Mengejar Cinta Mas Naka

Mengejar Cinta Mas Naka
MCMN- 6


__ADS_3


...•••...


Sebagai manusia yang bersosial dan saling menolong, membantu sesama adalah kewajiban yang patut dilakukan. seperti halnya Jingga sekarang ia sedang memberikan bantuan kepada pedang kaki lima, dengan membeli jajan yang mereka jual. sungguh mulia bukan.


"Jee, udah dong makannya, lo kayak orang kelaparan tau ngak?" seru Ajun sang kakak, ia sejak tadi menunggu kapan selesainya adiknya itu.


"Elah!, sabar dong, ngak liat orang lagi beramal" Jingga berucap sambil memakan pentol kuahnya.


"Beramal pala lo!, udah ayo!" seru Ajun lagi, dengan nada memaksa.


"Dengan menolong para pedagang ini adalah beramal yang paling baik, lo sih pengikut mimi peri ngak tau kan lo bang" seru Jingga lagi, ia memasukan pentol terakhir dimulutnya. matanya menelusuri jajanan mana yang akan ia beli lagi.


Jingga dan Ajun sedang berada dipusat jajanan, karna tak sengaja lewat Jingga minta diberhentiin, katanya tadi mau beli batagor, eh!, malah kuliner dadakan, dan Ajun hanya pasrah.


"Perut badak lo!, ini udah jajanan kesepuluh lo, dan lo belum kenyang, jangan-jangan lo jelmaan kuyang" seru Ajun mengidik ngeri. Jingga masa bodoh ia lebih menikmati tahu ngejrot cabe lima belasnya dengan hikmat.


...•••...


Eeghh!


Sedawa Jingga. ia sudah berada didalam mobil bersama kakaknya, "Jorok lo!" seru Ajun, mendelik kearah Jingga.


"BACOT!, buru pulang panas nih gue mau mandi kembang dulu"


Menarik napas, Ajun langsung menjalankan mobilnya, menuju kerumah mereka.


...•••...


Sambil menunggu datangnya dosen, para mahasiswa duduk sambil bermain ponselnya, ada juga yang bergosip ria, tak halnya Jingga dan Joya sejak tadi asik simulasi jadi patung.


"Jingga kedip!" seru Seno, ia mereka sedang main game, adu tatap dan sekarang giliran Jingga vs Joya.


Jingga merenggut kesal, "Ken, lo ngak guna!" Ken langsung beralih menatap Jingga "Ngak gimana nih?" heran.


"Lo, kan satu tim sama gue, lo bantuin kek gangguin si Joya tiup-tiup matanya, dan Lo! Seno mulut lo bau jigong ya" seru Jingga.


"Kalah traktir seblak!" Joya berseru tersenyum mngejek.


"Seblak mah, cil!" Sombong Jingga.


...•••...


"Naka, kamu makan siangnya dimana?" tanya wanita bersurai pajang, dengan pakaian mininya, jangan lupakan dandananya ya subahanAllah minta dirukiah.


Naka menarik napas, ia sangat malas jika berurusan dengan wanita yang bernama Helena itu.


"Kantor!" seru Naka dengan nada malas,


Helena tersenyum centil, ia berjalan kearah Naka, "Makan bareng aku aja ya ka" serunya dengan suara mendayu dibuat-buat.


Helena adalah wanita yang dua tahun belakangan ini mengejar Naka. ia terposana saat pandangan pertama, dan ayahnya berkerjasama dengan Naka, membuatnya semakin kesenangan.

__ADS_1


"Saya sibuk, sebaiknya kamu pergi Helen" seru Naka, tanpa menoleh kearah Helena, baginya dokumen didepannya lebih menarik.


"Naka!, ayo dong" paksa Helena.


"Helena, sebaiknya kau pergi, atau satpam yang akan meyeretmu dari sini, kau tinggal pilih saja" seru Naka menatap tajam Helena.


Helena merasa ciut ditatap tajam oleh Naka, dengan kesal ia keluar, selalu berakhir seperti ini, Helana merasa tidak ada kemajuan dalam ia mengejar cinta Naka.


Naka hanya mau makan bersamanya, saat ada ayahnya, itupun mereka bertemu jika membahas tentang bisnis.


"Kau akan menjadi milikku Naka" seringainya.


•••


Pintu ruangan Naka terbuka, menampilkan sosok laki-laki yang gila menurut Naka, "Ka, tadi gue ketemua tuh sama jelmaan nenek lampir, ngapain dia kesini?" tanya Aslan-teman Naka.


"Namanya Helena, Lan" seru Naka, "Sama aja, nenek lampir juga mirip dia" Aslan kembali berucap.


