
"Sayang ini bisa aku jelaskan!" teriak Rama hingga kini Nada berhenti berlari dengan air mata yang mengalir deras setelah perempuan itu membalik badannya menatap Rama.
"Apa yang perlu kamu jelasin Mas? Semuanya udah jelas! Kamu seenaknya duain aku dan menikah diam-diam di belakang aku Mas, tega kamu! Kamu udah ngehancurin ekspetasi aku Mas. Dulu aku berkhayal bisa nikah sama kamu dengan pesta yang megah. Tapi kenyataannya semua itu bener-bener cuma khayalan aku aja sekarang yang nggak akan pernah bisa terealisasikan. Semuanya hancur gara-gara kamu!" tuduh Nada lantang.
Hati perempuan mana yang tidak teriris melihat laki-laki yang dicintainya malah menikahi perempuan lain.
"Apa yang harus aku bilang sama Mama nanti, Mas? Saat tau jika kamu sudah dimiliki perempuan lain? Padahal aku sudah cerita ke Mama bahwa kamu akan serius menikahi ku. Ternyata semua omongan kamu bulshit!"
"Ini semua nggak seperti yang kamu bayangin, Nad. Aku bisa jelasin semuanya tapi kamu harus tenang dulu," pinta Rama, ia mencekal tangan Nada dan mulai memeluk perempuan dengan tubuh bergetar itu. Rama tau sesakit apa perasaan Nada sekarang.
"Kenapa kamu tega sama aku, Mas," tangis Nada pecah, ia memukul-mukul dada bidang Rama untuk menuntaskan kemarahannya. Dari sini Rama tau jika Nada benar-benar mencintainya.
"Aku nikah dengan perempuan itu karena terpaksa, hatiku tetap punya kamu, ingat itu. Aku janji setelah aku cerai dari Yola, aku akan menikahi mu."
"Gil4 kamu, Mas. Aku nggak mau dituduh merebut suami orang, jika begitu cara kamu itu akan membuatku terlihat buruk di hadapan orang-orang. Lebih baik kamu urus saja istri kamu itu dari pada kamu harus bercerai dan menikahi ku." Nada melerai pelukan Rama.
"Nggak, Nad. Aku nggak mau, kamu yang aku mau selama ini bukan perempuan itu."
"Lantas kenapa perempuan itu yang kamu nikahi."
"Itu karena---" Rama menggantung ucapannya.
"Karena apa, Mas? Lihat kamu sendiri bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan ku. Sudahlah, Mas terima saja nasibmu, mungkin kita tak berjodoh."
__ADS_1
"Aku melakukan semua ini karena untuk melindungi ibu. Ayah selingkuh dan aku memergokinya, namun aku membuat kesepakatan agar aku tak membeberkan kebenarannya pada ibu dengan imbalan aku yang akan memimpin perusahaan milik ibu bukan kak Raka lagi. Tapi ternyata malah aku yang harus nikahin pelakor itu karena dia hamil dan semua orang mengira aku yang menghamilinya."
"Apa?! Ayah kamu yang ngehamilin kenapa kamu yang harus tanggung jawab? Ini nggak adil dong, Mas. Kenapa sih kamu nggak bilang aja kebenarannya."
"Ibu punya penyakit jantung nggak mungkin aku bilang secara gamblang begitu karena ancamannya nyawa ibu."
"Lalu gimana dengan hubungan kita mas? Aku nggak mau punya hubungan sama orang yang udah beristri."
"Aku minta hubungan kita tetap berjalan aku yakin secepatnya aku akan cerai dengan Yola. Aku akan selalu buat masalah biar bisa cerai dengan Yola. Kamu mau kan tetap pacaran sama aku sambil menunggu aku cerai." Rama memegang tangan Nada berusaha meyakinkan.
Nada memijat pelipisnya dengan tangannya yang bebas, ia tidak tau harus berkata apa sekarang kepalanya benar-benar pusing, karena masalah yang mendadak begini.
"Aku butuh waktu buat mencerna semua ini, Mas. Aku mau pulang, selamat atas pernikahan kamu yah." Nada melangkah kan kakinya pergi.
***
"Ngapain kamu ngelihatin aku begitu. Kita ini menikah bukan karena aku cinta sama kamu yah, ini sebuah kesalahan," sunggut Rama sekarang ia sudah berada di kamar pengantin bersama Yola, perempuan itu sedari tadi menatapnya dengan pandangan menggoda, agar Rama mau menyentuhnya.
