Menikahi Selingkuhan Ayah

Menikahi Selingkuhan Ayah
BAB 9


__ADS_3

"Hallo selamat pagi Tante," sapa Nada yang datang bersama Rama. Yola yang tengah turun tangga pun mempercepat langkahnya ia terkejut perempuan yang dulu merupakan kekasih Rama kini datang bersamaan dengan Rama, tidak mungkin kan mereka balikan lagi.


"Pagi, loh kok kalian datang berduaan begini? Ada apa ini?" tanya Jelita terus terang, jelas saja ia tak mau ada perselisihan di rumah ini apalagi anaknya datang dengan perempuan yang dulu memang ingin dinikahinya namun takdir berkata lain.


"Loh mas kok kamu datang sama perempuan ini? Semalam jangan-jangan kamu juga pergi yah sama perempuan ini!" tuduh Yola yang kini berdiri tepat di samping Rama.


"Dan kamu!" tuding Yola pada Nada, nada langsung mengerlingkan bola matanya lihat gayanya Yola sudah macam melabrak pelakor saja, padahal di sini siapa yang pelakornya. Otomatis dia sudah menjadi pelakor dalam hubungan dua orang sekaligus hubungannya dengan Rama serta ayah dan ibunya Rama. Hebat sekali bukan perempuan yang satu ini.


"Ngapain kamu berudaan sama suamiku dasar perempuan nggak tau malu! Aku tau kamu dulu adalah bekas pacarnya mas Rama tapi kamu tau diri dong dia ini sudah menikah dan lihat sebentar lagi dia akan mempunyai anak," imbuh Yola.


"Heh! Apa nggak salah tuh, itu tuh sebenarnya anaknya mertua kamu bukan Rama kamu dong yang harusnya tau malu!" Ingin rasanya Nada berteriak begitu tapi ini masih belum saatnya.


"Iya Rama ada apa ini kenapa kalian jalan berdua seperti ini kalian nggak balikan kan?"


"Nggaklah Bu, kami hanya bertemu di jalan tadi, dan apa salahnya juga Nada main ke mari jangan memutus tali silaturahmi," elak Rama.


"Iya, Tante Nada hanya main kok, sambil sedikit ngasih oleh-oleh."


"Oh, begitu kalo sekedar main nggak papa nada kamu juga dulunya juga sering main ke sini bukan. Tante harap kamu tidak ada dendam yah dengan Rama dan keluarga kami. Semua ini juga di luar kendali kami." Kata Jelita ia menyadari kesalahannya.


"Nggak papa Tante mungkin aku dan Rama hanya ditakdirkan sebagai teman saja Tante."


"Hei nada yaampun kamu main ternyata? Aku kangen banget loh sama kamu, mau bagaikan pun kan dulu kamu itu calon adik ipar ku." Rosa menyambut Nada dengan riang ya dulunya mereka memang sering bercengkrama dan membahas barang-barang mahal yang sedang booming di pasaran.


"Iya mbak, kebetulan aku lewat dan sekalian main. Oh ya ini aku ada hadiah juga buat mbak Rosa, semoga suka yah," kata Nada sambil menyerahkan bingkisan pada Rosa yang langsung disambut perempuan itu dengan senang.


"Wah, makasih loh, Nad. Coba kamu yang jadi adik iparku pasti aku bahagia banget karena dikasih hadiah terus sayangnya nggak jadi yah, karena ada pelakor!" sindiran sarkas itu Rosa layangkan untuk Yola.


Yola langsung mendelik tak senang. "Maksud kamu apa yah mbak? Aku tuh bukan palakor yah, ini tuh sudah takdir emang dasar jodohnya mas Rama itu aku bukannya Nada jadi terima aja kenyataannya deh," balas Yola.


Yola melirik sinis ke arah Rosa, melihat hadiah yang diberikan Nada tadi ia kan juga mau. "Heh, Nada hadiah untukku mana? Kok mbak Rosa doang yang dikasih aku loh juga mau kali."

__ADS_1


Nada tersenyum kikuk. " Maaf yah, Yola aku nggak tau kesukaan kamu apa, makanya aku nggak beliin kamu apa-apa maaf yah," kata Nada padahal ia sengaja tidak memberi Yola hadiah apapun.


"Halah, kamu dendam kan sama aku makanya kamu nggak ngasih aku hadiah sengaja biar aku terlihat menyedihkan?"


"Sudahlah Yola, nanti biar ibu yang belikan kamu hadiah yah, jangan marah-marah kasihan itu anak yang ada dikandungan kamu, jangan sampai darah tinggi kamu naik," lerai Jelita.


"Oh ya, Tante ini hadiah buat Tante. Maafin aku yah Tante aku bener-bener nggak tau apa kesukaannya Yola nanti kalo aku belikan ternyata dia tidak suka kan salah juga jadi nanti biar aku kenal dulu siapa Yola lalu aku kan bisa tau kesukaannya."


"Iya Nada tidak papa, oh ya makasih juga untuk hadiahnya. Kalo begitu Tante masuk ke kamar dulu yah," ucap Jelita lantas berjengkit pergi menuju kamar, apalagi kalo sedang sakit begini kamarlah yang jadi tempat ternyamannya.


"Heh Nad, kamu nggak usah deh berteman sama perempuan kayak dia, dia itu licik kamu bisa dimanfaatkan sama dia apalagi kamu kan royal, dia pasti senang karena dia itu matre!"


