Menikahi Selingkuhan Ayah

Menikahi Selingkuhan Ayah
BAB 4


__ADS_3

"Jangan-jangan kamu, mau ngintip malam pertama Rama yah, Mas?" tuduh Jelita sedikit membuat jantung Pram kembali normal karena Jelita tak mengatakan apa yang sebenarnya ia lakukan.


Pram menyengir. "Enggak kok, sayang aku tadi nggak sengaja lewat aja di depan kamar Rama. Lagian mana mungkin sih aku ngintip malam pertama anak sendiri kayak nggak ada kerjaan aja," elak Pram.


Jelita lantas tertawa, kampr*t ternyata Jelita tengah mengerjainya. "Kamu ini lucu banget sih, Mas. Aku itu bercanda kali, kamu paniknya sampai kayak gitu banget."


"Lagian kamu ngomongnya gitu sih? Kirain tadi nuduh ya aku paniklah, ntar kamu malah nyangka aku yang enggak-enggak," kata Pram ia terlihat kesal.


"Ya enggaklah, Mas aku tadi hanya bercanda lagian mana mungkin sih suamiku ini macam-macam, aku berani getok jari aku sendiri kalo kamu macam-macam."


"Segitunya, kamu percaya sama aku sayang?" ucap Pram tak menyangka Jelita mampu berkata begitu, Jelita betul-betul sangat percaya kepadanya. Padahal yang ia lakukan di belakang pasti akan membuatnya colabs jika ia tahu yang sebenarnya.


"Iya karena aku yakin kamu itu orang baik dan nggak pernah ngelakuin apapun yang bikin aku kecewa, makasih yah Mas." Jelita berucap tulus, Pram menelan ludahnya, sebetulnya jika Jelita sehat Pram juga tidak mau berselingkuh dengan Yola tapi apa mau dikata, Pram laki-laki normal yang butuh kepuasan batin.


"Sama-sama sayang, oh ya kamu besok ada jadwal checkup?"


"Nggak ada, Mas kan kemarin udah mungkin Minggu depan aku checkup lagi, lagian aku mau nemenin menantu baruku di rumah ini, nggak sabar banget aku mau ngajarin dia masak, dan bilang apa yang anakku nggak suka dan yang disukainya."


Pram mendesah kecewa namun tidak kentara. Padahal niatnya ia ingin berduaan di rumah ini dengan Yola tapi ternyata rencananya gagal. Padahal ia rindu sekali dengan cemceman kinyis-kinyisnya itu. Seharusnya Yola itu bisa jadi istri keduanya tapi malah berakhir menjadi menantunya, sungguh takdir yang mengejutkan.


***


Hari ini adalah hari pertama Rama memimpin perusahaan. Saat ini keluarga besar itu tengah menyantap hidangan yang disajikan di meja makan dengan khidmat. Sedangkan Rama ia masih siap-siap di kamar. Sementara Yola sudah siap dengan masakan yang tadi ibu mertuanya ajarkan kepadanya.


"Mas, hari ini kamu harus membuat Rama terlihat membuat kesalahan di kantor biar dia cepat didepak dari kantor dan kamu kembali menjadi pemimpin perusahaan, aku nggak mau yah suami aku yang sudah lama memperjuangkan perusahaan malah digantikan Rama," bisik Rosa pada suaminya yang tepat berada di sisi kanannya.


"Aku juga di sini akan membuat Yola tidak bisa melahirkan anaknya, kan yang ada di kandungan Yola itu anaknya Rama bisa gawat kalau sampai lahir, sedangkan aku sampai sekarang belum punya anak, aku nggak mau jika nanti anak Rama yang akan menjadi pewaris harta ibumu, Mas," imbuh Rosa lagi, Jelita jadi menatapnya ada apa dengan menantu pertamanya itu, kenapa bisik-bisik di saat dengan sarapan begini.


"Rosa, Raka? Ngapain kalian bisik-bisik saat sarapan begini. Ngobrolnya dilanjut nanti aja, sekarang fokus untuk sarapan, lagian nggak baik berbicara saat sedang makan," peringat Jelita.


"Maaf, Bu. Ini aku mau lanjut makan lagi," ungkap Rosa.


Jelita beralih menatap menantunya yang lain. "Loh, Yola, Rama mana kok belum ke meja makan? Panggil dia cepat dia itu sering sekali mengabaikan sarapan, kamu sebagai istri harus memperhatikan hal itu yah," ucap Jelita menasehati.


"Iya, Bu," balas Yola, berubah sok manis di depan Jelita dia mencoba untuk menjadi menantu yang baik tapi pada kenyataannya dia adalah serigala berbulu domba.

__ADS_1


Pram berupaya menggoda Yola dengan mengedipkan sebelah matanya. Tapi hal itu disadari oleh Jelita.


"Kamu kenapa, Mas kok kedip-kedip gitu?" Jelita menatap Pram curiga.


"Hah, anu sayang ini matanya kelilipan," ucap Pram salah tingkah kini ia mengucek matanya agar Jelita percaya jika ia kelilipan. Yola yang melihat itu terkekeh pelan, ingin rasanya tertawa sekencangnya tapi ia tahan.


"Oh yaudah nanti ibu ambilkan obat tetes mata yah buat ayah."


"Iya sayang makasih."


"Yaudah Yola kamu panggilkan Rama yah agar ia segera makan," ucap Jelita pada Yola, Yola pun mengangguk namun saat ia ingin bergerak menuju kamar, Rama sudah terlebih dahulu hadir di meja makan.


