mentari senja

mentari senja
episode 14 #pingsan


__ADS_3

" Hah... Dasar ****! Angga Bodoh Angga ****, Angga oon "


Setelah berlari menjauh meninggalkan Angga tadi, mulutku tak henti-hentinya mengutuki dia. Rasa kesal dan malu menjadi satu, kini yang terlintas dibenakku hanya wajah meyebalkan lelaki itu, tanpa kusadari sekarang aku sedang berjalan sendirian di koridor yang sepi.


" ah... " langkahku terhenti, aku melihat kebelakang, tidak ada siapa-siapa. Tapi perasaan ini adalah perasaan seperti sedang diawasi, aku telah merasakannya sejak dua tahun yang lalu.


Aku mengumpulkan keberanianku untuk tetap berjalan,


Tak apa-apa, tidak apa-apa. Tinggal berjalan lurus saja. Itulah yang kukatakan pada diri sendiri.


Aku terus berjalan mangabaikan rasa takut yang menghantuiku, sekalipun bulu kuduk sudah berdiri semua, aku tetap berjalan. Suara langkah kaki! Suara langkah kaki itu terus berjalan mengikutiku, karena rasa takut atas apa yang akan terjadi, aku tidak berani untuk menoleh kebelakang.


Keringat sudah leluasa membasahiku dan suara langkah kaki itu... tak kunjung hilang.


Namun, sedikit rasa lega timbul dihatiku, saat bayangan tempat fotokopi mulai terlihat. Aku mempercepat langkahku, tapi tiba-tiba tangannya menggapai bahuku. Sontak aku kaget,


" kyaaaaaaaa!!! " aku berteriak lalu terjongkok. Tanganku kugunakan untuk menutupi seluruh mukaku,


" sa... lisa... Elisa! "


Samar-samar aku mendengar seseorang memanggil namaku.


Tunggu aku tahu suara ini.


Perlahan tanganku kuturunkan, dan melihat kesisi kananku, dan ternyata benar itu adalah dia,


" Ditto... "


Penglihatanku berubah menjadi buram, hal terakhir yang aku lihat adalah bayangan Angga dengan wajah paniknya menghampiri kami berdua, setelah itu aku pun ambruk.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Gelap, semua gelap.


" aku ada dimana? "


" Elisa kamu ngapain disana? "


" hah, kamu siapa? "


Tiba-tiba seseorang mengajakku bicara, tapi... wajahnya sama sekali tidak kelihatan, gelap. Tempat itu gelap, tapi aku merasakan perasaan familiar baik pada suara anak perempuan itu maupun keberadaan tempatnya, tapi kenapa semuanya gelap.


Ah... Apa ini bagian dari ingatanku yang hilang.


" ayo main, sini " dia melambaikan tangannya sambil tertawa seperti orang bodoh.


" kamu... siapa? " rasa penasaranku tak dapat dibendung lagi, maka dari itu aku memberanikan diri ditengah ketakutan yang melanda.


" hah... " mulut anak itu membulat seperti angkah O, aku yang didepannya terus memperhatikan mulutnya itu, karena dari semua bagian wajah hanya itu terlihat.


Apa itu? Mobil?


Cahaya lampu mobil itu makin lama semakin terang, lajunya sangat cepat, sampai rasanya tak sempat menghindar, tetapi sesuatu mendorongku...


Dia menggantikan posisiku.


BRUAKKK!


.


.


.


" Miaaaa!! "

__ADS_1


" Elisa, kamu sudah sadar? Kamu kenapa? " tanya Ditto, raut wajahnya sangat panik.


Aku hanya menatapnya dalam diam, tak mampu untuk menjawabnya. Nafasku masih tersenggal-senggal seusai berteriak tadi.


Tunggu, aku dimana? UKS?


Ceklek


Pintu terbuka, Angga masuk dengan sebotol minuman ditanganya.


" ah... Pas banget, siniin airnya " kata Ditto. Angga menyerahkan minumnya, lalu dia beranjak duduk dikursi disamping ranjang tempatku berada.


" kamu... " dia bergumam pelan. Terlihat jelas dia khawatir dan tadi dia pasti ingin menanyai keadaanku, mungkin karena dia anak yang kaku, makanya canggung baginya untuk bertanya. Aku tersenyum menanggapinya,


" aku baik-baik saja, tidak usah khawatir. "


Wajahnya memerah namun juga tersirat perasaan lega setelah mendengar perkataanku


" Siapa yang khawatir?! " tapi dia tetap menyangkalnya.


Dasar bocah!


Tak lama setelah itu, Ditto datang dengan segelas air. Dia duduk disampingku ditempat semulanya tadi.


" kamu sudah bisa ngomong? Tanyanya sembari menyerahkan air digenggamannya itu.


Aku menerimanya. " sejak kapan aku bisu"


Lalu meneguknya habis dalam sekali tegukan. One shoot.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2