"Heh apa sih mbak, aku nggak matre yah jangan asal bicara kamu! Mulut mu kayak nggak pernah disekolahkan saja. Lagipula barang yang dikasih Nada itu mah nggak seberapa aku masih bisa beli pakai duit aku sendiri tentunya dengan barang yang lebih mahal dari itu."


"Duit kamu sendiri? Yakin kamu? Palingan juga duitnya dari Rama oh ya kamu pikir aku nggak tau kamu kan mengincar Rama untuk hartanya saja, anak yang kamu kandung juga buat ngincar harta warisan jadi nggak usah sok keras deh jadi orang. Dulu itu kamu miskin kaya juga karena jadi pelakor," sarkas Rosa ia benar-benar geram dengan kelakuan Yola berani-beraninya juga dia menjadikan Rosa seperti pembantu tapi dengan adanya Nada sekarang ia bisa sedikit melawan.


"Sudahlah kalian nggak usah berdebat begitu. Dan untuk kamu Yola seharusnya kamu sadar posisi kamu itu siapa." Rama angkat bicara sambil menatap Yola dengan pandangan tak suka. Berapa lama lagi ia harus menyingkirkan debu kecil penghalang matanya ini.


"Heh mas kamu kan yang ngehamilin aku, kita juga ngelakuin atas dasar suka sama suka, seharusnya yang sadar diri bukannya mantan kamu itu mas?"


"Sadar diri apa? Bukankah harusnya anak yang dikandung kamu itu masih harus diragukan jika itu bukan anak dari mas Rama?" Nada sudah tak tahan ia pun segara mengeluarkan opininya. Hal itu membuat Yola dan Rosa sama-sama tercengang.


"Apa maksud kamu? Jelas ini anak Rama!" elak Yola tak terima dan juga ia takut jika kedoknya akan terbongkar, kenapa juga nada bisa sampai berbicara seperti itu, apa yang buat dia curiga?


"Yaudah jika nanti anak ini lahir harus dilakukan tes DNA bagaimana?" tantang Nada.


Yola diam, sejenak ia berpikir. "Okeh siapa takut. Jika benar ini anaknya mas Rama kamu jangan pernah nampakin wajah kamu di hadapan mas Rama lagi, karena dia itu milik aku!"


"Dan jika itu terbukti bukan anaknya Rama kamu sepertinya tau sendiri akibatnya akan gimana," balas nada ia menarik senyum miring.


***

__ADS_1


"Ayo sayang, ibu kan sudah janji akan belikan apapun yang kamu mau ini sebagai ganti hadiah dari Nada. Dan kamu itu nggak usah iri yah sama Rosa dan Nada, mereka itu memang dulu sangat dekat makanya Nada sering ngasih hadiah sama Rosa, sedangkan kamu kan Nada baru mengenal dan di antara kalian ada masalah, jadi kamu tau sendirilah bakal gimana sikap Nada sama kamu," jelas Jelita kini mereka tengah berada di salah satu butik langganan Jelita.


"Ya, Bu aku ngerti tapi bukankah seharusnya nada nggak bersikap begitu sama aku, Bu? Dia kan cuma mantannya mas Rama Bu. Aku nggak suka mereka dekat walau hanya sebagai teman," tutur Yola di sini ia sudah jadi mantu kesayangan Jelita.


"Iya ibu ngerti perasaan kamu, nanti ibu kasih penjelasan sama Rama agar nada tidak dekat dengan Rama lagi."


"Makasih ya Bu. Aku janji akan jadi menantu yang baik untuk ibu."


"Iya sayang."


"Haha dasar bodoh aku di sini cuma mau harta kamu aja nenek peot dan juga anak kamu si Rama itu harus jadi milikku enak saja aku harus sama si Pram bangkotan tua itu, jelas aku hanya mau uangnya saja," gumam Yola.


"Eh, Jeng Jelita sudah lama yah kita nggak ketemu, jeng apa kabar?" tanya seorang ibu-ibu sosialita sambil cepika-cepiki dengan Jelita.


"Alhamdulillah jeng Rahma aku baik, jeng Rahma apa kabar?"


"Alhamdulillah baik juga, jeng. Loh ini siapa jeng?" Rahma menatap Yola dengan seksama meneliti penampilannya satu persatu.


"Ini mantuku jeng namanya Yola," kata Jelita memperkenalkan Yola. Yola pun menyalami tangan Rahma dengan takzim.


"Sepertinya aku pernah lihat dia deh Jeng. Tapi lupa dimana yang jelas dia itu datang ke toko perhiasan aku sama seorang laki-laki." Rahma ingat betul ia pernah melayani Yola membeli perhiasan di tokonya.


"Oh mungkin itu Rama anak aku jeng," sangkal Jelita.


"Eh bukan jeng kalo yang aku lihat laki-lakinya sepertinya sudah berumur jeng, bukan seusia anaknya jeng jelita, waktu itu aku mau lihat mukanya laki-lakinya sedang mengangkat telepon."


"Oh itu ayah aku, maaf jangan salah sangka." Yola angkat bicara, gawat jika mulut si Rahma ini bicara macam-macam. Waktu itu memang ia pernah membeli perhiasan dengan Pram beruntung sekali Rahma tak mengenali wajah Pram.


Jelita langsung melirik Yola yang kelihatan gelisah. Apa benar yang dikatakan Rahma? Karena yang ia tahu ayahnya Yola sudah meninggal jadi itu jelas bukan ayahnya. Lalu siapa laki-laki itu.


"Loh, bukannya ayah kamu udah meninggal?" tanya Jelita.

__ADS_1


"Ah itu anu---"


__ADS_2