
...•••...
Setiap pagi, setiap saat rumah ini selalu saja terasa berada didalam hutan, kenapa bisa begitu, kalian liat saja teriakan antar wanita itu selalu mengisi gendang telinga penghuni rumahnya.
"Jingga!"
Mulailah adu vocal toa, "Apa!"
"Bangun!, mama siram lagi kamu ya!" teriak mama nya dari lantai bawah.
Mayang- mama Jingga, empat puluh tahun, masih terlihat cantik meski bekepala empat. sebagai ibu rumah tangga, sebelum menikah menjadi artis majalah tahun sembilan puluhan. "kalau sudah dapat suami kaya ngapain repot kerja" moto Fela- mama Jingga.
"Udah!" Jingga kembali berteriak.
"Lama-lama bisa budek Ajun disini" keluh si anak sulung.
Ajun prawira Elazio- abang Jingga, usia dua puluh lima tahun, baru lulus kuliah lima bulan yang lalu, kegiatan sekarang ngangur, lagi malas mau kekantor.
"Papa juga"
Herlawan pradan Elazio- papa Jingga, usia empat puluh enam tahun, CEO dari perusahan Eleckom, dan real estat, bijaksana, tegas.
Jingga menatap bangga dengan pantulan dirinya sendiri didalam cermin, "sumpah gue cantik banget!, beruntung banget deh!" serunya tersenyum.
"Bdw, dua curut kok belum WA gue ya?" Jingga mengambil ponselnya, memeriksa ponsel siapa tau ada yang WA, eh taunya ngak ada, kasian ngak tuh.
Jingga turun dengan santai kakinya dengan ringan menapaki anak tangga, "Morning eprybadehh!" sapanya melenglegar.
"Brisik lo!"
"Pa!, abang tuh!" Jingga mengadu, padahal abangnya tidak ngapa-ngapain dia, mines ahlak memang.
"Udah sarapan, jangan ribut!" papa Jingga melerai dua anak tarzanya itu.
"Setiap hari!, ribut mulu pusing mama nih" sang ibu negara mulai mengeluh berujung mengomel, tanpa ba-bi-bu lagi Jingga langsung cabut, dari pada kena semprot lagikan. dan tak sarapan. pintar memang.
...•••...
"Lo bikin gue malu aja ya jee" seru Joya dengan berjalan sehabis sarapan pagi dikantin.
Kedua temanya itu menutup muka malu satu sama lain. "Emang kenapa sih?, emang salah ya mempertahankan hak asasi manusia gue"
__ADS_1
Joya dan Ken menutup mukanya pakai buku karna malu, "dengar ya!, lo bedua harusnya bangga punya bestieh kayak gue!"
"Lo mempertahankan hak asasi manusia berantem dengan sama anak kecil. sehat lo!" Ken kembali buka suara.
Bagaimana Joya sama Ken tidak malu, saat mereka sarapan dikantin tadi, Jingga berantem sama salah satu anak ibu kantin- bu Marni namanya, dan anaknya bernama Kania bocah usia sebelas tahun, dan yang mereka rebutin permen kaki gila ngak tuh.
Jingga memenangkan pertandingan segit tadi, dan Kania menanggis telak, berkat Jingga mereka menjadi tontonan unfaedah anak kampus.
"Ini permen kaki langka, dan ini favorit gue, lagian tuh bocah udah tau gue mau beli malah dirampas kan gue kesal" Jingga mendengus dan berjalan terlebih dahulu.
"Malu gue sumpah" seru Joya, jika teman bisa digadaikan ingin rasanya Joya memgadaikan Jingga, mayankan nambah uang jajan beli seblak.
Ken dan Joya akhirnya memgejar temannya itu, yang sudah berjalan dengan cepat sambil menikmati permen legend nya itu.
...•••...
Seorang pria dengan perawakan gagah dan tampan duduk di singahsana kebesarannya, sesekali ia memijit pangkal hidungnya, pria itu sedang fokus dengan proyek yang akan ia kerjakan nanti.
Pintu ruangannya diketuk dari luar, "Masuk!" serunya,
masuklah seorang perempuan dengan dandanan simple tapi pakaian sangat sexy, "Siang pak, ini dokumen yang ada minta tadi,"
"Taruh disitu, kau bisa keluar" pria itu berkata tanpa menoleh orang didepannya, antensi terlalu fokus ke dokumen didepannya saat ini.
