
Cinta perlahan membuka matanya, meringis pelan menyesuaikan cahaya dengan matanya.
Dia mengerutkan kening ketika menyadari ada tangan seseorang yang memeluknya dari belakang. Cinta buka tipe orang yang akan teriak atau bereaksi berlebihan hanya karena ini dia bisa lebih tenang memikirkannya.
Dengan perlahan dia menoleh ke belakang dia terkejut sesaat merasakan hembusan nafas hangat yang menerpanya. Jaraknya dan Rangga sangat dekat.
‘Jika dia lagi tidur wajahnya sangat tampan berbeda dari saat dia bangun, huh menyebalkan’
Cinta terus memperhatikan wajah Rangga dari jarak yang begitu dekat. Dia tersentak saat mata Rangga perlahan membuka, dengan cepat dia mengalihkan pandangannya dari wajah Rangga. Lalu berpura-pura masih tidur.
Begitu Rangga terbangun dia terkejut kalau dia ternyata memeluk wanita yang berstatus istrinya itu. Dia dengan pelan melepaskan tangannya dari tubuh Cinta karena dia melihat Cinta masih tertidur. Menghembuskan nafas pelan dia bangkit dan menuju kamar mandi.
Cinta membuka matanya dan bangkit dari kasur sesaat setelah Rangga memasuki kamar mandi.
Dia menyiapkan baju santai untuk Rangga karena dia tahu hari ini Rangga masih dalam masa cutinya.
Cinta keluar kamar dan turun ke lantai bawah menuju dapur, di sana dia melihat ada beberapa pelayan. Cinta menyapa mereka dengan ramah. Saat hendak
menyiapkan sarapan seorang pelayan yang tertua di sana menghentikannya.
“Nona anda hendak melakukan apa?” tanyanya
“Saya ingin menyiapkan sarapan bi”
“Nona biar kami saja nanti Tuan Muda marah” ucapnya dengan raut wajah khawatir.
“Tidak akan” mengalihkan pandangannya menatap pelayan itu dengan senyuman.
“Baiklah Nona kami akan membatu”
Cinta memasak sarapan dengan cekatan, dia sudah terbiasa untuk memasak karena dia hanya hidup dengan adiknya yang seorang lelaki membuat dia menjadi sangat pandai membuat masakan.
Setelah selesai memasaknya dan mencicipi rasanya. Cinta menata semua makanan itu di meja makan. Kemudian dia kembali ke kamar untuk mandi.
__ADS_1
Di dalam terlihat Rangga yang sudah memakai pakaian yang disiapkan oleh Cinta.
Ketika dia mendengar suara pintu di buka dia menolej dan melihat Cinta yang masuk ke kamar.
“Ternyata selera pakaianmu lumayan bagus gadis bodoh” ucapnya.
Cinta tidak tahu entah harus bahagia atau marah dengan pujian yang terdengar seperti ejekan di telinga Cinta.
“Terima kasih atas pujian anda Tuan Muda” berpura-pura tersenyum
Rangga tersenyum geli melihat Cinta yang terlihat kesal tapi tetap tersenyum.
Di dalam kamar mandi dia berendam cukup lama memanjakan tubuhnya. Setelah merasa cukup dia menyudahkan mandinya.
Ketika dia turun ke bawah dia terkejut mendengar suara menginterupsi Rangga.
“Apa kau bertapa di dalam mengapa lama sekali” ketusnya dengan wajah tertekuk.
“H-hah saya berendam dulu tadi Tuan Muda” jawab Cinta pelan.
Dengan cepat dia menyusul Rangga yang sudah lebih dulu duduk di meja makan.
Cinta mengambilkan makanan yang di tunjuk Rangga dengan telaten.
Mereka makan dengan tenang.
Rangga merasakan makanan itu berbeda dan terasa sangat enak.
Selesai sarapan Rangga pergi ke ruang kerjanya di rumah, bahkan saat cuti pun dia masih bekerja.
Cinta yang merasa bosan menghabiskan waktunya untuk membuat kue kering. Dia dengan telaten membuat kue itu dan menghiasnya jadi bentuk yang unik.
Dia tersenyum kue yang diolahnya sudah jadi dan mempersilahkan para pelayan untuk mencicipinya karena dia membuatnya dengan jumlah yang agak banyak.
__ADS_1
“Woah, kue buatan Nyonya Muda sangat enak” kata seorang pelayan yang terlihat masih muda dengan mata berbinar.
Cinta tersenyum dengan reaksi pelayan itu. Membuat kue merupakan pekerjaannya jadi dia merasa sangat bahagia ketika ada yang memuji olahannya.
Sebagian kue dia sisihkan dan masukkan ke dalam wadah untuk di bawa ke rumah mertuanya. Sebagian lagi untuk di makan di rumah.
Pagi ini Cinta sudah mulai beraktivitas dan mulai masuk kuliah juga. Cinta juga sudah mulai terbiasa berbagi tempat tidur.
Saat ini mereka sudah berada di meja makan untuk sarapan. Rangga terlihat menyodorkan sebuah credit card untuk Cinta.
Mengerutkan keningnya sebelum berkata.
“Apa ini Tuan?”
“Itu utuk semua keperluanmu” jawabnya dengan singkat.
“T-tapi” Cinta ragu apakah harus menerima atau menolak.
“Ambil itu tetap tanggung jawabku padamu” tatapnya tajam ketika Cinta hendak menolak.
“Ah baiklah” Cinta terlihat pasrah mengambil credit card itu.
“Tuan Muda apa kita tidak membuat perjanjian kontrak mungkin?” tanyanya dengan hati-hati.
Tatapan Rangga semakin tajam saja.
“Tidak. Apa yang ada di pikiranmu hah. Pernikahan ini akan berakhir jika aku yang menceraikanmu” tekannya.
“Aku sudah selesai”
Rangga bangkit dari meja makan dan berjalan keluar. Cinta dengan tergesa-gesa mengikuti langkah Rangga.
^^^^
__ADS_1
Hai semoga suka dengan karya aku ya😉