
Setelah sampai dikantin kampus, ketiga-nya langsung duduk, "Bibi Ika yuhuu!" teriak Jingga, tanpa perduli orang disekitarnya menatapnya aneh.
"Sumpah lama-lama, gue merasa malu temanan sama lo jing" ujar Ken yang mendramatis.
Lagian siapa juga yang engak malu dapat teman modelan kayak gini?
"Jang, jing ngak boleh ya manggil gue kayak gitu, panggil gue JAE (Je)"
"Makanya punya nama yang bagus dong!"
plakk.. ia memukul kepala Ken tanpa peeasaan."Sembarangan kalau ngomong, nama gue itu sangat bagus yaa!" ujar Jingga kesal.
Ken tak membalas lagi omongan Jingga, ia sibuk mengelus kepalanya yang tadi di tempeleng oleh Jingga.
"Mau pesan apa teh?" tanya ibu ika- ibu kantin.
"Eh bu ika, tambah bahenol aja nih, bagi tips dong" ucap Jingga senyum pepsoden, hawa minta diskon nih.
"Bu, saya pesan bubur ayam, minumnya es teh, kalau kedua curut ini ngak perlu bu, mereka setan soalnya" ujar Joya penuh yakin.
Plakk.."Sembarangan!, Ken tuh gondorowo!, bu saya mie soto+telor setengah matang, minumana pop ice Vanilla" pesan Jingga.
"Kalau mas ganteng ini?" senyum bu Ika. mengedipkan sebelah matanya.
"Bu Ika, udah tua genit" ucap Jingga santai. dan dapat jempol dari Joya.
"Es teh aja"
Setelah mencatat pesanan para anak monyet itu, bu Ika langsung pergi kemeja stan kantinya menyiapkan pesanan mereka.
"Eh!, sepi amat!" teriak Jingga heboh.
Ken menoyor kepala Jingga, lama-lama bisa gila dia tuh, sedangkam Joya menutup mukanya, Malu.
bagaimana tidak orang-orang yang dikantin langsung mengalihkan antensi mereka kemeja Jingga dkk.
"Gini nih, kalau dari lahir urat malu udah putus" Ken menatap Jingga dengan pandangan malunya.
"Lo juga ya, jangan asal bicara kita satu spesies!" Jingga berucap kesal.
"Apa salah dan dosa ku punya teman kayak mereka ya Allah" Joya berkata mendramatis.
Pesanan mereka datang, "Ini pesana para keturunan tarzan" bu Ika berucap sambil tertawa.
__ADS_1
"kalau kita tarzan, ibu keturuna mba kunti dong"
"Gawurr" bu Ika langsung pergi.
"Cantik gini dibilang Tarzan" omel Jingga.
"Dari jendela mata gue lo tuh memang mirip salah satu spesies langka sih Jae"
"Apa?, iyasih, diliat dari manapun gue cantik parah" pujinya pada diri sendiri.
"Spesies gorila, cocok tuh buat lo, hahhaah" tawa Joya pecah.
•••
Φ
Φ
"Jingga!"
Teriakan itu menggelengar diseluruh penjuru ruangan rumah. Seorang wanita paruh baya dengan perawakan cantik meski sudah bukan usia muda melangkah dengan cepat menarik selimut dan membuat gadis yang sedang tidur nyaman tersebut terbangun dan berteriak.
"Mama ganggu ah!" teriaknya, menutup telingganya, menarik kembali selimutnya, akan tidur kembali.
Mama nya menarik napas perlahan, nahan emosi melihat tingkah anak gadisnya itu, "Bangun!, katanya kamu mau joging sama Joya,"
Jingga menutup telinganya, bangun dengan rambut yamg berantakan sangat mirip Tarzan, "Apasih ma, selalu bandingan sama anak tetangga, seharusnya mama bersyukur punya anak kayak Jingga, cantik, soleha, rajin menabung, pokoknya bestlah, asal mama tau ya pamali tau ngak banding-bandingi anak sendiri, Lisa anak pak slemet kan lebih tau dari Jingga wajar dong dia gitu!" mama Jingga malas mendengar ocehan putrinya itu, ia langsung menarik Jingga dari kasurnya, membuat ia meraung tak terima.
