
...•••...
Seorang pria yang dikenal oleh para kalangan pembisnis kaya. Hidupnya yang bisa dibilang sempurna itu bisa membuat siapa saja bisa merasa iri, hidup mewah, kaya, wajah tampan, bisnis yang sukses membuat siapa saja bisa takjub.
Ia memasuki kantornya jalannya begitu tegap dan berwibawa, pandangan matanya jeli dan tajam, langkah kaki sangat cepat untuk diikuti, sangat sempurna dalam hal apapun.
"Berikan ini kebagian marketing, dan upayakan untuk mengubah sistemnya karna saya tak ingin produk ini merugikan kelas bawah." ia menutup map dan memberikannya langsung pada Sinta- sekretarisnya.
"Bagian ini tidak menguntungkan untuk perusahaan, upayakan untuk memgubah sistem pemasaran, promosikan pada perusahan berkembang dan sosial media lagi mungkin bisa membantu" ia kembali berucap, sambil memberikan tanda tangan seluruh kertas yang saat ini diberikan oleh sekretarisnya.
"Ini ada proposal pengalangan dana untuk korban banjir, mereka ingin anda-"
"Berikan bantuan semaksimal mungkin," ia berbicara sambil membaca proposal yang dimaksud.
"Investor untuk proyek ini, mengingikan pembatalan kerjasama, bahkan alasanya tidak jelas pak"
"Beritahu para investor, dan mulai rapat dadakan segera!"
Naka pria dewasa yang umur sudah menginjak kepala tiga itu, sedang sibuk mengurusi berbagai hal yang yang terjadi dikantornya perusahaannya itu, "Sinta, tolong kamu bawakan map ini kedalam ruangan saya, dan berikan ini kepada manajer, minta ia untuk mengantikan posisi rapat hari ini untuk terakhir kalinya."
"Setelah itu kamu keruangan makerting, cek semuanya apakah sudah sesuai, tegaskan lagi pada bagian sana untuk lebih teliti lagi" ia kembali mengantur sehingga membuat sinta sedikit kewalahan, rasanya Sinta ingin memukul kepala bos nya itu.
"Apa lagi yang kamu tunggu?," Naka berucap dengan dingin tanpa melihat si sekretaris.
"Baik pak" Sinta langsung pergi, melaksanakan semua perintah si bos.
...•••...
Jingga meletakan tugas makalahnya kedalam ruangan dosennya, dia berdoa semoga saja sang dosen tidak ada hari ini, karna apa, ia telat mengumpulkan tugasnya. Rajin memang tu anak.
"Apa ngak kurang cepat tuh si tukijah ngasih tugasnya?" Seno berucap dengan frustasi bisa-bisa gila dia. Bagaimana tidak gila jika tugas di info kan jam sepuluh eh ngumpulnya jam dua belas. kan bisa mampus tuh!.
"Lama-lama bisa gila gue" seru Joya, sambil membaca group kelas mereka.
Huff...!
"Untung pak gundul ngak ada" seru Jingga, baru saja keluar dari ruangan dosen. Melihat teman-temanya murung ia akhirnya bertanya "Lo bertiga kenapa dah?, kayak orang ngak dapat uang jajan, diam gitu?."
Joya mengarahkan ponselnya ke Jingga, "nih baca!" Jingga lantas langsung membaca pesan group tersebut, matanya terbelalak, "OH MY TO THE GAT, OH MY GOT!, serius sukijah kasih tugas kayak gini?,ini mah penyiksaan otak!" seru Jingga sambil membaca setiap inci tugas tersebut.
...•••...
Disini lah keempat sahabat yang berbeda kelamin itu, perpustakaan kampus, semua sibuk dengan laptop masing-masing. Ya mereka mengerjakan tugas yang baru saja mereka dapatkan. "Ken!" seru Jingga sambil mengetik di laptopnya.
"Apaan?"
__ADS_1
"Gue udah tau nama papa lo" seru Jingga ia tersenyum melihat kearah Ken.
"Terus gue harus salto gitu?, enggak kan!" Jingga mencebikan bibirnya, ia kira Ken akan heboh setelah tau, tapi anak nya B aja tuh.
"Besok lo semua kerumah gue ya" seru Joya memandang ketiga temannya.
"Ngapain?, mau ngepet ya?" seru Jingga semuringah"
"Nih kalau otak udah isi nya para mahluk halus, pikirannya ngak pernah benar." Seno berucap sambil mengetik tugasnya.
"Sen, besok malam jumat, siapa tau aja kan Joya mau ngepet duit bapaknya."
Joya mengelengkan kepala, sepertinya ide untuk mengundang ketiga temannya itu keacara peresmian usaha papa-nya adalah niatan terburuknya.
"Jam berapa?"
