Menikahi Tuan Pangsit Rebus

Menikahi Tuan Pangsit Rebus
Hukuman untuk jimin


__ADS_3

Kepulangannya ke Indonesia disambut hangat oleh nyonya Dinar dan semua penghuni rumah, para pelayan tengah berbaris menunggu kedatangan Suga.


Mobil yang ditumpangi Suga pun telah sampai dipekarangan rumahnya, semua pelayan dan penjaga berdiri tegak mereka tersenyum ramah, berbaris dengan rapi. Satu persatu dari mereka memberikan salam setelah Suga berjalan diantara pelayanan tengah berbaris, Suga melangkah dengan angkuh pandangan matanya lurus kedepan. Wajah datar itu seakan mengajak ribut orang yang melihatnya.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Dylan dan juga Jimin baru keluar dari kamarnya, mereka berjalan menuju ruang makan.


"Kak Dylan apakah kak Suga sudah punya kekasih?" tanya Jimin seraya mengayunkan kakinya menuruni anak tangga.


"Mana aku tahu tanyakan saja padanya, lagi pula mana ada wanita yang bisa dekat dengan kak Suga. Pria dingin dan angkuh seperti dia."


"Siapa yang kalian bicarakan?" pria berkulit putih pucat itu ada dibelakang Jimin dan juga Dylan.


"Ahaha, bukan apa-apa," jawab Jimin dengan wajah yang sulit di diskrisikan.


"Iya benar, kalau begitu kami pergi dulu kak." Dylan segera melarikan diri dari tempat itu.


"Kak Dylan tunggu...!" teriak Jimin berlari menyusul Dylan.


Setelah duduk manis di meja panjang dengan berbagai menu makanan yang tersaji. Nyonya Dinar sudah duduk di kursi biasanya dia duduk.


"Dimana Suga? kenapa tidak ikut makan?" mereka berdua hanya menggidikan bahunya sebagai jawaban.


"Nona Bella, tolong panggilan Suga untuk makan malam!" perintah nyonya Dinar pada Bella yang sedang menyusun perlengkapan makan.


"Iya, baik nyonya." Jawab Bella, ia langsung melangkah menaiki tangga menuju kamar Suga yang berada dilantai dua didepan kamarnya sendiri.


"Aku yakin kak Suga tidak mau makan malam bersama kita," Dylan meramal memprediksi bahwa kakaknya tidak mau makan bersama.


"Baiklah jika kak Suga makan malam dirumah, kau harus memijat bahuku sampai pagi," balas Jimin dengan senyuman smirk tapi malah terlihat menggemaskan.

__ADS_1


"Siapa takut, kalau kak Suga ikut makan malam dirumah. Kau harus membelikan aku dua tiket konser BTS dan booking restoran buat dinner dengan Thania, ada lagi kau harus membersihkan ruangan kerjaku selama satu bulan." sambung Dylan.


"Aaa! itu tidak adil, hukumannya terlalu berat bagaimana jika yang kalah harus berkencan dengan Nona Bella hahaha," usul Jimin.


"Aaaaa! mama kenapa mencubit pipiku!" rutuk Jimin.


" Jaga bicaramu, kalau tidak mau mama cubit."


"Haha, coba bayangkan jika Nona Bella menjadi calon isteri kak Suga. Hahaha, bagaimana tertekannya Nona Bella menghadapi kak Suga, tapi aku pikir kak Suga tidak menyukai wanita karena dia selalu bersama sekertaris Hobi kemanapun dia pergi," Dylan mencoba mencairkan suasana, rutinitas dimeja makan sangat membosankan apa pagi jika Suga bergabung dengan mereka, tidak akan pernah ada obrolan basa-basi hanya dentuman sendok garpu yang saling bertabrakan.


"Wah-wah apa kau menuduh kak Suga seorang gay? akan ku adukan padanya. Dia masih pria normal aku sempat melihat majalah..." Jimin menggantungkan kalimatnya teringat waktu itu dia melihat majalah haram dikamar kakak tertuanya.


***


Deg! Deg! Deg! jantung Bella seperti ingin jatuh saat dia sudah berdiri didepan pintu kamar ada beruang kutub besar berada didalamnya.


Kamar yang begitu mencengkam itu benar-benar kamar tuan pangsit rebus atau beruang kutub menjadi nama spesial dari Bella. Kamar yang Bella masuki dan sempat tidur diatas ranjangnya. mungkin jika ia tahu Tuan pangsit rebus bisa menghukumnya.