Naka hanya menatap malas temannya itu, "Oh ya, tadi gue liat anak lo, dicafe depan" ucap Aslan, duduk nyaman disofa ruangan Naka.


"Terus?"


"Kesana kek, samperin ajak makan siang Naka, lo sama anak sendiri cueknya nauzubillah".


"Gue ngak mau ganggu waktunya"


"Ganggu gimana?, lo aja jarang punya waktu sama anak lo ka" Naka termenung mendengar omongan sahabatnya itu, ia merasa omongan itu ada benarnya, ia sangat jarang mengobrol sama anaknya itu.


...•••...


Anak mimi peri nih, senggol dong!


Jingga tau betul siapa pelakunya, pasti abang nya Ajun, dan lebih kesalnya ketiga temannya itu malah cekikikan tertawa tanpa mau melepaskan tempelanya.


Hahahahhaa..! "Sumpah ngakak!" tawa mereka bertiga pecah.


"Kesal deh!, malu tau" Jingga berucap dengan kesal,


"Alah, sejak kapan lo punya malu?" seru Seno masih cekikan tertawa.


Jingga hanya mendelik kesal, "Lagian kamu Je, masa ngak sadar sih?" timpal Joya lagi.


"Ya mana gue tau, ni tulisan dibelakang, mata gue kan didepan sukijah" Jingga kesal.


"Dari kampus, sampe kesini loh"


"Gara-gara ini nafsu makan gue meningkat" seru Jingga ia langsung membuka daftar menu makanan yang tersedia.


"Mba!" panggil Jingga nyaring, dan para pengunjung cafe langsung melihat kearah Jingga. Ken, Joya dan Seno hanya menunduk malu.


"Iya mau pesan kak?" pelayan kafe mendatangi meja mereka.


"Mie kaldu+telor ada ngak mba, soalnya didaftar menu ngak ada, tapi saya penggen pesan, gimana dong mba?" keluh Jingga, sedangkan pelayan hanya cenggo.

__ADS_1


ketiga temannya menarik napas pelan, ingin rasanya mereka pergi dari sini, "Bego!, kalau ngak ada didaftar menu berarti ngak ada, otak itu makanya jangan dikasih di kegot" seru Ken, bingung dia tuh, kok ada modelan kayak Jingga yang hidup dibumi tercinta ini.


"Kalau lo mau mie telor, mending kewarung bang damang aja dah" imbuh Seno.


"Udah mba, jangan dihiraukan, memang setengah tu otak dia," si pelayan hanya tersenyum canggung,


"pesan roti bakar slay strowberry 2 dan coklatnya 2, kasih keju nya ekstra ya mba, minumnya, blue hawai 1, rainbow 1, thai tea boba 2 ya mba, itu aja" seru Joya, penyelamat sang pelayan yang bingung dengan kemauan sahabat nya itu.


"Baik kak, silahkan menunggu, pesanan akan diantar beberapa menit lagi, terima kasih" pelayan tersebut meninggalkan meja Jingga cs.


"Joya" renggek Jingga, "Apasih!"


"Kok gue kepikiran sama om-om kemarin ya?" serunya lagi.


"Lo kena santet tuh" Ken berucap sambil memakan kacang polong.


"Mulut lo!"


"Ken, lo ngak kasian apa?" seru Seno menatap lekat Ken.


"Kasian sama Jingga, OGAH!"


"Jahat BGT sih" manyun Jingga.


"Ngak, gue kasian sama yang nyantet, dapat modelan kayak Jingga, tekanan batin ngak sih" tawa Seno.


"Sen!, lo belum pernahkan mati?, mau coba ngak?" seru Jingga, sambil menunjukan kepalan tangannya.


Seno tak menghiraukan Jingga, laknat memang.


"Ken, besok kerja tugasnya dirumah lo ya, lo ngak pernah lo ngajak kita kerumah lo" seru Joya, mencoba mengalihkan topik.


"NO!, rumah gue terlalu suci dimasukin sama setan kayak kalian"


"Mau ketemu sama om-om itu lagi" renggek Jingga tiba-tiba.


"Saraf nih anak, teman siapa sih?"


"Joya!"


"Ngak ya, teman lo Sen" tolak Joya.


"Teman Ken noh"


"Sejak kapan bestieh?"


"APA YANG KALIAN LAKUKAN ITU JAHAT!" seru Jingga mendrama, memang mereka berempat tidak ada malunya, sejak tadi mereka mengobrol dengan keras, bahkan musik cafe kalah nyaring. keturunan toa memang.



.


.

__ADS_1


.


Update terus (kecuali habis kouta) minggu libur♡♡


__ADS_2