
Dih kok kamu jadi berubah gini? Apa jangan-jangan kamu beneran suka sama anakku?" cecar Pram matanya memicing ke arah Yola.
"Ah, itu---"
"Iya kan? Kamu suka sama anakku? Jawab dong jangan diem gitu." Pram terus mendesak Yola agar mengaku.
"Inget yah kamu itu harus sadar posisi kamu siapa, kamu itu selingkuhan aku Yola. Kalo bukan karena aku kamu bukan siapa-siapa."
Yola mengerlingkan matanya jengah. "Mas apa sih kok jadi ke situ ngomongnya."
"Kamu yang memulainya, makanya jangan sekali-kali kamu ngehianati aku jika sekali aku bertindak maka tamat riwayatmu. Mungkin jika aku ketahuan berselingkuh maka kamu juga akan terseret dan ikut ditendang dari rumah ini."
"Kamu makin ngelantur tau nggak. Aku lagi nyuci piring bisa jangan ganggu dulu kan? Aku ribet, Mas kalo mau kita nanti ketemu di hotel aja gimana? Nggak mungkin kan kita ngelakuin itu di rumah ini bisa berabe jika ketahuan sama istri kamu."
"Serius sayang?" tanya Pram wajahnya berubah sumringah.
"Iya serius makanya jangan ganggu aku dulu yah, aku kan mau jadi menantu yang baik dulu buat istri kamu mas."
"Iya iya," balasnya dengan wajah sumringah yang belum hilang, namun detik setelahnya rautnya berubah karena kepikiran sesuatu.
"Tapi kamu nggak punya rencana apapun kan tanpa sepengetahuan aku?" selidik Pram.
Pram jadi curiga karena tingkah Yola tak biasanya, biasanya ketika ia memeluk tubuh ramping Yola, perempuan itu akan membalasnya dengan pelukan manja, tapi kenapa kali ini berbeda apa benar karena di sini sedang ada istrinya makanya Yola tak berani atau jangan-jangan karena ada hal lain?
"Apa sih, Mas ya enggaklah. Rencana kita kan tetap pada awal. Malah sekarang kan aku berada di rumah ini jadi tambah gampang tau nggak buat ngejalanin rencananya, Mas."
"Oh yaudah syukur deh, kalo kamu nggak ada ngerecanain sesuatu yang nggak aku tau." Pram merasa lega.
"Iya, Mas yaudah gih sana kamu pergi dulu. Aku takut istri kamu atau pembantu kamu ke sini makanya kamu aku suruh pergi."
"Yaudah cium dulu baru aku pergi." Pram bertingkah bak ABG saja padahal usianya sudah terbilang bangkotan. Itulah membuat Yola agak risih jika Pram sudah bertingkah begitu.
"Tapi, Mas, aku takut ketauan."
"Nggak bakal makanya sekilas aja, ayo dong aku kangen nih." Pram menunjuk pipinya tujuannya agar Yola menciumnya di sana, Yola mendesis kesal lalu dengan terpaksa ia pun mencium Pram, setelah itu Pram pergi dengan senyum puas.
"Dasar sudah tua tingkahnya macam baru puber aja!" sunggut Yola.
****
"Ini kerjakan semuanya," ucap Rama sambil menaruh beberapa berkas di atas meja Raka, meja yang dulu adalah tempatnya bekerja, ia sangat ingat dengan jelas bagaimana Raka sangat merendahkannya dahulu, apalagi Rosa istrinya yang acap kali datang suka mengomentarinya, tidak ada baik-baiknya itu perempuan.
__ADS_1
"Loh kok aku semua yang kerjakan, mau kamu apakan semua karyawan yang dibayar itu jika aku semua yang mengerjakan?" sunggut Raka tak terima. Semua karyawan di sebelah mejanya jadi menatap ke arah mereka berdua.
"Kenapa kamu yang repot kak? Kan sekarang aku yang bayar kamu dan semua karyawan di sini, jadi nggak usah kebayakan protes tinggal kerjakan saja apa kemauanku."
