Mengejar Cinta Mas Naka

Mengejar Cinta Mas Naka
MCMN- 4


__ADS_3


"Mau cerita ngak nih?" Joya mengoyang tubuh Jingga.


Jingga bangun, duduk menatap kedua temanya, air matanya terus mengalir, drama lagi dia tuu, serasa main sinetron ngak tuh.


"Gue..hiks!, kayaknya emang anak punggut deh hiks!"


Ken dan Joya yang awalanya bersimpati langsung menarik napas pelan, ternyata drama pagi tadi masih berlanjut rupanya.


"Udah dibilangin, lo itu anak empang! jingga." seru Ken, mengejek temannya itu.


"Kayaknya gue emang ditemuin di empang deh" Jingga membenarkan omongan temannya itu.


Jingga menangis dipelukan Joya, ia menangis sesegukan, Joya yang awalnya biasa aja menjadi iba "Sutt- Jingga jangan nangis terus,"


"Iya nih, kasian tuh Joya nampung ingus lo mulu,


banyak lagi" Jingga bangung mengelapnya dengan tisu dan meleparkannya pada Ken.


Ken marah, mulutnya hampir ingin mengeluarkan sumpah serapah, melihat tabiat temanya itu, "Sabar Ken orang ganteng ngak boleh marah, mereka anak setan semua" ia menenangkan dirinya sendiri.


Joya memukul mulut Ken dengan tisue, kadang berlebihan minta dirukiah,"mampus!".


"Mulut gue lama-lama ngalahin bibi lucina luna nih" Ken cepat-cepat berkaca, melihat bibirnya yang sudah dower akibat pukulan telat Joya.


"KDPT ini mah, gue laporin lo berdua kesatgas perhewanan"


Jingga tertawa kecil lalu diam,"KDPT apaan dah?, Ken bukannya lo ya orang hutan yang lepas?"


"Gue sleding lo ya, KDPT\=Kekerasab Dalam Pertemanan"


"Alay lo!" Joya kembali meleparkan bantal kearah Ken. laknat memang temannya ini.


Ken hanya dapat memurus dadanya pelan, memang teman spesies seperti mereka bedua ini wajib di mesiumkan.


"Andai anda si keong racun, gue pasti ada teman buat membasmi kalian"


"Seno juga ogah kali bantuin lo!" seru Jingga.


"Tadi gue dimarahi mama gue, sakit banget!" seru Jingga pelan.


"Pasti ada something kenapa mama lo marahin lo kan?"


"sok inggris lo"


"Gara-gara gue teh sama kue mama gue tumpah, dan gelasnya pecah hiks.."


Cuci otak teman sendiri bisa ngak sih?


"Kan benar lo yang salah!" seru Ken.


Jingga cemberut, "tapikan gue ngak sengaja!"


Joya kembali menghela napas, ia tak habis pikir sama Jingga temannya itu, aneh tapi nyata ada teman modelan kayak gini?


"Dan karna itu lo berpikir, lo anak punggut?" seru Joya, dan dapat anggukan oleh Jingga.

__ADS_1


"Unfaedah tau ngak!, dari sudut mana pun, hingga lubang cacing sekali pun di liatnya lo, yang salah jingga!, astaga." Joya mengacak rambutnya prustasi dia tuh, dapat teman modelan kayak Jingga, cantik-cantik kok bodoh!.


"Nah, ini gue setuju sama Joya."


"Jadi gue yang salah nih?, wajah gue mirip ngak sama mama, atau papa gue, biar gue tambah yakin kalau gue anak mereka" seru Jingga, meminta pendapat pada kedua temannya itu.


"Inilah contoh teman yang terlalu banyak mengkonsumsi micin, otaknya menjadi hambar mengakibatkan bodoh parmanen" Ken berucap dengan nada kesal didalamnya.


"Plisss jawab" renggek Jingga.


"Kek bocah lo, jauh-jauh sana dari kita," usir Joya dan Ken. Jingga kembali meraung, "apa gue juga teman punggut?"


"Astaga Jingga!" Ken mengusap wajahnya kasar.


"Jingga!, Jingga!" gedor mama dari luar.


Ken beranjak membukakan pintu, masuklah wanita paruh baya, tanganya membawa nampan berisi buah-buahan.


"Tadi mama dengar ada yang nangis" seru mama Jingga, berjalan kearah meja kamar Jingga menaruh buah yang ia siapkan tadi.


"Jingga tante yang nangis" seru Ken.


"Benar Jingga, kenapa hmm?" Jingga berinsut memeluk Joya, "Ngak, habis nonton drakor tadi ma" elak Jingga.


Seperti mencari kebenaran, melihat kearah kedua teman dari anaknya itu, "Iya tan, tadi kita lagi nonton" seru Joya, meyakinkan mama Jingga.


Mama Jingga mengela napas, memang tabiat sang putrinya itu ada-ada saja, ia sempat khawatir, tapi mendengar penjelasan tadi ia jadi biasa saja.


"Yaudah, mama keluar dulu, dimakan ya buahnya Ken, Joya." Ken dan Joya mengangguk dan tersenyum,mama Jinggga pergi meninggalkan kamar Jingga.


