
Keesokan harinya, ketika aku ingin berangkat ke sekolah. Tanpa sengaja berpapasan dengan angga di pintu pagar rumah kami yg kebetulan berdempetan.
"pagi" sapaku duluan
"pagi" Setelah membalas sapaanku, dia pergi begitu saja tanpa mengajakku. Padahal tujuan kita sama.
"hei Angga. Barengan boleh?" tanyaku agak geram.
Dia berbalik, tak menjawab pertanyaanku hanya mempersilahkan dengan gerakan tangan saja yg berarti dia tak keberatan. Aku pun mengikuti langkahnya. 10 menit berlalu tanpa ada percakapan. Namun anehnya kami tak merasa canggung sama sekali, Mungkin karena kepridian kami berdua yg hampir sama itu.
Dan akhirnya kami sampai di halte, kemudian naik bus hingga sampailah di depan gerbang sekolah. Sumpah! Selama perjalanan dari rumah ke sekolah selain sapaan tadi pagi, sama sekali tidak ada sepatah kata pun yg terucap.
" Elisa... " dari jauh terdengar ditto menyapaku sembari menghampiri kami.
hah... Penyelamat.
" hai Dit "
" Loh. Kalian barengan? " tanya Ditto
" Oh, kamu tau ga? Ternyata aku tetanggaan sama bocah kaku ini. " kataku sambil menyenggol Angga.
" bo, bocah kaku? ". Angga
" iya " jawabku terus terang dengan menatapnya. " kamu setujukan, Dit? " kemudian beralih ke Ditto.
" Haha... Setujulah. Gimana kalau mulai tahun, bulan, hari, jam, menit, detik ini. Kita panggil dia si Es Balok Kaku. Hm? "
" Hahaha... Setuju-setuju "
entah kenapa tawaku lepas begitu saja. Entah karena nama panggilan baru untuk si Angga atau karena mimik Ditto yg ga jelas itu. Makin lama tawaku makin keras, sehingga orang-orang di sekitar mulai memperhatikan.
" hei hei, Udah ketawanya. Malu tahu di lihatin " Ditto keluar suara sedangkan Angga hanya berdehem.
#disisi lain#
__ADS_1
" Hei... Siapa itu? "
" kalau ga salah, anak kelas dua deh "
" siapa namanya? "
" em... Apa ya namanya? Aa! Elisa. "
" Elisa? Cantik ya namanya, sama seperti orangnya. "
" hah?! Apa ini? Lo suka sama dia, Bay? "
" hmm... Entahlah. Emang kenapa? "
" Lo serius? Orang yg bahkan berani nolak primadona sekolah dulu, sekarang suka sama adek kelas? "
" emang kenapa?! Sirik lo, Tar?
" hee! "
( Bayu. Kelas tiga yg berarti kakak kelas Elisa. Dan Etar, sahabat karip Bayu. )
Setelah tertawanya padam. Elisa bersama Ditto dan Angga masuk ke kelas. Saat memasuki kelas, semua mata tertuju pada mereka. Melihat mereka berjalan bersamaan seperti ada cahaya yg memancar di punggung mereka. Dua cowok tampan ditengahi oleh seorang cewek cantik membuat semua yg melihat iri.
Dengan mengumpulkan segenab keberanian Fino maju menghadang ketiga bintang itu. Elisa, Ditto, dan Angga bingung dibuatnya.
Fino melirik kearah Poby yg tersenyum sinis. Ternyata Fino ingin membuktikan bahwa apa yg dia katakan tempo hari adalah kebenaran.
' Lihat aja kamu pob '
Kini Fino beralih ke Elisa. Dia tersenyum kemudian menyapa.
" Selamat pagi, Elisa "
" ah... Selamat pagi " Elisa balik menyapa dengan tersenyum.
__ADS_1
' Apa-apaan orang ini '
Ditto dan Angga yg tanpa sadar memiliki pemikiran yg sama.
Dengan penuh kemenangan Fino berbalik kearah Poby. Sementara Poby hanya geleng-geleng kepala saat melihat tingkah temannya yg sangat kekanak-kanakan.
Setelah Fino yg tadinya menghadang pergi, mereka bertiga menuju tempatnya masing-masing.
" Oh iya, tugasnya gimana? udahkan? " tanya Elisa pada Ditto.
" sudah, ini. " menyerahkan ponselnya.
" Belum kamu print? "
" Iya, soalnya kemarin gak sempat ke fotocopi. "
" oh yaudah, kamu dulu ya. "
Elisa sudah bangun dari duduknya. tiba-tiba Ditto meraih pergelangan tangan Elisa.
" Aku ikut ya. " pintanya.
" Gausah, kan cuma disamping kantin. " balas Elisa.
" Gak mau, pokoknya mau ikut. " rengek Ditto.
" Ih... apaan sih, kayak anak kecil aja " Elisa risih dibuatnya.
" Gapapa yg pen- " omongan Ditto dipotong oleh pak Hendri.
" Ditto, ikut bapak kekantor sebentar. "
" ah... Baik pak "
Ditto pun mengikuti perintah pak Hendri, sebelum menghilang ditelan pintu, sempat-sempatnya dia bercanda dengan berekspresi seperti anak anjing yg tak tega meninggalkan majikannya.
__ADS_1
terimakasih bagi yg sudah membaca dan memberi like.
Dukungan kalian sangat berarti bagi saya.