Menikahi Selingkuhan Ayah

Menikahi Selingkuhan Ayah
BAB 12


__ADS_3

Suasana makan pagi kali ini tak sehangat biasanya semuanya terlihat sibuk dalam pikiran masing-masing sambil menyantap makanannya. Mungkin karena masalah yang melanda mereka semua jadi mendadak diam.


"Ayah, bisa nggak sih jabatanku di kantor di naikan? Aku tuh nggak mau jadi staf biasa angkat aku setidaknya jadi manegerlah," protes Raka memulai pembicaraan. Selama ini Raka memang sudah muak menjadi staf bawahan yang kerjaannya malah lebih banyak dari karyawan lainnya, makanya ia protes sekarang.


"Iya yah, kasihan suamiku ayah Taulah kebutuhan kita banyak sedangkan gaji staf biasa itu sedikit. Dan itu juga terlihat merendahkan Mas Raka." Rosa ikut angkat bicara.


"Kamu tau kan kesalahan kamu apa? Rama bilang kamu mencuri uang perusahaan makanya kamu ayah berikan jabatan sebagai staf biasa itu agar kamu bisa mengambil pelajaran dari sana. Ayah juga tidak sembarangan lah menaruh kamu pada bagian itu," jelas Pram di sini dia kelihatan seperti orang benar saja, padahal aslinya dia lebih buruk dari Raka.


"Apa? Rama bilang aku mencuri uang perusahaan? Dia itu fitnah yah, mana mungkin aku melakukan hal seperti itu, dia pasti fitnah begitu agar dia dapat jabatan tertinggi di kantor kan? Dasar licik!" elak Raka ia tak terima jabatannya dipermainkan seperti ini.


"Aku sudah kasih bukti, dan aku rasa ayah sudah melakukan tindakan yang benar, sudah untung kakak tidak masuk penjara," sahut Rama enteng toh itulah yang pantas didapatkan oleh Raka setelah apa yang sudah ia perbuat.


"Kalo begitu aku keluar saja dari kantor itu. Percuma aku bekerja untuk keluarga ku tapi diperlakukan tidak adil!" sunggutnya.


"Raka, kamu harusnya sadar apa yang sudah kamu lakukan jadikan itu pelajaran nggak semua apa yang kamu mau itu terwujud. Kalo kamu mau keluar dari perusahaan ibu yasudah sana keluar cari kerjaan apa yang jadi kemauan kamu dan jangan lakukan kesalahan seperti saat bekerja di perusahaan ibu," peringat Jelita, ia menghela napas kasar apa ia sudah salah mendidik anaknya sehingga Raka mampu berperilaku begitu?


Sementara Yola terlihat begitu senang. "Mampus kau Rosa sebentar lagi tamat riwayatmu," gumam Yola dalam batin.


Brak!


"Yasudah mulai sekarang aku berhenti dari kantor! Akan aku balas apa yang sudah kalian buat kepadaku sekarang camkan itu!" ancam Raka lalu bergegas keluar.


"Mas, tunggu!" Rosa berteriak ia pun mengikuti langkah Raka.


"Dasar anak itu." Jelita geleng kepala. "Kamu Rama jangan pernah kamu kecewakan kepercayaan ibu dan ayah sama kamu, kamu harus jauh lebih baik dari pada Raka dalam.memimlin perusahaan dan jauhin korupsi karena perbuatan kami sekarang itu cerminan nasib kamu kedepannya."


"Ya, Bu," ucap Rama sambil tersenyum.


"Aku juga bakal selalu dukung mas Rama Bu," sahut Yola padahal tidak ada yang menyuruhnya berbicara.


"Baguslah, asal jangan pura-pura jadi istri yang baik aja," sindir Jelita. Yola tercengang namun mulutnya hanya mampu diam.

__ADS_1


"Kamu yakin mas kalo keluar dari kantor kamu bakalan sukses? Udahlah mas rebut aja jabatan Rama mas daripada kamu harus mulai dari nol gini," ucap Rosa saat mereka sampai di depan halaman rumah.


"Tau apa kamu sih? Udahlah ini udah jadi keputusanku, kamu sebagai istri harusnya mendukung bukan menentangku begini," gerutu Raka. Lagipula ini sudah menjadi keputusan bulatnya buat apa berada di lingkungan yang tak menghargainya, meskipun ia salah tak seharusnya ia diperlakukan begitu, ia sangat kecewa dengan keputusan ayahnya itu, padahal ia anak pertama di keluarga ini.


"Tapi Mas, aku kan hanya mengingatkan kamu Mas," bela Rosa.


"Sudahlah kamu itu hanya perlu diam saja, biarkan aku melakukan apa yang akan aku lakukan. Mau kamu tidak terima itu terserah kamu, setelah ini aku akan mencari pekerjaan mungkin akan pulang agak malam," ucap Raka, ia pun masuk ke dalam mobil lalu menjalankannya membelah jalan raya, Rosa hanya mampu membisu membiarkan mobil yang dijalankan Raka perlahan menghilang.


"Kenapa sih, Mas Raka keras kepala sekali kalo begini caranya harus aku yang bertindak sendirian!" sambil menghentakkan kakinya Rosa kembali masuk ke rumah.


"Kelihatannya ada yang mau jatuh miskin nih, kasihan yah suaminya sekarang jadi pengangguran, UPS," sindir Yola saat mengantarkan Rama ke mobilnya, lalu dia kembali masuk ke dalam dengan gaya angkuh.


"Kurang ajar awas saja akan aku balas kamu nanti!"


*****


"Lihat deh, ini kalung baru aku, bagus kan? Suamiku loh yang belikan," ucap perempuan bernama Alinda itu sambil memamerkan kalung berlian yang diperkirakan berharga mahal itu. Rosa hanya memandang benda itu dengan perasaan iri, mana mungkin ia bisa beli kalung semahal itu sementara sekarang suaminya tidak bekerja di perusahaan lagi bahkan sekarang status suaminya adalah pengangguran.


