
Hari ini adalah hari pertama aku pindah ke Jakarta. Tempat yang tak begitu asing lagi bagiku karena waktu tinggal di Aceh pun papa sering mengajakku ke sini. Tapi kali ini yang berbeda adalah aku kesini hanya berdua dengan papa, biasanya selalu bertiga dengan mama. Sekarang papa dan mama sudah berpisah itulah sebabnya. Awalnya aku berniat untuk tinggal bareng mama, tetapi akhirnya aku mengetahui bahwa penyebab dari perpisahan mereka adalah kesalahan mama yang mengkhianati papa. Aku cukup syok saat mengetahuinya hingga disaat terakhir, aku memutuskan untuk ikut dengan papa.
***
Setibanya disini papa langsung disibukkan dengan pekerjaannya. Ya, aku sudah terbiasa dengan itu. Papa yang selalu sibuk dengan urusan kantornya dan mama yang selalu sibuk dengan pergaulannya. Sehingga aku yang anak tunggal ini kurang dapat perhatian dari mereka. Sebisa mungkin aku mencoba untuk menjadi anak yang ceria supaya setidaknya aku dapat sedikit lirikan perhatian dari mereka, tetapi masa itu tak kunjung datang sampai hari ini.
Jam telah menunjuk pukul setengah enam. Kerena jenuh tak melakukan apa-apa, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke taman yang dulu sering kudatangi karena setahuku, pemandangan sunset disana sangatlah indah.
Aku memutuskan untuk mendatangi taman yang dulu sering ku kunjungi saat berkunjung ke Jakarta.
Sore itu, taman tampak sepi. Padahal biasanya orang berbondong-bondong datang kesini untuk melihat matahari terbenam. Anehnya sore itu tidak ada siapa-siapa, tapi tak mengurangi tekad ku untuk mengagumi sang Mentari senja. Aku berjalan pelan ditepi sungai, menikmati angin sepoi-sepoi dan suara air sungai mengalir, tanpa kusadari di hadapanku sudah berdiri seorang gadis yang mengenakan training dan haedseat dipundaknya. Gadis itu cantik tetapi yang membuatku penasaran adalah tatapan matanya yang sendu, tatapan yang menunjukan betapa kesepiannya dirinya di dunia yang besar ini. Selama beberapa menit aku tak mengalihkan perhatianku, terus ku tatap wajahnya yang menghadap kearah matahari terbenam itu. Hingga disaat sang Surya tinggal setengahnya lagi, dia memejamkan mata.
Deg!
Jantungku berdebar naluriku mendorongku untuk menghampirinya. Dengan alasan tak berdaya, aku mengikuti instingku. Aku... Menghampirinya yang sendirian itu.
__ADS_1
" Indah ya.. "
Itu adalah kata pertama yang aku ucapkan.
Aduh! Dari kesekian banyak kata kenapa harus kata yang itu. Kelihatan bangetkan kalau aku jombol ngenes yang gak pernah deketin cewek. Mana mau dia jawab pertanyaan aneh gak jelas dari orang asing,
Dan aku menyesalinya. Aku menyembunyikan rutukan hatiku yang ribut itu dengan terus tersenyum menatap kearah sang mentari.
" Iya " jawabnya.
Setelah mendengar dia menjawabnya. Ternyata ga buruk juga.
Tapi aku salah langkah. Pertanyaan pertama yang gak bisa disebut pertanyaan memang dijawab tapi pertanyaan kedua dicuekin TELAK.
Dia berbalik dan pergi, lebih-lebih lagi dia kembali memasangkan haedseat ditelinganya, seolah-olah menjadi kode untuk jangan bertanya lagi.
__ADS_1
Aku hanya geleng-geleng kepala. Pertama kalinya aku mengajak cewek mengobrol duluan tapi dia malah kabur. Dia cantik tetapi yang membuatku tertarik bukan itu, melainkan tatapan matanya yang persis seperti milikku beberapa bulan yang lalu.
" too ditto.. percaya diri banget sih. Hari pertama malah dicuekin cewek. hah.. sudahlah, lebih baik aku pulang. toh kita ga akan berjumpa lagi "
seiring dengan terbenamnya matahari, pertemuan kami usai. aku membalikkan badan melangkah pulang.
Tanpa tahu takdirku di keesokan hari.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung