
Tak berselang lama sejak kepergian Revan Airin juga tiba dengan pesanan mereka.
“Ngapain kak Revan tadi?” tanyanya penasaran.
“Dia Cuma menawarkan untuk ikut bazar yang ada di kampus kita” jawab Cinta.
“Lo ikut bazar itu?”
“Iya kapan lagi coba” jawabnya seraya menyeruput minumannya.
“Gue ikut bantu aja deh nanti, hehe” cengir Airin.
“ngomong-ngomong Lo udah izin sama suami Lo?”
Cinta menepuk keningnya, dia lupa mengiyakan aja tawaran Revan tetapi belum mengatakan pada Rangga.
‘Tapikan gak mungkin dia melarang secara dia gak peduli juga sama kegiatan gue” batinnya.
“Nanti gue izin deh pulang ini” Cinta menghembuskan nafas pelan.
Airin tak menjawab hanya berdehem lalu melanjutkan makannya begitu juga Cinta.
**
Setelah selesai kuliah Cinta harus mampir dulu ke toko, sembari menunggu ojek datang dia memikirkan apa yang sudah terjadi belakangan ini. Dari Vano adiknya yang kecelakaan dan membutuhkan biaya yang besar untuk operasi sampai dia bertemu orang yang mau membantunya dengan syarat menikah dengannya.
Cinta menghembuskan nafas lalu menghilangkan pikirannya tentang itu.
‘Yang penting adek Lo udah baik-baik aja itu cukup’ batinnya.
Tak lama ojek yang di pesannya datang dan segera menuju toko kuenya.
Sampai di toko dia disambut tiga orang karyawannya yang menanyakan mengapa beberapa hari ini dia tidak ke toko.
“Mbak kenapa lama gak datang?” tanya Wika salah satu pekerja di toko.
“Iya mbak” sahut Riko dia yang termuda.
Sedang Dina hanya diam dan menunggu jawaban Cinta.
Cinta mengulas sebuah senyum, walau mereka bawahannya tapi tak ada kecanggungan diantara mereka.
“Beberapa hari yang lalu adek mba masuk rumah sakit jadi mba harus menjaga adek mba” jawabnya.
“Terus adek mba sakit apa? Sekarang gimana keadaannya?” raut khawatir begitu jelas terlihat di wajah Dina. Begitu pun Wika dan Riko mereka sudah mengenal adik dari atasan mereka.
“Adek mba kecelakaan, tapi sekarang udah masa pemulihan kok” ucap Cinta sembari tersenyum meyakinkan.
__ADS_1
“Oh iya gimana toko selama aku gak masuk Ka?” tanya Cinta mengalihkan pandangan ke arah Wika.
Wika mengacungkan jempol mengisyaratkan semuanya aman, Cinta menganggukkan kepala tanda mengerti lalu menanyakan juga tentang stok bahan kue. Setelah selesai mengecek dan semuanya beres dia berpamitan untuk pulang.
**
Sampai di rumah dia berganti baju dan menuju dapur untuk memasak makan malam. Sebenarnya dia sudah dilarang membantu tapi Cinta tetap kekeh ingin memasak
“Oh iya Bi makanan kesukaan tuan ah maksudnya mas Rangga apa ya?” tanyanya dengan raut penasaran.
“Biasanya tuan muda suka makanan rumahan seperti opor ayam, rendang. Tapi tuan muda tidak terlalu memilih makanan?” jawab bi Sumi.
Cinta menganggukkan kepala mengerti, dia memutuskan memasak dua makanan yang dibilang bibi tadi dan masakan lainnya. Dengan cekatan dia mulai meracik bumbu dan memasak makanan. Karena dia hanya hidup berdua dengan adiknya jadi dia sudah terbiasa memasak sendiri.
Setelah lama berkutat dengan dapur akhirnya makanan yang dimasak Cinta selesai juga. Dia memutuskan untuk mandi dulu sembari menunggu Rangga pulang.
**
Di luar tak lama setelah Cinta naik ke kamar dan mandi. Mobil yang ditumpangi Rangga sampai di halaman, dengan sigap sekretaris Ken membukakan pintu untuk sang tuan mudanya.
Rangga keluar dengan wajah datarnya lalu menoleh ke arah sekretaris Ken sekilas.
“Pulanglah Ken” perintahnya.
“Baik tuan” sembari menundukkan kepala sebentar lalu masuk kembali ke mobil dan membawanya keluar dari halaman rumah.
