Mengikuti Takdirnya

Mengikuti Takdirnya
Bab 1 : Siswa baru


__ADS_3

Adira. Gadis yang tidak banyak bergaul dengan lingkungan temannya, namun ia berusaha untuk menjadi siswa yang baik di lingkungan sekolahnya.


Berjalan menuju jalan raya yang di penuhi kendaraan. Akhirnya Adira menemukan sosok mobil angkot berjalan menuju arahnya. Ia pun melambai kan tangannya untuk menghentikan angkot tersebut.


Dalam angkot, ia bertemu dengan teman kelasnya bernama Nadya


Tidak terlalu akrab. Keduanya tidak saling terbuka, hanya saja mereka mengobrol yang biasa saja, misalnya bertanya tentang apa dari mereka, akhirnya keduanya mengobrol dengan cukup akrab.


Saat Adira masuk, dan bertemu dengan Nadya, Adira hanya menyapa nya dengan senyuman dan di balas oleh Nadya.


Begitulah cara mereka menyapa.


***


Sesampainya di sekolah. Adira dan Nadya akhirnya berjalan bersama menuju kelas. Di kelas mereka, duduk berdua. Adira dengan Arina, sedangkan Nadya dengan Vanya.


Adira dan Arina malah lebih diam dari Adira dan Nadya dalam keadaan berdua. Paling, hanya menanyakan sesuatu dan menjawab dengan singkat, ya begitulah kalau kalian menyaksikan nya.


Sungguh diam nya si Adira. Padahal Arina adalah orang yang suka mengobrol apa saja dengan teman temannya. Mungkin, karena ia tidak banyak bermain dan tidak ada masalah dengan Adira.


"Adira.. sekarang gak ada tugas kan?" tanya Arina


"Kayak nya enggak, paling cuman matematika aja" jawab Adira


Keduanya pun saling diam kembali. Itulah yang di obrolkan dengan singkat versi AdiRin


"KRRIIIING!!"


Bel masuk berbunyi. Para siswa yang masih di kantin dan di luar pun akhirnya berlarian ke kelas masing masing. Di kelas 2, Adira masih setia diam, sungguh malang dan nasib saat di sekolah bagi Adira.


Tengok kanan dan tengok kiri, bergerak dalam kediaman, bernafas seutuhnya, sangatlah mengerikan. Ia tak bisa berlarian kesana kemari seperti teman temannya.


Sebenarnya Adira sangat tidak ingin melanjutkan sekolahnya ke SMP, namun karena keinginan sang ayah yang sendiri mengurus anaknya ingin Adira belajar tinggi hingga kuliah di London.


Keinginan Adira adalah kerja. Kerja sebagai apa saja yang penting halal baginya. Namun sang ayah tidak ingin anaknya lelah dalam bekerja sesudah SD. Sangat masih muda pula.


Ibu Adira sudah wafat 1 tahun yang lalu. Memiliki penyakit kanker otak.


"Selamat pagi semuanya" sapa seorang guru bernama pak Deni


"Pagi pak" jawab para siswa


Pak Deni sebenarnya menganut agama islam, namun ia menyapa nya dengan "Selamat Pagi" karena ada yang menganut agama lain


"Pada hari ini. bapak akan mengumumkan siswa baru yang mendaftar di sini. Silahkan masuk!"


Seorang lelaki yang di kenal sebagai siswa baru itu masuk dan akan memperkenalkan diri


"Haii semua.. Apa kabar semua, nama saya, Billy Askandar. Saya siswa pindahan dari... Jakarta ke kota Kuningan ini. Salam kenal semuanya" ucap Billy si siswa baru itu


"Silahkan duduk di kursi yang kosong!" titah Pak Deni

__ADS_1


"Baik pak"


Billy melihat kursi yang kosong, nampaknya kursi tersebut berada di belakang Adira. Adira sangat ayu baginya, entah kenapa ia ingin terus memandang Adira bagaikan bulan purnama.


"Billy... Ayo duduk!" titah Pak Deni


"Iiiya Pak"


Billy berjalan menuju kursi kosong yang tepatnya ada di belakang Adira. Billy berjalan sambil memandang Adira, saat Adira melihat si siswa baru itu, rupanya ia memandangi dirinya. Sungguh malu baginya.