"Mama!, lepisin, lepasin mama!, aku...aku benci! aku..ngatukk lepisin!" Jingga mendramatis lagi.
...°°°...
Disinilah Gadis dua puluh dua tahun itu berada, si beban keluarga yang sangat spesial itu, hari weekend menjadi hari favoritnya. karna bebas dari yang namanya kuliah.
Jingga dan Joya sedang duduk di emperan sehabis joging tadi. Keduanya berjalan beberapa kelometer dari rumah mereka hanya untuk mencari asupan energi mereka yaitu MAKAN. salah satu pokok utama tubuh.
Jingga masih kesal dengan kejadian tadi pagi, dimana ia dipaksa bangun, dan disiram air pula, ia mengaduk buburnya dengan kesal "Kubu apa lo, bubur diaduk?" Seru Joya gadis munggil, cantik, lawak 2 setiap hari kalau mood aja.
Jingga menatap dingin, tak ada upaya untuk membalas. masih kesal dia tuh. " lo kenapa sih?, aneh gau ngak" Joya menyadari perubahan Jingga tersebut.
Joya merupakan sahabat Jingga, mereka tinggal satu komplek, jarak rumah mereka hanya terpaut tiga rumah saja, orang tua Joya adalah pengusaha batu bara di kalimantan.
"Menurut lo gue ini anak punggut ngak?" Jingga tiba-tiba bertanya.
__ADS_1
Joya meletakan mangkuk buburnya, tampak bepikir, "Emang kenapa?"
Jingga mengela napas berat. Joya yang melihat berpikir seolah-olah itu sangat berat.
"Haii guys!, haii ladies!" teriak Ken, tiba-tiba dateng langsung duduk disamping Jingga.
"Tadi pagi gue dipaksa bangun, tangan gue ditarik-tarik, disiram, terus dibanding-bandingin sama anak pak slemet, sama mama gue, kayaknya gue emang anak punggut." berucap dengan sendu.
Joya menarik napas kasar, " Di seret mama lo buat bangun!, dan lo merasa jadi anak punggut?" ucap Joya telak, Jingga langsung cemberut.
Ken yang sedari tadi hanya menyimak. Ken menahan tawa nya, sekte pertemanan mereka sangat aneh bagi orang lain. Ken adalah anak tunggal, papa-nya adalah pengusaha terkenal, dan salah satu donatur terbesar di kampusnya.
"Lo anak empang Jingga!" pecah sudah tawa Ken.
"Lo anak dakjal!" Jingga memukul bahu Ken, kesal.
Joya diam, menikmati pertikaian kedua tempat ahlakes nya tersebut.
"Ngapain lo liatin gue segitunya?"
"Gak, gue cuma liatin upil lo yang tipis ngegantung" Joya tersedak minumanya karna ucapan yang dikatakan Jingga tiba-tiba tanpa filter.
Ken menoyor kepala Jingga, jujur ia sangat malu dengan ucapan Jingga tadi. "Sekali lagi lo ngomong gitu, gue ikat bibir lo di mata pancing"
Jingga memayunkan bibirnya kedepan, bukannya gemes Ken malah ingin menampol bibir tersebut, Jingga meringis, dan membalas memukul kepala Ken dengan keras, "Jingga lo gila ya" Ken meringis kesakitan.
"Sini lo!, sini," Ken hendak mengejar, Jingga berlari bersembunyi dibelakang Joya.
"Udah jangan berantem" lerai Joya.
Jingga menjulurkan lidahnya, Ken tak tinggal diam memegang erat tangan Jingga, tak kehabisan akal Jingga mengigit tanga Ken dengan keras, membuat Ken melepaskan tanganya, "Jingga, Apa yang kamu lakukan ini JAHAT!"
"Rasain"
"Jingga jangan kasar, nanti ngak ada yang mau loh sama lo"
"Biarin, lagian gue belum ada niatan bakal nikah tahun ini kok" Jingga berucap jujur, dan kembali ketempat duduknya.
"Orang gila mana yang mau sama cewek modelan kayak gini?" Ken menatap Jingga menelusuri temanya itu.
"Gelud sini!" Jingga kembali berulah.
__ADS_1
Chapter 2 Done!.
Jangan lupa vote, like, dan komen, Rating jugaa yaa♡