
Ia adalah ibunda Zahra.
"Anda siapa?" tanya Fitri
"Saya Zahra. Maaf atas kekhilafan anak saya yang telah menabrak kamu dengan tidak sengaja" sahut Zahra
"Lalu... Saya dimana? " tanya Fitri
"Kamu di rumah saya. Kami, tidak mengantarkan kamu ke rumah sakit karena jaraknya cukup jauh, jadi, kami membawa kamu ke rumah kami karena jaraknya cukup dekat dari lokasi kamu tertabrak.
"Kalo boleh tau, apa, saya di kenali oleh... Tante?" tanya Fitri
"Nggak. Tante gak kenal sama kamu. Tapi, kamu jangan takut, tante sama anggota keluarga di sini baik kok" jawab Zahra
Luka Fitri masih berdarah, namun darahnya sudah lumayan kering. Tiba tiba, Reihan datang dengan membawa ponsel yang berdering.
"Bun. Ada yang nelepon" sahut Reihan sambil menyodorkan ponselnya
"Kamu kompres dia ya. Bunda mau angkat telepon dulu sebentar" ucap Zahra lalu pergi setelah mengambil ponsel dari genggaman Reihan
"Ehh... Tapi bun..." Reihan sebenarnya takut dengan keberduaan nya di kamar bersama perempuan yang bukan mahkromnya.
Saat itu, Fitri kembali tak sadarkan diri akibat lukanya dan raganya yang letih.
"Aduuuh... Gimana ini? Huft.. Kalo aku kompres luka dia, apa aku berdosa? Dan, berduaan di kamar bersama dia? Yang ketiga syaithon.? Astagfirullah...." batin Reihan
Reihan bingung harus apa. Iya atau tidak. Ia pun membuka lebar pintu kamarnya dan berjongkok lalu mengambil kompresannya yang berada di baskom kecil.
Tiba tiba. Muncullah air mata bening yang keluar dari mata Fitri. Reihan melihatnya dan berfikir bahwa, sepertinya, Fitri mengalami musibah. Saat itupun, Fitri memakai Piyama panjang dan berhijab instan.
'Apa dia punya beban? Masalah? Ujian? Apa dia sudah tidak punya keluarga lagi? Pakaiannya pun piyama, apa, dia kabur dari rumah?" batin Reihan
Reihan berhati hati mengompres Fitri dengan sapu tangan. Mengelap dan membersihkan lukanya. Lalu ia pergi ke kamar adiknya mengambil baju yang layak di pakai oleh Fitri di siang bolong seperti ini. Namun, bukan berarti ia akan mengganti pakaian Fitri. Ia akan menyimpan dan menyuruh Fitri mengganti pakaian nya.
Reihan, membuka lemari adiknya yang berada di kamar. Memilih baju yang cocok dan pas untuk tubuh Fitri. Dan mencari gamis yang longgar agar tak terlihat bentuk tubuhnya.
Antara gamis, dan kaos panjang setelan rok hitam yang akan di pilih Reihan. Gamis berwarna merah dan palestina. Kaos panjang putih dan rok hitam.
Tak lupa dengan kerudung nya. Kerudung bermodel segitiga berwarna hitam, dan merah. Kerudung bermodel Instan berwarna hitam dan merah juga.
__ADS_1
Ia pun memutuskan untuk memberi nya gamis merah dan kerudung segitiga dan instan berwarna hitam. Membawa ke kamar kosong.
Kamar kosong tersebut hanya untuk para tamu maupun kerabat dan saudara yang berkunjung menginap dengan silaturrahmi. Hanya ada lemari yang berisi koper dan tas besar. Dan cermin yang cukup besar.
Reihan menyimpan gamis dan kerudung nya di atas kasur dekat Fitri dan menulis di kertas
'Ganti pakaian piyama mu. Gamis dan kerudung ini, boleh kamu pakai. Kamu tidak layak memakai piyama di saat akan siang maka pakailah untukmu. Ikhlas dari hati'
Lalu menyimpan nya di dekat gamis itu. Dan pergi sambil menutup pintu kamar, membiarkan Nya beristirahat.