Arina yang melihat itupun menengok pada Adira


"Ehmm.... Suka?" tanya Arina


"Nggak. Orang baru kenal" jawab Adira


Billy pun duduk di kursi kosong itu. Kursi di samping Billy ada siswa lelaki yaitu Erick


"Sekarang kalian kerjakan tugas yang telah bapak sampaikan kemarin. Bab 8 halaman 146!" ujar Pak Deni


Pak Deni pun keluar menuju kantor


"Kenalan... Nami abdi teh, Erick Wijaya. Abdi khas sunda, salam kenalnya" ucap Erick sambil menjabat tangan


"Billy" jawab Billy menjabat tangan Erick


Sangat ramah lelaki itu yang bernama Erick. Berkhas sunda


"Tanya naon?" tanya Erick


"Dia , namanya siapa?" tanya Billy


"Oh.. Anu iyeu? Iyeu teh namina... Taroskeun bae atuh ka si eta" sahut Erick


"Taroskeun itu apa?" tanya Billy tidak tau arti dari "Taroskeun"


"Taroskeun teh hartina tanyakeun, hok tanyakeun ka si eta! Maneh bogoh?" tanya Erick


"He... Bogoh itu apa ya?" tanya Billy lagi


"haduuh... Bogoh teh suka, ai kamu mah, te ngartos ngartos" kesel Erick


"Ngartos itu apa sih?" tanya Billy lagi membuat Erick harus super doble sabar dengan anak baru tersebut


"Ngartos teh ngarti. Ngarti teu sih kamu teh? Ngartos tee?" ujar Erick


"Namanya juga orang Jakarta. Ya pasti asing lah sama bahasa yang satu ini"


Ternyata, Adira mendengarkan ucapan mereka sambil mengerjakan tugas yang di berikan pak Deni


"Dira, aku boleh liat?" tanya izin Arina

__ADS_1


"Hmm? Emm.. Iya boleh. Ini!. Aku ke toilet dulu" jawab Adira lalu pergi ke kamar mandi


Adira tak peduli dengan Arina yang menyontek padanya.


"Eh... Si Adira mau kemana?" tanya Erick


"Gue susul ya." sahut Billy


"Ehh... Ulah!! . Adira teh paling te reuseup ka lalaki nu modus, caper, ngajak bercanda akhir akhirna sakit hati buat dia. Ntos ulahnya." larang Erick


"Kenapa dia kayak gitu? Apa dia cuek banget? Cool?" tanya Billy penasaran


"Maneh teh palay terang pisan? Atawa palay terang bae?" tanya Erick


"Coba, lo pakai bahasa Indonesia aja kalo ngobrol sama gue!" titah Billy


"Gak ngerti banget sih lo sama bahasa sunda. Ish Ish Ishhh" ledek Erick


"Gue kan udah bilang, gue gak ngerti sama bahasa sunda, sedikit yang tau"


"San... Billy si anak baru itu.. bukannya temen SD di Jakarta lo kan? Tahun lalu?" tanya seorang siswa perempuan bernama Elina


"Emang iya? Yang tadi?" tanya balik San


"Elo sihh gak liat muka dia,, sumpah dia tambah ganteng!" ujar Elina


Susan yang mendengar jawaban sahabatnya itu pun menengok, melihat ke arah bangku yang di duduki Billy


"Haaa? OMG!!! Dia beneran Billy? O My good, gue gak mimpi kan?" ucap Susan


"Nggak! Lo gak mimpi, mau gue mau tampar biar lo sadar?" tawar Elina


"Enak aja lo! Sakit sakit gue!" gerutu Susan


"Duuh.. Gue pengen kencing nih, gue ke toilet dulu" ujar Susan


Susan beranjak dari tempat duduknya menuju toilet.


Adira sudah keluar dari toilet, ia bertemu dengan Susan.


"Apa lo liat liat? Mau mata lo colok ama gua" ancam Susan


Adira yang mendengarkan itu pun menundukkan dan berjalan menuju kelas. Saat Adira ingin masuk, ia bertabrakan dengan Billy


"Brugghh!!"


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2