
Yola dan Pram datang ke rumah saling berangkulan, Rosa bahkan terkejut dengan pemandangan yang ia lihat.
"Semalam aku terjaga, aku lihat kamu udah nggak ada di tempat tidur, jadi kamu pergi sama Yola?"
"Wow, menantu dan mertua saling berangkulan, pergi semalaman di tengah hujan, wow sangat begitu menarik yah, hahaha," sindir Rosa sambil bertepuk tangan.
"Nggak gitu, sayang kamu salah paham."
"Apa yang bikin aku salah paham coba orang udah jelas kok buktinya kamu sekarang baru pulang bersamaan dengan Yola saat pagi-pagi begini."
"Kamu kok mikir picik gitu ke aku? Semalam itu memang aku keluar kamar mau ke teras doang abis itu aku denger Yola merintih di kamarnya, aku samperin lah Yola ternyata dia itu demam Yaudah aku bawa ke rumah sakit aja nih dia obatnya kamu lihat kan? Aku tuh nggak bohong. Semalam itu Rama nggak ada di kamar makanya aku yang inisiatif buat antar dia kan kamu sangat sayang sama calon cucu kita nggak mungkin kan aku biarin Yola begitu aja?"
"Iya aku percaya, tapi kok muka kamu pucat gitu kayak panik? Kamu nggak lagi bersandiwara kan di depan aku?"
"Ya enggaklah sayang, ya kan Yola semalam aku nganterin kamu kan?" Pram menatap Yola memberi aba-aba.
"Iya, Bu jangan salahkan ayah dia itu hanya menolongku karena Mas Rama yang harusnya aku mintain tolong semalam tidak ada di rumah makanya aku minta tolong sama siapa saja yang ada di rumah ini ternyata ayah mertua yang menolongku, begitu Bu," jelas Yola sangat drama queen sekali, jelas saja itu hanya penjelasan palsu.
"Tuh kan, bener kan, sayang aku nggak mungkin macam-macam sama menantuku sendiri."
"Semuanya kan bisa terjadi dong, mau ayah mertua sama Yola ada main di belakang kan siapa yang tau. Mau dia menantunya kek pembantunya kek kalo sama-sama gatel ya bisa jadi loh."
"Rosa ...," geram Pram.
__ADS_1
"Benar kata Rosa semuanya bisa terjadi. Tapi sepertinya kamu nggak begitu, ya kan, Mas?"
"Iyalah sayang mana mungkin. Lagian masa cuma nganter menantu ke rumah sakit dituduh ada main di belakang, tuduhan nggak berdasar!" sindir Pram sengit. Laki-laki tua itu memang sangat mudah untuk berkelit bahkan ketika ia hampir ketahuan.
"Yaudahlah jangan dibahas, lebih baik kita makan saja ayo. Lagipula kemana lagi itu si Rama punya istri bukannya dijagain malah keluyuran. Awas saja kalo pulang nanti aku tegur dia."
"Iya lebih baik tegur saja biar dia dewasa sedikit lagipula sekarang kan dia sudah punya tanggung jawab. Suruh dia jangan berperilaku seperti bujang saja."
"Ya, Mas nanti aku tegur. Yasudah kita bergegas ke meja makan nanti keburu makanannya dingin jadi nggak enak dimakan."
"Eh, Bu aku aku mau langsung ke kamar saja yah, kepalaku masih pusing."
"Ya, nggak papa nanti biar Rosa yang bawakan makanan kamu ke kamar yah, semoga kamu cepat sembuh," kata Jelita mengulas senyum. Dasar mertuanya ini gampang sekali untuk dibodoh-bodohi tinggal pasang muka melas semuanya akan cepat teratasi.
"Rosa, ibu harap kamu masih ingat sama tanggungjawab kamu mengurus Yola."
