Menikahi Tuan Muda Rangga

Menikahi Tuan Muda Rangga
Canggung


__ADS_3

Sesampainya di rumah, dengan cepat Cinta memasuki rumah. Dia melirik apakah ada mobil Rangga atau tidak. Dia tidak menemukannya dan segera menghela nafas lega.


Cinta melangkah dengan santai saat memasuki ruang tamu dia tiba-tiba membeku saat mendengar interupsi dari suara yang familiar baginya.


“Dari mana?”


‘Sejak kapan dia di sana?’ batinnya merutuk. Dengan kaku dia mengarahkan kepalanya ke arah sofa. Terlihat Rangga yang sedang menopang kakinya dan dengan tangan yang di silangkan mentap tajam Cinta. Cinta bergidik pelan di tatap seperti itu.


“Hehe...i-itu tuan muda sudah lama pulang?” Cinta tersenyum canggung dan terbata. ‘Duhh...Cinta bodoh! Kenapa tanya gitu’ rutuknya dalam hati atas kebodohan pertanyaanya.


“Menurutmu?” Rangga balas bertanya dengan tetap menatap lekatnya. Cinta meremas tangannya dan menundukkan kepala.


“Kau tau apa kesalahanmu?” tanyanya lagi.


“Maafkan saya tuan. Saya janji tidak akan melakukan kesalahan lagi” pintanya dengan nada memelas.


Rangga terlihat menghembuskan nafas pelan lalu berkata.


“Tidak ada kali kedua kau mengerti” ucapnya dengan datar. Dia bangkit dari duduknya lalu berjalan pelan menaiki tangga.


Cinta hanya terpaku menatap punggung lebar suaminya itu. ‘Apa maksudnya? Apa dia memaafkanku? Huh syukurlah’ menghela nafas lega.


“Apa yang kau tunggu cepatlah. Siapkan air panas aku ingin mandi”


“Ah, iya siap tuan muda” suara Rangga membuyarkan lamunan Cinta. Dia dengan sigap menyusul Rangga ke kamar tetapi dia tak menemukan Rangga di dalam. Dia mengendikkan bahunya tak peduli dan berlalu menuju kamar mandi menyiapkan air di bathtub. Begitu sudah terasa pas dia berdiri dan berbalik.


“Astaga!! Yakk..kenapa kau melepas baju di sini?!” Cinta memekik kaget dan refleks menutup matanya ketika dia melihat Rangga yang sudah melepas kemejanya dan terlihat bentuk tubuhnya yang indah.


‘Oh astaga...bagaimana tubuhnya seindah itu.. ck kenapa kau jadi terpesona sih’ Cinta menggelengkan kepalanya. Tanpa di sadari wajahnya sudah memerah sepeti kepiting rebus.

__ADS_1


“Lalu di mana?” tanyanya dengan santai lalu melangkah melewati Cinta menuju bathtub.


‘Apa kau tak bisa menunggu sebentar saja setelah aku pergi agar mata polosku tak ternoda’ protes Cinta yang tentunya hanya dilakukan dalam hatinya. Dia hanya menggerutu pelan.


“Berhenti menggerutu. Apa kau masih mau di sini?” tanya Rangga sembari menaikkan alisnya menghentikan gerutuan Cinta dan dengan cepat berlari keluar menutup wajahnya yang memerah.


Rangga yang melihat Cinta yang malu terlihat menyunggingkan senyum tipis. ‘Dia manis’ gumamnya kemudian melanjutkan mandinya.


***


“Benar-benar tidak tahu malu..huh mataku yang suci harus ternoda” gerutunya pelan. Cinta menghentakkan kakinya kesal lalu menghembuskan nafas kasar.


Suasana meja makan kini terasa sangat canggung. Atau harus di katakan hanya Cinta yang merasa canggung sedang Rangga terlihat sangat santai.


Cinta menundukkan kepalanya dan terus makan berusaha untuk tenang. Sementara Rangga sudah menyelesaikan makan malamnya dia mengelap bibirnya dengan tisu. Setelah itu terlihat dia merogoh kantongnya dan menyodorkan sebuah kartu kredit ke arah Cinta.


Cinta mengernyitkan alisnya heran dengan maksud Rangga.


