Menikahi Selingkuhan Ayah

Menikahi Selingkuhan Ayah
BAB 11


__ADS_3

"Kamu udah pulang sayang?" tanya Pram saat Jelita sudah sampai di kamar.


"Iya, kamu nungguin aku yah? Maaf tadi aku pergi nggak bilang-bilang sama kamu."


"Iya nggak papa sayang, Yola juga sudah pulang sama kamu? Tapi kok aku tadi lewat kamarnya dia nggak ada," kata Pram secara tak sadar.


"Ngapain kamu nyariin Yola mas? Kelihatannya kamu kayak khawatir gitu, jangan-jangan kamu ada sesuatu yah sama Yola?"


Pram terlihat gelagapan ia mengusap wajahnya dengan satu tangan lantas menatap Jelita. "Emangnya aku salah khawatir sama Yola sayang? Dia itu kan menantu kita apa salah jika aku khawatir apalagi dia sendang mengandung calon cucu kita."


"Bukan gitu, hanya saja kamu kelihatan beda aja dalam memperlakukan Yola, berbeda saat kamu memperlakukan Rosa padahal mereka sama-sama menantu kita."


"Ya bukankah kamu juga sama kayak gitu. Kamu memperlakukan Yola istimewa sedangkan Rosa tidak mungkin itu karena Yola akan memberi kita cucu sementara Rosa tidak, benarkan begitu?"


"Tapi aku berbeda dengan kamu mas, dulu aku saat Rosa baru jadi menantuku aku juga memperlakukan Rosa sama seperti Yola sekarang. Sedangkan kamu, apa pernah kamu mengantar Rosa ke rumah sakit jika dia sakit lalu mencari Rosa ketika tidak ada di rumah? Nggak kan, kamu memperlakukan Yola seolah kamu takut kehilangan dia mas."


Pram hanya diam. Jelita pun kembali melanjutkan kata-katanya.


"Mas, aku bukan wanita bodoh yang mudah tertipu dengan kata-kata manis. Fisikku memang sakit, tapi pikiranku masih bekerja dengan baik."


"Mungkin bagi kamu aku adalah wanita sakit-sakitan yang nggak berguna dan sudah nggak membuat kamu bergairah, tapi ingat tanpa aku kamu bukan siapa-siapa Mas."


Deg!


Pram menelan ludahnya susah payah. Apa-apaan ini kenapa istrinya bisa sampai curiga begini. Ah, sial Jelita tidak boleh tau secepat ini sebelum semua hartanya menjadi miliknya.


"Nggak sayang, kenapa kamu bisa berpikir sejauh itu sih? Aku nggak mungkinlah ngekhiatin kamu, aku sayang sama kamu." Kata-kata penuh bualan itu berharap dapat meluluhkan hati Jelita.


"Mas, aku ini sakit-sakitan bukan tidak mungkin kamu melirik perempuan lain yang lebih muda dan cantik. Aku takut kamu berpaling dari aku, tapi jika itu semua kamu lakukan, itu artinya kamu sedang menggali kuburan kamu sendiri, karena kamu sendiri yang akan hancur," ucap Jelita tak main-main karena memang itulah yang akan terjadi jika Pram ketahuan selingkuh.


"Sudah yah, sayang jangan bicara kaya gitu lagi, mau bagaimana pun kamu, aku akan tetap mendampingimu, jadi jangan pernah berpikir begatif sama aku karana itu semua tidak akan mungkin terjadi." Lagi, kata bualan itu keluar namun kini Pram sambil memeluk Jelita agar terlihat meyakinkan. Namun Jelita sendiri tak membalas pelukan erat itu, wanita itu hanya berdiri mematung.

__ADS_1


Jelita masih terus berpikir, sejak kedatangan Yola ke rumah ini suaminya terlihat memperlakukan Yola istimewa. Apa semua itu karena Yola tau rahasia suaminya atau malah mereka yang memiliki hubungan khusus? Kalau begitu Jelita seperti memasukan harimau ke dalam rumahnya, ia salah langsung menikahkan Rama dengan orang yang ia sendiri tak tau asal-usulnya, ia seperti terlalu cepat menggambil keputusan meski itu menyelamatkan nama baik keluarganya.


****


"Mas tau nggak tadi pas belanja sama istri kamu yang penyakitan itu, aku ketemu sama temennya dia itu pemilik toko perhiasan yang pernah kita kunjungi dan kamu tau mas dia ingat aku pernah datang ke sana sama kamu, istri kamu curigai aku sekarang mas," kata Yola ia sengaja bertemu dibelakang rumah besar ini untuk sekedar bicara.