"Udah isya, jam tujuh, pakaian formal ya, bokap-nyokap kalian ada juga santee!" seru Joya lagi.
"Joy, gue bawa kantong kresek ya, mau bungkus" cenggir Jingga.
"Karung sekalian Jee," imbuh Joya kesal.
"Okee!"
...•••...
"Pasang susuk lo ya?"
"Ribet lo bang!, gue kan poles-poles manja dulu biar jadi primadonanya," ucap Jingga membenarkan rambutnya kembali.
"Apanya jadi primadonanya!, wahai manusia bumi yang sangat tak menguntungkan ini, mba Jingga dengar!. ini acara keluarga Joya kenapa harus lo yang cetar, mau ngalahin syahrohim ya artis badai itu?" Ajun bangkit dari duduknya, berjalan terlebih dulu keluar.
Jingga memanyunkan bibirnya sambil membenarkan tas yang mengantung kebahunya dan berjalan keluar mengikuti abangnya, "rumah jangan lupa dikunci Jingga" Ajun berucap sebelum masuk kemobil, di dalam sana sudah ada kedua orangtua mereka yang menunggu.
Jingga hanya berdecak kesal sambil mengunci pintu.
"Lama kalian, sampai berjamur mama nunggunya" ucap sang mama, melihat kebelakang tempat dua anaknya duduk.
"Noh, anak mimi peri pakai acara dandan segala, biasanya gembel" Ajun berucap menunjuk kerah Jingga.
"Apasih!" Jingga menyingkirkan telunjuk Ajun daru wajahnya.
"Ngambek!"
"Udah siapkan, kita pergi sekarang"
...•••...
__ADS_1
Ngak sampai tiga menit Jingga dan keluarga sudah sampai kediaman Joya, karna jarak rumah tak jauh jarak perumahan pertama sama keenam jadi membuat mereka cepat. Awal nya mau jalan kaki tapi ngak pas bangetkan, akhirnya mereka pakai mobil.
Jingga masuk berdampingan dengan abangnya, sedangkan mama dengan papanya. Mata Jingga menelusuri setiap sudut rumah Joya, ia mencari ketiga teman curutnya.
Senyumnya tercetak cerah saat melihat Seno dan Joya berdiri sambil memakan kue yang disajikan.
"Pa, ma , Jingga kesana dulu ya" Tanpa menunggu jawaban dari kedua orangtuanya Jingga berlengang pergi begitu saja.
"JOYA, SENO!" teriak Jingga heboh, dan itu berhasil menarik atensi semua orang termasuk kedua orangtua dan abangnya. mereka menutup wajah pelan.
"Ma, waktu mama lahirin Jingga, urat malunya tertinggal kalinya di perut mama" bisik Ajun, malu dia tuh,
Mayang sang mama hanya tersenyum kecil, tersirat rasa malu diwajahnya, untung anaknya cantik dan tentu saja mayang sangat bersyukur tentang itu, setidaknya itu dapat menyelamatkan mukanya.
Joy dan Seno yang awalnya tengah asik menyamtap kue dimeja pasmen menjadi terganggu, "Jingga, lo jangan teriak ini rumah bukan hutan" peringat Joya.
"Banyak orang bego!, kasian tuh orangtua lo malu punya anak modelan kayak gini"
Jingga spontan menoleh kearah orangtuanya, dan ia melihat orangtuanya tegah asik mengobrol, "Omongan kali ini ngejerit dihati gue tau ngak" ucap Jingga mendramatis.
"Lebay!"
"Joy, acara apaan dah, kok rame kali!, mana yang datang kayaknya sultan semua" bisik Jingga,
"Ngak usah bisik-bisik juga kali Je"
"Tadi gue teriak marah, sekarang bisik-bisik marah, pusing aku tuhh!"
"Bicara dengan notasi normal Jingga" ucap Seno sambil memasukan sepotong gue brownis dimulut Jingga.
"Ada proyek besar yang mau dibangun sama papi gue, dan yang diundang ini yamg akan bergabung sama tu proyek, sekalian peresmian usaha papi gue buka pabrik baju" ucap Jingga.
"OH!" Jingga langsung mengalihkan antensinya kemakanan, dan jangan lupakan dia benaran membawa kantong kresek dong T_T
Makam gratis tak boleh terlewatkan pikirnya.
...**Terima kasih sudah mampir....
Jangan lupa ☆, Komen, Like, dan beri rating dicerita ini.
Jujur itu membantu Ucii, hanya mengingatkan, kalau cape komen Like ngak apa-apa kok ^.^.
Karna Ucii tau cerita ini ngak segitu bagus, liat masih ada yang baca aja udah senang BGT! ≧∇≦
^^^®Salam Hangat dari ^^^
__ADS_1
^^^Mengejar Cinta Mas Naka♡**^^^