“Apa Cinta sudah pulang?” tanyanya pada salah satu pelayan.
“Sudah tuan” jawabnya.
Mendengar itu Rangga mengangguk singkat lalu meneruskan langkahnya menuju kamar. Membuka pintu kamar dia tidak menemukan keberadaan Cinta, tetap dia mendengar bunyi gemercik air di kamar mandi dia mengira Cinta sedang mandi.
Rangga yang merasa penat mendudukkan tubuhnya di sofa sembari mencopot dasinya dan melepaskan jasnya. Dia terlihat lebih memukau saat itu.
Cinta yang tidak sadar ada Rangga di kamar dengan santai keluar dari kamar mandi dan betapa terkejutnya dia melihat suaminya itu berada di sofa.
‘Astaga sejak kapan dia di situ? Untung saja gue bawa baju ke dalam’ seraya menghembuskan nafas lega ketika dia sudah memakai baju lengkap.
Merasa ada yang menatapnya Rangga mengalihkan pandangan tepat saat kedua netra mereka bertemu. Cinta segera mengalihkan pandangan saat sadar mereka saling menatap.
Sedang Rangga merasakan keanehan dalam dirinya dia suka saat melihat raut kaget Cinta.
“Apa anda mau mandi tuan?” tanya Cinta.
“Hem”
“Baiklah saya akan menyiapkan airnya dulu” Cinta bergegas masuk ke kamar mandi dan bak dengan air hangat.
__ADS_1
Serasa sudah pas dia berbalik untuk memberi tahu Rangga.
“Astaga!!” kagetnya ketika melihat Rangga berada dibelakangnya. Mendadak otaknya tidak berfungsi dengan baik.
“Kau tidak keluar”
Seakan tersentak dia bergegas keluar dari kamar mandi dengan wajah memerah. Sudah dua kali dia melihat bentuk tubuh suaminya itu.
‘Luar biasa dia melakukan itu sudah dua kali’ dia mengerucutkan bibirnya gemas sendiri.
Menghilangkan pikirannya dia segera mengambil pakaian yang akan di pakai Rangga dan menaruhnya di atas kasur seperti biasa.
Cinta memutuskan turun ke bawah dan membantu menyiapkan makanan. Setelah selesai menatanya dia memanggil Rangga yang masih di kamar untuk turun dan makan malam.
“Tuan makan malamnya sudah siap”
Cinta menatap Rangga yang sudah selesai mandi dan berpakaian. Rangga mengangguk dan beranjak lalu keluar dan menuju ruang makan dengan diekori Cinta.
Sesampainya di meja makan Cinta mengambilkan lauk pauk untuk suaminya. Rangga hanya diam dan memperhatikan apa yang dilakukan Cinta.
Begitu Rangga mulai makan Cinta menatap Rangga dengan begitu lekat. Dia ingin tau bagaimana rasa masakannya. Rangga yang menyadari masakannya rasanya berbeda menatap Cinta.
“Kau yang memasak?”
“Iya bagaimana rasanya tuan muda?” balas Cinta dengan mata berbinar menunggu jawaban.
“Hem”
Walau hanya deheman singkat Cinta tau kalau Rangga merasa makanannya enak. Dia semakin bersorak dalam hati.
‘Ternyata dia yang memasak’ pikir Rangga. Dia melirik wajah berbinar Cinta yang menambah pesonanya. Tanpa Cinta ketahui Rangga mengulas sedikit senyum saat melihat wajahnya.
Setelah menyelesaikan makan mereka Cinta ikut juga membantu membereskan meja makan. Rangga merasa heran dengan itu.
“Biarkan mereka yang membereskannya”
“Tidak apa-apa tuan saya hanya membantu sedikit saja”
Rangga mengerutkan kening karena Cinta membantahnya lagi.
“Terserah. Nanti bawakan minuman ke ruang kerjaku” perintahnya. Lalu dia beranjak menuju ruang kerjanya yang tak jauh dari kamar.
Cinta menatap sebentar punggung Rangga yang mulai menjauh sebelum menghela nafas pelan lalu membawa sisa makanan ke dapur.
Di dapur dia mencari bi Sumi untuk menanyakan biasanya minuman apa yang diminum Rangga.
⬛⬛⬛
__ADS_1
Hai readers senang rasanya hari ini bisa nerusin novel ini setelah sering sendat, hehe😁