
"Makasih yah sayang untuk hari ini aku sangat puas sekali, ternyata selingkuh seru juga yah, harus kucing-kucingan begini, bikin jantung berdebar kencang haha," kata Pram seusai menyelesaikan permainan panasnya bersama Yola di hotel ini.
"Gimana kalo kamu gugurin aja kandungan kamu, biar kamu bebas dari Rama dan kita bisa kabur berdua setelah aku kuras habis harta istri aku. Aku mau berdua sama kamu terus sayang, selayaknya dia atas awan, apa perlu kita bangun rumah di awan saja?" ucap Pram merangkai kata-katanya dengan begitu berlebihan.
"Jangan gila deh kamu mas, aku nggak mungkin ngegugurin kandungan aku," desis Yola tak terima.
"Loh, kok kamu ngatain aku gila sih?! Lagipula kan kamu bisa bebas dari jeratan Rama dan kita bisa bebas jika kandungan kamu digugurin. Atau jangan-jangan kamu mulai suka sama Rama makanya kamu nggak mau gugurin kandungan supaya kamu tetap memiliki ikatan pernikahan dengan Rama? Begitu?"
"Enggak sayangku, mana mungkin aku begitu aku kan cintanya sama kamu, sayang. Biarin anak ini sampai lahir yah mas aku mohon, lagipula ini anak kamu loh mas masa kamu mau gugurin sih? Kamu tega banget sama anak kamu sendiri."
"Heh aku nyuruh gugurin bukan karena aku tega yah, aku cuma nggak mau aja kamu terus-menerus berhubungan dengan Rama karena anak yang kamu kandung itu. Kamu tau aku itu selalu cemburu tau nggak!" kesal Pram merajuk seperti anak kecil.
"Mas nggak usah cemburu gitu dong, aku tuh kaya gini karena anak ini tuh bisa kita manfaatkan untuk dapat harta warisan, kan ini cucu pertama di keluarga itu jadi aku yakin dia akan dapat harta yang paling banyak, tanpa perlu kamu repot-repot nguras hartanya Jelita kan perusahaan juga sudah dikuasai oleh Rama."
"Yasudah satu-satunya cara ya kita singkirkan Rama saja bagaimana dia itu parasit, kalo Raka aku masih bisa mengurusnya sedangkan Rama dia itu licik cara yang paling ampuh ya singkirkan saja Si Rama."
"Maksud kamu, kamu mau bunuh Rama mas?"
"Iyalah apalagi."
"Gila kamu mas, janganlah."
__ADS_1
"Astaga kamu ngatain aku gila lagi? Kenapa sih kamu? Kamu nggak rela aku mau ngebunuh Rama gitu?"
"Bukan gitu mas, kalo kamu bunuh Rama percuma dong kita punya harta banyak tapi kamu jadi buronan polisi. Kamu ini jangan terlalu gegabah mas."
Pram menatap Yola. "Benar juga kata kamu. Apa kita hidup melarat saja di desa, tapi kita terus bersama-sama?"
"Kalo gitu kamu tega mas melihat aku menderita kamu kan tau aku ini tidak bisa menghilangkan hasratku untuk belanja. Tapi bukan berarti aku nggak mau menerima kamu apa adanya yah, tapi posisi kamu sekarang kan kaya mana mungkin gitu yah mas kita malah hidup miskin kan aneh lah."
Pram tertawa lalu memeluk Yola. "Iya sayang nggak kok, mana mungkin aku membiarkan pacar aku yang cantik ini menderita, semut kecil yang menganggu kamu pun aku singkirkan apalagi ini. Nanti aku nggak bisa menikmati senyum kamu yang manis ini kalo hidup miskin."
"Nah itu ngerti yaudah kalo gitu nanti kamu transfer uang ke.rekeningku yah mas, aku mau belanja," kata Yola sambil bergelayut manja, ya Pram adalah ladang uangnya semua kebutuhannya pasti terpenuhi oleh Pram, tapi apa salah jika ia juga suka dengan Rama, ya anggap saja Rama itu adalah pelarian setelah melihat wajah Pram yang udah peot itu, pada intinya Yola hanya mencintai uang Pram saja.