"Mas, tapi kamu yakin mau melewatkan malam pertama kita? Aku akan menunjukkan goyangan yang bisa bikin ayahmu klepek-klepek apa kamu tidak penasaran akan hal itu?" ucap Yola yang kini tengah berbaring di atas ranjang sambil memainkan rambut dan berekspresi begitu menggoda, mungkin jika laki-laki itu bukan Rama dia sudah diterkam sedari tadi.
"Jangan gil4 kamu! Aku nggak akan pernah mau melakukan itu sama kamu, apalagi kamu sudah dipakai ayahku, menjijikan!"
"Mas, tapi kamu yakin tidak mau mencobanya denganku? Aku jamin pasti kamu ketagihan." Yola tidak tinggal diam dia kini mulai mendekati Rama ia membelai seluruh bagian tubuh Rama agar laki-laki itu tergoda. Bahkan Rama mengakui jika Yola itu perempuan sexy, pantas saja ayahnya begitu tergila-gila dengan Yola.
__ADS_1
"Nggak akan pernah aku mau mencoba dengan perempuan macam kamu! Semuanya akan aku serahkan kepada Nada dan sebelum itu aku akan menceraikanmu!" lantang Rama, dia mengusir tangan nakal Yola dari tubuhnya.
"Coba saja kalo kamu bisa menceraikan ku, lakukan saja tapi aku akan tetap mempertahankan pernikahan ini, sampai kamu cinta mati sama aku Rama."
Rama tersenyum mengejek. Bisa-bisanya Yola berpikir jika Rama akan mencintainya, itu semua tidak akan pernah mungkin terjadi. "Nggak mungkinlah aku cinta sama perempuan murahan macam kamu, yang sudah dipakai ayah berkali-kali, apa urat malu kamu ini sudah putus atau bagaimana sampai kamu mau menikahi anak dari pacar kamu sendiri. Dan satu lagi jangan bersikap jika nanti kamu akan jadi ratu di rumah ini, akan aku buat seperti kamu di dalam neraka."
"Ini kamu tidur di lantai sana jangan dekat-dekat di ranjang ku. Nggak sudi aku tidur di dekat perempuan kayak kamu." Rama melemparkan sebuah bantal ke arah Yola hingga mengenai wajah perempuan itu. Sedangkan Rama naik ke atas ranjang dan mulai tidur.
"Huh! Kurang ajar, sudah berdandan sexy begini malah dia nggak menyentuhku sama sekali. Lihat saja aku tidak akan menyerah, aku yakin kamu akan bertekuk lutut terhadap ku Rama ingat itu!" gumam Yola dengan penuh penekanan, ia menghentakkan kakinya kesal sebelum akhirnya ia pun mulai tertidur di lantai di samping ranjang besar itu.
****
"Duh ini pasti Si Rama lagi asik nih sama Yola, pantas saja Yola aku telepon tidak diangkat, padahal aku rindu sama dia," gumam Pram ia mencoba mencuri dengar lewat pintu kamar pengantin Rama, Pram begitu kepo dengan dilakukan mereka di dalam.
Pram berusaha menelepon Yola kembali sambil terus mengintip dari celah pintu kamar.
"Ayolah sayang angkat, aku sudah kangen berat nih sama kamu," gumam Pram mulai gelisah sendiri. Ia merasa tersaingi dengan Rama, ia takut jika sampai akhirnya Rama malah jadi suka dengan Yola.
"Loh, Mas? Kamu sedang menelepon siapa? Kenapa pake acara panggil sayang segala?" tanya Jelita ia memang sedari tadi sudah memergoki suaminya tengah bertingkah aneh.
Pram terperanjat kaget jantungnya hampir copot berkat ucapan istrinya tadi. Ia kira tadi Jelita sudah tidur ternyata dia masih terjaga dan memergokinya di sini.
"Ah, nggak kok sayang. Kamu hanya salah dengar saja. Aku tadi menelpon temanku, mau beli sangkar burung, pasti kamu salah dengar jadi sayang deh," elak Pram gesturnya sangat jelas sekali kalo dia tengah gugup.
__ADS_1
Jelita mengangguk paham, namun ada satu kecurigaan yang mengganjal hatinya. "Oh, begitu lalu kenapa kamu berada di depan kamar Rama? Sedang apa kamu di sini? Jangan-jangan ...."