Naka Alkenza Lois, pria usia tiga puluh dua tahun, sosok yang dingin, dan tegas, memiliki satu anak, pengusaha dan donatur dikampus A. memiliki wajah tampan, tinggi 188 Cm, pencinta kopi.
"Hallo Lang, gimana proyek yang dibandung bisa kan kamu tangani?"
"..."
"Oke, kabari terus progresnya sama saya."
"..."
Panggilan terputus, "ini sangat melelahkan" ujar Naka pelan.
...•••...
Jingga masuk kedalam rumahnya, mendapati papa-nya yang sibuk dengan ponselnya, kakaknya sibuk menonton. "misi beban kelurga lewat" seru Jingga, melewati papanya, ia mendudukkan dirinya disofa samping kakaknya.
"Ngapain sih lo duduk sini, jangan mendekat!, bau lo mandi sono" usir Ajun mendorong pelan tubuh Jingga.
"Papa, kok senyum-senyum gitu?"
__ADS_1
"Ngak tau gue, sono lo!"
"Yeey, dasar anak keong!, papa ngapain senyum-senyum gitu, selingkuhya? ayoo! dibilangin mama loh!" Jingga menunjuk dan mengejek papa-nya. sungguh anak mines ahklak.
"Hushh...sembarang kamu!, sana mandi!" oke kedua kalinya di di usir.
kayaknya benar deh gue anak punggut- batinya, ia berjalan menunduk.
bugh..prankkk gelas berisi teh dan piring berisi cemilan sudah hancur berserakan.
"Jingga!, astagaa jalan liat-liat dong, kue sama teh buat papa kamu jatoh kan" omel sang mama, Mama Jingga langsung kebelakang mengambil lap dan bak sampah untuk membersihkan pecahan kaca.
"Maaf ma,"
"Rasain, bleeeew" ejek Ajun,
Jingga langsung berlari menaiki tangga, menuju kamarnya. didalam kamarnya ia menutup pintu secara perlahan dan menguncinya, melangkah gontai menuju kasurnya, perlahan air matanya keluar memgalir kebawah, "Hikss..gue anak punggut" isaknya demgan suara parau.
"Ngambek pasti tu anak" seru mama Jingga.
Jingga berjalan pelan menuju balkon kamarnya, ia ingin tanggisnya lebih mendrama seperti sinetron yang biasa ia tonton bersama mamanya.
Tuk..tiba-tiba saja ada yang ngelempar Jingga pakai apel, sakot blorrrr!, "Bajigorrr!" scen dramatisnya mendadak hilang. menelaah segala arah dan Ken anak empang pelaku utama pelemparan, sedang Joya cengeges tersenyum.
"Ngapain sih kalian!, pakai lempar orang pakai apel segala, kalau gue tiba-tiba pingsan atau amesia lo berdua mau tanggung jawab?" seru Jingga marah.
"Sorry je,.gue rencananya mau ngelempar jendela lo, eh lo malah keluar"
Jingga ngelempar kembali apel tersebut, tak lupa ia mengigit sekali. Ken dan Joya niat mau kagetin Jingga jadi tak enak, melihat raut kesedihan di wajah temannya itu. "Lo kenapa je?" tanya Joya berteriak.
"Alay lo je, ngelebihin drama upin-ipin aja lo" teriak Ken, memang anak empang satu ini kurang aja sekali, ngak liat temannya sedang mellow.
Ken dan Joya memutuskan untuk masuk kerumah Jingga, sebelum kekemar mereka berdua lebih dulu menuju dapur, dimana kulkas itu berada. tak lupa mereka menyalami kedua orang tua Jingga.
mereka sudah biasa seperti itu, anggap aja rumah sendiri adalah wewenang yang wajib di laksanakan sebaik mungkin.
Ken dan Joya sudah dalam kamar Jingga. "Lo kenapa sih, aneh banget?" ujar Ken, Jingga yang semulanya menunduk mengangkat kepalanya menatap kedua temannya itu.
Jingga menghela napasnya, aba-aba mau sesi curhat "Kita ngak butuh helaan napas lo, napas lo, bau. sampah masyarakat,"Joya ketawa mendengar penuturan dari Ken.
"ihh.." Jingga kesal, langsung merebahkan dirinya kekasur dan menutup seluruh tubuhnya.
__ADS_1