Sehabis kepergian mama Jingga tidak ada pembicaraan yang mereka lakukan, Jingga yang tadinya memeluk Joya akhirnya duduk bersandar dikepala kasurnya, Joya sibuk memainkan ponselnya, sedangkan Ken makan buah yang dibawa mama Jingga tadi.


Jingga memandang lurus, tiba-tiba berpikir sejenak, "Aaaa!" serunya heboh, seakan mendapatkan energi baru.


"Kaget njir!" seru Ken mengelus dada,


"Kagetttttt!" teriak Joya. bagaimana tidak, ya awalnya diam tiba-tiba teriak, untung aja Ken ngak keselek jeruk.


"Si monyet!, lo kenapa dah?"


"Gue ada cerita"


Ken dan Joya saling pandang, mereka serempak menoleh kearah Jingga.


"Kalo lo mau ceritanya, tentang maling kundang lagi gue ogah jee, bosan!" seru Ken, yang berangsur rebahan di kasur Jingga.


"Ini cerita tentang gue!" seru Jingga antusias.


"Apalagi tentang lo, gue juga bosan dah" Joya ikut berangsur rebahan.


Memang ngak ada ahlak kedua temannya itu, ingin rasanya mau di sedekahkan tapi hanya mereka yang betah berteman dengannya.


"Gue serius!, bangun ngak kalian!, gue ketemu om-om ganteng banget!" serunya heboh.


Ken bangun duduk disamping Jingga, "Selera lo asatagaa!, gini nih karna ngak laku" Ken jujur baget.


"Serius je?, dimana?" Joya ikut heboh, satu frekuensi mereka tuh.

__ADS_1


"Jadi gini gue kan-.."


tok..tok..pintu kamar Jingga diketok dari luar, "Ken buka!" perintah Jingga.


"Anak sultan buka pintu ogahh!" tolaknya.


"Ken!, " Joya mengarahkan pisau pada Ken, "Gini banget gue, punya teman gila semua!" Ken membuka pintu dengan tidak ikhlasnya, lagian siapa sih yang ketuk pintu kurang kerjaan banget! mata Ken terbelalak setelah melihat siapa yang mengetuk pintu tadi, "Keong racun!" teriaknya, langsung memeluk laki-laki yang berdiri dengan senyum pepsodennya itu.


Jingga dan Joya, langsung bangun "Aaa..! Seno!" teriak mereka kompak, "Haii para monyet!"


Seno- satu circle dengan Ken,Jingga,dan Joya, anak tunggal dari pengusaha PT. Sawit di kalimantan, tinggal satu komplek dengan Jingga dan Joya.


"Kapan lo dateng?" seru Joya dan Jingga serempak. Seno melakukan pertukaran pelajaran di amerika selama 6 bulan. dia yang paling pintar setelah Ken di circlenya.


"Tadi, gue ada chat digroup tapi ngak ada yang balas"


"Ngak ada notice nya kok"


"Masa sih" seru Seno lagi.


"Gimana disana enak?, gue senang bro lo pulang, ada teman gue, lo tau gue dianiaya sama mereka berdua selama ngak ada lo, jadi sekarang ada lo kita berdua deh" seru Ken mendramatis.


"Biasa aja, rasain lo!,"


Mereka duduk berempat diatas kasur Jingga, mereka senang akhirnya geng mereka lengkap kembali.


"Jingga lanjut cerita lo tadi, gue udah bosan nih liat wajah Seno!" seru Joya, monyet memangkan, "Mulut lo Joy, kayak lambe!" imbuh Seno.


"Oke, gue lanjut." mereka bertiga memasang posisi dengan nyaman, biasanya cerita Jingga ngak ada yang beres jadi mereka tertarik ingin dengar. anehkan.


"Lo bedua ingetkan hari dimana gue telat waktu itu"


"terus" seru Ken. "Lo ngak asik Ken, sana lo!" usir Jingga.


"Lah gue kenapa monyet!, gue kan minta lo terus berarti gue INGET!, masa gue bilang stop!, bego."


Jingga cemberut, "Heboh dikit kek, biar gue lebih antusias."


"Perlu ngak kita salto?, lo cerita aja kayak ngak bergairah gitu" seru Seno.


"Gue lanjut, awas aja kalian ngak heboh!" ancam Jingga.


"Hmmm" mereka bertiga serempak mengangguk, orang waras mah iya aja, gitu pikir mereka, biasalah jelmaan monyet mah gitu.


"Nah, mobil gue kan mogok, terus yang nolongi gue om-om ganteng banget, gue sampe dianter kekampus. tapi dia cuek banget"


krik..krik.."Udah segitu doang?" seru Joya, dan dianggukin Jingga, "Kan Jingga kalau cerita ngak seru!" ujar Ken, "iya kayak ngak ada feel nya gitu" sambung Seno.


Beginilah mereka bertiga, akan berkomentar saat Jingga selesai bercerita. memang monyet kan, bukannya di puji malah di kritik gitu.



.


.


...…...

__ADS_1


__ADS_2