
Haii..Uci kembali.
...Selamat membaca!!!...
"Huuhh! Bosan."
"Capekss!"
"Ngeluh mulu lo bedua!"
Ketiga remaja beranjak dewasa itu sedang terkapar tak bedaya dibawah pohon rindang taman, suara napas saling bersautan terengah-engah.
"Mau meninggal!" ucap gadis bersurai panjang sebahun dengan napas ngos-ngosan.
"Si Anjing ngejarnya ngak main-main!"
"Hooh!, 4G ngak tu larinya"
"Ikut lomba lari maraton, udah pasti gue menang nih" seru nya lagi.
Jingga, Joya dan Seno, merekalah yang sejak tadi ngoceh tanpa jeda. Napas masih tak beraturan, ronga dada naik turun menyesuaikan pasokan udaran yang masuk. Mereka bertiga baru saja dikejar anjing pak RT, alasannya karna mereka nekat mengambil mangga pak Rt.
Flasback.
Dirumah Seno. Jingga dan Joya sedang duduk anteng diteras rumah Seno sambil bermain hp, sedangkan si tuan rumah, lagi asik main PS dikamarnya.
"Joy, penggen rujak"
"Iya sama, beli yuk!"
Jingga mengeleng, ia tampak berpikir sejenak, "Lo, mau makan rujak ekstrem ngak?"
Joya memandang Jingga aneh, setelah itu terbit senyuman di bibirnya, "Kuy, panggil Seno!"
"Telpon, nih anak ngak ada jiwa kesopanan atau gimana sih, kita bertamu malah bertelur dikamar" omel Jingga. Sebenarnya salah mereka berdua yang datang ngak bilang-bilang.
Joya langsung menelpon Seno, panggilan pertama tidak diangkat, telpon kedua kali masih sama "Jingga, siapin BOM!" Jingga seakan paham langsung mengangguk.
Telpon ketiga, nihil "Jingga sekarang!"
"SENO!, LO HARUS TANGGUNG JAWAB!, CEPAT KELUAR NGAK, ATAU LO MAU AIB LO YANG DULU GUE SEBAR!, SENO WOY PEKA KAH?, SEN-"
"LO BEDUA KENAPA SIH?" Seno keluar dengan wajah jengkel, teriakan Jingga membuat seisi rumahnya terkejut, untung ngak ada orang tuanya.
"Akhirnya lo keluar juga" cenggir Jingga.
"Ada apa?"
"Mau rujak ekstrem ngak?"
"OGAH, sana pulang!, tamu ngak diundang lo bedua jelangkung memang!" Jeno hendak berbalik ingin masuk tapi kedua temannya berulah lagi.
HUWAA! Jingga meraung
"Seno jahat, gue lagi ngidam gini, mana bentuk tanggung jawab lo hah?, atau lo mau" Seno kelabakan, takut jika Art nya salah paham, dan mengadu pada orangtuan nya kan berabe.
__ADS_1
"Yaudah!, mulut lo gemes deh, pengen gue potong" Seno akhirnya mengikuti kedua teman gila nya itu.
Sedangkan Joya dan Jingga bertos ria, rencana mereka berhasil.
..
Disinilah mereka, berdiri tepat didepan rumah Pak Rt yang berada di komplek sebelah rumah mereka, rumah itu tampak sepi karna sang peghuni sedang pulang kampung.
"Lo ngak bercanda kan je?, lo tau sendiri komplek ini anjing-anjing pada jago lari meraton?" ujar Joya, yang tak habis pikir dengan Jingga sahabatnya itu.
"Justru itu, kita sekalian latih jantung kita" ucapnya enteng.
Seno yang memang kurang konect akhirnya bertanya, "bentar-bentar, lo ngajak kita berdiri disamping rumah pak Rt ini ngapain?, mau bikin surat mati lo?"
"Isss, katanya mau rujak, tuhh" Jingga menunjuk pohon mangga penuh buah pada kedua sahabatnya itu.
"Lo ngajak kita nyuri!"
"Sen!. Lo suka sekali bikin gue esmosi tau ngak, ya kali gue ngajak makan buah haram" kesal Jingga.
"Terus ini?, pak Rt ngak ada dirumah, lo asal masuk aja"
Jingga mendengus pelan, Seno minta di jitak pikirnya, "Dengar Seno!. Mangga yang disamping rumah pak Rt itu milik umum. Dan siapa aja bisa ambil" jelas Jingga.
"Kata siapa?" ujar Joya, tampaknya kurang yakin.
