
"Ada apa Mas kamu menyuruhku kemari dan semalam kenapa kamu nggak bales pesan dari aku sih? Kamu marah sama aku Mas?" Pertanyaan berbondong itu dilayangkan Nada saat Rama mengajaknya bertemu untuk makan siang.
"Entah lah aku harus marah atau tidak. Tapi sebelum mendengarkan penjelasan kamu aku rasa belum waktunya aku untuk marah," balas Rama santai ia masih memikirkan foto yang ia dapat dari kakaknya waktu itu dan ia masih belum memiliki penjelasan apapun dari Nada sendiri.
"Hah? Apa sih maksud kamu dan kamu ingin aku menjelaskan apa?" ucap Nada yang masih belum mengerti dengan penjelasan Rama yang masih berbelit-belit.
"Permisi Pak---" Rama menyela ucapan pelayan yang datang menawarkan buku menu Rama memberi isyarat agar pelayan itu cepat pergi, hingga akhirnya pelayan itu pun pergi dengan perasaan kikuk melihat pandangan mata Rama yang menyorot tajam bak belati.
"Jelaskan tentang foto ini," ucap Rama sambil menyodorkan ponselnya pada Nada. Nada pun melihat foto pada ponsel itu lalu tertawa ngakak.
"Mas, ini maksudnya kamu cemburu yah sama foto ini?" tanya Nada seusai menyelesaikan tawanya.
Hal itu membuat Rama memicing tak suka. "Kok kamu nertawain aku? Kamu jelasin siapa laki-laki itu bukannya malah nertawain aku, seolah aku ini orang bodoh," dumel Rama, ia emosi ketika ia tengah serius ia malah ditertawakan.
"Siapa laki-laki itu? Jangan pernah sekalipun kamu ngelabuin aku, Nad. Atau ini ada rencana di balik rencana," imbuh Rama masih dengan picingan mata yang sama.
"Mas, masa kamu nggak inget sih sama laki-laki di foto itu?" tanya Nada.
Rama mengerutkan dahi. "Lah, memangnya aku kenal sama dia?" Rama balik bertanya dengan intonasi kaget.
"Ya ampun, Mas kenapa kamu pelupa banget sih? Dia itu Om aku Mas, yang waktu itu aku pernah kenalin ke kamu. Dia itu Om Indra, masa kamu nggak ngenalin sih?" ucap Nada geregetan.
"Nad, mana bisa aku ngenalin orang di fotonya aja ngadep belakang gitu."
__ADS_1
"Nah itu kamunya aja nggak ngenalin siapa orang yang ada di foto itu, tapi kamu udah berspekulasi jelek sama aku. Lagian kamu dapet foto itu dari siapa sih?"
"Kak Raka."
"Oh dari kak Raka, terus kamu percaya gitu aja, Mas dia itu kan kata-katanya nggak bisa dipercaya waktu dulu kamu nikah sama Yola aku dikompori sama dia tapi ada baiknya juga sih akhirnya aku bisa tau kalo kamu lagi nikah tapi nggak bilang sama aku."
"Hus, jangan bahas masa lalu."
Nada nyengir. "Iya deh, oh ya Mas kalo kamu masih belum percaya sama kata-kata aku yang bilang kalo laki-laki di foto itu om aku, aku bisa buktiin kok, kita ketemu aja sama Om Indranya sekalian ada yang mau diomongin juga sama kamu ini penting."
****
"Yola, mana ayah angkat kamu ibu kan minta untuk dikenalkan sama dia kok kamu belum datangkan kemari? Atau jangan-jangan kamu bohong sama ibu?" ucap Jelita menagih janji.
"Eem, anu Bu itu ayah angkat aku itu lagi sibuk kerja mungkin nanti aku kabarin kalo dia mau datang atau mau ketemu sama ibu," balas Yola agak terbata.
*Oke, kalo begitu jangan terlalu lama yah, kalo bisa weekend ini ibu harus ketemu sama ayah angkat kamu, ya ini semua agar aku tidak berasumsi jika laki-laki di toko perhiasan itu selingkuhan kamu, dan kamu mencoba untuk menghianati anakku," kata Jelita tegas.
