
Rangga yang sudah keluar kamar mandi tidak mendapati Cinta, mengalihkan pandangannya ke arah kasur melihat satu set pakaian kerjanya yang sudah tergeletak rapi. Dia meraihnya dan menatap baju yang dipilihkan istrinya itu.
“Seleranya tidak buruk” ucapnya singkat. Lalu memakai baju yang dipilihkan Cinta.
Cinta yang baru kembali dari dapur dan masuk ke kamar melihat Rangga yang sudah berpakaian rapi tinggal dasinya saja. Rangga mengalihkan pandangan ke arah Cinta dan mengulurkan tangannya yang berisi dasi kepada Cinta.
“Pakaikan” perintahnya.
“Saya?” tanyanya sembari mengarahkan jari telunjuknya ke arah dirinya sendiri.
“Hm” dehemnya.
“B-baiklah” jawabnya. Cinta merasa heran terhadap Rangga.
Cinta mengarahkan kaki mendekati Rangga dan mengambil dasi dari tangan Rangga. Saat dia memasangkan dasi di kerah Rangga Cinta harus mendongakkan kepala karena perbedaan tinggi mereka.
Cinta menelan ludahnya saat dia menatap dari dekat wajah rupawan Rangga. Dia bergegas memasangkan karena dia tidak tahan jika terlalu lama berdekatan dengan Rangga.
Saat Cinta dengan cepat mundur dia tidak melihat apa yang di injaknya dan tubuhnya menjadi tidak seimbang refleks dia menarik ujung baju Rangga. Rangga yang juga tidak siap ikut terjatuh menimpa tubuh Cinta. Tetapi dia masih sempat menumpu sikunya agar tidak menindih tubuh Cinta. Dalam sepersekian detik mereka saling menatap karena posisinya terasa sangat dekat. Sekilas Cinta terpesona melihat pahatan wajah Rangga yang terlihat tampan apalagi dengan jarak sedekat itu.
'Apa yang Lo pikirkan Cinta! Ingat jangan pernah terpesona padanya setampan apa pun dia gak akan bisa Lo gapai!!'
Dengan cepat Cinta mendorong Rangga dari atas tubuhnya, terlihat juga Rangga yang terkesiap lalu dengan canggung berdiri dan berdehem mencairkan suasana. Dia berjalan menuju pintu dan membukanya dengan cepat berlalu dari kamar mereka.
Cinta masih termenung di tempatnya. ‘lo harus sadar diri Cin Lo itu Cuma istri kontraknya dia jangan pernah berharap lebih’ menggelengkan kepalanya pelan untuk mengusir pemikirannya. Lalu menyusul Rangga yang sudah duluan berada di meja makan.
Mereka makan dengan tenang mungkin sama-sama masih canggung.
“Hari ini berangkat bersamaku” suara Rangga memecah keheningan diantara mereka.
“Hah! Tapi saya bisa berangkat sendiri Tuan” tolak Cinta karena dia tidak ingin banyak orang yang tahu.
Rangga mengernyit tidak suka saat Cinta menolak perintahnya.
“Itu bukan penawaran tapi perintah” tekannya.
‘Apa yang kau lakukan tuan muda bukankah lebih baik kau pergi saja kekantormu jangan perdulikan aku, jika begini aku lagi yang sulit’ keluh Cinta dalam hati.
Cinta mengulas sebuah senyum keterpaksaan dan mengiyakan titah Rangga.
“Senyummu palsu sekali”
Dugg
Ingin rasanya Cinta menutup mulut beracun Rangga itu. “Ah haha benarkah tapi saya tulus loh” tawa garing Cinta.
Terlihat Rangga yang sudah mulai beranjak sesaat menyelesaikan sarapannya. Dia melirik Cinta yang masih belum selesai dan berkata “Cepatlah selesaikan” lalu menuju ruang tamu.
__ADS_1
Cinta bergegas menyelesaikan makannya lalu dengan cepat mengambil tasnya dan menuju ruang tamu di mana Rangga sudah menunggunya. Lalu bersama menuju mobil yang disampingnya sudah berdiri sekretaris Ken Yang bergegas membukakan pintu mobil untuk Rangga.
Melihat itu Cinta juga membuka pintu depan yang berada di samping kemudi. Terlihat sekretaris Ken membuka pintu dan duduk di samping Cinta. Melihat itu Rangga memberengut saat Cinta malah duduk di depan bukan di belakang.
“Apa yang kau lakukan di depan?”
“Duduk tuan” jawab Cinta polos.
“Bodoh! Bukan itu maksudku kenapa kau malah duduk di depan. Pindah!” perintahnya.
Tidak ingin memperpanjang masalah dia memilih menuruti perkataan Rangga dengan pindah ke belakang tepat di samping Rangga.