"Noh" menunjuk sebuah papan yang menunjukan beberapa kalimat
"MANGGA INI BOLEH DIAMBIL SIAPA SAJA. AMBIL SEPERLUNYA SAJA JANGAN SERAKAH!"
"Ohh" seru Seno dan Joya serempak.
"Sen!, ambil yang gede!" teriak Jingga, sambil menunjuk kearah mangga.
"Nyampe aja belom" ucap Seno.
"Kan nyemangati"
"Bukan semangat, layu gue" Seno berucap dengan posisi sambil memanjat. Sedangkan Joya sibuk berdoa katanya sih biar dimudahkan oleh sang pencipta.
Sudah berada di atas pohon. Seno mengamati mangga mana yang akan dia ambil, terlebih dua wanita yang di bawah sedang adu toa memberikan dia arahan.
"SEN, ATAS KEPALA LO!"
"KIRI SEN GEDE!"
"SEN!, AMBIL YANG TUA!"
"SEN, ITU..."
"SEN, AT-.."
"STOP!" Teriak Seno, ia pusing mendengar ocehan dua sahabatnya itu, dia tau mana yang harus diambil. Dengan perasaan kesal Seno melempar sembarangan arah mangga yang ia petik tadi.
"Sen!, hati-hati dong" seru Jingga,
Mereka mengambil empat buah mangga, dengan girang Jingga dan Joya memunggut mangga yang dilempar tadi. Sedangkan Seno berjuang untuk turun dari atas pohon mangga.
__ADS_1
Selang beberapa saat Seno akhirnya dapat turun, ia membersihkan baju nya karna terkena remangan pohon tadi.
Mereka keluar dari halaman rumah pak Rt, dengan raut wajah senang tapi itu hanya sesaat karna.
Guk...gukk..gukk...
Anjing berwarna coklat berdir tepat di belakang mereka.
Gukk!..guk.., anjing menyalak semakin jadi.
"Guyss! Ada anjing" ucap Joya pelan dan takut.
"Tenang, kalian jangan gerak, kita lari saat hitungan ketiga" intruksi Seno, dan didapati anggukan dari Jingga dan Joya.
Seno mulai menghitung, "Satu....dua...ti-"
"LARI!" teriak Jingga dan Joya, dan berakhirlah mereka dikejar anjing, Seno ingin marah tapi tak jadi melihat bagaimana pucatnya wajah Jingga ketakutan.
Untung ada bang diman salah satu satpam komplek yang nolongin mereka tadi, kalau tidak berebe.
Flasback off.
Jingga sedang mengupas mangga yang mereka dapatkan tadi, sedangkan Seno mengulek sambal untuk cocolannya dan Joya ia mengambil buah-buahan pelengkap buat rujak mereka. sejak tadi air liur Jingga sudah menetes, "Gue benar-benar ngak sabar" serunya sambil memotong mangga.
"Sen, dimana Ken?, tumben sekali tidak kesini?" ucap Jingga, sambil memakan mangga yang baru saja dia potong tadi.
"Guys!, cuman ada buah melon, mentimun, nanas,sama jambu nih" ucap Joya, sambil menunjukan buah yang baru ia ambil tadi.
"Ken bilang dia sibuk" ujar Seno. Seno tadi sempat menelpon Ken dan mengajaknya, tapi Ken mengatakan dia sibuk.
Padahal Seno sudah berharap Ken ada, biar dia aman dari Jingga dan Joya.
"Sibuk apa ya" oke, Jingga kembali jadi lambe kepo.
"Mana saya tahu, saya kan tempe"
PLAK!
"Aduhh!" ringgis Seno. Jingga memukul kepalanya. beginilah jika tidak ada Ken dia yang menjadi korban.
"Lama-lama gegar otak gue Je" keluh Seno, dan dapat kekehan dari Joya.
Setelah rujak mereka siap, dengan hikmat mereka betiga menikmati hasil kerja keras mereka, bagaimana tidak demi mangga rela dikejar anjing, dan rujak ekstrem Jingga memang pedas foll, terlebih Seno yamg harus simulasi dulu jadi kera untuk manjat.
Anggap aja ini rujaknya, ngiler ngak?, Uci ngiler lohðŸ˜
Done!, gimana chapter ini?
**Haiii, jika berkenan berikanlah Like, komen dan Follow Uci ya, kalau ngak mau komen Like juga ngak apa-apa kok.
Ohh..iyaa, buat pembaca setiaku, kalau komen jangan pakai Author/ thor ya, panggil Uci aja, biar akrab aja.
Banyak maunya sih kamu Ci😑😑**.
__ADS_1
See you
©Copyright Dream Night story.