
Haii..Uci kembali lagi!
Maaf 6 hari Uci ngak update ‘︿’, Uci ngak bisa update karna ngak ada kouta ‘︿’, karna Uci posisinya berada di kampunh nenek, dan akses mau kekota sulit, jadi nunggu dibeliin papa deh. sekali lagi Uci minta maaf, bukan maksud buat para reader menunggu (。•́︿•̀。).
...•••...
...••••...
Disini mereka, berdiri secara bejejer didepan rumah mewah yang sangat jarang atau bahkan tak pernah mereka kunjungi, Rumah Ken. Jingga, Seno dan Joya, ketiga teman kurang ahlak itu dengan seenak jidat mereka pergi kerumah Ken, katanya sih mau ngerjain tugas, padahal Ken udah nolak. karna mereka jelmaan dedemit jadi susah diomongin.
"Gila!, rumah Ken gede banget!" seru Seno heboh.
"Ini nih, manusia tak sadar diri, rumah lo juga gede bege" Jingga berucap sambil memukul kepala Seno. Seno hanya meringgis. biasalah udah makanan sehari-hari.
"Ini pertama kalinya ngak sih kita kesini?" imbuh Joya tanpa berkedip. dan dianggukin oleh Jingga.
"Gue sih udah ya" seru Seno enteng.
"Lah tadi, kenapa lo heboh-heboh kayak baru pertama liat?" Jingga dan Joya menoleh aneh kearah Seno.
"Biar keren aja, nemenin kalian cengo asik juga" seru Seno dengan cengirnya.
Jingga dan Joya hanya mendelik kesal, dan lebih mengesalkan lagi si pemilik rumah, mana nih batang hidungnya?, masa iya mereka simulasi jadi pantung disini, dikira pajangan. sebenarnya salah mereka datang tanpa diundang.
"Sen!, telpon gih si keong belang, buruan" seru Jingga memerintah.
Belum sempat menelpon, pintu rumah Ken terbuka, menampilkan sosok wanita tua, yang mereka yakini Art disini.
"Cari siapa?" tanya Ina-art Ken.
"Ken nya ada?"
"Tuan muda lagi mandi, teman-teman tuan muda ya?"
"Bestiehnya bi, bdw ngak ditawarin masuk dulu nih, penggel bi, berdiri" seru Jingga, tak ada jaim-jaimnya tu anak.
Bi Ina tersenyum, ia pikir anak itu akan sombong dan judes ternyata lucu, "Oh iya bibi lupa, silahkan masuk"
Setelah masuk, Jingga dan Joya kembali dibuat terpukau sama desain interior rumah Ken, meski rumah mereka tak kalah besarnya, tapi mereka akui jika rumah Ken sangat bangus.
"Jangan manggap mulu ogeb, malu gue, lo bedua kayak orang ndeso!" bisik Seno, merasa risih dengan ekspresi yang sangat jelek yang dibuat Jingga dan Joya.
"Silahkan duduk, non, den, "
mereka bertiga langsung duduk, "Mau minum apa?"
mereka tampak berpikir, "Jus jeruk aja deh bi" final mereka.
"Sepi" bisik Jingga.
"Iya"
...
Ken sudah selesai dengan urusan mandinya, ia segera memakai baju, karna harus cepat untuk segera pergi kecafe yang sudah dijanjikan. Kemarin Ken dkk, sudah berjanji ngerjain tugasnya di cafe.
tanpa ia ketahui jika ketiga teman laknatnya itu sudah duduk santai sambil meminum jus jeruk yang baru saja di buatkan oleh Art-nya.
Ken menuruni tangga yang menghubungkan lantai atas dan bawah, dengan ringgan, sesekali mulutnya menyandungkan lagu.
__ADS_1
"Ken!" teriak Jingga, dan dilambai tangan oleh Seno dan Joya.
Ken cenggo. "Kalian" serunya menunjuk ketiga temannya. dan hanya dibalas cengiran oleh ketiganya.
Ken. ia sangat jarang bahkan tidak pernah mengajak temannya kerumah, alasannya. simple dia ngak mau ribet.
Ken sudah duduk dengan ketiga temannya itu, dengan terpaksa harus mengizinkan mereka ngerjain tugas dirumah dia.
"Kenapa ngak bilang kesini?" seru Ken, duduk disofa tunggal rumahnya.
"Emang kalau kita bilang, lo ngizinin?" tanya Joya.
"Engak!"
"Liat!, jelmaan anak setan gini nih, jahatnya ngak ketulungan" seru Jingga mendramatis.
"Udah, tugas noh dikerjain" Seno berucap sambil menunjuk laptop yang ngagur.
Keempatnya sibuk mengerjakan tugas, sesekali makan cemilan yang tersajikan, ruangan tamu yang semulanya rapi menjadi sangar berantakan seperti kapal pecah, sampah sneck dan bekas bungkus makanan yang mereka order tadi juga berserakan.
