Menikahi Tuan Pangsit Rebus

Menikahi Tuan Pangsit Rebus
Berkorban lah untuk orang yang kalian cintai, walaupun dia bersama orang lain.


__ADS_3

🌻🌻🌻🌻 HAPPY READING 🌻🌻🌻🌻


Cinta itu tidak harus memiliki seperti yang dilakukan Jimin, tapi itu bohong. Nyatanya jika orang yang kita cintai bersama orang lain kita tidak bahagia, hanya pura-pura bahagia. Jauh dari lubuk hati terdalam kita menginginkan, orang yang kita cintai tidak mencintai orang lain dan membalas cinta kita.


Jimin melangkah lunglai mendekati Bella yang belum juga sadar, ia mendekati Bella ke tempat tidur rumah sakit. Jimin menarik kursi lalu duduk disisi kanan . Ia meraih tangan gadis itu, menciumnya dengan lembut.


Kini Jimin bisa menatap wajah Bella, sesuka hati sebelum dia sadar, jemarinya mengusap rambut Bella lembut.


"Cepat sembuh ya, jangan biarkan pengorbananku sia-sia," Tuturnya dengan lembut, dia menarik nafas dalam-dalam, lalu mencium tangan Bella lembut.


Lima belas menit lagi Jimin akan kembali ke kamar rawatnya, takut jika terlalu lama disini. Bella sadar dan melihatnya berada disini.


***


Seminggu kemudian kemudian, keadaan Bella sudah membaik apa lagi tadi pagi, Papanya datang menjenguknya. Banyak orang masih perduli padanya, tak lupa juga tuan pangsit rebus datang membawakan buah untuk Bella.


Tapi Bella tidak melihat tuan kesayangannya hadir menjenguknya dirumah sakit," Tuan Jimin kemana laki-laki itu, apa dia tidak perduli padaku," pikir Bella, beberapa hari dirumah sakit hanya berbaring ditempat tidur sangat membuatnya bosan, ingin rasanya keluar mencari angin sore. Tapi itu hanya keinginan Bella, tidak ada orang yang menemaninya menikmati suasana sore disebuah taman.


Bella kembali merebahkan tubuhnya, dokter melarangnya agar tidak terlalu banyak gerak, dengan terpaksa dia pun menurut.


Seseorang mengetuk pintu kamar rawat Bella, dengan susah payah Bella berusaha bangkit dari tidurnya, menyambut siapa yang datang. Bella tersenyum ramah untuk kesekian kalinya nyonya Dinar datang menjenguknya dirumah sakit.


Dinar menarik napasnya panjang, seraya tersenyum, dia sangat paham bertapa membosankan tinggal dikamar setiap hari, tidak melakukan aktivitas apapun.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu hari ini? apa kau sudah minum obat? bagaimana jika kita berjalan-jalan di taman sebentar menikmati suasana sore?" Cerca Dinar dia meletakkan tas branded bermerek Louis Vuitton diatas sofa.


Dengan senang hati Bella menerima ajakan nyonya Dinar, tuhan begitu baik padanya, baru beberapa waktu dia bilang ingin menikmati suasana sore, dan kini telah mengirimkan Dinar yang akan menemaninya berjalan-jalan.


Dengan hati-hati Bella turun dari tempat tidur, nyonya Dinar menyarankan agar memakai kursi roda takutnya Bella kelelahan, lagi-lagi dia hanya menurut baginya nyonya Dinar sudah ia anggap seperti mamanya sendiri.


"Biar aku bantu," nyonya Dinar sudah menyiapkan kursi roda dihadapan Bella," Duduklah,"


Merasa tidak enak, Bella sibuk mencari alasan," Tidak nyonya aku bisa berjalan sendiri tidak harus memakai kursi roda," dia menggigit bibir bawahnya ragu dengan kalimat yang baru terlontar begitu saja.


"Sudahlah duduk, biar aku yang mendorongnya, aku tidak mau kau kelelahan, menurutlah Bella aku sangat merasa bersalah padamu, karena ulah putraku kau menjadi terluka seperti ini,"


"Baiklah nyonya," menyerah dan menurut jalan lebih baik, nyonya Dinar begitu baik padanya selama ini. Bella tidak mau mengecewakannya.