"Halah kamu pasti sedang mengerjai aku kan? Mentang-mentang kamu udah diangkat jadi pemimpin perusahaan, mulai bersikap seenaknya kamu sama aku?"
"Kakak nggak inget dulu kakak gimana memperlakukan aku? Aku hanya mengikuti jejak kakak aja, istilahnya apa yang kamu tanam itulah yang kamu akan tuai."
Dulu bahkan Rama diberikan pekerjaan yang diluar jobstreetnya ia bahkan sampai lembur dan jatuh sakit. Maka dari itu Rama akan memperlakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Raka terhadapnya. Memberi pelajaran pada orang sombong itu rasanya tak masalah.
"Lebih buruk kamu yang merebut hak milik orang lain. Kamu pasti maksa ayah kan jika kamu nikah kamu bakalan yang mimpin perusahaan? Licik sekali kamu, selama ini kamu pasti sudah mengincar posisiku."
"Ya, kenapa? Dari pada perusahaan ini dipimpin oleh kakak, uang perusahaan dikorupsi yang ada perusahaan ibu bakalan bangkrut kak," sindir Rama membuat Raka melotot tak percaya.
"Jangan mengada-ada yah kamu!"
"Siapa yang mengada-ada, aku punya semua buktinya dan dengan sekali berucap aku bisa menjebloskan kakak ke penjara dengan bukti-bukti ini."
"Makanya kakak kerjakan saja semua kemauanku. Maka kakak akan aman," imbuh Rama lalu ia beranjak pergi.
Raka mengepalkan tangannya. Ia memang korupsi selama ini itu semua karena ia menuruti keinginan Rosa yang hidupnya ingin serba mewah itu.
****
Yola memandang kaget Rosa yang datang tiba-tiba apa tadi dia mendengar ucapannya dengan Pram? Atau bahkan melihat kegiatannya bersama Pram tadi?
"Berani membayar berapa Rama sama kamu? Pasti nggak sebanding sih sama harga dirimu yang murahan itu, hahaha," kata Rosa menertawakan.
Dari ucapannya sepertinya dia tak mengetahui apa-apa tentang perbuatannya tadi dengan Pram.
"Lantas apa urusannya sama kamu yah, Mbak? Apa mbak iri yah karena aku ini sudah hamil sementara Mbak belum yah? Takut kena saing yah, nih lihat di perutku ini sedang terbentuk calon pewaris dari hartanya Bu Jelita," ucap Yola tak mau kalah, sudah pasti hal itu membuat Rosa melotot tajam.
"Kurang ajar yah kamu, anak hasil hubungan gelap aja bangga, kamu itu kan selingkuhan, aku tau semuanya tau nggak!"
Deg!
"Apa maksud kamu?" Hati Yola bergemuruh hebat kenapa Rosa bisa sampai tau tentang perselingkuhannya?
"Kenapa? Kaget yah kalo aku tau semuanya."
"Apa maksud kamu cepat katakan!" desak Yola kini ia sudah mencengkeram kedua pipi Rosa yang tirus.
__ADS_1
"Ya kamu itu kan bener selingkuhannya, Nada dan Rama sudah berpacaran lama, lalu tiba-tiba kamu datang dan hamil anaknya Rama apa itu namanya bukan selingkuhan?" Yola melepaskan cengkraman nya sesaat setalah Rosa mengucapkan kata-katanya dengan teebata.
"Astaga perempuan ini!" gumam Yola dalam batin ia kira Rosa tau mengenai perselingkuhan yang ia lakukan dengan Pram taunya ini dia membahas masalah Rama, kurang ajar Si Rosa ini membuat jantungnya hampir copot pada tempatnya.
"Kamu ini kesurupan apa gimana sih? Sakit tau pipiku kamu cengkram kaya gitu!" keluh Rosa sambil mengusap pipinya kesal.
"Biarin itu pelajaran buat kamu, Mbak makanya kalo ngomong itu disaring dulu, terus kalo aku ini selingkuhan terus kenapa toh aku yang dinikahin bukan pacarnya, terus nih sebentar lagi aku bakal punya anak." Yola berkata dengan bangga.
