
Gadis 29 mundur perlahan, mata terbelalak dengan tubuh gemetar. Pria kecil bertubuh kurus yang ada di hadapannya, bukan seperti 27 yang ia kenal.
"UKKHH...L..LEPASKAN!!"
"S...SIAL, M...MAKHLUK SI..ALAN!"
"UGHH"
Mereka memberontak, namun itu semua percuma. Semakin mereka bergerak semakin kencang pula lilitan dari para ular.
.......
.......
.......
Tatapan kosong bagai tak ada tanda kehidupan di mata Bayu. Bagai seseorang yang terkena hipnotis, ia seperti boneka tanpa jiwa. Ketiga pria tersebut secara perlahan mengeluarkan busa di mulut mereka. Wajah membiru dan pucat, terduduk lemas dengan mata yang menyiratkan betapa sakitnya mereka.
"Ku ku ku kuuu"
Makhluk itu mendekat dan menarik kaki Bayu. Wajah seakan meminta untuk berhenti, namun pandangan Bayu tetap tak berubah. Ia hanya diam di tempat tanpa sepatah kata.
"27...berhenti...kumohon"
Ucap gadis 29 dengan lirih. Ia melirik ke arah tiga orang bertopeng, mereka...akan mati jika di teruskan. Sang gadis berdecak kesal, sempoyongan ia berjalan mendekat ke Bayu. Anehnya, ular tersebut tidak menyerangnya dan hanya mengeluarkan suara berdesis.
"Apakah kau...ingin menjadi...seorang pembunuh?!"
Tak ada jawaban dari Bayu, ia seakan tidak sadar dengan apa yang ia perbuat. Secara perlahan, sang gadis memegang pundak Bayu. Berniat untuk menggoncangnya agar tersadar, sang gadis malah mendengar suara aneh tepat saat ia menyentuh temannya.
...----------------...
...Tuan...berhentilah....berhenti jika mereka semua sudah mati!Khi khi khi.......
...----------------...
Mata gadis 29 terbelalak tak percaya, secara spontan ia melepaskan genggamannya dari Bayu.
"27! Kau bisa...mendengar ku?! Hei!"
Teriak sang gadis kepada temannya. Makhluk mungil juga mengeluarkan suara keras, mereka berdua mencoba menghentikan Bayu.
"Ku ku ku!! Ku kuuu!!"
"Hentikan! Katanya...kau ingin keluar...dan merasakan dunia yang luas. Kau juga yang...menyakinkan ku untuk melihat...dunia. Jika kau begini...apa bedanya kau dengan mereka?!"
"...."
Bayu tersentak, mata yang awalnya bagai binatang buas perlahan menghilang dan menunjukkan mata manusia pada umumnya. Aura hitam dan ular yang mengelilinginya perlahan mulai lenyap.
"Dua...puluh sembilan?"
__ADS_1
Suara lemas dengan pandangan yang buram. Gadis 29 tersenyum, air mata yang hampir saja terjatuh.
"Syurkurlah...kau kembali" *senyum
Bayu yang masih setengah tersadar tak tau menau dengan apa yang terjadi. Di depan sudah ada kawannya dengan wajah khawatir. Kepalanya kembali pusing, dengan tubuh lemah ia terjatuh dalam pelukan gadis 29.
...Bruukk...
"27?!"
Tubuh berkeringat dingin, badan memanas seperti terkena demam, nafas terengah-engah dari Bayu. Perlahan, sang gadis memapah Bayu ke senderan. Ia begitu khawatir dengan keadaan temannya. Wajah pucat dan setengah sadar, Bayu terlihat tersiksa saat muncul aura aneh tersebut.
"Ku ku ku..."
Makhluk itu mendekat dan mengelus kaki 29. Sang gadis tersentak kaget, mengetahui makhluk kecil itu yang menyentuhnya, ia hanya bisa tersenyum pahit.
"Ah aku...lupa kau ada...di sini"
"Ku ku ku...ku ku kuu"
Ekspersi seakan khawatir dengan wajah mungilnya.
"Kamu juga...khawatir ya?"
29 mengelusnya perlahan, ia memandangi para penjahat yang ada tepat di hadapannya. Topeng yang hancur, wajah pucat dan terlihat tersiksa. Membiru dengan banyak busa di mulut mereka. Ia tak tau kenapa ia menghentikan 27 untuk membunuh mereka. Padahal selama ini ia dendam terhadap mereka semua.
