Mengikuti Takdirnya

Mengikuti Takdirnya
Bab 2 : Sosok Pahlawan


__ADS_3

"Brugghh!"


Adira hanya terperanjat terkejut dengan Billy yang tiba tiba berjalan cepat hingga menabrak Adira.


"Maaf," ucap Billy


Adira tidak merespon kata pun, hanya menundukkan kepala dan melewatinya namun ia di halangi oleh Billy. Adira yang dilarang seperti itupun mengambil arahan lain, yaitu ke arah kanan saat Billy melarang nya di kiri.


Tetap saja, Adira tidak bisa lewat. Adira terus berusaha untuk masuk. Hingga ke empat kalinya tidak dapat masuk.


"Permisi! Aku mau lewat" sahut Adira kesal


"Boleh kenalan?" tanya Billy


"Nggak! Buat apa? Emang penting?" geram Adira


"Ya udah kalo kamu gak mau. Aku akan tetap berdiri di sini sampai kamu mau kenalan sama aku!" ujar Billy


"Kalo ada guru gimana?" tanya Adira


"Kamu mau kena setrap?" tanya lagi Adira


"Ya, aku rela demi kamu" jawab Billy


Adira diam menyandarkan punggung nya di dinding. Datanglah Susan. Susan melihat Adira dan Billy di lowong pintu kelas. Ada yang mencurigakan


"Billy. Kamu masih ingat aku??" tanya Susan sambil tersenyum


"Kamu... Susan?" tanya Billy


" Akhirnya kamu masih ingat." ujar Susan


"Ngapain lo di sini? Mau coba goda Billy? Nggak, lo nggak bisa semudah itu. Billy itu gak selera sama cewek yang so suci kayak lo" ucap Susan pada Adira


Adira berusaha masuk, semoga dirinya bisa masuk. Namun di tahan pula oleh Billy.


"Kamu liat kan? Dia larang aku untuk masuk! Bukan mau menggoda dia!" tegas Adira


"Billy. Kamu ada masalah apa sama dia?" Tanya Susan


"Ini bukan urusan lo" ucap Billy


"Kok gitu? Aku kan... Temen lama kamu" ujar Susan


"Tetap aja! Lo gak boleh tau!" tegas Billy


Susan pun masuk. Hingga Adira ikut masuk namun penglihatan Billy yang melihat Adira ikut masuk pun tak bisa.


"Ikkkhhh.... Kenapa sih pengen banget kenalan sama aku! Sama yang lain juga bisa kali. Kalo kamu terus larang aku untuk masuk, aku panggil pak Deni, sekaligus guru kepala sekolah, biar kamu keluarin dari sekolah ini!" ancam Adira

__ADS_1


"Ya udah silahkan" jawab Billy membuat Adira menjadi suatu tantangan


Adira berjalan pelan. Tidak ada niat untuk melaporkan ke guru wali kelas sekaligus kepala sekolah. Ia kembali mendekati Billy untuk berkenalan karena tidak ada cara lain lagi.


"Nama ku Adira. Salam kenal! Udah kan?" Sahut Adira


"Belum... aku minta kamu, untuk mengenalkan diri dengan lembut" pinta Billy


"Nama aku Sherly Adira Kawilarang. Udah?" sahut Adira dengan lembut terpaksa


"Perkenalan kamu gak sesuai, itu terpaksa. Aku minta kamu memperkenalkan diri di hadapanku dengan lembut dari hati, bukan dari paksaan." ucap Billy


Adira mempunyai ide untuk bisa masuk. Ia pura pura menangis tertekan oleh Billy. Selama ini tidak ada yang seperti itu.


"Tau akh"


Adira memulai reaksinya. Adira duduk di kursi yang berada di sampingnya. Adira memulai dengan wajah nangis nya.


Melihat Adira yang menangis pun Billy merasa tersakiti, rasanya kasihan melihat wanita yang terpuruk. Apalagi Adira itu wanita berhijab.


