Menikahi Selingkuhan Ayah

Menikahi Selingkuhan Ayah
BAB 14


__ADS_3

"Rama, bagaimana sebenarnya hubungan antara kamu dan Yola?" tanya Jelita sesaat setelah Rama mengambilkan obat untuk ibunya entah ada apa ibunya jadi manja seperti ini saat ia pulang kerja tadi ibunya tiba-tiba ingin diurus olehnya.


"Ya biasa saja, Bu memangnya kenapa? Apa ibu melihat ada pertengkaran di antara aku dan Yola?"


"Tidak ada, ibu lihat kamu seperti tidak cinta dengan Yola. Ibu pikir ibu merasa bersalah karena telah menikahkan kamu secara mendadak dan menyuruh kamu meninggalkan Nada perempuan yang kamu cintai."


"Sudahlah, Bu jangan berpikir begitu. Asalkan ibu senang aku akan melakukan apapun untuk ibu meski harus mengorbankan perasaan aku sendiri."


Jelita hanya curiga ada sesuatu hal yang disembunyikan anaknya tapi apa itu Jelita tak tau makanya ia ingin berbicara empat mata begini dengan Rama tapi sepertinya Rama tak akan mengaku apapun padanya.


"Kalo kamu merasa tidak cinta yasudah ceraikan saja Yola. Meskipun ibu sangat menginginkan cucu ibu yang ada dikandungan Yola ibu tak apa asal kamu terlihat bahagia."


Sebetulnya juga dari awal Rama ingin cerai dengan Yola tapi mana mungkin ia mengecewakan ibunya karena sudah pasti hak asuhnya akan jatuh ke tangan Yola.


"Sudahlah, Bu kan anak yang dikandung Yola anak aku mana mungkin aku menceraikannya sebelum anak itu lahir kan itu dilarang agama."


"Yasudah setelah anak itu lahir kamu ceraikan saja Yola," titah Jelita.


Rama mengernyit mengapa ibunya jadi menyuruhnya untuk bercerai ada apa sebenarnya.


"Ibu yakin menyuruh Rama untuk bercerai bukankah ibu sangat sayang sama Yola?" Ia mengetahui jika Jelita sangat sayang pada Yola karena kerap kali Jelita membelikan berbagai barang untuk Yola, bahkan ketika Yola sakit pun ibunya adalah orang yang paling khawatir dengan Yola.


"Ibu hanya takut kamu tidak mencintai Yola dan merasa tertekan makanya ibu tanya sama kamu biar semua jelas, dia itu kan selingkuhan kamu tempat buang kotoran doang makanya ibu nggak yakin kamu cinta sama dia. Tapi kalo kamu tidak bercerai juga syukur karena ibu juga sangat menginginkan cucu karena kakak kamu pun tidak kunjung memberi ibu cucu," kata Jelita.


"Sudahlah Bu aku cinta kok sama Yola. Kalo tidak mengapa juga aku harus selingkuh dengan dia."


Entah bagaimana kata-kata itu yang muncul pada akhirnya, sebenarnya Jelita ingin mengungkapkan segala keraguan pada Rama tapi rasanya ia belum mengumpulkan semua bukti, apalagi Rama juga terlihat cinta dengan Yola dan ia juga menginginkan anak yang di kandungan perempuan itu.


****

__ADS_1


"Ada apa kalian bicara berdua begitu kamu nggak ngomong tentang perselingkuhan ayah kan Rama? Awas saja kalo kamu bicara kamu tau kan akibatnya?" tanya Pram mereka menjauhkan diri dari kamar.


"Yah, tolonglah hentikan perselingkuhan kalian," ucap Rama dengan nada yang terlihat begitu lelah dengan situasi seperti ini.


"Kenapa harus dihentikan? Atau jangan-jangan kamu naksir sama Yola sehingga kamu mau jadikan dia istri seutuhnya?"


"Siapa juga yang naksir sama perempuan kotor itu? Dia itu cuma ngincar harta ayah aja, tolong sadar sebelum Ayah tidak punya apa-apa."


"Halah berisik kamu tau apa kamu sampe ngajarin ayah begitu? Lagipula jangan sembarangan ngomong kamu tentang Yola dia itu cinta sama Ayah bahkan selama ini pun tidak terjadi apa-apa kita itu saling cinta ngerti kamu?"


