Menikahi Tuan Pangsit Rebus

Menikahi Tuan Pangsit Rebus
Ada apa denganmu??


__ADS_3

💜💜💜💜 Happy reading 💜💜💜💜


Bella membukakan pintu mobil belakang supir, lalu menunduk setelah Suga masuk ke dalam mobil. Tak lama mobil yang ditumpangi oleh Suga berjalan menjauh dari pekarangan rumah megah itu. Kedua pria tampan Jimin dan juga Dylan ingin berangkat ke kantor.


"Selamat pagi Tuan Jimin, Tuan Dylan," Bella menyapa kedua pria itu dengan senyuman ramahnya.


"Pagi Nona Bella..." balas Jimin dengan senyuman manis dan suara lembutnya.


Dia pria yang ramah, Jimin selalu tersenyum pada semua orang. Jika dia sedang marah malah terlihat aneh.


Mereka berdua berjalan saling merangkul kakak beradik ini sering akur, walaupun Dylan sering menjahilinya.


"Nona ada lalat masuk kedalam mulutmu hehe," pekik Dylan seraya membuka pintu mobilnya karena Bella sampai lupa menutup mulutnya bahkan manik matanya masih tertuju pada si pria pemilik kelingking mungil nan kiyowo.


Refleks Bella langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, dirinya seperti ingin menghilang dari bumi bertapa malunya didepan kedua tuanya karena tingkahnya yang tidak bisa di kontrol.


________________________________________________


Siang ini Bella ditugaskan oleh nyonya Dinar untuk mengantarkan makan siang untuk Suga yang sedang berada di kantor. Karena dia takut jika putra sulungnya selalu melewatkan makan siangnya, karena pekerjaan kantor yang menumpuk.


Setelah semuanya berangkat ke kantor, Bella menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak nanti. Bihun goreng, ayam goreng bumbu pedas ditaburi biji wijen dan sayurannya Bella memilih tumis kangkung.


Dengan rasa lelah dia mulai memasak," Aaah jika saja aku masak untuk suamiku, selelah apapun aku tidak akan mengeluh. Heh Bella apa yang kau bicarakan suami, yang benar saja jangan bicara yang tidak- tidak hahaha aku punya suami seperti tuan muda pangsit rebus."


Tangannya dengan lihai membolak-balik bihun goreng yang berada diatas teflon, Bella masak hanya untuk satu porsi saja. Aroma wangi masakan menyeruak memenuhi ruangan dapur yang begitu ruas bahkan lebih luas dari kamarnya sendiri dirumah.


Dapur dengan disain minimalis modern, semua perabot tertata dengan rapi didalam lemari steril berukuran besar, jika saja Bella masuk kedalam lemari pun bisa muat.

__ADS_1


Satu persatu masakannya sudah matang, dengan hati- hati Bella memindahkannya di kotak makanan berwarna hitam yang diberi tanda dengan setiker bernama Suga diatas tutupnya.


Setelah itu baru dia mandi dan memakai pakaian terbaik yang telah disiapkan nyonya Dinar dilemari khusus baju-baju Bella, beliau memberikan fasilitas lebih pada seorang asisten pribadi sampai Bella tidak tau harus membalas dengan apa, karena dia tidak punya apa-apa lagi.


Jika bukan karena keringatnya yang keterlaluan, mengalir dari kening, punggung dan ketiaknya juga sudah basah dengan aroma keju busuk. Dia memaksakan dirinya untuk mandi takut bila nanti orang- orang yang ada didekatnya bisa pingsan.


Seperti biasa pikiran seorang wanita yang mau pergi merasa jika dirinya tak memiliki baju dalam lemari padahal, puluhan baju tersusun rapi didalamnya.


Apa yang harus aku pakai? tanya Bella pada dirinya sendiri.


Aah, terserahlah aku mau pakai ini saja. Aku tidak perduli cocok atau tidak denganku.


Dress berwarna hitam tanpa lengan, semakin terlihat krempeng tidak membentuk sama sekali, mungkin jika ada pria yang melihatnya pasti akan menertawakan Bella.