"Wah bagus yah beruntung juga kamu, Mel. Aku bulan depan mau beli tas juga ah, nanti aku bilang sama suamiku pasti langsung dibeliin dia kan royal banget sama aku," kata Alinda.


"Eh, kamu sendiri gimana Rosa? Kamu abis dibeliin barang apa sama suami kamu? Biasanya kamu kan suka pamer sama kita-kita sekarang kok diam aja sih," alih Melisa yang melihat Rosa sedari tadi hanya diam. Dalam hati Rosa sedikit menyesal bertemu mereka di kafe ini ia kira itu akan memperingankan beban pikirannya taunya hanya menambah beban dan iri hati.


"Iya nih, suami Rosa kan orang kaya sudah pasti deh dia dapet barang yang jauh lebih mahal dari kita," timpal Melisa. Namun Rosa masih enggan mengeluarkan suaranya.


"Heh kalian belum tau yah? Suami Rosa kan udah nggak jadi pemimpin perusahaan lagi dia sekarang jadi staf biasa aku tau karena adik suamiku kerja di sana dia cerita sama aku," ucap perempuan bernama Ara yang tiba-tiba angkat bicara. Semua teman Rosa jadi menatap Rosa tak percaya setelah mendengar penuturan dari mulut Ara teman mereka.


"Apa benar Rosa, suami kamu udah nggak jadi pemimpin perusahaan? Pantas saja kamu nggak pamer barang mahal ternyata sudah miskin sekarang?" ledek Alinda sambil tertawa mengejek diikuti Melisa.


"Heh jangan asal ngomong yah kalian, suamiku itu masih kaya dia itu kan anak pemilik perusahaan, jadi duit dia ya masih ngalir lah jangan bilang aku ini miskin! Aku juga udah beli barang kayak kalian bahkan lebih mahal tapi aku ini nggak mau pamer aja, kalo perlu nih nanti kalian semua ini aku yang bayarin makanannya," kata Rosa lalu meminum minuman nya dengan gaya angkuh.


"Aduh sombong banget kamu, Rosa. Tapi makasih loh udah mau traktir, pesan lagi boleh nggak nih?" tantang Ara.

__ADS_1


"Mampus mana duitku itu tinggal sedikit lagi, Mas Raka juga sedang nganggur kalo dia dapat pekerjaan pun belum tentu dia langsung dapat uang harus nunggu sebulan dulu, haduh biarin aja deh uang ini habis yang penting aku nggak kelihatan miskin di depan mereka," gumam Rosa dalam batin.


"Kok diem aja sih? Nggak punya duit yah? Kalo nggak mampu nggak usah sok mau traktir deh, Rosa nanti kita malah disuruh cuci piring."


"Iya nih, dulu mah kami tau kamu kaya makannya sering traktir tapi kalo suami kamu udah nggak jadi pemimpin perusahaan lagi, rasanya kami ragu kalo kamu punya uang dan bisa traktir kita lagi," timpal Melinda.


"Ada kok kalian kalo mau pesen lagi pesen aja," kata Rosa santai.


"Okeh kalo gitu, aku panggil pelayan yah," ucap Alinda. Ia pun melambaikan tangan memanggil pelayan.


Dan kalian tau yang mereka pesan adalah makanan mahal di kafe ini dan jumlahnya tidak sedikit mereka benar-benar ingin menguras kantong Rosa, kalo tidak karena harga diri, Rosa sudah meninggalkan mereka semua dan biarin mereka nyuci piring beneran di kafe ini. Karena memang selama ini mereka selalu ingin ditraktir dan Rosa yang selalu mengeluarkan uang banyak untuk mereka, karena mereka mana mau keluar uang banyak hanya untuk makan.


"Oh ya, hari ini aku bawa perhiasan terbaru loh," kata Ara ia memamerkan beberapa macam perhiasan yang ia punya untuk ia jual.


"Wah, bagus-bagus yah aku mau beli dua dong yang ini mau dihadiahin buat adik sama ibu aku," kata Melinda sambil menunjuk kalung berlian yang dipamerkan.


"Kalo aku yang ini yah beb, nanti uangnya aku langsung transfer kontan yah." Alinda pun tak mau kalah ia mengambil salah satu set perhiasan yang menarik perhatiannya.


"Loh, Rosa kamu kok nggak ikut beli perhiasan sih, yang lain udah pada beli loh masa kamu nggak sih, ini modelnya bagus-bagus loh sayang kalo nanti dibeli orang lain kalo kamu nggak gercep." Ara mulai merayu Rosa.


"Nggak deh, aku udah punya banyak di rumah lagi nggak mau beli lagi maaf yah," tolak Rosa padahal ia ingin sekali beli perhiasan itu.


"Iya kan kamu itu paling kaya dari kita Rosa, dan katanya uang perusahaan selalu ngalir ke kamu, masa buat beli perhiasan begini kamu nggak mau sih, ini mah nggak seberapa buat kamu."


"Iya Rosa beli aja ini barang paling bagus loh, cuma ada hari ini besok mungkin udah di beli sama yang lain." Ara kembali merayunya kini dengan memarkan kalung berlian itu sangat cantik sekali.


"Okeh aku akan beli nanti aku transfer yah uangnya ke kamu," pasrah Rosa.


"Nah gitu dong. Ini cocok tau dipakai kamu." Ara berucap girang karena dagangannya laris hari ini.


Rosa tersenyum setan ia tau uangnya sudah tidak ada tapi ada satu cara untuk membayar kalung ini, sekaligus membalas dendam.

__ADS_1


__ADS_2