Ken juga merasa senang, setidaknya rumahnya tidak sesepi biasanya, karna toa temannya sangat nyaring.
Mobil dengan merek mahal itu terpakir dihalaman rumah. sosok lelaki dewasa penuh karisma keluar turun dari mobil. pandangannya teralihkan melihat mobil yang terpakir dihalaman rumahnya, tak ingin pusing ia masuk saja.
HAHAHA!
suara tawa nyaring, membuat pria itu heran, dia berjaln semakin cepat mencari sumber suaranya.
"Dan sialnya gue jatoh njirr!"
"Parahnya lagi Ken malah loncat dikandang ayam orang" gelak tawa semakin pecah. Jingga dan Ken sedang bercerita bagaimana tragedi mereka dikejar oleh anjing saat beli gorengan, dia jatuh sedangkan Ken loncat dikandang ayam, alhasil kandang ayam orang itu hancur.
"Ehh..lo ya, malah mancing-mancing sianjing nya, " seru Ken. heboh sambil melempari kulit kacang kearah Jingga.
"Papa" seru Ken pelan, ia sangat menunduk, tatapan mata sang papa membuatnya ciut.
Sedangkan Jingga, terbelalak tak percaya sama apa yang didepannya itu.
"Siang om" sapa Seno, dan Joya hanya tersenyum canggung.
"Om!" seru Jingga, ia melambai tak jelas.
"Lo kenal?" bisik Joya.
Lelaki tersebut tampak berpikir, dan langsung pergi tanpa membalas sapaan Jingga.
"Ken, itu bokap lo?" seru Joya pelan. "Iya" Ken langsung menyadarkan kepalanya.
AAAHHgh! Jingga berteriak heboh, saraf memang tu anak. ia bangun dan duduk di sofa samping Ken, "Itu benaran bokap lo?" Ken mendelik "Hmmmm"
"Namanya siapa?" Jingga bertanya dengan semangat empat lima.
"Ngak tau!" jawab Ken asal.
"Nih bocah!, nama babe sendiri ngak tau, durhaka lo!, buruan siapa Ken?"
Joya dan Seno hanya diam, tapi Joya merasa ada yang harus ditanyakan kepada teman astralnya itu.
"Tunggu jee, " menarik Jingga menoleh kearanya, Joya pun melanjutkan omongannya, "Lo, belum jawab pertanyaan gue, lo kenal?"
Jingga hanya tersenyum, dia sangat bahagia hari ini, ia menarik napasnya, matanya bebinar seperti orang yang baru saja mendapatkan undian emas. "Pernah ketemu" senyumnya lagi,
__ADS_1
Ken melihat Jingga, "Lo ketemu bokap gue?, kapan?" tentu Ken sangat penasaran.
"Aishh...! makanya waktu gue cerita disimak baik-baik! kalian ingatkan cerita gue yang mobil mogok, terus ditolong sama om-om"
"Jangan bilang, om-om nya itu" Joya dan Seno, spontan menutup mulutnya, lebay memang.
"BOKAP GUE!" seru Ken nyaring, dan dianggukin oleh Jingga, dengan senyum merekahnya.
"Kasian bokap lo Ken, nolongin anak mimi peri ini" seru Seno sendu, drama mereka.
"Pantesan, gue merasa hawa negatif samping bokap gue" seru Ken lagi, dan mendapakan jitakan dari Jingga.
"Aww!"
"Lo pikir gue setan!, pakai hawa-hawa negatif segala, sekarang lo bilang nama bokap lo siapa?" seru Jingga masih ngotot ingin tau nama papanya Ken.
"Penting?"
"BGT!"
"OGAH!"
"Ken, ayo dong namanya siapa?" remggek Jingga, mengoyang-goyangkan bahu Ken.
"Ngak, lo pasti mau nyantet papa gue"
"Soudzon lo, KEN!"
"Tuan muda, ini jus nya" bi Ina menaruh jus yang diminta Ken tadi.
"Terima kasih bi," Ken langsung mengambil jus-nya dan meminumnya, sedangkan Jingga meraung tak jelas, Seno dan Joya main game online mereka terlalu malas ikut campur sama drama Jingga.
"Bibi" renggek Jingga tanpa malu, bibi Ina yang ingin pergi menoleh kearah Jingga. "Iya non?"
"Kasih tau nama papanya Ken dong" serunya mendayu.
"Oh tuan besar?"
"Iyaa"
"Namanya pak Na-"
"Jangan bi!" seru Ken cepat, ia sangat suka menjahili Jingga.
"Bibi boleh kedapur" bi Ina langsung pergi.
"Na apa?" raungnya lagi. mengoyang-goyangkan kaki Ken.
"Tau!"
"Nama bokap lo, NANA ya?" seru Jingga asal, dan Kesal.
Hahhahhaa!
Seno tertawa, iya kali papa Ken yang sanggar itu nama nya Nana.
"Seno DIAM!" teriak Jingga.
.
__ADS_1
.
Update nya sorry telat,