"Sayang, nggak mungkinlah Yola itu selingkuh dari Rama lihat anak kita itu sempurna sudah tampan dan mapan siapa yang mau berpaling dari dia?" kata Pram memberi pembelaan pada Yola.
"Mas, mau seberapa sempurnanya kita, kalo pasangan kita nggak bersyukur punya kita ya pasti bakal selingkuh, Mas. Nggak ada istilahnya kalo kita sempurna nggak akan diselingkuhin karena sejatinya kita juga nggak sempurna kita punya kekurangan, ya mungkin dari kekurangan itu jadi alasan buat pasangan kita selingkuh."
Pram meneguk ludah, ia menjadi merasa tersentil mendengar ucapan Jelita karena ucapan itu seperti sindiran untuknya.
__ADS_1
"Dan kamu tau sendiri kan, kalo Yola itu selingkuhan. Ya aku nggak mau aja Mas kalo anakku juga diselingkuhi meski dia salah. Lagipula kamu ini sedang hamil loh Yola kamu yang harusnya ketar-ketir kalo Rama selingkuh bukannya kamu yang malah selingkuh."
"Bu, kan aku sudah bilang itu ayah angkat aku bukan selingkuhan aku, kok ibu masih nuduh aja sih?"
"Loh kan kamu belum bawa ayah angkat kamu ke sini jadi masih belum jelas lah dia itu selingkuhan kamu atau bukan. Bisa jadi kamu menyebutnya ayah angkat padahal sebenarnya dia selingkuhan kamu kan."
"Itu karena ibu saja yang berpikir negatif tentang aku, besok akan aku buktikan sama ibu bahwa dia memang ayah angkat aku kalo perlu akan aku bawa ke sini."
"Oh bagus kalo gitu, jadi ibu nggak perlu nunggu lama-lama."
"Iya jadi ibu juga nggak fitnah aku sembarangan mentang-mentang aku ini selingkuhan anak ibu, aku jadi dituduh macam-macam ya aku nggak terimalah!" terang Yola sambil mengerlingkan bola matanya jengah.
"Ibu tuh nggak fitnah kamu Yola makanya ibu butuh bukti untuk mendatangkan ayah angkat kamu kemari. Sudah jelaskan?"
"Sudahlah sayang, Yola itu tidak mungkin selingkuh apalagi dia hamil kan? Lagipula dia dari keluarga baik-baik juga nggak usah lah kamu terlalu berlebihan seperti itu Rama saja yang menjalani rumah tangga dia aja biasa saja tidak heboh seperti kamu," bela Pram yang sudah malas dengan ungkapan-ungkapan Jelita yang menyudutkan Yola.
"Loh loh, kok kamu malah jadi belain si Yola kan aku ini sedang membela anak kamu loh mas malah kamu belain orang lain? Lalu kok kamu tau Yola dari keluarga baik-baik memangnya kamu udah kenal sama dia, Mas? Bahkan waktu itu nikahan mereka aja mendadak. Dan kali memang Yola dari keluarga baik-baik dia nggak mungkin jadi selingkuhan dong yah." Jelita menatap Yola sindirannya tepat sasaran Yola bahkan kini terlihat salah tingkah dibuatnya.
"Tapi, Bu bukannya mas Rama juga sama yah, dia kan mau selingkuh sama aku jadi imbang dong."
"Ya anakku tidak akan selingkuh jika tidak dihadapkan oleh perempuan gatal kayak kamu."
"Heh kok ibu menghina aku sih? Cuma karena ayah angkat saja ibu tega loh ngehina aku begitu, padahal kalo dipikir-pikir aku ini sama gatalnya kaya Mas Rama, secara otomatis ibu juga menghina anak ibu sendiri. Kalo sampai aku datangkan ayah angkat aku kemari ibu akan malu sendiri," delik Yola tak mau disalah kan.
__ADS_1
"Ya itu terserah kamu, asal nantinya kamu tidak naik level menjadi perebut suami orang," kata Jelita telak sambil menatap Yola dan Pram secara bergantian lalu pergi menuju kamar.