29 meringkuk dengan tubuh gemetar. Menangis pelan, ia begitu takut pada kejadian tadi. Kekuatan dan ular misterius, bahkan ia melupakan rasa sakit yang baru saja dia alami. Saat ini...29 agak takut kepada 27.
Sadar ada dua anak kecil yang lemah, pria itu berjalan mendekat. Gadis 29 juga tak tau siapa dia, namun 29 memandang waspada. Berdiri dan berusaha melindungi 27. Makhluk kecil berwarna putih itu juga berusaha mengeluarkan suara yang keras.
"Ku ku kuu! Ku kuu! Grrr"
"Uwoh..santai kawan"
Ucap pria bertopeng tersebut dengan suara halus. Ia menyesuaikan tinggi badannya pada anak perempuan di depannya.
"Kau juga tenanglah nak, sebenarnya apa yang terjadi?"
Pria itu memandang sang gadis dari atas sampai bawah. Begitu juga Bayu yang masih tak sadarkan diri.
Luka lebam dan darah segar terlihat dari dua bocah ini. Pakaian tak layak...dan tubuh kurus kering. Angka yang tertulis di lengan kiri. Mereka hanyalah seorang budak. Namun, kenapa Eve mengantarkan ku sampai kemari?
Pikir pria itu mengernyitkan alis.
Masa bodo dengan latar mereka, Eve tak pernah berbohong.
"Hei nak, aku bukanlah orang jahat. Kalian bisa ikut dengan ku dan mengobati luka kalian"
"Semua orang dewasa...selalu berkata seperti itu. Kenapa aku...harus percaya padamu?"
Ucap gadis 29 dengan amarah di mata nya. Sang pria yang menyadarinya langsung mengambil suatu benda di jas. Benda bersinar walau dalam kegelapan, ia memperlihatkan benda tersebut kepada sang gadis.
__ADS_1
"Apakah ini sudah cukup membuktikan bahwa aku tak seburuk dari apa yang kau pikirkan?"
"Apa...itu?"
"Ini adalah benda yang membuktikan, bahwa aku adalah bawahan dari salah satu keluarga terpandang"
Sebenarnya lencana ini palsu, namun jika seorang budak sepertinya pasti akan percaya saat mendengar kata 'keluarga terpandang'.
Pikir pria bertopeng tanpa ekspresi.
"Jika begitu...tolong bantu teman saya"
Ucap sang gadis menunjuk temannya. Pria itu mengangguk, ia mendekat ke Bayu dan menggendongnya dengan hati-hati.
"Ikuti aku nak"
Mereka berjalan dan keluar dari ruangan. 29 mengikuti pria itu dari belakang sambil mengendong makhluk mungil di pelukannya. Meninggalkan para penjahat sendiri di ruang gelap.
Setelah keluar dari gang sempit, pria itu berhenti sejenak. Tatapan tajam ia berikan, menutup mata dan berusaha berkonsentrasi.
'Eve...bakar mereka semua'
Kalimat yang ada dipikiran pria itu menjadi kenyataan. Asap terlihat di ruangan yang tadi mereka tinggalkan. Di susul dengan nyala api membakar habis ruangan tersebut. Namun anehnya, api hanya melahap habis di salah satu bangunan saja dan tak menyebar di tempat lain.
"Mereka...mati?"
Ucap sang gadis terbelalak tak percaya. Bau kulit gosong tercium, tubuh gadis itu kembali bergetar. Padahal baru saja ia melihat ketiga penjahat tersebut, tapi sekarang hanya menyisahkan debu dan suara gemercik api.
"Sebenarnya apa...yang terjadi?!"
Keanehan yang muncul dalam 1 malam. Padahal aku tak melihat obor atapun lentera yang menyebabkan kebakaran. Dan lagi...untung saja kita berdua keluar dari ruangan itu.
Batin 29 yang masih saja tak melepaskan pandangan dari panasnya api.
"Ayo nak, kita harus segera pergi dari tempat menyesakkan ini"
Ucap pria bertopeng, ia mengenggam tangan 29 dan menuntunnya.
Apakah kami bisa percaya kepada orang asing ini? Aku hanya berharap ia tak punya maksud tersembunyi.
Batin 29 yang terus saja memandang curiga.
.......
.......
.......
...B e r s a m b u n g ......
...( Dukungan Kalian \= Penyemangat Author❤️)...
__ADS_1