Menikahi Selingkuhan Ayah

Menikahi Selingkuhan Ayah
BAB 6


__ADS_3

"Ini aku kembalikan semua barang yang pernah kamu kasih ke aku. Untuk kekurangannya semua sudah aku transfer ke rekening kamu," ucap Nada yang tiba-tiba datang ke ruangannya lalu membanting dus berisi barang-barang yang pernah Rama hadiahkan kepada Nada.


"Kenapa dikembalikan? Aku ngasihnya ikhlas buat kamu. Apa kamu nggak mau hubungan kita terus berlanjut?"


"Jadi selingkuhan kamu mas? Aku nggak sudi, Mas."


"Bukan kamu yang selingkuhan kamu itu satu-satunya perempuan di hati aku Nad, kenapa sih kamu nggak ngrerti-ngerti?"


"Dengan status kamu sebagai suami orang mana mungkin aku jadi satu-satunya Mas? Sudah gila kamu?"


"Nad kamu tau kan aku menikahi Yola itu bukan kemauan aku?"


"Iya tau, semua bukan kemauan kamu tapi yang jadi permasalahannya adalah kamu itu udah jadi milik orang lain, udah nggak mungkin kita sama-sama lagi buat apa? Aku juga nggak mau mas kalo jadi selingkuhan kamu."


"Kalo gitu kamu aku nikahin aja gimana?"


"Maksud kamu kamu mau jadiin aku istri ke dua gitu?" Nada tersenyum mengejek.


"Sudahlah, Mas hubungan kita sudah berakhir. Lebih baik kamu urus saja istrimu dan mulai sekarang lupakan aku, setelah ini aku tidak akan menganggu kamu lagi," imbuh Nada lalu melangkah menuju pintu.


"Ingat Nada aku nggak akan pernah mau ngelepas kamu. Aku akan melakukan berbagai cara agar kamu mau sama aku lagi." Rama bersumpah.


"Lakukan semau kamu mas. Aku nggak peduli."


****


"Bagaimana Dok? Calon cucu saya nggak papa?" tanya Jelita khawatir kini ia sedang di rumah sakit untuk memeriksa keadaan Yola, bahkan Rosa pun ikut, ia berdiri di sisi Jelita dengan wajah khawatir sama dengan Jelita tapi bukan khawatir karena Yola tapi karena ia takut diusir dari rumah karena sudah mencelakai Yola, ini karena mulut Bi Asih yang ember itu sekarang ia jadi dimarahi dan dimusuhi oleh seisi rumah.


"Tidak papa, Bu. Nanti saya berikan vitamin untuk penguat kandungan saja yah, Bu. Ibu bisa menebusnya di apotek di depan. Kalo begitu saya permisi dulu yah, Bu mari." kata dokter yang menangani Yola, lalu melenggang pergi.


"Baik Dok terimakasih."


Jelita kini menatap ke arah Rosa. "Lihat, untung Yola tidak kenapa-kenapa, dia itu sedang mengandung cucuku seharusnya kamu sebagai kakak ipar ikut menjaga Yola bukannya malah menyakiti. Ingat kalo tadi Yola dan cucuku sampai terluka kamu dan Raka tidak boleh tinggal di rumahku lagi. Untung mereka tidak terluka jadi kamu tidak jadi aku usir."


"Bu astaga Yola itu hamil anak yang tidak sah loh, Bu kok ibu sampai segitunya belain dia lagian tuh tadi aku nggak sengaja loh Bu, kok ibu ngomongnya gitu sama aku, selama ini ibu baik loh sama aku kok semenjak ada dia di rumah ini ibu jadi berubah jangan-jangan ibu pikirannya diracuni yah sama si Yola itu."


"Jaga mulut kamu Rosa mau dia hamil anak sah atau tidak sah, ibu tetap akan memperlakukan semuanya dengan adil, di sini memang Yola salah tapi anaknya kan tidak, bagaimanapun dia tetep cucu ibu."