Mobil mereka mulai meninggalkan kediaman, di perjalanan hanya ada keheningan dimana Rangga yang sibuk melihat tabnya dan Cinta yang memandang ke arah kaca mobil. Tidak terasa sudah sampai di depan Kampus.
Cinta menengadahkan tangannya di depan Rangga. Melihat itu Rangga bingung dia pikir Cinta meminta uang. Cinta melihat Rangga yang menatapnya bingung menjelaskan bahwa dia ingin Salim, dengan ragu Rangga memberikan tangannya dan Cinta menyambutnya. Lalu Cinta keluar dari mobil dan berlalu ke dalam gedung.
Rangga masih termenung di dalam mobil ketika Cinta sudah berlalu, dia menatap lekat ke arah tangannya lalu mengarahkan pandangan ke luar dengan tatapan yang sulit di artikan.
Sekretaris Ken melirik tuannya dari kaca depan dia tahu ada perubahan dalam diri tuannya saat ini. ‘semoga tuan bisa kembali membuka hatinya’
“Jalan Ken“ ucap Rangga singkat.
**
Cinta yang sedang berjalan menuju ruang kelasnya tak sengaja bertemu Revan, kakak tingkatnya sekaligus ketua BEM.
“Iya kak ini ada kelas gue” jawab Cinta santai.
Cinta pertama kali bertemu Revan adalah saat ospek yaitu Revan menjadi panitianya. Karena Revan yang supel dan ramah mereka menjadi akrab walau banyak yang tidak suka karena Revan yang menjadi incaran mahasiswi karena wajahnya yang tampan dan dia masuk jajaran lelaki populer.
“Bareng aja gimana ruang kelas gue juga ke arah sana” tawarnya.
“Boleh kak ayo”
Sepanjang jalan mereka saling bercerita.
‘Kak Revan tampan banget kalo dia lagi senyum juga baik banget’ batin Cinta.
Sesampainya Cinta di depan ruang kelasnya Revan berpamitan pada Cinta kemudian berlalu menuju kelasnya sendiri. Ada banyak mata yang memperhatikan mereka apalagi saat ini sudah cukup banyak orang di dalam. Pastinya terjadi kehebohan lagi karena dia berbarengan dengan Revan sang ketua BEM.
Cinta menghela nafas sesaat memasuki ruangan kelas, dia sudah menduga ini karena sudah sering terjadi akibat kedekatan mereka. Padahal dia dan Revan hanya sebatas teman tidak lebih.
‘Kalaupun lebih juga tidak akan bisa karena gue udah nikah’
Saat sudah sampai di kursi yang berada berdampingan dengan Airin yang melihat Cinta dengan penuh tanya.
“Ngapain Lo bareng Kak Revan?”
__ADS_1
“Nggak sengaja aja ketemu di jalan dia bilang kelasnya searah jadi ya udah bareng aja” jawab Cinta santai.
Saat Airin ingin kembali berbicara tapi terhenti karena dosen yang mengajar sudah masuk.
**
Cinta dan Airin menuju kantin setelah jam kuliah selesai, mereka mencari meja yang tidak terisi.
“Mau pesan apa Lo?” Tanya Airin.
“Samain aja deh kaya punya Lo”
Sembari menunggu Airin yang memesan makanan dia mengalihkan pandangannya ke sekitar sambil melamun. Dia sampai tidak menyadari ada seseorang yang memanggilnya.
“Cin hello” panggil Revan sembari menggoyangkan tangan di depan wajah Cinta.
Cinta tersentak dari lamunannya, dia beneran tidak sadar ada Revan di depannya.
“Ah iya ada apa kak?”
“lo baik-baik aja kan dari tadi melamun loh?” tanya Revan dengan raut khawatir.
“gue gak apa-apa kak” tersenyum meyakinkan.
“Eh iya ada apa kak?”
“Oh gue Cuma mau ngasih tau kampus kita mau ada bazar kan nah Lo mau gak ngisi bazar dengan jual kue sekaligus ngenalin kue buatan Lo. Nanti ada banyak yang datang juga bahkan orang luar kampus” tawar Revan.
“Wah beneran ini kak! Gue mau banget” jawab Cinta antusias dengan mata yang berbinar. Kalo dia ikut kan otomatis bisa meningkatkan penjualannya.
“Yaudah ntar gue catet ya”
“Emm acaranya itu kapan kak?”
“minggu depan Cin”
“Makasih info sama tawarannya ya kak” Cinta sangat berterima kasih pada Revan.
“Iya sama-sama, gue pergi dulu ya” pamitnya.
“Oke kak”
⬛⬛⬛
Hallo readers aku kembali lagi setelah berbulan-bulan Hiatus🤗
Sebenarnya aku tuh ragu nulis lagi karena kadang gak bisa konsisten, but aku mutusin lanjut lagi sampai gak nemu inspirasi lagi😁
__ADS_1