"Terserah ayah aja, kalo sampai nanti Yola ninggalin ayah jangan salah kan aku."


"Apa maksud kamu? Kamu mau merebut Yola dari ayah? Iya begitu?" tanya Pram ngotot.


"Percuma ngomong sama orang yang udah bodoh sama cinta," cibir Rama lalu meninggalkan Pram begitu saja.


"Rama, awas saja kalo kamu merebut Yola dari ayah," ancam Pram. Begitu takutnya dia ditinggal Yola.


****


"Bukan urusanmu!" tegas Rama.


"Galak banget, Mas kamu itu nggak mau gitu kita nyoba jadi suami istri sesungguhnya? Aku janji setelah itu aku mau lepas dari ayah kamu." Yola memberikan sebuah penawaran.


"Nggak minat."


"Hais, kamu pasti masih mencintai Nada kan? Halah dia itu apa sih hebatnya Mas? Dalam urusan ranjang pasti lebih hebat aku, karena aku sudah berpengalaman, pasti aku yang bisa puasin kamu."


"Menikah itu bukan masalah yang kamu bicarakan menikah itu hal sakral yang bisa dilakukan orang yang saling mencintai mengarungi lika-liku rumah tangga. Dan jangan pernah kamu sekalipun hina Nada yang jelas kelebihan dia itu adalah setia, tidak selingkuh seperti kamu. Katanya kamu mencintai ayahku nyatanya kamu malah meminta kita agar bisa jadi suami istri sebenarnya, begitu namanya setia?"

__ADS_1


"Ya, ya, ya aku memang tidak setia tapi jika denganmu pasti aku akan setia Mas, kamu kan kaya sudah gitu tampan lagi aku pasti akan betah jika sama kamu terus," kata Yola dengan intonasi manja.


"Ucapan buaya betina ya seperti kamu itu. Isinya kebohongan, kamu pikir aku akan terbuai tidak semudah itu!"


Yola nampak gelagapan. Tapi memang ada benarnya juga kata Yola jika ia bisa berusaha jadi suami istri sesungguhnya dengan Yola, pasti ayahnya akan putus asa dan hubungan mereka akan berakhir. Tapi apakah ia bisa seperti itu meski hanya sekedar sandiwara?


"Tapi aku akan tetep ngejar kamu mas sampai kamu mau sama aku."


"Halah kamu itu hanya mengincar hartaku saja, lihat mataku, hanya ada kebencian di sana tidak ada cinta sama sekali untuk kamu!" Yola menatap mata Rama saksama.


"Tapi mas aku bukan ngelihat kebencian tapi belek di mata kamu," ledek Yola, Rama langsung mengucek matanya dengan gugup.


"Dahlah aku mau mandi," ucap Rama lalu melangkah ke kamar mandi.


"Kamu mau mandi lagi? Nggak dingin, terus nggak keriput tuh jari-jari?" sindir Yola dia tau Rama sekarang sedang salting.


"Heh terserah aku mau mandi berapa kali bukan urusanmu," sentak Rama lalu berlalu.


"Duh, galak-galak ngangenin. Awas aja kamu akan aku buat kamu melting sampe sinting mas!" gumam Yola lalu terkikik.


Ting!


ponsel Yola berdenting ia langsung membuka pesan yang baru saja masuk.


[Sayang, aku kangen servis kamu nih, kita ketemuan di hotel yuk.]


"Hais, Si tua Bangka ini kapan sih dia itu nggak gangguin aku sehari aja, tapi kalo aku sudah dapat Rama aku tak akan mau sama kamu lagi, dasar tua Bangka!" umpat Yola.


[Mas kali ini saja kasih aku libur bisa nggak? Lagipula aku malas kucing-kucingan sama istri kamu yang sakit-sakitan itu.]

__ADS_1


[Oh, kamu menolakku? Kalo begitu aku batal menyewa orang untuk pura-pura jadi ayah angkat kamu.]


"Jika saja aku yang punya harta sudah aku tendang laki-laki kayak kamu, Mas!" gumam Yola lalu melangkah menuju jendela dan keluar dari sana.


__ADS_2