
"3 dunia, makhluk spirit, berbagai mitologi disini, berarti...ada elf juga?"
"Tentu saja...kau seperti...bukan dari dunia ini...27"
"Jangan menakuti ku hahaha, aku ya aku. Tidak ada yang berubah"
"..."
Gadis itu terdiam dan masih memperhatikan Bayu. Pandangan curiga terlihat dimatanya.
.......
.......
.......
Seperti biasa Bayu memiliki ide lain. Ia membawa kantong berisi beberapa kelereng. Dan juga satu benda yang dibuat Bayu tak lama ini di kediaman Vasello. Tepatnya terdapat 14 kelereng di dalam kantong. Selama perjalanan, Bayu melihat sekitar. Walau mata yang berat karena mengantuk, Bayu berusaha menahannya dan berusaha mengingat rute yang ia lewati. Saat memasuki desa, inilah waktu yang di tunggu-tunggu.
Bayu menjatuhkan satu persatu kelereng selama perjalanan. Menginjak supaya kelereng yang memiliki bentuk lingkaran sempurna tak bergerak kemana-mana. Jarak untuk menjatuhkan kelereng sekitar 3 sampai 5 meter setiap Bayu berjalan. Awalnya gadis nomer 29 belum sadar akan perbuatan Bayu. Namun saat kelereng terakhir akan di jatuhkan, gadis nomer 29 mengetahui apa yang di lakukan Bayu.
"Apa..yang kau...lakukan?"
"Hanya melakukan hal yang harusnya kulakukan sejak lama"
Jawab Bayu dengan tatapan sinis mengarah ke pria bertopeng. Gadis itu hanya menelan ludah, entah kenapa ia merasa takut saat berhadapan dengan Bayu.
Mereka kembali ke kurungan mereka masing-masing. Ikatan di lepas, dengan kasar mereka di dorong. Bayu berdecak kesal, rasa sakit kembali di tubuh Bayu, ia hanya bisa menahannya.
__ADS_1
Namun tak lama, pada saat pria bortopeng membuka ikatan budak terakhir bernomor 32, hal tak terduga terjadi.
"AAKHHHH!!"
Suara teriakan terdengar. Bayu yang penasaran dengan apa yang terjadi mengintip di celah jeruji. Tak lama saat melihat, mata Bayu terbelalak terkejut. Wanita setengah baya dengan tubuh kurus, ia dengan malangnya terlentang di tanah. Sama seperti Bayu, pria bertopeng itu menginjak wanita bernomer 32 itu. Ia berusaha untuk mengapai suatu benda yang tak lain adalah sebuah kunci.
"APA YANG KAU LAKUKAN?! LEPASKAN DIA!"
Teriak Bayu sembari memukul jeruji besi.
"Jika aku bilang tidak mau, apa yang kau lakukan?"
Di balik topeng, ia tersenyum meremehkan ke arah Bayu.
"Dia tidak berhasil melakukan rencananya Tuan. Tolong bebaskan dia"
Namun tak lama wanita itu tetap berusaha mengapai kunci yang tepat di hadapannya. Jarak beberapa inci membuatnya penuh dengan harapan. Pria bertopeng tersadar dan berdecak kesal, ia kemudian dengan mudahnya mengambil kunci dan mengikatkannya menjadi kalung.
"Dasar rendahan"
"K...kumohon Tuan, s...saya tidak akan melakukannya lagi..."
Wanita setengah baya itu terus menerus meminta maaf. Namun sudah terlambat, kini kesabaran pria bertopeng sudah di ambang batas. Ia dengan kasar menarik wanita nomer 32 keluar. Semua budak terdiam dan tak ada yang berani melawan.
"TUNGGU, APA YANG AKAN DIA LAKUKAN?!"
__ADS_1
"Dia...akan...menerima hukuman"
Ucap gadis nomer 29 dengan suara pelan dan bergetar. Tak dapat di pungkiri bahwa gadis itu beserta yang lain masih merasa takut kepada mereka. Kini kaki Bayu merasa lemas, ia terduduk di lantai. Setetes air mata mengalir, mata kemarahan terlihat jelas di mata merah Bayu.
Suara teriakan meminta tolong dan memohon maaf terus terdengar dari luar. Bersamaan dengan suara benda di pukul dan tulang remuk. Bayu menyesal karena dia tak bisa melakukan apa-apa. Ia juga merasa kesal kepada dirinya, jika ia merasa mampu mengubah semua takdir dari para budak. Keinginan egois dan naif, membuatnya tertampar oleh kenyataan.
"27 kau...tidak apa?"
Tanya gadis 29 yang tepat di sebelah Bayu. Pria itu hanya diam dan masih saja menunduk. Gadis bermata ungu violet menghela nafas, keanehan yang terjadi kepada temannya membuat ia bingung. Padahal dari dulu entah itu 27, 29, ataupun budak lain sudah beberapa kali melihat kejadian ini. Gadis nomer 29 membiarkan Bayu untuk menenangkan diri.
Makanan tak layak kembali di hidangkan. Seperti biasa, Bayu tidak makan dan hanya menaruh makanan di tempat paling pojok. Waktu berlalu, berjam-jam lewat begitu saja. Semua orang tertidur, namun tidak dengan Bayu. Bukannya tidur, ia sibuk mengotak-atik gembok di tempatnya.
Waktu tengah malam pada saat semua orang tertidur, sekaligus penjaga yang ada di depan. Keringat bercucuran di wajah Bayu.
Aku tidak akan melakukan hal yang ceroboh seperti wanita tadi. Karena aku...sudah menyiapkannya dengan baik dan sempurna. Ku namai ini dengan sebutan, rencana pelarian Bayu! Atau ku sebut...rencana pelarian 27? Walau harus berlomba dengan waktu namun aku harus bisa, aku harus cepat melakukan ini!
Batin Bayu dengan semangat yang membara. Inilah alat kedua untuk rencana yang akan di buat oleh Bayu.
.......
.......
.......
...B e r s a m b u n g ......
...( Dukungan Kalian \= Penyemangat Author❤️)...
__ADS_1