Sebelum pergi dia menemui nyonya Dinar untuk pamitan, kaki yang terlindung sepatu flat itu melangkah kesebuah ruangan yang didalamnya terdapat nyonya Dinar sedang dipijat oleh pelayan.


"Baik nyonya," dengan sopan Bella segera masuk langsung mendapat senyuman hangat dari nyonya Dinar.


"Nona Bella, aku mohon pastikan Suga makan, makanan yang kau bawa. Anak nakal itu selalu melewatkan makan siangnya. Jika harus ditemani maka temani dia, sampai selesai makan," pinta nyonya Dinar terlihat ada guratan kesedihan diraut wajahnya.


"Baik nyonya, saya pastikan tuan muda akan makan siang hari ini, saya juga akan menunggunya sampai tuan muda selesai makan, nyonya tidak perlu khawatir soal itu."


"Baiklah, terima kasih Nona. Supir sudah menunggumu diluar."


Kehidupannya saat ini bukanlah seperti seorang asisten pribadi, keluarga ini memperlakukannya lebih dari itu. Perlahan mobil berjalan menjauh dari pekarangan rumah megah itu.


Cuaca hari ini begitu cerah, dengan semilir yang mengurangi teriknya mentari. Berharap jalanan tidak macet, biasanya jam- jam makan siang jalanan macet karena banyaknya warga ibu kota yang sedang beraktivitas.

__ADS_1


"Huh," Bella mendesah apa yang dia takutkan ternyata benar terjadi, macet sampai beberapa meter, suara klakson motor saling bersautan seolah menyapa. Didepannya terdapat dua muda mudi yang sengaja menekan klakson saling membalas semakin menambah kesal.


"Kenapa mereka lebay sekali," tukas Bella yang duduk disebelah supir merasa risih dengan pasangan sejoli didepan mereka


Pria yang mengemudikan mobilnya menoleh ke arah Bella, lalu tertawa dia seumuran dengan ayah Bella.


" Apa kau tidak pernah jatuh cinta?" tanya pria dengan seragam serba hitam yang duduk disebelahnya.


"Tidak, jatuh cinta hanya membuat seseorang menjadi lebay."


"Kau belum mencobanya, makanya berkata seperti itu. Mungkin orang- orang menganggap Romeo and Juliet seperti tidak ada logika. Itu memang benar cinta tidak pernah memakai logika hanya menggunakan perasaan," ucap pria itu menasehati Bella seperti anaknya sendiri, ya memang dia sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri karena anaknya juga seumuran dengan Bella.


________________________________________________


Seorang pria tampan pemilik kulit seputih tepung sedang duduk di kursi kebesarannya, menatap layar laptopnya dengan mode serius. Pekerjaan yang begitu banyak seolah menjadi rutinitas sehari-hari. Tidak seperti biasanya perutnya melilit karena tadi pagi waktu sarapan hanya memakan sedikit.


*Dimana gadis bodoh itu, bukankah mama bilang dia mau mengantarkan makan untukku kenapa lama sekali. Apa dia ingin membuatku mati kelaparan! Apa dia sengaja melakukan ini?? Aura mendung diwajah Suga kerena kesal menunggu.


Ketika lapar seseorang lebih tidak sabaran, lebih mudah emosi dan tidak ada tenaga seperti yang dirasakan oleh Suga saat ini*.


Suga mendengus kesal lalu melemparkan tubuhnya diatas sofa, segera melepaskan kancing jas dan melonggarkan dasinya.


"Aku datang!" teriak Bella dengan penuh semangat setelah terjebak macet selama berjam-jam langsung dapat tatapan sinis dari kucing besar yang tengah kelaparan sejak tadi, menyadari jika sang empu marah Bella seperti membatu berdiri di tempatnya.


"Kenapa masih disitu? aku lapar," kata Suga tanpa menatap Bella pandangnya fokus pada handphone yang berada ditangannya.


Dia tidak marah? benarkah dia tidak marah padaku karena telat mengantarkan makan siangnya? Baiklah tuan karena kau baik padaku, aku akan memujimu tampan hari ini. Iya Tuan kau begitu tampan dan menggemaskan seperti kucing

__ADS_1


__ADS_2