Menikahi Selingkuhan Ayah

Menikahi Selingkuhan Ayah
BAB 1


__ADS_3

"Ah, Mas geli tau, jangan begitu, ahh."


"Aku mau sama kamu terus sayang, suaramu candu, ahh."


Suara bersahutan itu membuat Rama yang tadinya ingin mencari berkas yang tertinggal jadi terhenti tepat di depan kamar ayahnya. Rama sempat berpikir positif mungkin saja ayahnya tengah bermain dengan ibunya, tapi pagi tadi ibunya bilang akan checkup di rumah sakit, jadi bukan ibu yang berada di kamar itu bersama ayahnya.


Dulu yang Rama tahu ayahnya hanya menumpang hidup di rumah ibunya yang megah, karena dulunya ayahnya hanya pegawai biasa di kantor milik keluarga ibunya yang bernama Jelita. Kala itu Jelita yang memimpin perusahaan hingga maju pesat, karena seringnya bertemu Jelita pun jatuh cinta dengan bawahannya yaitu Pram, hingga hidup Pram pun berubah menjadi kaya raya berkat Jelita.


Yang membuat Rama kesal terhadap ayahnya adalah ia malah menyerahkan seluruh aset perusahaan kepada kakaknya dan membiarkan ia menjadi staf biasa di kantor tersebut, bukankah seharusnya perusahaan ini dipelihara bersama-sama, ia merasa sangat diperlukan tidak adil, dan ia tidak terima itu!


"Sedang bersama dengan siapa lelaki tua itu. Berani-beraninya dia membawa perempuan jal*ng itu ke dalam rumah ini," umpat Rama lalu berusaha mendobrak pintu kamar ayahnya yang memang sengaja dikunci. Dua kali percobaan Rama akhirnya berhasil mendobrak kamar itu.


Rama tersenyum kecut saat melihat ayahnya satu selimut dengan perempuan muda yang ia perkiraan usianya di bawahnya.


"Rama!" katanya terkejut lalu mulai membereskan pakaiannya dan juga perempuan itu, halah telat Rama sudah melihat semuanya.


"Enak yah, yah siang-siang udah mantap-mantap aja sama perempuan muda. Itu ibu lagi berjuang dengan penyakit jantungnya ayah malah selingkuh sama perempuan jal*ng ini, keterlaluan!" Rama menuding perempuan yang diketahui bernama Yola itu dengan ucapan lantang.


Melihat kemarahan Rama, Yola terlihat mengeratkan selimut yang menutupi tubuh polosnya dengan perasaan takut, ia tidak menyangka ia akan ketahuan secepat ini.


"Rama, ayah mohon jangan beri tahu ibumu yah, kamu tau kan kalo ibumu lagi sakit jantung, bisa kambuh penyakitnya jika tau tentang ini, ayah janji apapun permintaan kamu akan ayah turuti yang penting kamu jangan bilang-bilang sama ibumu yah," mohon Pram.


"Memangnya aku ini anak kecil yang mudah dibujuk? Tidak semudah itu Yah, setelah apa yang ayah lakuin ke ibu bener-bener buat aku sakit ngelihatnya. Coba ayah pikir kurang baik apa ibu selama ini sama ayah? Dulu ayah hanya sampah setelah itu ibuku mengangkat sampah itu layaknya berlian, lihat apa yang dilakukan sampah itu sekarang? Dia melebur dengan sampah lainnya, apa kali ini ayah mau kembali kehabitat asli ayah? Di tempat sampah?"


Plak!


"Berani kamu menyebut ayahmu sendiri sampah? Anak macam apa kamu hah?! Ayah ngelakuin semua ini itu karena ibumu itu udah sakit-sakitan dia udah nggak mampu lagi memenuhi hasrat ayah, jadi apa salahnya jika ayah cari perempuan lain buat senang-senang."


Rama tersenyum setan sambil mengusap pipinya yang kemerahan berkat tamparan Pram.


"Bersenang-senang dengan harta ibuku? Setidaknya kalo nggak berduit setidaknya setia. Jangan jadi parasit, disaat ibu susah ayah nggak mau tuh bantuin ibu, setidaknya ayah antar ibu ke rumah sakit, sampai dia sembuh seperti sediakala sampai ibu bisa memenuhi hasrat ayah lagi, jangan malah cari perempuan lain di luar."


"Dan untuk kamu jal*ng," tunjuk Rama pada Yola. "Puas kamu sudah hancurin keluarga ku. Sudah berapa banyak uang yang ayahku berikan sama kamu? Apa kamu sudah kaya dengan uang haram dari ayahku?"


Rama menjambak rambut Yola lalu melemparnya ke lantai sehingga tubuh polos itu terlihat sangat jelas.

__ADS_1


"Berhenti Rama! Kamu jangan sakiti Yola, ayah yang salah bukan dia." Pram kembali menutupi tubuh Yola dengan selimut dan mendudukkannya di atas ranjang.


"Masih terus dibelain? Ternyata perempuan ini jauh lebih berharga yah daripada ibuku?"


"Iya, kenapa memangnya? Dia jauh lebih cantik dan muda tidak seperti ibumu yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, tidak ada gairah-gairahnya bila bersama dia."


"Baik sudah cukup, rekaman ini sangat cukup untuk jadi bukti perselingkuhan ayah, siap-siap saja keluar dari rumah ini seperti sampah."


Ya benar sebetulnya sebelum masuk ke dalam kamar Rama sudah merekamnya jadi semua yang tadi dibicarakan dengan Pram tersimpan jelas di ponselnya.


"Apa?" Pram melotot tak percaya lelaki tua itu berusaha merebut ponsel itu dari Rama namun hasilnya nihil, Rama berhasil menyembunyikan ponsel itu kembali dengan aman. "Anak kurang ajar kamu yah! Sebenarnya apa mau kamu!" tantang Pram.


"Oh jadi ayah betul-betul akan menuruti semua permintaan ku?" Rama tersenyum puas, inilah hal yang ia tunggu-tunggu.


"Ya, jika kamu tidak membeberkan semuanya pada ibumu, dan menunjukkan bukti itu pada ibumu."


"Berikan semua aset perusahaan ibu kepadaku. Biar aku yang memimpinnya jangan kak Raka, dia tidak becus dalam bekerja, aku yang pantas mendapatkan semuanya bukan dia."


Akhirnya Rama mengungkapkan apa yang ia mau, ia selama ini greget sekali dengan cara kerja Raka kakaknya jika bukan karena dia adalah anak kesayangan ayah mungkin sudah bertahun-tahun lalu ia yang memimpin perusahaan itu, karena ia yang jauh lebih kompeten dari Raka. Dan sekarang selangkah lagi impian itu akan terwujud.


"Oh, jadi selama ini kamu mengincar posisi Raka? Okeh baiklah besok akan ayah urus semuanya kamu yang akan memimpin perusahaan itu. Tapi janji yah jangan beberkan kepada siapapun tentang hubungan ayah dan Yola, mengerti kamu?"


"Assalamualaikum ayah." Suara itu adalah suara Jelita yang ternyata telah pulang dari rumah sakit.


"Ibumu sudah pulang. Kali ini kamu yang harus mengikuti rencana ayah." Rama mengernyit tidak mengerti namun karena ayahnya sudah menuruti apa yang ia inginkan akhirnya ia mau saja menuruti kata Pram.


"Loh, Bu, ini mobilnya Mas Rama, sepertinya dia sedang ada di dalam," kata Bi Asih pembantu yang mengantar Jelita setiap kali checkup.


"Iya benar, Bi. Tapi kemana mereka? Kok rumah keliatan sepi, mas Pram juga tidak ada."


"Dasar anak kurang ajar! Beraninya kamu mengajak perempuan ke rumah ini?" bentak Pram dari arah kamar, sepertinya ia sedang merencanakan dramanya.


Mendengar bentakan dari suaminya ia langsung berlari ke arah kamar dimana suara itu berasal.


"Ada apa ini, Mas?" tanyanya terkejut, kini matanya menyorot ke arah Rama yang satu selimut dengan Yola.

__ADS_1


"Anakmu, Bu dia aku pergoki tengah tidur dengan perempuan di kamar ini, padahal aku tau dia sudah punya pacar cantik seperti Nada," kata Pram menjelaskan.


Rama hanya diam toh ini hanya drama sampai nanti perempuan murahan itu pulang semuanya akan selesai.


"Astagfirullah, Rama. Bagaimana dengan Nada? Kenapa kamu tega menduakan Nada seperti ini? Bagaimana perasaannya jika dia tau kelakuan bejat kamu?"


"Maaf, Bu Rama tidak sengaja melakukannya, Rama hilaf. Aku dan perempuan ini hanya main-main tetap perempuan yang akan aku nikahi adalah Nada."


Jelita mengurut dada tak percaya. Mungkin jika yang ia lihat sekarang adalah suaminya semua akan beda lagi. Bi Asih memegangi tubuh Jelita uang terlihat terguncang. "Okeh tapi mulai sekarang kamu jangan berhubungan sama perempuan ini lagi dan secepatnya kamu harus nikahin Nada."


"Iya, Bu. Rama janji."


Hoek.


Yola turun dari kasur pakaiannya sudah ia pakai kembali, ia berlari menuju toilet memuntahkan seluruh isi perutnya. Setelah itu ia kembali.


"Kenapa kamu muntah-muntah? Jangan-jangan kamu hamil?"


"Tidak, Bu mungkin hanya masuk angin," elak Yola.


"Biar semuanya jelas ayo cepat cek dengan alat tes kehamilan," titah Jelita ia sudah sangat murka.


"Tidak mungkin Yola hamil, aku kan setiap kali main sama dia pakai pengaman apa mungkin kali ini aku kelepasan?" gumam Pram dalam hati ia mulai ketar-ketir.


"Bi ambilkan alat tes kehamilan di kamar Rosa menantuku, biar dia bisa cek kehamilan di sini." Bi Asih langsung pergi lalu setelah itu ia kembali dengan apa yang dipesan Jelita tadi.


"Ini, Bu."


"Ini cepat tes kehamilan sekarang!" Yola pun lekas kembali ke toilet untuk mengecek apa ia hamil atau tidak. Tubuhnya bergetar sambil memegangi alat tes kehamilan dengan dua garis merah itu, alangkah terkejutnya ia ternyata hasilnya positif pantas ia sudah telat tiga bulan tapi ia tidak sadar. Ia pun keluar dari toilet dengan perasaan tak karuan.


Jelita merebut alat tes kehamilan dari tangan Yola. Dan menatap hasil itu secara seksama.


Pram dan Rama sama-sama tegang menunggu Jelita mengungkap sesuatu. Rama dan Pram percaya diri jika Yola tidak mungkin hamil dan masalah akan selesai sampai di sini.


"Rama, kamu yang harus bertanggungjawab atas kehamilan Yola. Besok ibu yang akan mempersiapkan acara pernikahannya."

__ADS_1


"Apa?!"


Pram dan Rama berteriak nyaris pingsan.


__ADS_2