Tapi aku takut walaupun melihat tatapan matanya yang menusuk ditambah lagi kamar ini yang memberi kesan mistis, kamar yang satu ini juga kedap suara. Bagaimana jika tiba-tiba dia marah lalu menyiksaku didalam tidak ada orang yang menolongku. Otaknya bertengkar dengan hatinya bagaimana mungkin dia sudah merasa ketakutan sebelum melakukan apa-apa.


Huh... Ayo Bella jangan takut, jangan pikirkan yang tidak-tidak semuanya akan baik-baik aja, ayo ketuk pintu itu. Tangannya gemetar mulai terangkat ia juga sudah mengumpulkan nyalinya. Teringat dengan perkataan bibi Sinta jika Suga terganggu saat dia tidur dia akan sangat marah.


Kamar kedap suara dari luar tapi jika ada orang yang mengetuk pintu, masih terdengar jelas diruangan itu.


Belum sempat mengetuk pintu, tangannya masih terangkat gemetar. Perlahan pintu itu terbuka karena ada seseorang yang membukanya dari dalam, sampai akhirnya menampakkan Si pangsit rebus dengan pakaian casual serba hitam membuat kulitnya yang putih terlihat begitu terang.


Suga dengan wajah datarnya menatap Bella tidak suka, sikapnya yang dingin menambah aura hitam disekelilingnya.


Wangi parfum beraroma Citrus beraroma khas jeruk, karena Suga sangat menyukai jeruk.


Astaghfirullah, lindungi Bella dari tuan pangsit rebus, tatapan matanya yang menakutkan itu, tenang Bella jangan takut demi utang please.

__ADS_1


Dengan segenap keberaniannya." Tuan.. Nyonya, menyuruh anda untuk makan malam bersama." Pria itu sempat menoleh tapi tak menghiraukan kata-kata Bella, Suga pergi begitu saja tanpa satu patah katapun.


"Huh dasar beruang kutub, bisakah kau menatapku seperti layaknya seorang manusia, jangan menatapku seperti musuh mu, itu sangat menakutkan. Dasar Beruang kutub jelek!"


"Siapa yang jelek," Suara Barito itu terdengar di belakang Bella, pernah Bella membalikkan badannya menunjukkan Senyuman terbaiknya.


"Aah, tidak tuan. Ini tadi ada nyamuk lewat hehehe," Dylan menatap wanita didepannya aneh. Mana mungkin ada nyamuk dirumah semewah ini.


"Ohh, begitu. Apa kak Suga ada didalam? kami sudah menunggu, kak Suga dimeja makan."


"Aa- aku minta maaf, telah membuat kalian menunggu lama. Tuan Suga sepertinya tidak makan dirumah, tadi dia pergi." Bella merasa gagal karena membiarkan Suga pergi begitu saja, tapi apa daya dia hanya seorang asisten pribadinya yang bisa disebut juga pembantu. Miris.


"Ohh, tidak apa nona. Mari kembali ke meja makan mama sudah menunggu disana." Ajak Dylan seraya berjalan lebih dulu, Bella masih mematung tak beralih dari posisinya.


"Hey! Nona apa yang kau tunggu!"


"Aaa, i- iya tuan," Bella berlari kecil mengejar Dylan.


Kenapa dia begitu menggemaskan, lihatlah pipinya yang memerah karena gerogi, apa lagi jika sedang ketakutan didekat kak Suga, **i**ngin rasanya mencubit pipi itu hahaha. Selain itu dia juga begitu penurut, hey cepatlah kemari dia seperti anak anjingnya yang menghampiri tuanya ketika diberi makan.


Dylan tersenyum puas karena telah memenangkan taruhan bersama Jimin adiknya, Bella berjalan mengekor dibelakang Dylan.


Wah... Kenapa dia begitu tampan, apa dia manusia? Bahagianya jika menjadi isteri tuan Dylan yang baik hati, tampan, suara barito- nya dan box smile yang indah itu.


***Author POV:


yu... hu... siapa nih yang suka halu juga Kaya Bella? Cung- ngacung Ya...Nona Bucin dung πŸ˜‚


Siapa juga yang pernah lagi enak-enak ngumpat malah ketauan orang. Ya nona Bucin lagilahπŸ˜‚πŸ˜‚


Jangan lupa like dan komentar positifnya biar aku makin semangat ngetiknya πŸ‘πŸ€—πŸ₯°πŸ₯°πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ***

__ADS_1


__ADS_2