Dalam 5 detik, Fitri membuka matanya dan menatap langit langit kamar. Bangun dan melihat keadaannya memakai piyama panjang berwarna kuning dengan motif kupu kupu.
Ia pun beralih pada gamis dan kertas nya di tulis Reihan. Mengambil dan membacanya.
Setelah membaca ia pun mengambil dan mengganti pakaian nya di kamar mandi kecil berada di kamar itu. Tak lama kemudian, ia telah memakainya.
Ia teringat dengan kejadian tertabraknya dan memegang kepala yang terasa pusing. Ia melihat di cermin, bahwa ada luka yang telah di baluti hansaplast.
Ia keluar membuka pintu kamar. Dan melihat lihat tidak ada orang. Ia berfikir bahwa tante tadi adalah orang yang mengobati nya padahal Reihan.
Reihan sendiri sedang memasak nasi goreng untuk Fitri. Sungguh baik dan perhatian. Meski tak kenal namun memperlakukan dengan baik tanpa berlebihan.
Dan, ia melihat seorang lelaki yang sedang memasak. Ia kembali ke kamar karena merasa tidak enak. Apakah, dia yang menolongku mengobati ku? Pikirnya
Tiba tiba, pintu kamar terbuka dari luar. Menampakkan seorang laki laki tinggi yang membawa nasi goreng di atas piring, dan air putih hangat.
Reaksi Fitri terkejut dengan kedatangan Reihan
"Maaf. Ini makanan untuk di makan. Keliatannya kamu letih" ucap Reihan sambil menyimpan makanannya dan gelasnya yang berisi air
"Makasih. Tapi, gak usah ngerepotin.. bang... Eum.. Aku.. Pamit sekarang aja" sahut Fitri
"Emang rumah kamu dimana?" tanya Reihan
Fitri terdiam bingung harus apa.
"Em.. Ada di sebelah sana" jawab Fitri
"Ya udah, saya antar aja ya" ucap Reihan
__ADS_1
"Nggak usah! Gak usah ya" jawab Fitri
"Emang di mana? " tanya Reihan
"Ada... Ada pokoknya. Udah ya, gak usah. Makasih bajunya. Makasih udah nolong. Sekali lagi makasi atas.... Semua tanggung jawabnya. Syukron. Dan... Jazakallahu Khoir. Semoga, dapat balasan dari Allah. Sekali lagi Makasih, syukron dan... Thank you so much" tutur Fitri
"Assalamualaikum" pamit Fitri sambil menundukkan kepala dan berjalan keluar kamar segera keluar dari rumah"
"Wa'alaikumsalam" jawab Fitri
Reihan, melamun dengan ucapan dari mulut Fitri yang penuh sopan dan mempunyai etika juga adab.
Fitri keluar dan menampakkan seorang gadis yang 1 tahun di bawah Fitri. Gadis itu memperhatikan gamis dan hijab nya yang di pakai Fitri. Fitri hanya tersenyum ramah pada gadis itu dan di balaslah senyuman manisnya.
Fitri menunduk dan berjalan. Namun, Gadis itu curiga, dan akhirnya ia masuk ke dalam rumah untuk bertanya kepada sang ibunda atau kakak.
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
"Bang, tadi, adek liat ada wanita keluar dari sini, pakai baju persis punya adek. Dia siapa? Calon? Hah?" tanya Salsa.
"Dih, main nuduh calon aja" ujar Reihan
"Ya terus siapa kalo bukan calon nya kakak? Dan kenapa dia pakai baju aku?" tanya Salsa penasaran
"Kamu susul aja dia. Kayaknya dia gak tau jalan. Tadi, abang mau nganter dia, tapi, nolak. Jadi biar kamu aja yang nyusul" sahut Reihan
"Terus... Bunda mana?" tanya Salsa
"Ke rumah temennnya mungkin" jawab Reihan
Salsa. yang mendapatkan jawaban dari Reihan pun, bergegas menyusul wanita tadi. Berlari dan mencari jejak wanita. Dan terdapatlah wanita tadi, berpakaian gamis merah dengan hijab hitam.
Salsa menghampiri wanita tersebut. Namun.....
.
.
__ADS_1
Bersambung...