Pram menatap Yola serius. Pantas saja Jelita memakinya tadi ternyata karena masalah ini. "Tapi temannya tau jika laki-lakinya itu aku?"


"Enggak sih, Mas."


"Syukurlah." Pram langsung menyahut sambil mengurut dada.


"Ih, kamu ini, kamu senang kan tidak ketahuan aku bagaimana? Aku yang dicurigai selingkuh tau," kesal Yola. Dirinya malah seolah jadi pelindung untuk Pram.


"Terus kamu alasan sama istriku bagaimana?"


"Ya aku bilang dia itu ayah aku, tapi aku lupa mas kalo ayah aku udah meninggal."


"Ih kok kamu ketawa sih, Mas," protes Yola.


"Okeh, okeh, terus gimana lagi?" Pram mencoba meredam suara tawanya.


"Ya gitu aku alasan aja kalo itu tuh ayah angkat aku. Tapi masalahnya istri kamu pengen ketemu sama ayah angkat aku, dia itu udah curiga sama aku kalo aku itu bohong aku harus gimana nih mas," rengek Yola ia merasa ketakutan dan terjebak.


"Itu masalah gampang aku tinggal suruh orang buat ngaku jadi ayah angkat kamu."


Yola menatap Pram sumringah. "Bener juga kata kamu Mas. Hebat deh kamu selalu nemu ide-ide brilian," puji Yola terlampau senang.


"Ya jelas dong siapa dulu pacar kamu, ya mungkin akan secepatnya jadi suami kamu." Pram mengelus puncak kepala Yola dengan sayang.


"Yaudah kapan dong kamu nikahin aku dan singkirin itu istri nggak berguna kamu itu. Aku tuh udah nggak sabar tau nggak."

__ADS_1


"Nggak bisa semudah itu dong, Yola kamu tau kan kartu As aku ada di Rama sekali dia bicara bisa membuat kita tinggal di kolong jembatan jadi nggak semudah itu lah."


"Yaudah sih, biarin aja kalo kamu itu selingkuhan aku, palingan juga istri kamu penyakit jantungnya kumat terus mati deh."


"Tapi masalahnya pas istri aku mati kita belum dapetin hartanya ya percuma itu semua bakal Rama yang ngusain."


Yola berdecak kesal. "Ya terus mau sampai kapan, Mas? Aku nggak sabar mau cicipi semua harta kamu, eh maksudnya hidup berdua sama kamu," ralat Yola hampir saja ia keceplosan.


"Sabar dong sayang, walaupun begitu kan, aku masih tetap bisa ngasih kamu uang."


"Ya tapi aku maunya yang lebih dari itu mas."


"Iya sayang, aku ngerti makanya kita harus susun rencana."


"Begitu aja terus nggak pernah tuh rencana kita berjalan. kamu bisanya ngomong doang mas nggak ada hasil."


"Ssst, diem ah kamu bikin aku tambah mumet tau nggak. Aku maunya tuh kamu juga ikut kerja dong jangan aku doang, kamu juga bisanya ngomel doang."


"Yaudah deh, iya iya aku juga bakal susun rencana puas kamu mas?"


Sejenak mereka pun terdiam lalu tiba-tiba ada yang menyanyikan sebuah lagu Lingsir wengi.


"Mas kok ada yang nyanyi lagi Lingsir wengi yah mas? Mas aku takut mas biasanya lagu ini kan dinyanyiin sama Kunti mas gimana kalo di sini ada Kunti mas," ucap Yola terlihat begitu ketakutan.


"Udah deh, ada aku tenang aja nggak usah takut."


"Tapi mas aku takut."


Yola melirik ke samping. "Huaaaa setaaaannn!" Yola pun berjengkit berlari setelah melihat seseorang bermuka putih dengan rambut awut-awutan. Pram yang tadi bilang tidak usah takut dia malah berlari lebih cepat dari Yola hingga tak terlihat lagi.


"Apa? Setan? Allahuakbar!" teriak Bu Asih sosok yang disangka Yola hantu tadi, dia itu lagi maskeran dan lupa sisiran makanya terlihat seperti hantu. Bi Asih pun ikutan lari, padahal ia sendiri hantunya.

__ADS_1


__ADS_2