya Casandra yang selalu ingin berdekatan dengan dirinya, dan sekarang Casandra acuh padanya.
Tiba di Arena balap, Casandra mengumpat di dekat warung dan menyamar, Casandra memakai masker, dan kacamata hitam, dan memakai hijab.
Nathan tidak mengetahui bahwa, dirinya sedang di ikutin oleh Casandra.
"Kenapa sih Nathan selalu balap motor mulu, keren banget sih tapi.... "
"Ah sudahlah biarkan saja" monolog Casandra.
Nathan pun akan memulai balapannya disiang bolong, meskipun Arena resmi namun Casandra tetap mengkhawatirkan Nathan, walaupun Nathan tidak pernah sekali untuk bertegur sapa sampai dua tahun, padahal dua tahun selalu satu kelas. Baru kali ini Nathan dan Casandra memulai bicara, ketika Nathan mengetahui bahwa Casandra mantannya Darel, kakak kandung Nathan.
Casandra tetap fokus melihat pertandingan Nathan tanpa Nathan ketahui, dan akhirnya Nathan pun memenangkan lomba itu.
Semua temannya Nathan bersorak-sorai, Nathan pun di gendong sama teman-temannya.
Ketika Nathan dalam keadaan happy, ditengah keramaian mengadakan acara seru-seruan.
Mata Nathan melihat sosok Casandra melintasinya.
"Dia? " lirih Nathan.
Nathan langsung berhenti seru-seruan dengan teman-temannya, dan langsung berlari ke arah wanita tadi yang ia sangka adalah Casandra.
Nahas ternyata bukan Casandra melainkan orang lain, akan tetapi Casandra sudah lebih tahu bahwa tadi Nathan melihat dirinya, makanya dengan gerakan cepat Casandra langsung mengumpat.
"Ah sial, dimana wanita itu! " geramnya, sesal karena Nathan terlambat menghampiri wanita tadi.
"Loe bayari makanan gue ya Nat, " tepuk perempuan itu, dari belakang punggungnya.
Nathan menoleh ke belakang dan ternyata Casandra yang memanggilnya.
Nathan menjadi salah tingkah, Casan hanya tersenyum mendapati sikap Nathan yang seperti itu.
"Kok gue,?" Nathan pura-pura bodoh, dan tidak tahu.
"Iyalah, elo kan menang, gue minta kompensasi dong, rugi nih gue di sini, padahal gue kesini mau lihat loe doang, sekeren apa sih loe kalau tanding, gue jadi kepo" Casandra memalingkan mukanya.
"Hem" Nathan hanya berdehem.
"Kok hem sih, bilang apa gitu, irit banget kalau bicara, kayaknya kalau jadi istrinya harus banyakin sabar" sahutnya ketus.
"Kenapa! " seru Nathan tak terima.
Casandra menarik lengan Nathan, dan membawanya ke pedagang baso tadi.
"Bang, nanti dia yang bayar, cepat bayarin makanan gue, " bisik Casandra ke telinganya.
"Loe yang makan kok gue yang bayar! " geramnya.
__ADS_1
Casandra memang licik kalau soal beginian, Casandra tersenyum puas melihat kekesalan Nathan.