Rosa memalingkan wajahnya kesal. Ya Tuhan kenapa juga ibu mertuanya ini begitu di selimuti awan gelap hanya karena dia ingin kehadiran sebuah cucu di keluarga ini, padahal jelas-jelas anaknya si Yola anak tidak sah dan tidak pantas untuk jadi pewaris.


"Yaudahlah terserah ibu."

__ADS_1


"Yola sudah boleh pulang nanti di rumah kamu yang harus mengurus Yola sampai dia betul-betul pulih."


"Kok aku sih Bu."


"Ya harus kamulah kan kamu yang udah celakain Yola ya harus kamu juga yang bertanggung jawab."


"Yaudah iya."


Yola yang sedari tadi berpura-pura tidur di ranjang rumah sakit tiba-tiba memikirkan sebuah ide gila. "Rasain kau Rosa biar aku kerjain kamu nanti."


Sementara Pram hanya mampu mengurut kening ia pusing dengan pertengkaran antara menantu dan istrinya itu. Lebih baik tadi dia pura-pura tuli saja saat dipanggil istrinya untuk mengantarkan Yola ke rumah sakit, tapi ia juga khawatir dengan keadaan Yola.


***


Sedari tadi Yola terus-terusan ngakak karena ia terus menyuruh Rosa untuk bolak-balik mengantarkan makanan serta minuman ke kamarnya, anehnya ia begitu nurut dengan perintah yang ia berikan, hal itu membuat Rama yang ada bersamanya mengerut kening bingung, yang ia tau Rosa tak mungkin mau diperintah begitu tapi kenapa saat bersama Yola, Rosa sudah macam pembantu dan Yola majikannya.


"Kenapa Mbak Rosa datang ke kamar ini terus dan menuruti semua perintah kamu?" tanya Rama to the point pada Yola, ia merasa jengah dengan ketukan pintu yang terus menerus dibunyikan padahal ia sedang fokus dengan laptopnya.


"Kamu ngerjain Mbak Rosa yah? Pelet apa yang kamu beri sampai mbak Rosa nurut begitu?"


"Pelet? Ini bukan hanya sekedar pelet, Rama. Dia itu nurut karena ada ancaman dari ibu kalau nggak mau ngurus aku dan baik-baik sama aku dia bakalan diusir dari rumah ini."


"Hah? Kok bisa?"


"Licik sekali kamu."


"Biarin aja salahkan saja kakak iparmu yang nyebelin itu, dia duluan yang nyenggol aku. Tapi ada untungnya juga sih, sekarang aku jadi tau betapa ibu kamu itu sangat sayang sama bayi yang aku kandung ini, karena otomatis dia akan jadi cucu pertama di keluarga ini, dan akan jadi pewaris di keluarga ini juga, itu sih kata mbak Rosa."


"Cucu?" Rama tertawa mengejek. "Kamu ini banyak-banyakin sadar diri deh, kamu ingat posisi kamu itu siapa, kamu ini cuma selingkuhan nggak usah ngarep anak yang di kandungan kamu bakal jadi pewaris di keluarga ini karena dia itu bukan anak aku."


"Tapi kan semua orang taunya anak ini adalah anak kamu."


"Tapi kamu itu juga harus sadar cepat atau lambat kebenaran pasti akan terungkap. Jadi sadarlah mulai dari sekarang nggak usah kebanyakan menghalu kamu!" sentak Rama.


"Apa salahnya menghalu lagipula itu gratis. Dan siapa tau itu semua bisa jadi kenyataan," kata Yola santai sambil menyeruput jus jeruk buatan Rosa tadi. Huh segarnya menghalu.


Rama tau Yola itu bukan orang yang mudah menyerah ia bisa menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya dan Rama yang akan menghalang semua cara Yola agar tujuannya tak akan pernah tercapai.