"Okeh sayang siap."
"Bagaimana kondisi kamu sekarang sudah baikan?" tanya Rama pada Nada, ya semalam memang Rama datang menghampiri Nada yang tak bisa menyetir di tengah hujan yang turun. Itu memang sudah menjadi trauma karena Nada takut jika ia kecelakaan jika gegabah menyetir seperti itu.
"Ya lumayan, Mas, terimakasih yah. Aku nggak tau kalo nggak ada kamu aku bakal bagaimana nanti malam. Kamu tau kan aku memiliki sedikit trauma kalo menyetir di tengah hujan, aku rasa hanya kamu yang paling ngerti aku mas," kata Nada ia kini duduk di atas ranjang,semalam memang mereka menginap di hotel namun Nada tidur di ranjang sedangkan Rama di kursi panjang, mereka tidak pernah melakukan hal yang tak senonoh, dan selama pacaran Rama selalu menjaga Nada dan tidak pernah menyentuhnya semata-mata karena ia benar-benar mencintai Nada.
"Iya sama-sama, kalo butuh apa-apa kamu tinggal telepon aku saja."
"Tapi mas,.semalam aku kayak ngelihat ayah kamu deh, dia kayak lagi sama perempuan."
__ADS_1
"Kamu yakin? Apa perempuan yang kamu maksud dia?" Rama menunjukan sebuah foto.
"Ya, mas dia. Oh ya bukankah itu perempuan yang kamu nikahi yah?" Nada baru menyadari sesuatu.
"Iya benar dia Yola selingkuhan ayah yang aku nikahi, ternyata mereka masih terus berselingkuh di belakangku, padahal sudah aku ancam pun mereka masih tidak gentar. Tega sekali mereka melukai hati ibuku."
"Tapi ini bukan berarti kamu cemburu kan mas?" Nada memicingkan matanya curiga.
"Kamu ini aku kan sudah bilang aku nggak cinta sama selingkuhan ayahku, pernikahanku terjadi karena sebuah salah paham."
Rama kesal sekali Nada masih terus salah paham dan curiga padanya harus bagaimana lagi agar buat dia percaya, padahal Rama sudah benar-benar serius ingin menikahi Nada. Dan lagi, si tua Bangka itu benar-benar tidak ada kapoknya, harus berbuat apalagi agar ayahnya itu kapok berselingkuh dan kembali ke jalan yang benar, ia hanya ingin kekeluarganya utuh seperti dulu.
"Tapi setelah aku pikir aku percaya sama kata-kata kamu mas. Aku juga tau perasaan kamu mas, menurutku kamu melakukan bermacam cara apapun ayah kamu nggak akan bisa berubah mas, kecuali jika dia diberi pelajaran."
Rama menatap Nada. "Pelajaran apa.yang kamu maksud? Apa kamu punya ide?"
"Banyak mas ideku mas, apalagi untuk ngerjain selingkuhan ayah kamu, aku jadi gemes ingin bermain-main dengan perempuan gatal itu," kata Nada dengan keyakinan penuh pada mulanya Nada memang menyimpan dendam karena Yola telah menrenggut kebahagiaannya, dia telah merebut Rama dan membuat impiannya jadi kacau dan berantakan.
"Apa dengan kamu bicara begitu itu tandanya kamu mau balikan lagi sama aku, Nad?"
"Ya, Mas setelah aku pikir-pikir yang salah bukan kamu tapi ayah kamu dan selingkuhannya itu, dan aku akan bantu kamu keluar dari jebakan itu."
__ADS_1
Rama tersenyum tak percaya. Benar saja apa yang menjadi miliknya tidak akan pernah tertukar.
"Lihat saja parasit akan tetap jadi parasit!" gumam Nada yang tak tau untuk siapa.