"Yaudah iya," pasrah Rosa sambil mendengkus kesal. Malas sekali ia berurusan dengan Yola ia kemarin sudah dikerjai habis-habisan oleh Yola sekarang ia tidak mau lagi dapat perlakuan yang sama. Tapi satu yang ia pikirkan ia curiga dengan hubungan ayah mertuanya dengan Yola, apa mungkin mereka menyembunyikan sesuatu?
***
"Heh kamu nggak usah akting deh di depan ibu, aku tau kamu itu pasti ada main kan sama ayah mertua? Mungkin ibu nggak sadar sama hal ini tapi aku ini sadar kalo kalian mempunyai hubungan di belakang," ucap Rosa sambil menyerahkan makanan pada Yola yang tengah duduk di ranjang sambil mendengarkan musik.
"Duh kok tuduhan kamu itu nggak berdasar banget yah? Aku kan sekarang sedang mengandung anak Rama mana mungkin aku ada main sama ayah mertua? Jelas keduanya beda masa iya aku bakal milih kerikil dibanding berlian sih? Ngotak dong."
__ADS_1
"Udah deh, nggak usah berkelit, aku lihat hubungan kamu sama Rama itu nggak ada gairahnya, Rama juga hanya sekedar bertanggungjawab atas kehamilan kamu aja habis itu dia nggak peduli sama kamu ya makanya kamu itu nyari perhatian ke ayah mertua iya kan ngaku deh kamu!"
"Ngapain aku harus ngaku sama hal yang nggak pernah aku lakukan! Daripada mbak ngurusin itu mending mbak program hamil aja biar cepet hamil. Hust sana pergi!" usir Yola mendorong Rosa keluar dari kamarnya.
"Aw! Ih Mas Raka? Kok ada di sini?" tanya Rosa tak menyangka ia menabrak Raka tepat di depan kamar Yola, ngapain suaminya di sini? Apa dia sedang mengintip Yola, wah kurang ajar ternyata perempuan licik itu bukan hanya menggoda ayah mertuanya tapi suaminya juga.
"Jangan-jangan kamu ada main yah sama Yola! Sampai kamu ngintip di kamarnya begini ngaku kamu mas!"
"Apa sih jangan salah paham deh, aku ini mau pamit kerja makanya aku nyusulin kamu ke kamar Yola," jawab Raka membuat Rosa mampu bernapas lega.
"Oh maaf mas aku kan hanya curiga itu tandanya aku cinta banget sama kamu. Aku juga lagi curiga sama hubungan ayah mertua dan Yola masa semalam mereka keluar sama-sama mana alasannya ke rumah sakit lagi, mencurigakan banget kan, aku yakin mereka ada main di belakang mas."
"Ah nggak mungkin lah ayah ngelakuin itu apalagi kan Yola itu istrinya Rama. Lagipula Yola kan sedang sakit kan kata kamu mungkin semalam sakitnya kambuh jadi dia minta tolong sama ayah"
"Ya mau istrinya Rama juga kalo sama-sama gatel bakalan jadi mas. Lagian kamu juga tau kan semalam aku juga habis dikerjain sama Yola ya jelas lah dia itu hanya pura-pura sakit."
"Udahlah aku pusing denger teori kamu. Udah mending kamu anterin aja aku ke depan."
Rosa kesal karena suaminya selalu bersikap lurus-lurus saja, ia yakin seratus persen Ayah mertuanya ada hubungan gelap dengan Yola ia harus segera menyeledikinya lagipula ibu mertuanya itu terlalu polos sekali mana dia langsung percaya begitu aja. Kalau sampai ia tau tentang masalah ini ia yakin akan dengan cepat bisa menendang Yola dari rumah ini.
"Awas saja kau Yola aku akan mencoba memasang cctv dan kamera di kamar kamu, jika semuanya benar maka aku akan ungkap semua kebusukan kamu Yola!"
"Kenapa juga semua orang dirumah ini bodoh sekali cuma aku saja yang pintar. Rasanya kesal sekali!" gumam Rosa lalu berjalan pergi.
__ADS_1