"Nikmati saja sebelum semuanya terenggut dengan paksa."


"Ya, akan ku nikmati sampai titik.darah penghabisan! Dan tak akan pernah aku lepaskan!" balas Yola, ia terlihat tidak mau kalah. Padahal yang namanya parasit tetap akan jadi parasit tidak akan pernah jadi hal yang lebih baik!

__ADS_1


Ting!


Sedang asik Yola minum jus jeruk sambil menghalu, tiba-tiba ponselnya bunyi, ia lihat Pram yang mengiriminya pesan.


[Sayang, aku sudah ada di depan kamu cepat turun yah aku tunggu di dalam mobil hitam, mobil yang biasa aku gunakan untuk kencan sama kamu hahah, pasti malam ini akan jadi malam terindah kita, aku sudah tidak sabar. Apalagi di luar tengah hujan.]


[Duh, Mas, anak kamu masih ada di dalam kamar, mana mungkin aku keluar apalagi dalam waktu yang lama.]


[Loh, kata kamu dia lembur.]


Hais, Yola memang bilang jika Rama akan lembur tapi kenyataannya dia malah pulang lebih awal. Dan yah, sebenarnya Yola mau pergi atau mau apapun Rama tidak peduli tapi ini kan dia mau pergi sama ayahnya nanti dia malah tambah dimusuhi oleh Rama, ia ingin terlihat sudah tobat dan tak berhubungan dengan Pram lagi, ya semata-mata untuk menjadi seorang istri yang baik di mata Rama. Ia kan juga ingin dapat perhatian dari dua-duanya.


Lagipula ia masih butuh uang dari Pram, sedangkan Rama laki-laki itu benar-benar tak peduli padanya, jangankan ngasih uang menatapnya pun sepertinya tidak sudi.


[Tidak, Mas dia pulang lebih awal ternyata.]


[Yasudah tunggu sampai Rama tidur saja, nanti kamu keluar kamar dan cepat tamui aku.]


[Ya, Mas, tunggu aku yah.]


[Siap sayang.]


Yola menatap Rama dengan gusar laki-laki itu masih terus berkutat dengan laptopnya sepertinya tidak ada niatan untuk tertidur cepat malam ini. Tiba-tiba Rama menerima telepon dan mengangkatnya di toilet seolah agar Yola tak mengetahui isi percakapan dalam teleponnya. Habis itu Rama bergegas memakai jaketnya sepertinya dia akan pergi.


"Kamu mau kemana malam-malam begini?" tanya Yola, padahal di hatinya bersorak senang karena Rama akan pergi dari rumah.


Bukannya menjawab Rama malah langsung pergi begitu saja. Seolah berkata apaan sih nggak usah ikut campur kamu hanya debu di rumah ini nggak usah sok peduli deh, kamu nggak dianggap.


"Dih, ditanyain juga songgong amat jadi orang!" dumel Yola, ia memilih bergegas menemui Pram. Persetan dengan Rama yang penting setelah ini ia bisa belanja sepuasnya dengan uang Pram.


****


"Yola! Ayo bangun sayang kita sarapan," ucap Jelita di depan kamar Yola dan Rama.


"Rosa coba kamu periksa ke dalam" titah Jelita. Rosa pun memeriksanya.


"Loh, Bu di dalam nggak ada siapa-siapa, Bu. Aku sudah bilang kan Yola itu bukan orang yang baik masa iya sakit kok kelayaban dia itu cuma pura-pura."


Jelita merenung, sejak kapan Yola pergi dari kamarnya kenapa waktunya bertepatan dengan suaminya yang tiba-tiba pergi saat dia tengah tertidur. Apa ini ada hubungannya dengan mereka berdua?


Saat jelita berbalik, ia melihat suatu pemandangan. Manik matanya membulat.

__ADS_1


"Loh, kalian? Habis dari mana kalian berdua?!"


__ADS_2