Padahal anak yang dikandungannya itu bukan anak Rama tapi Pram, biar saja, toh semua orang taunya ini adalah anak Rama kan, lagipula ini bisa ia jadikan senjata untuk mematikan omongan ipar menyebalkan macam Si Rosa.
"Dih jadi selingkuhan aja bangga, kamu itu pilihan kedua karena Nada yang sebenernya mau dinikahin jadi kamu itu jangan geer kamu pasti pelac*rnya Rama doang kan? Kalo misal nggak ketahuan sama mertuaku kamu juga bakalan dibuang tuh kayak sampah."
"Nada itu lebih cantik dan kaya, aku awalnya bingung kenapa Rama mau nikahin kamu, karena kamu perbandingannya beda banget sama Nada jauh sampai pusat bumi jauhnya, eh ternyata cuma selingkuhan hahah!" lagi-lagi Rosa menertawakan Yola.
Yola memang hanya lulusan SMK ya sangat berbeda sekali dengan kelas Nada yang anak orang kaya, tapi sekarang ia ingin semuanya berubah toh sekarang ia sudah jadi istri orang kaya, selangkah lagi ia mendapatkan apa yang ia mau. Biar saja semua orang membandingkan ia dengan Nada toh ia sekarang pemenangnya.
"Aku juga beda perbandingannya dengan Mbak Rosa jauh sekali perbedaannya sampai pusat bumi, karena aku sudah hamil calon cucunya ibu jelita lalu apa sekarang suamiku juga pemimpin perusahaannya, jauh sekali kan perbedaannya."
Yola melihat wajah Rosa memerah makanya kalo nggak mau disenggol jangan nyenggol duluan dong.
"Brengsek!" Rosa berjengkit menjambak rambut Yola sekuat tenaga, Yola pun tak tinggal diam dia ikut membalas perbuatan Rosa.
"Dasar manusia sombong! Aku yakin Rama tidak akan bertahan lama dengan kamu, pasti setelah anak yang kamu kandung itu lahir Rama akan menceraikan kamu."
"Itu tidak akan mungkin karena anak ini akan menjadi ladang uang yang menguntungkan untuk Rama," ucap Yola asal ia hanya ingin menggertak Rosa saja, biar dia ketar-ketir. Ia senang melihat Rosa mencak-mencak.
"Haduh ini ada apa, kenapa main jambak-jambakan begini?" kata Bi Asih sedikit berteriak.
Rosa pun lepaskan jambakannya dengan sedikit mendorong Yola, namun tanpa diduga Yola tersungkur di lantai dan seketika itu pula pingsan.
Rosa seketika panik menatap Yola yang tak sadarkan diri.
"Bi sumpah, Bi aku tadi ngedorong Yola nggak kenceng kok, Bi," kata Rosa membela diri.
"Kalo nggak kenceng mbak Yolanya nggak pingsan begini dong Mbak," kesal Bi Asih membuat Yola sebetulnya hanya pura-pura pingsan itu, merasa puas karena Rosa dimarahi.
"Aduh gimana dong, ini ya Gusti! Pak Alim, tolongin mbak Yola ini pak pingsan!" Pak Alim tukang kebun di rumah ini pun lari tunggang langgang menghampiri, lalu dengan sigap mengangkat Yola menuju kursi. Di saat ini pula Jelita datang dengan wajah paniknya.
"Ada apa ini dengan menantuku?" seru Jelita ia menatap penuh khawatir ke arah Yola yang sudah di kursi ruang tv.
"Ini nih Bu tadi mbak Yola berantem sama mbak Rosa, terus mbak Rosa ngedorong mbak Yola sampai pingsan," jelas Bi Asih.
__ADS_1
"Ih, nggak kok Bu nggak gitu," elak Rosa panik. Jelita pun menatap Rosa kesal.
Yola membuka matanya seperti mengintip lalu menutupnya kembali. "Rasain kamu Rosa pasti nanti kamu dimarahin sama mertua kamu, makanya kamu jangan macam-macam sama aku," ucap Yola membatin ia tersenyum cukup puas.