“Tapi tuan...” sungguh Cinta ingin menolak pemberian Rangga karena dia merasa untuk keperluannya sudah cukup dengan penghasilan dari toko kuenya.


“Tidak ada penolakan” potongnya tak mau di bantah. Lalu dia beranjak dari meja makan, Cinta yakin lelaki itu pasti menuju ruang kerjanya di rumah ini.


‘Heran deh dia udah kerja seharian di kantor tapi masih aja kerja di rumah juga’ gumamnya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah kartu kredit yang diberikan Rangga lalu menatapnya dengan tatapan rumit.


“Ambil dulu deh nanti di kembalikan” ucapnya pelan sembari menyimpan kartu itu.


Cinta yang juga sudah menyelesaikan makannya juga beranjak menuju kamar tidur. Dia sudah merasa sangat mengantuk dan lelab sekali.


***

__ADS_1


Di ruang kerja terlihat Rangga yang sedang membolak-balikkan kertas hasil laporan pekerjaan yang sudah di berikan oleh sekretarisnya.


Tiba-tiba dia teringat wajah merah perempuan tadi yang melihatnya tidak memakai baju. Memeng dia melakukan itu hanya untuk menjahili perempuan itu. Tidak dia sangka ekspresi malu-malunya sangat imut dan lucu.


Rangga terlihat sedikit mengulas senyum. Tetapi sesaat kemudian dia kembali ke wajah datarnya. Dia terlihat membuka laci meja kerjanya dan mengambil satu frame foto kecil. Terlihat Rangga yang mengusap pelan foto itu wajahnya berubah menjadi sendu.


“Andai kamu gak ninggalin aku Sha” gumamnya lirih. Terlihat air matanya menitik segera dia menghapusnya. Kemudian memasukkan foto itu lagi ke dalam laci.


Merasa sudah terlalu malam dia membereskan berkas-berkasnya sebelum meninggalkan ruang kerjanya. Rangga melangkahkan kakinya menjuju kamar. Dia membuka pintu dengan pelan terlihat seorang perempuan yang tertidur di atas sofa.


Rangga mendesah pelan sepertinya di harus menegaskan pada perempuan itu kalau dia bisa tidur di kasur. Rangga melangkahkan kakinya mendekati sofa dan menundukkan tubuhnya menatap wajah damai Cinta yang sedang tertidur. Dia merasa sangat tenang menatap lama-lama wajah Cinta.


Dia menggendong Cinta dan memindahkannya ke kasur. Cinta tidak sekalipun terlihat terganggu dia malah semakin nyenyak. Rangga juga ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Cinta. Dia berbalik menghadap Cinta dan berkata dengan lirih.


“Apa kamu sanggup membuatku jatuh cinta lagi?” tanyanya ambigu.


Rangga terus menatap Cinta tanpa sadar di ikut tertidur. Di malam yang dingin dua insan yang masih belum saling mencintai itu terlihat saling berpelukan menghangatkan tubuh masing-masing.


***


Keesokan harinya Cinta terbangun lebih dulu. Dia kembali melihatnya tidur di kasur lagi, merasa aneh karena semalam dia dengan jelas mengingat tertidur di sofa. Dia baru menyadari kalau lagi-lagi dia berada di pelukan Rangga. Dia berusaha melepaskan lilitam tangan lelaki itu tetapi pelukan itu makin erat.


“shhtt...diamlah biarkan seperti ini sebentar” ucap Rangga dengan suara serak khas bangun tidur.


Cinta langsung terdiam, dia merasa tingkah Rangga pagi ini aneh. Dia ingin bertanya mengapa dia ada tidur di kasur lagi.


“Jangan tidur di sofa lagi, tidurlah di kasur” ucap Rangga memecah keheningan di antara mereka. Cinta tertegun sebentar lalu dia merasakan lelaki itu mulai bangkit dari tidurnya dan menuju kamar mandi. Cinta menatap rumit Rangga yang sudah masuk kamar mandi itu.


Lalu dia juga bangkin dan merapikan tempat tidur dan menyiapkan pakaian kerja untuk Rangga.

__ADS_1


***


Terus ikuti dan baca cerita ini ya😉


__ADS_2