"Eehh... kok nangis sih, aku kan cuman minta kamu untuk berkenalan, yang baik, lembut dari hati" tutur Billy mendekati Adira


"Tetap aja nyakitin tau. Kayak gini salah, kayak gitu salah, serba salah semuanya" ujar Adira dengan reaksi menangis tersedu


"Ya udah aku minta maaf. Maaf yah" ujar Billy


"Yahh lolos dia"


"Sherly Adira Kawilarang?? Nama yang bagus. Suatu hari nanti, aku terus kejar cinta dia" batin Billy


"KRIINGG!!" Bel istirahat berbunyi.


Semua siswa siswi di sekolah SMP itu berlarian menuju kantin terkecuali Adira yang masih santai. Billy yang melihat Adira selow pun mengajak Adira untuk makan bersama


"Adira... Kok kamu gak kaya temen temen sih!?" gumam Billy


"Jangan banding bandingin aku sama temen temen. Kamu boleh rendahin aku, tapi jangan sekali kali kamu bandingkan aku sama temen yang lain." ujar Adira


"Yaa maaf ya"


"Tapi... Kamu mau istirahat kan?" tanya Billy


"Hmm... Istirahat dalam kelas" jawab Adira


"Ha?? Istirahat dalam kelas? Maksudnya?" tanya Billy


"Gak usah banyak tau deh sama aku!" ucap Adira


"Gimana kalo... Kamu aku traktir?" tawar Billy

__ADS_1


"Emmm.... Traktir itu kan... Gratis ya... Jawaban aku.... Tetep enggak. Jangan kamu pikir aku kayak temen temen yang demen sama traktiran" sahut Adira


Kini Billy pun diam sejenak menatap meja dan berpaling ke wajah Adira


"Jaga tuh mata. Jangan sembarangan liat wajah wanita, apalagi sampe memandang. Dosaa!! " ujar Adira


"Kamu... Pernah pesantren yah?" tanya Billy


"Nggak!" jawab Adira


"Kenapa bisa mengetahui kalo... itu... dosa?" tanya Billy


"Mengetahui tentang agama gak di bilang pernah pesantren kali. Aku belajar sendiri dari kitab aku" jawab Adira


"Udah ngapain sih kamu ada di sini. Udah sana pergi!" pinta Adira


"Emang kenapa sih?" tanya Billy


"Aku gak mau aja!" jawab Adira


"Gak! Aku tetep nemenin kamu" ucap Billy


"Ya udah kalo kamu gak mau pergi, aku yang pergi" ucap Adira beranjak berdiri dan di ikuti oleh Billy


"Katanya mau istirahat dalam kelas?" tanya Billy


Adira mengabaikan perkataan Billy lalu berjalan ke luar kelas.


"Susah banget ngadepi dia. Tapi.. gue harus tetep berjuang" ujar Billy


Sementara dengan Adira berjalan menuju setiap halaman sekolah. Ia tak tau harus kemana. Hari ini, ia lupa membawa uang


"Mau kemana ya? Mana aku gak bawa uang lagi. Rese banget sih ada siswa baru itu!" batin Adira


"Adira awas!!" teriak seseorang yang mungkin bahaya untuk Adira


Saat itu, Adira berada di posisi lapangan basket. Basket itu akan menghampiri kepala Adira dengan pukulan yang mungkin amat keras.


Namun akhirnya, seorang pahlawan muda tampan menolonginya menghadang bola basket dari Adira. Menandakan bahwa ia peduli dan tidak ingin Adira terluka.


Sosok mata menjadi sorotan. Siswa siswi yang ada di sekitar nya tidak percaya dengan kejadian ini. Tidak ada angin tidak ada hujan, si Adira yang di kenal gadis pendiam murah senyum itu ternyata ada juga yang ingin menolongnya dengan peduli.


.


.


.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2