Bella menarik napas panjang, menikmati keharuman bunga dan aroma tanah khas baru turun hujan. Dedaunan cukup Basar.


Setelah duduk di kursi Dinar menyandarkan tubuhnya disandarkan kursi, dia menatap Bella dengan tulus berusaha merangkai kata agar gadis didepannya tidak salah paham.


"Bella, kau tau? aku dari dulu sangat menginginkan anak perempuan, tapi aku tidak bisa hamil lagi setelah kelahiran Jimin, rahimku sudah diangkat, karena ada kanker ganas yang bersarang didinding rahimku," Dadanya terasa begitu sesak, dia bisa mendapatkan apapun yang dia mau selama ini dengan materi yang berlimpah tidak selalu membuatnya bahagia.


Wanita yang paling di kagumi oleh Bella, sosok yang begitu murah hati dan juga perempuan yang tegar, tapi sekarang beliau menangis dihadapannya.


Bella memeluk wanita dihadapannya, sebenarnya berat untuk mengucapkan kalimat ini tapi dia tidak bisa menahannya lagi," Nyonya bisa menganggap ku seperti anak nyonya sendiri jika kau mau?" Bella menggigit bibir bawahnya, kedua alisnya bertaut.

__ADS_1


"Benarkah?" Dinar menatap Bella dengan tulus kedua matanya berbinar," Menikahlah dengan suga dengan begitu kau resmi menjadi putriku aku mohon Bella."


Dinar tak bisa mengendalikan dirinya, trauma di masa lalu kini teringat lagi, lebih parah dari pada yang dulu. Tiba-tiba saja seorang pria berkulit putih pucat datang menghampiri mereka berdua, dia terlihat sangat marah. Bella tidak perduli dia sedang sibuk menenangkan nyonya Dinar yang menangis histeris.


"Apa yang kau lakukan? kenapa kau membuatnya menangis!?" Ujar Suga dengan penuh penekanan disetiap kalimat yang dia ucapkan, tangannya mencengkram kuat lengan Bella, dia meringis kesakitan.


"Aaaa... Tuan sakit, tolong lepaskan." Dadanya bergemuruh, Suga menatapnya seperti hendak menerkam mangsanya. Tangannya terkepal kuat berusaha menahan emosinya.


Terjadi kesalah pahaman disini, Suga memang sangat sensitif jika mengenai keluarga atau ibunya.


"Bu. Ayo kita pulang," ajaknya pria berkulit putih pucat itu dengan lembut, lalu berjalan memapah nyonya Dinar yang begitu terpukul trauma dimasa lalunya cukup berat, Suga tidak ingin jika ibunya harus dikirim ke Jepang untuk menjalani pengobatan sikisnya.


Setelah mereka pergi, Bella masih tidak menyangka kenapa Suga bisa semarah itu sedangkan dia begitu cuek dengan ibunya.


Dengan susah payah Bella menjalankan kursi, rodanya, sore telah berganti malam sedangkan dia masih berada di taman sendirian, dengan kondisinya yang tidak bisa jalan. Bella menggerakkan kursi rodanya dengan kedua tangannya dan lebih soalnya didepan sana harus melewati anak tangga.


Tuhan bantu aku, bagaimana aku bisa sampai kamar sedangkan aku tidak bisa jalan, malam mulai gelap tolong bantu aku. Batin Bella dia terus menggerakkan kursi rodanya yang terasa begitu berat.


"Kau perlu bantuan?" tanya pria disampingnya yang langsung mengangkat tubuh Bella yang masih terduduk di kursi rodanya, tanpa menunggu jawaban dari Bella, pria itu menggendongnya sampai keruang rawat Bella.


"kau? tadi kau marah-marah padaku, menatapku seperti musuh yang harus dilenyapkan dan sekarang kau tiba-tiba menolongku, apa yang sedang kau rencanakan tuan pangsit rebus?" pikir Bella dia menatap lekat pria yang menggendongnya.


" Aku tahu, aku tampan. Jangan menatapku seperti itu, kalau tidak mau menyesal," ujar Suga dengan ekspresi datarnya, perkataannya langsung membuat Bella tidak berani memandangnya, baginya ini sebuah kesalahan besar karena telah berani menatap tuan pangsit rebus.

__ADS_1


__ADS_2