
Menuju ke sebuah halte di depan sebuah sekolah. Angga tak bangkit dari duduknya nampak sekali kalau dia sangat ke sakitan.
"Angga, kamu gak papa?"
tanyaku panik sambil memeriksa tubuhnya terdapat beberapa memar di muka dan juga bibirnya terluka hingga berdarah.
"udah, gak papa"
Melepas tanganku yg memengang wajahnya.
Dasar, wajah gitu apanya yg gak papa.
Aku melihat ke kiri dan ke kanan jalan, nampak dari jauh sebuah taksi yg menuju ke sini. Aku berdiri memanggil taksi itu.
Taksi berhenti, aku menarik angga dari duduknya.
"kenapa?"
tanya angga heran.
"naik!"
"mau ke mana?"
"udah, jangan banyak tanya. Naik aja!"
Ku dorong angga masuk ke dalam mobil.
Dia pun pasrah.
Setelah kami naik, taksi pun jalan. Aku memberitahu alamat pada pak supir, supir mengangguk. Sepanjang perjalanan angga hanya diam, begitu pula aku.
Kami pun sampai di tujuan, yaitu rumahku. Angga mengernyit
"ngapain ke sini?"
__ADS_1
"ini rumahku"
"gak nanya"
"kan tadi nanya"
"maksudnya itu, ngapain kamu bawa aku ke sini?"
"ngobatin kamu, udah masuk aja."
Mengenggam tangan angga dan menariknya masuk ke dalam.
"hah!"
Angga terkejut dengan tindakan ku itu.
"kamu tunggu di sini, aku mau ambil kotak P3K dulu"
Melangkah menuju dapur.
segampang itu ya dia masukin cowok ke rumahnya, dan lagi dia seorang diri di sini.ck ck
Canggung sendiri kan jadinya.
Ada saat ketika aku sudah duduk di depan angga mengobati lukanya. Memberi saleb pada memar dan luka di bibirnya. Kecanggungan jelas terpancar dari raut mukanya. Entah kenapa pada saat itu dia terlihat imut.hehe
"udah, santai aja. Sebentar lagi kan kita ada kerja kelompok juga. Ditto juga akan nyusul."
Aku memulai pembicaraan agar dia sedikit tenang
"hemm baiklah" jawabnya.
"lagian kamu, di bilang jangan ngegertak balik eh malah di tampol, karena kam.."
Omongan elisa terhenti ketika bel berbunyi.
__ADS_1
"ah..pasti ditto"
Kata ku sambil berjalan menuju pintu.
Terlihat elisa dan ditto asik berbincang di depan pintu dari sudut pandangnya angga. Hingga akhirnya elisa mengajak ditto masuk. Dan ketika masuk alangkah kagetnya ditto ketika melihat wajah bonyok angga.
"hei lo kenapaa?" tanyanya heran , suaranya aneh karena menahan tawa.
"itu.."
Belum sempat angga menjawab langsung di sambar oleh elisa.
"di gebukin preman"
Duarr jawaban dariku langsung memecahkan tawa yg sudah sedari tadi di tahan ditto. Sampai-sampai aku dan angga terdiam melihatnya tertawa terpingkal-pingkal.
"kenapa sih dit, dia begitu itu karena nolong aku. Tahu" kataku
"kapan?" heran angga
"di bus tadi pagi" jawabku
"gak tuh, aku ga niat nolong kamu"
"ya ya kalau begitu aku juga gak akan berterimakasih karena aku juga ga minta tolong soalnya."
Kataku judes.
"Kasiankan, udah babak belur pahala ga dapet. Coba aja kamu niat tolong elisa walau pun ga diminta, kan banjir pahalamu ga"
Kata-kata ditto sama sekali tidak di gubris oleh angga. Dia hanya diam tanpa berkata apa-apa.
Di tengah diamnya angga, aku maju dan memasangkan plaster di luka bibirnya.
Angga kaget dan aku juga kaget saat mata kami bertemu karena ternyata wajahnya dan wajahku sangat dekat. Aku mundur kebelakang karena merasa tidak nyaman. Walaupun aku sudah berniat membuka diriku tapi tak sejauh ini juga.
__ADS_1