Yola pun dengan sigap menyiapkan makanan untuk Rama.


"Lihat tuh mas adik ipar kamu lagi cari muka, mau pura-pura jadi menantu yang baik," sindir Rosa sambil berbisik ke suaminya.


"Hust, jangan bilang begitu nanti ibu dengar," peringat Raka. Rosa pun langsung mengatupkan mulutnya dengan terpaksa.


"Iya, iya," kata Rosa lirih namun penuh penekanan.


Prang!


"Makanan apa ini hah? Rasanya nggak enak!" ucap Rama lantang. Ia bersikap seperti ini karena ia tau Yola lah yang memasak makanannya, tadi ia lihat kegiatan Yola yang tengah belajar memasak dengan ibunya.


"Astagfirullah, Rama!" bentak Jelita sambil mengurut dada.


"Ini yang masak dia kan? Masak aja nggak bisa disuruh masak yang ada malah ancur selara makan aku. Mendingan aku makan di luar," kata Rama lalu, menatap Yola. "Beresin semuanya!" imbuh Rama penuh penekanan terhadap Yola, ia pun melangkah pergi sambil membawa tas kantornya ia tak jadi makan.


"Dasar baru aja mau diangkat jadi pemimpin perusahaan udah sombong aja, gimana jadi presiden!" sindir Rosa ia betul-betul kesal dengan perilaku adik iparnya itu.


"Lihat aja, Mas nanti jabatannya nggak akan bertahan lama, lihat aja kelakuannya sok banget kek gitu. Inget, Mas kamu harus merebut jabatannya yang harusnya jadi hak kamu selamanya, kamu itu anak pertama jangan mau diinjak-injak sama adik kurang ajar kaya Si Rama itu," imbuh Rosa, ia benar-benar berambisi sekali merebut hak suaminya kembali.


Raka hanya mampu mengangguk pasrah, walaupun dalam hatinya dia juga ingin menghancurkan Rama, hanya saja ia belum menemukan cara yang pas, tidak usah didesak Rosa pun ia mampu melakukannya sendiri.


"Aku mau berangkat nih. Udah siang," alih Raka.

__ADS_1


"Yaudah, Mas ayo aku anterin ke depan." Rosa membawa tas kantor Raka bersiap untuk keluar dari rumah.


"Ayah, ibu, Raka berangkat kerja dulu yah, assalamualaikum," pamit Raka, ia mencium tangan kedua orangtuanya dengan takzim. Lalu pergi keluar diantar Rosa.


Sementara Yola dia masih terus membersihkan sisa pecahan piring dan makanan yang berserakan akibat ulah Rama. Jika dia di sini tidak ingin berpura-pura menjadi menantu yang baik sudah ia masukan sebakul nasi penuh ke mulut Rama itu, tapi menurut Yola Rama tidak main-main dengan ucapannya yang akan membuat hidup Yola seperti di neraka, tapi itu tidak akan terjadi ia akan merebut atensi Jelita agar terus memihaknya.


"Maafin anak ibu yah, Yola, dia sudah marahin kamu. Kamu harus memaklumi sifatnya yah? Mungkin akan sedikit beda saat pacaran dan menikah kamu harus memahami itu, sering kali laki-laki baru memunculkan sifat aslinya saat dia udah nikah. Jadi kamu harus memahami sifatnya yah yang selama ini dia sembunyikan sama kamu."


"Iya, Bu aku memakluminya kok, lama-lama juga nanti terbiasa," balas Yola sok tulus.


"Baguslah, oh ya ibu sudah simpan susu ibu hamil dan beberapa vitamin untuk kamu dan anak yang dikandung kamu biar sehat, habis ini kamu jangan lupa minum susu dan vitaminnya yah," pesan Jelita terlihat sekali ia begitu tulus memperhatikan kesehatan Yola.


"Iya, Bu terimakasih."


Jelita mengangguk. "Iya sama-sama."


"Bi, Asih," panggil Jelita pada Bi Asih yang tengah mencuci baju di belakang ia pun langsung lari kocar-kacir, menemui bosnya.


"Iya Bu, ada apa?" tanya Bi Asih sambil membungkuk.


"Siapkan obat saya yah, taruh di kamar saya, saya mau istirahat." Jelita pun pergi ke kamar.


"Baik, Bu."


Sepeninggal jelita dan bi Asih, kini tersisa Yola dan Pram di dapur ini. Yola terlihat merapihkan piring-piring bekas makan tadi, Pram menatap Yola dengan pandangan menggoda. Saat Yola tengah mencuci piring tiba-tiba Pram memeluknya dari belakang.


"Aku rindu kamu sayang," kata Pram berbicara sensual.


Yola pun bergerak risih dan berupaya melepaskan pelukan Pram.


"Mas, lepasin nanti kalo istri kamu atau pembantu kamu lihat gimana? Bisa ketahuan kita," sergah Yola, jika dia ketahuan lebih cepat ia gagal dong dapetin perhatian dari Jelita.


"CK!" Pram berdecak kesal. "Yaudah deh tapi aku kangen kamu gimana? Aku mau berduaan sama kamu loh sayang. Kamu semalem juga aku telepon nggak diangkat kamu ngapain aja sama anakku?" tanya Pram setelahnya.


"Apa sih, Mas nggak usah bahas itu deh." Yola berucap ikutan kesal.

__ADS_1


"Dih kok kamu jadi berubah gini? Apa jangan-jangan kamu beneran suka sama anakku?" cecar Pram matanya memicing ke arah Yola.


"Ah, itu---"


__ADS_2